
Pintu ruang OSIS mulai terbuka setelah tertutup selama kurang lebih dua jam. Hampir berbarengan dengan bel tanda jam istirahat ke dua yang berbunyi beberapa detik setelahnya.
Pak kepala sekolah mulai keluar meninggalkan ruangan, di susul dengan pak Bambang yang membersamai langkah sang kepala sekolah. Keduanya nampak berbincang sebelum akhirnya berjabat tangan dan berpisah di ujung koridor sana.
"Woaahh... " Verrel menghela nafas lega. "... Akhirnya gue pensiun juga jadi waketos!" Seru Verrel saat keluar dari ruang OSIS bersama dengan pasukan yang lainnya. Jangan lupakan Nayla sang kekasih yang juga termasuk menjadi anggota OSIS sebelumnya.
Zaki yang berjalan beberapa langkah dari Verrel menatap jengah kakak kelasnya itu. Ia lalu menyamakan langkah kakinya dengan Verrel. Dan ...
Duugh!
Kaki Zaki menendang belakang lutut Verrel tanpa permisi. Membuatnya hampir jatuh kalau saja Verrel tidak bisa menyeimbangkan bobot tubuhnya.
"WOY!" Seru Verrel dengan kesal setelah kembali berdiri tegak. "... kalo Lo mau protes bukan ke gue, Bor!" Protes Verrel yang kesal dengan Zaki.
Zaki mendengus, "Gue tau. Nggak mungkin gue protes sama dia, makanya gue jadiin Lo pelampiasan gue." Jawabnya asal tanpa rasa bersalah sama sekali.
Bukannya marah, Verrel malah tersenyum mengejek. "Kenapa? Lo nggak berani? Jangan bilang Lo takut sama Axell?" Cibir Verrel dengan jari yang menuding pada Zaki.
Zaki kembali mendengus. "Gue? Takut sama dia?" Tanya Zaki sambil menunjuk dirinya dan Axell yang berjarak beberapa langkah di belakangnya. "... Apa yang harus gue takutin?"
Verrel mengangguk membenarkan ucapan Zaki, "Lo bener. Nggak ada yang harus Lo takutin dari Axell. Dari segi umur dia hanya selisih dua bulan di atas Lo. Umur kalian nggak jauh beda ..." Verrel menepuk pundak Zaki. "... Kalo Lo ada kesulitan, gue sebagai senior siap bantuin Lo kapan pun Lo butuh!"
"Cihh!" Zaki berdecih. "... Omongan Lo bikin cacing di perut gue ketawa, Ngab. Dah lah ... Gue cabut dulu." Ucap Zaki yang langsung pergi ke kantin meninggalkan Verrel, Nayla dan kedua cowok yang baru muncul dari ruang OSIS tersebut.
"Kantin yok, Beib!" Ajak Verrel pada sang kekasih.
Nayla yang sedang scroll aplikasi tik-tik itu pun mengangguk, "Yuk, gue juga udah laper." Jawab Nayla tanpa beralih dari layar di genggamannya.
"Xell, Mbang, Gue tau, masih ada hal yang mau kalian omongin. Jadi gue sama Nayla duluan." Ucap Verrel yang kini berjalan dengan Nayla meninggalkan keduanya.
Setelah perginya Verrel dan Nayla, Axell memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu menoleh pada Adit yang ternyata sedang menatap ke arahnya.
"Ada yang mau Lo omongin?" Tanya Axell pada Adit.
"Gue setuju untuk bantuin Lo awasin Dira. Tapi bukan dengan cara kayak gini!" Jawab Adit.
__ADS_1
"Santai aja! Bhakti Bangsa nggak seperti sekolah swasta lainnya di luaran sana. Gue tau Lo cukup mampu." Jawab Axell tenang.
"Gue bukan samsak Lo, Xell! Ucap Adit.
"Nggak ada yang jadiin Lo samsak disini." Jawab Axell masih dengan nada yang sama.
"Gue tau, Lo kesal sama pak Marvell karena dulu Lo di paksa jadi ketua OSIS, biar Lo nggak kabur-kaburan lagi karena Lo punya tanggung jawab di sekolah. Yang gue nggak habis pikir, kenapa Lo malah jadiin gue samsak balas dendam Lo? Masih banyak orang lain, Xell ... kenapa harus gue?" Tanya Adit.
"Ternyata Lo cukup tau tentang gue." Axell mengangguk santai, "... gue dulu juga nggak mau jadi ketua OSIS. Kenapa harus Lo padahal masih banyak orang lain?" Ucap Axell mengulang pertanyaan Adit versi dia. "... padahal gue bisa aja jadiin Zaki Ketua OSIS." Lanjut Axell.
Adit tak bersuara, ia ingin tahu alasan Axell sebenarnya yang memutuskan menjadikannya ketua OSIS.
"Jadi ketua OSIS bukan semudah apa yang orang lain pikirkan. Lo di tuntut untuk mengasah kemampuan Lo mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik. Akan banyak hal yang Lo dapat setelah Lo jadi ketua OSIS. dan Lo akan tau apa yang gue maksud setelah Lo duduk di sana." Tunjuk Axell pada kursi ketua OSIS yang terlihat kosong di ruang tersebut.
"Gue nggak berniat jadi pemimpin." Ucap Adit yang masih berusaha untuk menolak meski tahu itu hanya akan sia-sia saja. Menjadi ketua OSIS sudah di tetapkan padanya dan ia tidak bisa berkata 'tidak'.
"Gue tau. Tapi Lo tetap harus belajar!" Jawab Axell.
"Maksud Lo?" Sahut Adit cepat.
Axell kembali menghela nafas. "Aditya ... kita punya kemiripan walau nggak seratus persen, dimana kita ditakdirkan sebagai seorang pewaris. Lo dan gue nggak bisa nolak takdir dimana kita terlahir sebagai anak tunggal yang harus memikul beban berat sebuah perusahaan ..." Ucap Axell menjelaskan.
"... Lo tenang, gue nggak lepasin Bhakti Bangsa di tangan Lo sepenuhnya gitu aja. Gue akan tetap pantau Lo." Ucap Axell terjeda.
Axell melangkah ke pembatas koridor. Satu tangannya keluar dari dalam saku dan bertumpu disana. Kepala Axell sedikit menunduk melihat lapangan basket outdoor yang terlihat dari tempatnya berdiri sekarang. Satu sudut bibirnya terangkat saat melihat Bastian yang tengah melempar cium jauh pada para gadis adik kelas yang berseru melihat aksinya bermain basket.
"Lo beruntung karena saat Lo menjadi ketua OSIS, ada gue di belakang Lo. Beda sama gue yang di tuntut untuk berdiri sendiri waktu gue jadi ketua OSIS, bahkan di saat gue baru menginjak Bhakti Bangsa ..." Axell menoleh pada Adit.
"... Lo tau, waktu gue menjabat jadi ketua OSIS, gue sering mendapat tatapan mengintimidasi dari para senior gue dulu, belum lagi omongan mereka yang terang-terangan meragukan kemampuan gue. Gue bahkan terpaksa merombak tatanan OSIS disaat para senior gue nggak mau gue ajak kerja sama." Adit diam tak menyela, ia juga mendengar cerita itu.
Kemampuan Axell memang di ragukan waktu itu. Di saat siswa yang baru satu bulan memasuki Bhakti Bangsa dan langsung didapuk menjadi ketua OSIS, tak ayal banyak orang yang mempertanyakan, Apa dia mampu? Kenapa harus dia padahal masih banyak siswa dan siswi yang mungkin bisa lebih dari seorang Axello?
Tapi siapa sangka? Dengan cepat Axell mematahkan semua itu, dalam kurun waktu dua bulan saja nyatanya Axell sudah mendapat pengakuan ketua OSIS yang dapat diandalkan. Karena ternyata Axell mempunyai jiwa kepemimpinan yang bukan main-main. Sejak saat itu Axell begitu disegani dan semakin menjadi para idola gadis-gadis bahkan dari luar sekolah sekali pun.
"Gue tau maksud Lo baik. Tapi Xell, gue sama sekali nggak berminat mimpin perusahaan itu." Jawab Adit.
__ADS_1
Axell menarik satu sudut bibirnya, kepalanya sedikit menunduk karena satu telunjuknya sedang menekan-nekan satu pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Aditya... Gue tau Lo bisa menolak perusahaan itu. Tapi Lo satu-satunya garis keturunan di sana -"
"Xell! Gue -"
"Aditya Pratama!" Axell kembali menyela ucapan Adit agar adik kelasnya itu mengerti. Mereka sedang membicarakan hal serius sekarang.
"... Lo lupa? Selain Pratama, gue juga bisa panggil Lo Aditya Herlambang. Sekeras apapun Lo menolak, kenyataannya Lo nggak bisa menampik, ada darah Herlambang yang mengalir dalam diri Lo!" Ucap Axell tenang.
Tangan Adit mengepal mengingat kenyataan yang Axell katakan. Ia jadi teringat kejadian tidak menyenangkan yang ia dapatkan di masa kecilnya.
"Gue bukan pembunuh." Ucap Adit terdengar dingin.
"Memang. Semua orang tau, dan kakek Lo ... sudah menyesali semua perbuatannya." Axell menepuk pundak Adit. "... Gue tau Lo belum siap menerima semuanya. Tapi Lo tetap nggak bisa menghilangkan sebuah fakta kuat ... kalo Lo seorang penerus Herlambang." Axell kembali menepuk pundak Adit sebelum akhirnya pergi meninggalkan adik kelas yang resmi menggantikan posisinya sebagai ketua OSIS Bhakti Bangsa itu dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Herlambang."
...***...
Axell melangkah tenang dengan tarikan nafas yang panjang. Beban dipundaknya berkurang satu. Ah tidak ... bukan berkurang. Tapi hanya sedikit berkurang. Nyatanya ia tidak sepenuhnya melepaskan Adit begitu saja. Axell akan tetap menuntun Adit agar adik kelasnya itu tidak salah dalam mengambil langkah nantinya. Langkah dari arti kata lain yang sebenarnya.
Axell memasuki kantin. Satu sudut bibir Axell langsung tersenyum saat melihat Dira yang tengah lahap memakan makanannya di meja kantin.
"Udah enakan, Yang?" Tanya Axell saat setelah duduk di samping Dira, menggeser posisi Zaki yang duduk di antara Dira dan Melody.
Zaki berdecak menyadari tempat duduknya yang jadi sempit. Mau tidak mau ia menggeser duduknya. Zaki menggelengkan kepala menyadari sifat Axell yang sama sekali tidak membiarkan Dira duduk dengan cowok lain.
Dira mengangguk dengan mulut yang sibuk mengunyah. Lalu meraih minum dan meneguknya. "Kak Axell nggak pesan makan?" Tanya Dira pada Axell.
Axell kembali tersenyum, "Aku masih kenyang. Kamu lanjutin dulu makannya, setelah ini kita pulang." Jawab Axell sambil menyesap minuman favorit Dira.
Dira menggeleng. "Nggak bisa, kak. Aku masih ada mata pelajaran pak Bambang habis ini."
Axell menghela nafas, "Oke. Nanti aku minta Pandu jemput kamu." Axell mengecup singkat satu pipi Dira.
__ADS_1
Dira langsung menoleh kearah sekitar, malu kalau sampai ada yang melihat Axell yang terang-terangan menciumnya di kantin. Dan ternyata tidak. Entah mereka pura-pura buta atau sengaja tak melihat. "Kak Axell mau ke mana?" Tanya Dira pada sang suami.
"Kantor ayah."