Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
70. Gara-gara buah.


__ADS_3

Dira berjalan keluar dari toilet sekolah dengan benda pipih yang menempel di telinganya. Gadis itu tengah berbicara dengan seseorang di seberang sana melalui sambungan telepon. Ia terlihat bahagia.


Tanpa gadis itu sadari, ada dua orang beda jenis yang baru saja keluar dari ruang OSIS dan kini tengah memperhatikannya gadis itu. Kedua nya kini mengikuti langkah kaki Dira dari belakang. Sahabat dan juga... suaminya.


Dira terlihat sesekali tersenyum. Entah apa saja yang dibicarakan oleh gadis itu dengan lawan bicaranya. Tiba-tiba saja Axell ingin tahu. Terbesit dalam pikirannya mungkin seseorang yang tengah berbicara dengan gadisnya itu...


'Arfen.'


Dengan satu tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya, Axell kini semakin mempercepat langkahnya untuk mendekat pada Dira. Dan meninggalkan Nayla di belakangnya. Laki-laki itu ingin tahu, siapa yang tengah berbicara dengan Dira sekarang ini.


"Dira." Panggil Axell yang masih berjarak sekitar beberapa meter dari Dira berdiri sekarang.


Mendengar suara yang tak asing baginya membuat gadis itu seketika menoleh dan mendapati Axell yang sedang berdiri tepat di depannya.


"Telpon siapa?" Tanya Axell langsung.


"Kak Axell, ini dari -..."


Belum sempat Dira menyelesaikan kata-katanya, Axell sudah lebih dulu menadahkan tangannya. "Coba sini, gue liat!"


Melihat sikap Axell yang seperti ini, Dira langsung mengerti. Axell tengah curiga padanya. Mungkin Axell mengira kalau ia sedang berbicara dengan Arfen. Tanpa membuang waktu dan malah membuat Axell yang semakin curiga padanya membuat Dira langsung menyerahkan ponselnya pada Axell dan langsung di terima dengan oleh laki-laki itu.


Dengan cepat, Axell langsung membaca nama yang tercantum pada layar ponsel yang masih menyala itu. Menampilkan ID Number dengan nama 'Bunda'.


Karena panggilan tersebut masih tersambung, Axell masih dengan jelas mendengar bundanya memanggil nama gadis si pemilik ponsel.


"Halo, Bun." Sapa Axell pada sang bunda.


"(....)."


"Ini Axell lagi sama Dira, Bun."


"(....)." Tiba-tiba Axell menarik sudut bibirnya mendengar apa yang Bundanya itu katakan padanya.


"Tenang aja, Bun. Axell akan selalu jagain Dira. Dan Axell tau, apa yang harus Axell lakuin." Ujar Axell sambil terus menatap ke arah Dira.


"Iya, Bun Ya udah, Axell tutup dulu teleponnya."


Tuutt...


Dan panggilan telepon itu pun berakhir setelah Axell menekan tombol merah. Akan tetapi, bukannya langsung mengembalikan ponsel pada si pemilik, Axell malah memasukkan ponsel tersebut pada saku celananya dan mengambil ponselnya dari dalam saku bajunya.


"Tukeran." Ujar laki-laki itu sambil menyerahkan ponsel miliknya pada Dira. Sementara Dira dengan sedikit ragu, ia menerima ponsel yang Axell berikan tersebut.


"Tapi, kak... Emang nggak pa-pa, ya?" Tanya gadis itu.


"Nggak. Lo kan is... PACAR gue. Password nya, pakai tanggal lahir Lo." Jawab Axell dengan menekankan kata pacar setelah hampir saja ia lupa menyebutkan kata istri tadi.


"Jadi... Kalian beneran udah jadian?" Tanya Nayla yang memperhatikan interaksi keduanya sedari tadi.

__ADS_1


Tapi, belum sempat Dira membuka mulut, Nayla kembali melontarkan pertanyaan. "... Jadi, suara cowok yang gue denger hari itu... Lo, Xell?" Tanya Nayla yang kini beralih menatap Axell.


"Iya." Jawab Axell singkat.


Mata Nayla membulatkan sempurna setelah mendengar jawaban singkat dari Axell. "Kalian berdua ngapain berduaan di dalam kamar?" Tanya Nayla yang terkesan ambigu.


Axell tersenyum menyeringai, "Urusan gue sama cewe gue. Lo nggak perlu tau."


"Jangan aneh-aneh Lo! Dira itu masih polos, belum pernah pacaran juga. Jadi jangan Lo macem-macemin. Awas, Lo!" Ucap Nayla memperingatkan.


Axell tersenyum dalam hati. Ia sudah menduga hal itu sebelumnya. Saat pertama kali ia mencium Dira, Axell bisa merasakannya. Dimana gadisnya itu yang sangat kaku.


"Nggak usah sok menggurui! Gue tau apa yang harus gue lakuin." Jawa lb Axell dingin.


"Bagus kalo Lo tau." Jawab Nayla yang kini tak lagi mendapat tanggapan dari Axell. Laki-laki itu lebih tertarik untuk mengajak gadisnya berbicara.


Tangan Axell terangkat untuk mengacak pelan puncak kepala Dira dengan gemas. "Lo udah makan?" Tanya Axell pada Dira.


Dira mengangguk sekilas. "Udah, kak. Kak Axell sendiri?" Jawab Dira. Axell tersenyum mendengar pertanyaan dari Dira. Kini tangannya beralih mengusap rambut gadisnya pelan, "Belum. Temenin gue makan, mau?".


...***...


"Kita mau kemana, kak?" Tanya Dira saat melihat Axell yang mengambil jalan lain dari jalan yang biasa mereka lewati jika pulang sekolah. Kini Dira dan Axell sedang berada di perjalanan menuju ke suatu tempat, setelah bel pulang sekolah telah berbunyi hampir setengah jam yang lalu.


"Kita pulang." Jawab Axell singkat.


"Ke rumah ayah?" Tanya Dira memastikan.


Deg...


Mendengar Axell mengatakan kata suami, entah mengapa malah membuat jantung Dira kini berdebar-debar tak karuan. Kenapa Axell akhir-akhir ini sering sekali menyebutkan kata 'suami istri'? Ini secara tidak langsung Axell seperti tengah mengingatkan status keduanya. Seketika tenggorokan Dira tercekat. Bahkan Dira sampai kesulitan menelan salivanya sendiri.


"Mau mampir mini market dulu? Mungkin ada sesuatu yang mau Lo beli?" Tanya Axell menawarkan.


"Boleh." Jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, Axell menghentikan laju mobilnya tepat di Indo April. Keduanya turun dan langsung masuk ke dalam mini market tersebut.


"Lo mau beli apa?" Tanya Axell yang sudah mulai mendorong troli belanja.


"Mungkin cuma cari cemilan sama buah, kak ..." Jawab gadis itu sambil melangkahkan kakinya menuju rak yang terdapat berbagai macam buah-buahan segar yang tertata rapi. "... Kak Axell, mau buah apa?" Tanya Dira sambil melihat-lihat ke arah buah di depannya.


"Yang ada di Lo, gue suka itu." Jawab Axell santai. Seketika Dira membelalakkan matanya setelah mendengar jawaban dari Axell.


'Buah yang ada di gue? Dia suka? Maksudnya...'


Satu detik...


Dua detik...

__ADS_1


Tiga detik...


Tiba-tiba tubuh Dira menegang dengan sendirinya.


'Buah yang ada di gue?'


Gadis itu lalu melirik di bagian dadanya sendiri.


"Kak Axell! Jangan aneh-aneh, deh!" Protes gadis itu.


Axell menarik satu alisnya tak mengerti, "Aneh gimana? Bukannya Lo sendiri yang nawarin buah ke gue?"


"Iya... Tapi nggak gitu maksudnya?" Jawab Dira.


"Terus maksud Lo yang kayak gimana?" Tanya Axell yang semakin bingung sendiri.


"Maksud aku itu... buah beneran!"Jawab Dira yang kini mulai menurunkan intonasi yang tadi sempat meninggi.


"Emang yang Lo pegang itu apa? Buah apaan?" Tanya Axell sambil menunjuk buah apel yang sedari tadi Dira pegang.


Dira mengikuti arah jari telunjuk Axell dan melihat tangannya yang sedang memegang buah apel. Seketika Dira jadi malu sendiri. Ia sempat salah tanggap tadi.


Cletuk...


"Auw..." Pekik Dira lirih setelah Axell menyentil dahinya. "... Sakit, kak!" Protes gadis itu.


"Lo mikir buah apa tadi? Jangan Nething Lo sama gue?" Ujar Axell yang baru mengerti apa yang gadisnya itu pikirkan tadi.


Tak ingin menanggapi apa yang baru saja Axell katakan, Dira lebih memilih untuk memasukkan buah apel kedalam troli belanja dan pergi meninggalkan Axell ke rak yang tersedia berbagai macam cemilan dan minuman ringan.


Setelah memasukkan beberapa bungkus camilan dan juga beberapa pack susu kotak, Dira menyudahi belanjanya karena merasa apa yang ia ingin beku sudah cukup. Gadis itu lalu berjalan menuju kasir.


"Dir..." Panggil Axell dari belakang tiba-tiba.


Merasa di panggil, Dira langsung menghentikan langkah dan menoleh. "Ada apa, kak?" Tanya gadis itu.


"Lo nggak mau beli ini?" Tanya Axell yang berdiri tepat di samping rak yang menampilkan berbagai macam roti ala Jepang bersayap.


Dira mendekat. Tiba-tiba pipinya memerah, gadis itu sedikit malu untuk berkata 'iya'. Tapi mengingat ia yang pernah meminta Axell untuk mengambilkannya waktu di apartemen hari itu, ia jadi menepis rasa malunya. Hari ini ia kan mau ke rumah mertuanya. Jadi tak ada salahnya untuk beli, kan? Mengingat ia yang belum menyediakan benda tersebut di sana.


Dengan gerakan cepat, Dira mengambil beberapa jenis roti ala Jepang itu. Satu merek, tapi dengan berbagai macam ukuran dan warna kemasan yang berbeda.


"Udah, kak." Ucap gadis itu yang langsung mendapat anggukan kepala dari Axell.


Sampai di kasir, Axell langsung membayar belanjaan Dira. "Udah, ini aja? Nggak mau nambah?" Tanya Axell menawarkan.


Dira menggeleng, "Udah cukup, kak. Aku pengen cepet sampai rumah... Capek."


Axell tersenyum tipis menyadari satu hal. Dira sudah mau mengatakan keluhannya. Meskipun sangat sedikit, tapi menurut Axell ini merupakan sebuah kemajuan. Karena biasanya gadis itu hanya akan mengatakan seperlunya saja saat diajak bicara.

__ADS_1


Tangan Axell terangkat untuk mengusap pelan rambut Dira, "As you wish ...


(Honey).


__ADS_2