
Axell berdiri tepat di depan pintu kamar di mana dulunya ia biasa datang berkunjung. Kamar seorang gadis yang dulu begitu ia cintai sekitar 2 tahun yang lalu.
Kedua tangan Axell yang berada di kedua sisi tubuhnya itu mengepal sempurna, saat ia kembali teringat dengan apa yang ia dengar dari Zaki waktu masih di perjalanan tadi.
Flashback on.
Bughh!
Satu pukulan kembali Axell daratkan pada dashboard mobil milik Zaki. Ia merasa kesal karena di saat ia ingin segera sampai ke suatu tempat, ia malah terjebak dengan kemacetan kota jakarta.
Bagaimana tidak, waktu sekarang ini bertepatan dengan waktu orang pulang dari bekerja yang sudah dapat di pastikan dalam keadaan macet luar biasa.
"Shitt!" Entah sudah berapa kali Axell mengumpat sedari tadi. Mobil Zaki seakan menjadi saksi bisu dengan setiap umpatan yang keluar dari seseorang yang duduk di samping kemudi itu.
"Beneran Renata yang ngelakuin ini, Jack? Woahh... Beneran nggak nyangka gue." Celetuk Bastian tiba-tiba. Ia masih tidak percaya dengan kabar yang ia dengar beberapa menit tadi dari Zaki. Tentang apa yang terjadi dengan Dira dan siapa penyebab Dira hingga sampai keguguran seperti sekarang ini?
Zaki mendengus sebal. Ia paling tidak suka di panggil 'Jack', apa lagi yang manggil si Bastian. Pasalnya 'Jack' adalah nama anjing peliharaan dari Bastian sendiri.
"Apa yang gue dapat kalau gue bohong? Lo bisa tanya pacar gue, Shu!" Jawab Zaki kesal sendiri.
Axell tak bersuara. Tangannya semakin mengepal erat. Sudah cukup ia membiarkan Renata bertindak sesuka hatinya. Perbuatannya kali ini sudah tidak dapat ia tolerir lagi. Gara-gara Renata, calon anaknya kembali pada sang pencipta bahkan sebelum ia tahu kalau dia ada.
Flashback off.
Axell berusaha mengatur nafas. Ia mencoba mengendalikan amarahnya yang sepertinya hampir meledak sekarang ini. Menit kemudian satu tangan Axell terangkat untuk mengetuk pintu kayu tersebut.
...***...
Sementara itu di dalam kamar, nampak tisu berserakan di tepi ranjang. Sosok si pemilik kamar terlihat lelah karena terlalu lama menangis. Ia duduk di atas kasur dengan memeluk kakinya yang menekuk. Pandangannya nanar menatap pada kuku kakinya yang berwarna merah, warna kesukaannya.
Ia termenung. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa lelaki yang saat ini dia inginkan, laki-laki yang dulu begitu mencintainya itu tak dapat lagi ia rengkuh kembali dalam pelukannya.
Mengejar suami orang?
Sungguh, Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Hanya saja rasa ingin memiliki Axell kembali lebih besar dari pada rasa malunya saat ini. Ia bahkan tidak peduli dengan status Axell yang telah menikah.
Dan, seiring dengan pikirannya yang masih berkelebat tentang sang mantan kekasih, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengetuk pintu kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Dengan rasa malas, Renata beranjak untuk melihat siapa yang datang. Tadi pintu kamarnya sengaja ia kunci karena malas kembali mendengar penuturan dari sang kakak yang terus-menerus memintanya untuk tidak mengganggu Axello kembali.
Ceklek!
Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Renata. Ia bahkan sama sekali tidak pernah berpikir seseorang di depannya ini akan datang ke rumahnya. Bahkan ke kamarnya untuk menemui dirinya seperti sekarang ini.
"Xello..." Ucap Renata pelan.
__ADS_1
Ya, Axello. Seseorang dengan raut wajah yang tiba-tiba terlihat serius namun malah menambah kadar ketampanan dari putra Marvellyo Jodi itu menatap Renata lekat.
Segenap perasaan yang akan tercurah masih ia tahan, saat melihat betapa buruk dan menyedihkannya kondisi gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Menyadari arah pandang Axell, Renata spontan menghapus air mata yang nampak masih membanjir di wajahnya.
"Tolong berhenti!" Suara Axell terdengar datar.
"Xello ... gue -
"Tolong berhenti, RENATA ISABELLA!" Suara Axell tiba-tiba meninggi dan langsung menunjukkan kalau ia sedang marah saat ini.
Ralat! Bukan sekedar marah, tapi amat sangat marah.
Bahkan gara-gara gadis di depannya ini, ia batal menjadi seorang ayah.
Renata terisak. Bagaimana pun, ini pertama kali Axell membentaknya, "Xell... " air mata itu kembali menetes di pipi Renata. "... Tolong jangan kayak gini! Hiks... Lo bisa nyakitin Gue." Ucap Renata terdengar pelan.
Axell menghela napas. Laki-laki itu mencoba untuk sedikit melunak, "Emang Lo pikir Lo nggak nyakitin gue dengan segala kelakuan Lo selama ini?" Ucap Axell pelan.
"Gue ngelakuin ini semua karena ... hiks ..." Renata sesenggukkan sejenak, "... karena Gu - hiks ... Gue masih sayang sama Lo ... hiks ... Gue, Gue cinta -
"Jangan sembarangan ngomong cinta depan gue!" Jawab Axell cepat. Seakan ia merasa jijik mendengar kata cinta yang keluar dari mulut mantan kekasihnya ini.
Deg!
Renata kembali tersentak. Hatinya semakin patah.
"JANGAN PAKSA GUE BUAT NGERTIIN LO!" Axell menghela nafas. "... GUE MOHON, GUE UDAH MUAK DENGAN SEGALA KELAKUAN LO!" Jawab Axell tak kalah dengan nada bicara Renata.
"Xell -
"KENAPA LO LAKUIN ITU KE DIRA TADI? JAWAB!!" Bentak Axell yang sudah mulai kehabisan kesabaran. "... LO GILA, RENATA!"
"Gue kayak gini karena Lo -
"BERHENTI BAWA-BAWA GUE UNTUK KEGILAAN DALAM HIDUP LO ITU!"
"XELLO!" Renata kembali teriak. "... TAPI DULU LO ITU -
"ITU DULU. GUE BUKAN AXELLO YANG DULU LAGI. GUE UDAH BERUBAH ... MASUK KAMAR LO! SEKARANG!" Sentak Axell cepat seakan tak mau di bantah.
Renata kembali tersentak. Ia mendadak jadi gelagapan, "Xe - Xell ... Lo mau apa?" Renata ketakutan melihat Axell yang seperti ini.
Mungkin kalau Axell dalam keadaan tenang, ia akan suka dan dengan senang hati, mau kalau di ajak masuk ke kamar.
"CEPAT!" Bentar Axell lagi.
Melihat Renata yang gemetar ketakutan, Axell menyunggingkan bibirnya. "... Kenapa takut? Bukannya Lo bilang, Lo mau gue? Iya, kan?" Ucap Axell yang mulai melangkah pelan. Membuat Renata otomatis berjalan mundur.
"Xell ... Tapi nggak kayak gini."
__ADS_1
Axell lalu melonggarkan dasinya dan mulai membuka kancing kemejanya.
"Lo biasanya pakai pemanasan nggak? Mau dari yang mana dulu?" Tanya Axell ngelantur lalu menunduk melihat dua kancing kemejanya yang sudah terbuka.
"... Lo suka gaya apa?" Tanyanya santai sambil kembali membuka sisa kancing yang lainnya.
Renata semakin mundur. "Xell ... Lo - Lo mau ngapain? Jang - jangan kayak gini, Xell! Sekarang ini Lo lagi emosi!"
Axell mengangkat wajahnya, ia tersenyum saat semua kancing di kemejanya telah terbuka semuanya.
"Bukannya kalo lagi emosi jadi lebih enak, ya?Lebih bersemangat, berhasrat. Dan jadinya gue lebih bisa muasin Lo yang haus akan sentuhan dari gue ..." Lagi-lagi Axell menjawab konyol.
"... Lo suka yang pelan-pelan dulu atau yang langsung cepet?" Gertaknya lagi.
"XELLO!" Teriak Renata. Gadis itu terlihat ngos-ngosan. "... Gue memang mau Lo. Tapi nggak kayak gini caranya!" Renata semakin ketakutan dibuatnya.
Axell tersenyum. Ia beralih membuka ikat pinggang yang melingkar di pinggangnya. Lalu menggenggam kedua tangan Renata erat, hingga Renata merasa kesakitan.
Axell lalu mendorong tubuh gadis itu dengan cepat hingga ia melangkah cepat mundur ke belakang.
Bruukkk!
Tubuh Renata pun langsung terhempas dan terbaring dengan begitu kuat. Sungguh. Tenaga Axell sungguh tidak main-main, dan berhasil membuat Renata semakin gelagapan. Ia segera menundukkan tubuhnya sesaat setelah ia terhempas begitu kuat di atas ranjang karena ulah Axell tadi.
Tubuhnya terasa sakit karena hal itu. Bagaimana pun juga, ia mengalami kekerasan fisik di sini. Akh... tapi itu belum seberapa dengan apa yang sudah Renata lakukan pada Dira.
Axell mulai mengungkung Renata. Ia mulai menurunkan wajahnya hingga jaraknya sangat dekat dengan wajah mantan kekasihnya itu.
Axell dapat melihat dengan begitu jelas, mata sembab Renata.
Tapi melihat mata sembab Renata tidaklah cukup untuk membuat rasa marahnya hilang. Hanya melihat air mata Renata, itu tidak cukup untuk membuatnya merasa lebih baik.
Jika sekarang Axell menatap Renata dengan tatapan penuh kebencian, maka lain halnya dengan gadis itu. Melihat wajah Axell dari bawah, seketika Renata terpaku.
Setelah sekian lama, ini kali pertama ia bisa kembali memperhatikan wajah Axell dari jarak sedekat ini.
Ia bahkan begitu senang. Wajah tampan Axell sungguh menghipnotisnya. Dan saat Axell menatapnya lama, tanpa sadar Renata mulai memejamkan matanya. Mengharapkan sesuatu di dalam pikirannya akan terjadi setelah ini.
Tanpa Renata sadari, tatapan mata Axell beralih menatap ponsel yang tergeletak di samping kepalanya.
Axell meraih benda pipih tersebut. Membuka beberapa file di dalamnya lalu menghapusnya dengan cepat. Semua file berisikan foto, video dan kontak tentang dirinya berhasil terhapus semuanya.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Renata berdetak tak karuan. Ia mengharapkan sesuatu hal besar akan terjadi padanya dan Axell sebentar lagi. Bahkan Renata bisa merasakan hembusan dan harum nafas Axell yang beraroma mint segar menerpa permukaan kulit wajahnya.
Melihat sang mantan kekasih yang masih betah menutup matanya, Axell menyeringai. Sangat jelas terlihat kalau Renata sangat mengharapkan sentuhan darinya.
__ADS_1
"Kenapa nutup mata? Lo berharap sesuatu terjadi ...