Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
126. Pembicaraan serius.


__ADS_3

"Nggak perlu bilang terima kasih, Yang!" Balas Axell sambil kembali mengusap lembut surai kecoklatan milik sang istri. Laki-laki itu tersenyum senang. Tiba-tiba sebuah ide jail muncul di kepalanya. "... tapi kalau kamu mau berterima kasih, seingatku, aku udah pernah ngajarin kamu cara berterima kasih yang baik dan benar. Jadi nanti sampai rumah aja terima kasihnya!"


Blush...


Pipi Dira memanas. Ia tahu betul apa yang di maksud Axell dengan cara berterima kasih versi suaminya itu. Apalagi kalau bukan tentang kebutuhan biologis sepasang suami istri.


"Gimana, Yang?" Tanya Axell sambil sesekali menoleh ke arah Dira dengan menaik-turunkan alisnya.


Malu. Benar-benar malu. Meskipun keduanya sudah sering melakukannya, tapi Dira masih saja merasa malu saat Axell membahas tentang hal itu. Tapi Dira juga tak ingin menolak tentang keinginan sang suami. Ia pun akhirnya mengangguk mengiyakan.


"Iya, boleh." Jawab Dira lirih.


Axell kembali tersenyum senang. Sejak Dira memberikan hak sepenuhnya sebagai suami untuk pertama kali, Dira kini tak pernah lagi menolak keinginannya.


Tapi tunggu, jika saat ini Axell tengah merasa senang karena Dira yang sebentar lagi akan menuruti keinginannya, setelah mereka sampai di rumah, tapi berbeda dengan apa yang gadis itu rasakan saat ini.


Dira tengah merasakan suatu hal yang tidak nyaman dengan dirinya sendiri sedari pagi. Perut bagian bawahnya terasa kram, dan juga bagian dadanya yang terasa sedikit nyeri. hal yang biasa gadis itu rasakan disaat ia akan memasuki masa On periode atau biasa disebut datang bulan. Mungkin.


Eh, tapi ... Dira baru saja ingat akan satu hal. Tamu rutin bulanannya itu terlambat datang. Seharusnya ia mendapatkannya seminggu yang lalu.


Pandangan Dira yang sedari tadi mengarah ke depan kini beralih menatap Axell, sang suami yang tengah fokus mengemudi. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun ragu, dirinya sendiri tak yakin. Apakah Axell akan menuruti keinginannya atau tidak.


Ragu-ragu, Dira memberanikan diri untuk memanggil sang suami, "Eumm... kak." Panggil Dira lirih, bahkan hampir tak terdengar.


"Ya , sayang ... kamu manggil aku?" Jawab Axell merdu sambil menoleh ke arah Dira. "... kamu mau beli sesuatu?" Tanya Axell balik.


Dira menggeleng, bukan itu yang ia inginkan. "Nggak ada, kak. Aku hanya ... ada satu permintaan."


"Boleh... " Jawab Axell sambil sedikit menoleh kesamping. Laki-laki itu sedang membelokan mobilnya ke arah d'Axe Cafe dan bukan ke rumah.

__ADS_1


"Aku minta nanti kalo kita ... itu, anu ... melakukannya ... aku mau kak Axell pakai pengaman." Ucap gadis itu masih dengan nada yang sama seperti tadi. Ragu. Bahkan Dira sampai meremat kedua tangannya sendiri hanya untuk menunggu reaksi yang akan Axell tunjukkan.


"Pengaman?" Ulang Axell memastikan apa yang Dira katakan. Axell menoleh ke arah Dira dan mendapati istrinya itu yang menganggukkan kepala. Axell tidak bodoh, ia tahu betul apa yang gadisnya itu maksudkan tentang kata 'pengaman'.


"Gak! Aku nggak mau. Nggak enak, Yang!" Tolak Axell cepat.


"Tapi, kak -


"Aku nggak bisa ngerasain, Yang! Aku nggak bakal puas, nggak enak dan pokoknya aku nggak mau!" Ucap Axell lagi yang masih bersikeras untuk menolak keinginan Dira.


'Enak aja suruh pakai pengaman. Kamu nggak tau aja, Yang. Aku masih tetap pada rencana aku yang pengen kamu cepat-cepat hamil.'


Dira setengah tidak percaya mendengar jawaban yang Axell berikan. Bahkan mata Dira sampai melebar setelah mendengar apa yang Axell katakan tadi.


'Apa tadi? Nggak enak? Nggak puas? Nggak bisa ngerasain? Ini berarti sebelumnya kak Axell...'


"Kak ... berarti sebelumnya, kak Axell sudah pernah melakukannya sebelum sama aku? Sama siapa? Sama Renata?" Tanya gadis itu setengah menuntut.


OK, ini pembicaraan yang serius.


Axell lalu mengurangi laju mobil dan menepikan mobilnya seketika. Setelah mobilnya berhenti, Axell memutar badannya menghadap pada Dira. Ia harus segera menampik apa yang gadisnya itu pikirkan tentangnya.


"OK, Aku mau bikin pengakuan sama kamu ..." Ucap Axell menggantung.


Dira membuang muka dan mendengus kesal, jadi benarkan dugaannya?


"... selama aku pacaran sama dia, aku emang pernah beberapa kali cium dia. Tapi untuk sampai ke tahap yang lebih ..." Laki-laki itu menggeleng. "... aku masih sangat menjaga, Yang. Dan nggak ada yang terjadi lebih dari pada itu. Karena aku memegang teguh prinsip bahwa hanya istri aku yang memiliki hak atas diriku sepenuhnya ... kamu yang pertama, Yang." Jelas Axell.


Dira menoleh, ia menatap lekat manik mata Axell. Mencoba mencari kebohongan yang mungkin saja laki-laki tapi lakukan. Namun nihil. Dira yakin kalau Axell berkata jujur.

__ADS_1


"Maaf!" Ucap Dira lirih. Pada akhirnya hanya kata itu yang bisa Dira ucapkan. Ia telah salah mengira kalau Axell pernah melakukannya hak sejauh itu dengan mantan kekasihnya dulu.


Axell menghela nafas pelan, ia hampir terpancing emosi. "Sekarang aku tanya sama kamu, atas dasar apa kamu nyuruh aku pakai pengaman kayak apa yang kamu bilang tadi? Kamu lupa, aku ini suamimu, Yang? Kamu nggak mau hamil anak dari aku? Iya? Bener begitu? Karena apa? Karena Arfen? Iya?" Tanya Axell beruntun.


Nah ... kan, kalau sudah begini, giliran Axell yang jadi salah paham.


'Kenapa jadi malah bawa-bawa Arfen?'


"Bukan begitu, kak." Jawab Dira lirih.


"Lalu? Kasih aku alasan!" Ujar Axell dengan sorot mata yang serius menunggu jawaban.


Dira menghela nafas pelan sebelum membuka suara , "Kita masih sama-sama sekolah, kak. Bahkan aku masih kelas sebelas -


"Apa masalahnya sih, Yang?" Potong Axell dengan pertanyaan. "... Kamu bahkan masih bisa bebas melanjutkan sekolah walau dalam keadaan hamil sekalipun. Dan kalo nanti kamu merasa nggak nyaman disaat perut kamu yang udah mulai membesar, aku bisa urus semuanya ... home schooling akan menjadi solusi buat kamu. Aku akan pastikan, kamu akan tetap melanjutkan pendidikan seperti apa yang kamu mau. Jadi apa yang masih kamu takutkan?"


"Maaf..." Ucap Dira lagi. Gadis itu menunduk karena merasa bersalah dengan apa yang ia katakan tadi.


Axell kembali menghela nafas pelan. "Bukan itu yang mau aku dengar dari kamu, Yang." Jawab Axell.


Dira memberanikan wajahnya untuk menatap wajah Axell setelah dari tadi menunduk. "Aku nggak akan bilang kayak gitu lagi."


"Yang mana? Banyak yang kamu katakan tadi." Tanya Axell pura-pura tak mengerti.


"Aku nggak akan minta kak Axell untuk pake pengaman kayak tadi ... maaf!" Ucap Dira lirih.


"Dimaafkan." Jawab Axell singkat. Laki-laki itu lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya. Ia memutar balik arah laju mobil mewah warna hitam tersebut.


Sebenarnya tadi Axell ingin mengajak Dira untuk singgah sejenak ke d'Axe Cafe untuk sekedar menyapa para pekerjanya sekaligus untuk mengisi perutnya yang sudah merasa lapar sejak tadi.

__ADS_1


Tapi, karena suasana hatinya sedang buruk perihal tentang Dira yang memintanya untuk memakai alat pencegah kehamilan tadi, Axell jadi mengurungkan niatnya untuk mendatangi kafe miliknya tersebut dan memilih untuk pulang ke apartemen.


__ADS_2