Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
192. Arfen kalah.


__ADS_3

"Terus gimana ..." Verrel menoleh pada Bastian yang kini berada tepat disampingnya. "... Dapet?"


Bastian mengendikkan kedua bahunya. "Mana gue tempe?"


"Cckk!" Verrel berdecak. Bastian selalu saja seperti ini jika ia mengajaknya bicara serius.


"Tuh anak belum kasih kabar ke gue lagi dari kemaren, Bor. Jadi gue nggak tau." Ucap Bastian pada akhirnya.


Keduanya kini tengah berada di parkiran sekolah. Mereka berdiri menyandarkan tubuh masing-masing pada body mobil milik Bastian sambil membicarakan Arfen.


Ya, Bastian menceritakan pada Verrel tentang Arfen yang menghubunginya dua hari lalu. Dan jangan lupakan tentang ide gila Babas yang menyuruh Arfen untuk mengikuti Axell.


Awalnya, Verrel menyayangkan tindakan Bastian yang menyuruh Arfen untuk mengikuti Axell. Tapi setelah mengetahui niat Bastian yang sebenarnya, ia mendadak berubah pikiran dan mendukung tindakan Bastian tersebut sepenuhnya. Mungkin dengan cara ini bisa membuat hubungan Arfen dan Axell membaik dan mereka bisa kembali akur seperti dulu lagi.


Semoga saja.


"Pokoknya kalo sampai ada apa-apa, gue nggak ikutan, ya?!" Celetuk Verrel setelah keduanya saling diam beberapa saat.


"Emang bakal ada apa?" Tanya Bastian pura-pura tidak mengerti.


"Lo lupa, gimana Axell kalo lagi marah?" Tanya Verrel balik. "... Umur dia emang paling kecil diantara kita berempat. Tapi isi kepala, dia udah kek bapak-bapak. Ngeri kalo lagi marah ..." Verrel mendengus, "... Dia bahkan bisa nelen Lo beserta mobil Lo ini." Verrel melirik mobil Bastian.


Bastian mencibir, "Lo pikir Axell itu ikan paus yang sekali mangap semua ikan masuk ke mulutnya?!" Bastian geleng-geleng kepala tak habis pikir. "... Rel... Rel...!"


"Ya... Ya... Ya bukan paus juga, sih. Cuma ... dia nakutin aja kalo lagi marah." Jawab Verrel menjelaskan maksudnya.


"Tau, deh ..." Bastian tiba-tiba terkekeh dengan tatapan mengejek yang ia tujukan pada Verrel. "... nyali Lo kan emang kecil." Bastian menunjukkan ujung jari kelingkingnya.


"... Sama Nayla aja Lo ciut, apa lagi sama Axell?! Behahah..." Tambahnya lagi sambil tertawa lepas tiba-tiba.


"Sialan, Lo!"


"Nama gue Bastian, bukan Alan!" Jawab Bastian tak terima dengan umpatan Verrel padanya.


Lalu keduanya tertawa bersama karena perdebatan yang sebenarnya biasa saja, sampai pada akhirnya pandangan keduanya terarah pada satu motor sport yang melintas tak jauh dari posisi Verrel dan Bastian sekarang ini. Bukan apa-apa, hanya saja motor itu tak asing menurut keduanya. Bahkan mata Verrel sampai memincing untuk memastikan siapa yang ia lihat.

__ADS_1


"Axell?"


Bastian mengangguk, "Kalo pagi ini Arfen masih ngikutin tuh pasutri, Gue berani jamin ... pasti si Arfen udah dapet apa yang dia mau."


...***...


"Dia adalah menantu bunda."


DUUAARRR!!!!


Akhirnya, bom waktu yang mengelilingi Arfen sedari tadi meledak juga. Arfen terpaku. Ia terkejut dan pastinya ... tak mudah untuk percaya dengan apa yang baru saja ia dengar begitu saja.


'Menantu? Itu berarti ... mereka -'


"Bunda pasti bercanda, kan?" Tanya Arfen memastikan. Ada nada tak yakin dan pastinya tak percaya. "... mereka nggak mungkin udah menikah kan, Bun? Kan mereka masih sekolah!"


Bunda Resty diam tak menjawab. Pandangan matanya serius terarah pada Arfen yang sekarang ini terlihat entah, bunda Resty sendiri tidak bisa menggambarkan apa yang Arfen rasakan saat ini. Yang jelas, bunda Resty bisa melihat Arfen yang begitu terpukul dan kecewa dengan kenyataan yang ada.


"Bunda ... Tolong jawab aku, Bun!" Desak Arfen memohon.


Bunda Resty kembali menghela nafas, "Arfen, dengarkan bunda!" Bunda Resty nampak berhenti sejenak. "... Mereka memang benar sudah menikah -"


"... Bunda pasti bohong, kan?! Mereka nggak mungkin udah nikah kan, bun?! Bunda lakuin ini cuma agar aku nggak deketin Dira kan? Iya kan, bun?!"


"... Bunda. Tolong jangan bikin cerita kayak gini!" Axell menghela nafas frustasi. "... Aku nggak pernah rebut Rere dari Axell, Bun. Kejadian dua tahun lalu itu hanya salah paham. Jadi bunda tolong, jangan -"


"Arfen ..." Bunda kembali menghela nafas pelan, "... kenyataannya mereka memang sudah menikah!" Beritahu bunda Resty dengan nada yang tenang agar Arfen bisa memahami apa yang ia ucapkan.


Arfen membuang muka dengan kepala yang mendongak. Mulutnya sedikit terbuka untuk meraup udara sebanyak-banyaknya.


Entah mengapa mendengar apa yang bunda Resty katakan membuat paru-parunya seperti terasa kosong karena kehabisan oksigen.


Setelah berhasil menguasai diri, Arfen kembali menatap bunda Resty. "Jadi benar, kabar yang Arfen dengar ... Dira hamil dan bahkan keguguran?"


Bunda Resty kembali menghela nafas entah untuk ke berapa kali, lalu mengangguk membenarkan ucapan Arfen.

__ADS_1


Arfen mengusap wajahnya kasar setelah sesuatu hal terlintas dibenaknya. "Apa mereka terpaksa menikah karena Dira hamil?" Tanya Arfen berasumsi.


"Arfen, bunda memang membenarkan kabar Dira yang sempat hamil ..." Bunda Resty mengangkat satu tangannya untuk memegang pundak Arfen, "... Tapi, mereka menikah jauh sebelum hal itu terjadi ... mereka menikah karena dijodohkan."


''Dijodohkan?'' Arfen menyentak nafas kasar. Ia kembali tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Bunda Resty mengangguk dan mulai bercerita. ''Kita para orang tua sepakat untuk menikahkan mereka. Sebenarnya perjodohan ini sudah disepakati dari dua tahun yang lalu. Pras dan ayahnya Axell sepakat untuk menikahkan mereka setelah mereka lulus kuliah nanti. Tapi setelah Dira pindah sekolah kesini, Marvell malah mempercepat pernikahan mereka. Marvell sendiri yang meminta Dira dari Pras untuk menjadikannya menantu di rumah ini."


Arfen diam. Ia mendadak tidak bisa berpikir disini. Kenyataan dimana Dira yang ternyata telah sah menjadi istri Axell sahabatnya itu begitu menghantam dirinya.


Harapan dan impiannya selama ini seketika hancur. Karena dilihat dari sudut pandang manapun, ia sudah kalah disini. Mau seberat apapun usaha yang akan Arfen lakukan nantinya untuk mendapat Dira, hanya akan sia-sia saja. Karena Axello lah yang berhak atas Dira.


"... Awalnya sulit untuk meyakinkan Pras melepaskan Dira, putri satu-satunya. Tapi mungkin karena ini yang dinamakan jodoh, Tuhan seakan merestui perjodohan ini. Semuanya berjalan dengan mudah dan seperti yang kamu tahu sekarang ini. Akhirnya mereka bersedia menikah dan pastinya tanpa paksaan.'' Jelas bunda Resty.


...***...


Arfen berjalan menuju ke mobilnya setelah keluar dari rumah bunda Resty. Langkah kaki laki-laki itu terlihat gontai setelah mendapati kenyataan yang baru saja ia ketahui dari gadis berkedok sahabatnya itu.


Bagaimana tidak, Arfen tahu betul Dira tidak pernah dekat dengan lelaki manapun selain dirinya sebelumnya. Dira bukan tipikal gadis yang friendly dan mudah akrab dengan orang baru apa lagi lawan jenis. Lalu belum lama Dira memasuki Bhakti Bangsa, tiba-tiba gadis itu sudah menjalin kasih dengan Axell sang ketua OSIS.


Jujur, Arfen sempat merasa ada yang janggal saat itu. Dan sekarang ... semua terjawablah sudah.


'Kenapa Lo ngaku sebagai keluarga Dira?'


'Karena gue berhak atas Dira. Papanya Dira nitipin Dira ke gue.


Gue sengaja bikin dia hamil. Why?


Dira itu milik gue.'


"Jadi ini alasan Lo nolak gue, Dir ... karena perjodohan Lo sama Axell?" Arfen memejamkan matanya dalam dengan kepala yang ia sandarkan pada kursi kemudi. Detik kemudian ia menghela nafas, "... Lo kenal gue lebih lama dari Axell, Dir. Kenapa Lo lebih milih dia dari pada gue?"


Masih dengan mata terpejam, Arfen mencoba untuk bisa menguasai diri. Bukan cuma dirinya saja, tapi sesuatu yang ada di dalam rongga dada sana juga. Rasa sakit seperti terremas, dan tersayat begitu menyiksa di dalam sana tanpa ada tanda kapan berhenti.


Arfen mengangkat kepalanya. Tiba-tiba ia teringat dengan seseorang.

__ADS_1


"Nayla ..." Panggilannya tiba-tiba. "... Apa dia juga tau tentang ini?" Arfen kembali diam seolah berpikir.


"Kalo dia udah tau ... kenapa dia nggak kasih tau gue?"


__ADS_2