
23.30
🎶I know you're somewhere out there,
Somewhere far away...
I want you back... I want you back...
My neighbors think I'm crazy...
But they don't understand...
You're all I had, you're all I had...
At night, when the stars light up my room...
I sit by myself...
Talking to the moon...
Trying to get to you...
In hopes you're on the other side... talking to me too,
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
Oh-oh...
I'm feeling like I'm famous, the talk of the town...
They say I've gone mad...
Yeah, I've gone mad...
But they don't know what I know,
'Cause when the sun goes down, someone's talking back,
Yeah, they're talking back, oh...
At night, when the stars light up my room...
I sit by myself...
Talking to the moon...
Trying to get to you...
In hopes you're on the other side, talking to me too...
__ADS_1
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
Ah-ah, ah-ah, ah-ah...
Do you ever hear me calling?
(Ah-ah, ah-ah, ah-ah) oh-oh-oh, oh-oh-oh...
'Cause every night, I'm talking to the moon...
Still trying to get to you...
In hopes you're on the other side... talking to me too...
Or am I a fool who sits alone talking to the moon?
Oh-oh...
I know you're somewhere out there...
Somewhere far away...
Malam semakin dingin dan sunyi. Jika di jam seperti sekarang ini hampir semua orang sudah terlelap dari tidurnya sedari tadi, maka lain halnya dengan seorang cowok yang sekarang ini tengah duduk bersandar pada dinding kaca tebal menghadap balkon kamarnya seorang diri. Dengan di temani dengan sebotol V**ka dan gitar akustik dipangkuannya. Ia baru saja menyanyikan sebuah lagu dari mas Bruno.
Terhitung sudah lebih dari 3 jam, cowok itu menatap ke atas. Dimana bulan sedang bersinar terang di atas sana, seakan ia sedang menatap wajah seseorang yang begitu ia rindukan kehadirannya saat ini.
Tidak. Cowok itu bukan sedang LDR. Hanya saja, seseorang di luar sana itu entah kenapa belakangan begitu sulit untuk ia temui. Bahkan untuk sekedar menyapa saja ia tidak bisa.
Ia yakin kontaknya tidak sedang di blokir. Tapi cowok itu seperti tidak mendapat celah sedikit pun untuk menghubungi gadis yang kini sedang merajai isi kepalanya saat ini. Padahal ia yakin, semua panggilan yang ia lakukan terhubung dengan baik. Pesan yang ia kirimkan pun ia yakin seseorang di sana juga membacanya selama ini. Lalu, kenapa ia tidak mendapat respon sama sekali?
"Lo dimana sih, Dir? Gue kangen sama Lo." Desahnya begitu frustasi.
Ya, cowok yang tak lain adalah Arfen itu kini sedang merasakan rindu yang teramat mendalam pada gadis bernama Dira. Gadis bergelar sahabat yang sialnya begitu ia cintai.
Saking cintanya Arfen pada Dira, ia bahkan melupakan fakta bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih yang tak lain adalah mantan sahabatnya sendiri. Ah... sepertinya kata mantan sahabat tidak tepat. Nyatanya Arfen masih menganggap Axell sahabatnya sampai saat ini. Sahabat yang dulu sudah ia anggap seperti adik sendiri. Hanya saja, karena suatu kesalahpahaman, keduanya tidak lagi saling dekat seperti dulu.
Ya, sampai saat ini hanya sebagian orang saja yang tahu status Axell dan Dira sebenarnya. Terkecuali Arfen dan Derry. Kalau Derry, ia memang menolak untuk percaya kenyataan apa yang Axell katakan padanya, beda halnya dengan Arfen yang memang tidak tahu apa-apa. Arfen hanya menganggap Dira dan Axell sebatas pacaran biasa.
Arfen menghela nafas pelan. Tangannya terulur untuk meraih botol minuman yang terletak tak jauh dari tempat duduknya dan menenggak minuman tersebut. Mata Arfen sedikit menyipit saat rasa manis bercampur asam pahit langsung masuk ke rongga mulutnya.
"Bentar lagi gue bakal gila kayaknya?" Arfen terkekeh sendiri mendengar apa yang baru saja ia katakan. Ia menertawai dirinya sendiri yang sampai saat ini masih belum bisa merelakan Dira seperti apa yang pernah Nayla katakan padanya beberapa waktu lalu.
Menit berlalu, Arfen menggeleng pelan. Ia menepis sesuatu yang tetiba muncul di kepalanya. Ia tidak ingin lagi di cap sebagai perebut kekasih orang jika ia melakukan itu.
"Kenapa, Xell?" Arfen tersenyum getir. "... Kenapa harus Dira? Padahal gue nggak pernah ngerebut Rere dari Lo. Apa Lo emang sengaja, jadiin Dira sebagai alat balas dendam Lo ke gue?"
Arfen kembali meneguk minumannya. Lalu berjalan dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Arfen lalu meraih ponsel yang tergeletak sedari tadi di atas nakas. Ia akan mencari kontak seseorang yang namanya masih tersimpan rapi di ponselnya.
Menemukan apa yang sedang ia cari, Arfen diam berpikir sesaat sebelum akhirnya ia menempelkan benda pipih itu di telinganya.
__ADS_1
"Hallo..."
...***...
Masih di malam yang sama, entah mengapa Dira tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya. Saat Dira membuka mata, padangan yang ia lihat adalah wajah lelap sang suami yang begitu tenang dan damai. Wajah yang empat bulan ini selalu menemani hari-harinya.
Terkejut? Tidak menampik, Dira memang masih terkejut dengan apa yang ia lihat sore tadi. Foto kebenaran antara sang suami dan juga sahabatnya yang ternyata memiliki kisah di masa lalu.
Siapa pun orang yang berada di posisi Dira, pasti tidak akan pernah mengira bahwa Axell dan Arfen pernah bersahabat. Apa lagi kalau melihat tatapan keduanya saat mereka bertemu.
'Axell sayang sama Dira, bun.'
'Axell juga udah cinta sama Dira.'
'Bagi gue, menikah sekali seumur hidup.'
'Jangan pernah berpikir untuk tinggalin gue!'
'Gue akan terus berusaha buat pertahanin Lo!
'Apa yang udah gue genggam, nggak akan pernah gue lepas.'
'Bantu gue pertahanin pernikahan kita!'
'Tetep stay bareng gue, Dir! Gue butuh Lo.'
Dira tersenyum samar setelah mengingat sekelebat kalimat demi kalimat yang pernah ia dengar dari Axell. Dan dari semua hal yang ia tahu, wajar kalau Axell melakukan segala hal hanya untuk menjaganya. Disini Dira bisa menarik kesimpulan, Axell trauma dengan kehilangan.
"Tidur, Sayang ... Udah malem!" Gumam Axell dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Dira mengerjapkan mata, suaminya ini ngigau atau apa?
Merasa tak mendapat balasan, Axell membuka matanya, "Kamu masih ada hari esok untuk melihat wajah ganteng suamimu ini!"
Mulut Dira sedikit terbuka, ia tidak akan mengira kalau Axell akan berkata seperti itu. Apa suaminya bangun dari tadi?
Axell mengecup singkat bibir Dira. Ia gemas melihat wajah cengo sang istri. "Kenapa bangun?" Axell telentang, ia menoleh pada jam digitalnya di nakas yang menunjukkan pukul 1 dini hari. "... Masih larut ini?"
"... Kamu mimpi buruk, Yang?" Tambahnya lagi setelah kembali menoleh pada Dira.
Dira tersenyum, lalu menggeleng pelan. Detik kemudian Dira beranjak dari ranjang dan membuka sebuah laci paling bawah. Axell ikutan duduk, tapi ia bersandar pada sandaran ranjang.
"Orang aku lagi kebelet kok." Ucap Dira lalu menuju kamar mandi dengan sebuah roti 'horor' ditangannya.
Selesai dengan Urusannya di kamar mandi, Dira keluar dan mendapati Axell yang sudah kembali memejamkan matanya dengan tarikan nafas yang teratur.
Dira tersenyum, lalu melangkah mendekati ranjang dan kembali merebahkan diri dengan posisi miring agar ia bisa kembali melihat wajah lelap sang suami.
"Yes, hubby... I'll stay." Guman Dira lirih.
__ADS_1
Byaarrr!
Mata Axell kembali terbuka setelah mendengar kalimat yang Dira ucapkan.