Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
149. Kedatangan Axell.


__ADS_3

"Aku pergi dulu ya, Yang? Kamu istirahat dulu di sini, sama bunda, ayah, Om David dan teman-teman kamu juga masih ada di luar ..." Axell mengecup Dira lama. "... Aku pergi dulu." Pamit Axell seakan Dira bisa mendengarnya.


Axell lalu berdiri. "Axell titip istri Axell, Yah, Bun, Om." Ucap Axell lalu berjalan keluar dan berhadapan dengan Nayla yang kebetulan berdiri tak jauh dari pintu yang sedari tadi terbuka, setelah Axell masuk ke ruangan tersebut.


"Mau kemana kamu, boy?" Tanya bunda Resty panik. Bunda Resty takut Axell akan melakukan sesuatu di luar dugaannya.


"Jangan bertindak gegabah, Axell!!" Ucap ayah Marvellyo mengingatkan.


Axell berhenti di depan pintu yang berjarak satu meter, tepat di depan Nayla berdiri sekarang dan sedang menatapnya dengan tatapan yang shock luar biasa.


Shock karena telah mengetahui status Axell dan Dira yang sebenarnya.


Ya, diantara mereka memang cuma Nayla yang belum tahu.


"Ada sesuatu yang harus Axell bereskan ..." Axell tiba-tiba terkekeh pelan. Dalam hati Axell mengrutuki dirinya sendiri. Seharunya ia melakukannya sedari lama. Agar hal ini tidak terjadi.


"... Ayah sama bunda tenang aja! Axell tidak akan bertindak bodoh seperti orang yang sudah berani bikin istri Axell sampai seperti ini. Ini hanya bentuk perlindungan Axell pada istri Axell." Ucapnya sambil menatap Nayla. Lalu pandangannya beralih menatap Zaki.


Kekasih dari Melody itu langsung berdiri. Ia menatap balik Axell dan mengangguk samar, "Masih orang yang sama ..." lalu Zaki meraih kunci mobil yang ia simpan di dalam saku celananya. Ia akan ikut Axell pergi ke suatu tempat. "... Mau bikin film dokumenter?" Tanya Zaki dengan senyum miringnya.


"Thank's." Pandangan Axell lalu beralih menatap Bastian.


"Gue ikut ambil bagian. Nggak bisa gue kalo cuma di suruh diem ..." Senyum smirk Bastian muncul. "... Gue ikut eksekusi." Ucap Bastian yang kini ikutan berdiri.


Meskipun perasaan Bastian ke Dira udah biasa aja nggak kayak dulu, tapi di sini Bastian tetep peduli. Apalagi Dira itu istri dari sahabatnya.


Baru berjalan beberapa langkah, Axell kembali menghentikan langkah kakinya. "Kalo ada apa-apa sama Dira, langsung telepon Babas, Rel! Ponsel gue masih ketinggal di kantor." Ucapnya pada Verrel.


Verrel mengangguk, "Gue selalu bisa Lo andalkan."


...***...


"Astaga... Renata! Stop it! What are you doing?"


"Kak Nicho." Renata terkejut saat menoleh dan mendapati sang kakak yang berdiri di depan pintu kamarnya. Bukankah seharusnya kakaknya itu tidak berada di rumah di jam seperti ini?


Nicholas melihat seisi kamar sang adik. Kamar yang dominan warna merah dan gold itu terlihat hancur dan berantakan. Buku-buku yang berserakan di lantai, serpihan kaca, vas bunga dan kristal ikut menambah kekacauan yang terlihat. Melihat kondisi kamar adiknya yang seperti demikian, Nicholas nampak memijat pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut .


Tadi sepulang dari meeting bersama dengan MJ Corps, ia merasa sedikit lega. Karena menurutnya masalahnya berkurang satu. Tapi setelah ia sampai di rumah dan melihat adiknya yang sedang menghancurkan kamarnya sendiri, sepertinya ia akan kembali dipusingkan dengan tingkah dari sang adik, yang entah, apa lagi yang sedang terjadi dengan adiknya yang tempramen itu?


"Renata, please! Kaka lagi pusing. Jadi Stop, Stop bertindak bodoh!" Tegur Nicholas.


'Bertindak bodoh?'

__ADS_1


Renata tak percaya dengan apa yang baru dia dengar dari sang kakak. Bertindak bodoh katanya?


Ia sedang merasakan yang namanya patah hati sekarang ini, dengan bertindak seperti ini, ia berharap perasaannya bisa jauh lebih baik. Terus dia salah?


"Kak ... Xello -


"Re, Stop. Jangan ganggu Xello. Xello itu udah punya istri. Xello itu ... dia udah nikah sama Dira. Dia itu udah bukan lagi cowok bebas yang bisa kamu usik kehidupannya sesuka hati kamu sendiri!"


Jlebb!


Nah kan ... kalo udah kayak gini, Renata mau jawab bagaimana lagi?


Melihat adiknya yang terdiam, Nicholas menghela nafas. "Kakak sudah pernah bilang sama kamu, Lupain Xello, Re! Putus sama dia bukankah itu maunya kamu dulu? Karena kamu yang terganggu dengan sikap Axell yang over posesif. Dan juga, bukannya kamu lebih tertarik sama Arfen? Lalu sekarang, Kenapa kamu ngotot pengen balik sama dia? Kenapa kamu nggak berusaha untuk dapetin Arfen yang jelas-jelas masih single?"


"Tapi sekarang ini aku maunya Xello, kak! Axello! Kenapa kakak nggak bisa ngertiin aku?!" Jawab Renata tak terima.


"Re! Cukup!" Interupsi Nicholas.


'Pastiin adek Lo untuk nggak ganggu hidup gue dan istri gue lagi! Maka Gue jamin perusahaan keluarga Lo akan aman. Tapi sebaliknya, kalo sesuatu terjadi sama istri gue, dan sampai gue tau itu gara-gara ulah dari Adek Lo, Jangan salahin gue dengan apa yang akan gue lakuin setelah ini. Kita saling tau sifat kita satu sama lain. Dan Lo tau, gue nggak pernah main-main!'


Seketika Nicholas menggelengkan kepalanya. Ia teringat dengan ucapan Axell saat mereka bernegosiasi usai meeting di MJ Corps tadi.


"Jangan lakukan hal bodoh yang akan berimbas pada perusahaan, Re!" Satu kalimat dari Nicholas itu berhasil membuat sang adik kembali menatap wajah sang kakak. Ia sama sekali tak mengerti. Apa hubungannya Xello dengan perusahaan keluarganya?


Renata diam sambil mengrenyitkan dahinya bingung. Ia benar-benar masih nggak ngerti disini. Gadis itu masih diam dan menatap wajah sang Kakak seolah menuntut penjelasan.


"... Kamu tahu kakak tadi meeting dengan siapa?" Masih betah dengan diamnya, Renata hanya diam menunggu sang kakak melanjutkan kata-katanya.


"... Kakak meeting dengan Axello, pewaris tunggal MJ Corps."


Degg!


Beneran kicep dan nggak bisa ngomong apa-apa lagi, Renata benar-benar di buat bungkam dengan mata yang membulat sempurna.


'Apa yang akan Xello lakuin setelah ini?'


...***...


Mobil Nicholas melaju melewati gerbang rumahnya. Tak lama berselang, mobil Zaki berhenti di depan gerbang yang hampir tertutup sempurna itu.


Tiinn!!


Nampak kepala Axell terlihat dari kaca jendela yang sengaja ia turunkan. Bermaksud agar Pak satpam penjaga pintu gerbang tersebut kembali membuka gerbang karena melihat kedatangannya.

__ADS_1


"Lho! Mas Axell, Lama nggak main ke sini, mas?" Tanya Pak Yahya - satpam penjaga gerbang.


Axell menarik satu sudut bibirnya, "Rere ada kan, Pak?" Tanya Axell.


Pak satpam itu mengangguk cepat, "Ada Mas. Baru pulang sekolah sekitar 1 jam yang lalu, belum pergi lagi ..." Jawabnya setelah kembali membuka pintu gerbang tersebut. "... silakan masuk Mas!"


"Makasih, Pak." Ucap Axell sambil tersenyum. Lalu senyum yang membingkai di wajah tampan itu perlahan hilang berganti dengan mengerasnya rahang Axell.


...***...


"Den Axell ... Masuk, Den! Lama nggak kelihatan, ke mana aja, Den?" Tanya perempuan berdaster, berusia sekitar 60 tahunan, setelah membuka pintu utama milik keluarga Satya Mahaputra. "... udah lama nggak keliatan main ke sini. Bibi Sampai pangling!"


Axell hanya tersenyum tipis, pandangannya beralih menatap tangga yang mengarah ke lantai 2, di mana kamar dari Renata berada.


Mengerti dengan tujuan dari kedatangan Axell, bik Surti itu kembali berkata, "Non Rere lagi di kamar, Den. Aden mau masuk sendiri atau biar bibi aja yang panggilkan?"


Axell menatap bik Surti, "Nggak usah, bik ..." Axell kembali melihat ke atas sana, "... saya mau kasih kejutan."


Bik Surti tersenyum, ia mengangguk paham, "Kalau begitu, bibi bikin minum dulu ya, Den. Aden mau minum apa?"


"Yang dingin-dingin aja, Bik! Udara lagi panas-panasnya soalnya." Ucap Bastian yang tiba-tiba muncul.


"Lho, Aden bawa temen rupanya? Maaf, bibi nggak liat." Ucap bik Surti yang lupa kalau Axell tidak datang sendiri.


Bastian mencibir, "Ganteng padahal, bisa nggak kelihatan!"


"Maaf atuh, den!" Ucap bik Surti setelah menutup pintunya.


"Dia juga teman Renata kok, bik." Jawab Axell dengan wajah yang mulai terlihat serius.


"Kalau begitu bibi ke belakang dulu ya, den. Kalau Aden berdua ada perlu apa-apa, langsung panggil bibi aja!" Pamit bik Surti.


Axell mengangguk dengan senyum yang tidak sampai ke pipi. Lalu senyuman itu perlahan menghilang saat ia kembali melihat ke arah atas sana.


Sementara Bastian, ia sudah duduk nyaman di sofa ruang tamu sambil menunggu minuman dingin yang sedang di siapkan oleh bik Surti. Beneran santai banget, kayak orang lagi bertamu pada umumnya. Padahal yang terjadi tidak demikian. Ia hanya sedang menjalankan tugas dari Axell, sahabatnya.


"Anggap aja rumah sendiri, Bas! Dan nikmati minuman dingin Lo!" Ucap Axell dengan nada yang sudah terdengar berbeda.


"Cckk. Gue lebih nikmatin petunjuknya sih, Xell. Sayang sekali gue nggak boleh ikutan masuk." Ucap Bastian asal.


Masih dengan arah pandang yang sama, Axell nampak menarik satu sudut bibirnya. "Lo lihat nanti!"


Axell lalu melangkah lebar menuju anakan tangga yang membawanya ke lantai dimana kamar sang mantan kekasih.

__ADS_1


"Renata, gue datang."


__ADS_2