Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
147. Datangnya badai.


__ADS_3

"Xell, Dira masuk rumah sakit."


Deg!


Asli. Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Bastian, tapi berhasil membuat jantung Axell seperti berhenti berdetak.


Axell langsung berdiri dari duduknya. Ia menatap semua yang hadir pada meeting tersebut yang ternyata juga sedang menatap padanya.


Tatapan seakan meminta penjelasan tentang siapa yang di sebutkan siswa SMA tadi.


Ia harus pergi sekarang.


"Maaf, saya tidak bisa mengikuti meeting siang ini sampai selesai, di karenakan saya harus pergi. Meeting akan tetap dilanjutkan dengan semua laporan melalui Pandu. Saya permisi." Ucap Axell lalu beralih menatap Pandu. Pandu yang mengerti maksud Axell pun mengangguk paham.


Axell lalu berjalan keluar. Ia harus segera sampai di rumah sakit di mana istrinya berada sekarang.


'Yang, aku datang.'


Di saat perasaannya semakin tidak karuan, Axell masih mencoba untuk tetap tenang. Walau sulit Ia tetap berpikiran positif. "Mungkin asma Dira lagi kambuh?" Gumamnya hanya itu hal positif yang kini terlintas di pikirannya.


Bastian meraih bahu Axell, "Xell, tunggu!" Dan seketika menghentikan langkah dari sahabatnya itu.


Axell menoleh, ia menatap Bastian seolah bertanya, "Dira hamil."


Deg!


"Hamil?" Ulang Axell memastikan apa yang baru saja ia dengar dari Bastian.


Bukankah seharusnya ia merasa senang di sini, saat Bastian mengangguk membenarkan kata-katanya?


Tapi kenapa hatinya merasakan hal lain? Bukan tak senang karena mendengar kabar istrinya yang sedang hamil. Itu tandanya usahanya selama ini tidak sia-sia dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Tapi entah mengapa ia malah merasa semakin khawatir?


Tak kembali mengatakan apapun, Axell kembali melebarkan langkah kakinya keluar dari kantor sang ayah.


"Gue yang nyetir!" Pungkas Bastian saat mobil Axell sudah berada di depan sana.


Axell tak menolak atau mengatakan apapun. Sekarang ini isi di kepalanya sudah benar-benar di penuhi dengan Dira sang istri. Yang terpenting sekarang ini, ia harus bisa cepat-cepat sampai di rumah sakit dan mengetahui keadaan Dira yang sebenarnya.


Axell menurut dengan apa yang Bastian ucapkan. Keduanya memasuki mobil dengan Bastian sebagai pengemudi.


...***...


Di rumah sakit.


Di ruang tunggu IGD, masih terlihat Melody, Zaki, Verrel dan juga Nayla. Mereka kompak berdiri saat melihat kedatangan seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Ya, bunda Resty. Wanita paruh baya itu sudah lebih dulu sampai. Tadi ayah Marvellyo sempat menelponnya saat baru saja meninggalkan area kantor MJ Corps. Hanya saja Ayah Marvellyo masih belum sampai, karena mungkin masih terjebak macet di jalan.


Melihat bunda Resty yang datang ke rumah sakit, Nayla sempat tertegun. Ia sama sekali tak pernah mengira kalau ibu dari Axell akan datang.


'Kok Tante Resty yang datang? Bukankah seharusnya Om Pras dan tante Diva yang datang? Emangnya hubungan mereka udah seserius itu, ya?'' Batin Nayla bermonolog.


Menit kemudian Ia baru ingat akan satu hal. Bagaimana mereka datang jika tidak ada yang memberitahu mereka?


Sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi, Gadis itu pun menepuk jidatnya sendiri. Nayla lalu mengambil ponsel dari dalam tas sekolahnya. Hal itu pun tak luput dari perhatian Verrel, "Mau telepon siapa?" Tanyanya.


"Mamanya Dira. Gue yakin Melody dan Zaki belum ada yang kasih tahu orang tua Dira." Jawab Nayla sambil mencari kontak mama Diva. "... Yaah... yaah... yahh.."


"Kenapa, Beib?" Tanya Verrel.


"Ponsel gue lowbat." Jawabnya pelan. Diam-diam Verrel menarik nafas lega. Yang Verrel tahu selama ini Dira tinggal dengan Axell karena statusnya yang telah bersuami. Kalau sampai Nayla memberitahu mereka tentang Dira yang pingsan di sekolah, Sementara Axell yang sedang tidak masuk, mereka bisa salah paham dan berpikir kalau Axell lalai dalam hal menjaga istrinya.


"Bagaimana keadaan Dira?" Tanya bunda Resty saat berhenti tepat di depan teman-teman dari anak dan menantunya itu.


"Bunda..."


"Tante..." Sapa mereka semua hampir bersamaan.


"Bagaimana keadaan Dira?" Bunda Resty kembali mengulangi pertanyaannya yang tak kunjung mendapatkan jawaban itu.


"Dira -


"Bunda juga belum tahu, Yah ..." Jawab bunda Resty. "... Bunda juga baru sampai." Ayah Marvellyo beralih menatap teman-teman Axell dan Dira.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dira? Kenapa Dira bisa masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?" Tanyanya pada keempat remaja yang masih mengenakan seragam SMA tersebut.


"Zaki yang lebih tahu cerita jelasnya, Om." Jawab Verrel. Ayah Marvellyo mengubah atensinya pada Zaki. Bermaksud agar Zaki segera menceritakan apa yang terjadi.


"Jadi gini, Om. Tadi waktu mau pulang sekolah, aku sama Melody -


"Marvel... Resty..." Panggil seseorang yang seumuran dengan ayah Marvellyo. Pria paruh baya bersnelli dengan stetoskop yang menggantung di lehernya itu datang dengan dokter yang memeriksa Dira tadi. "... kenapa kalian di sini? Siapa yang sakit?" Tanyanya.


"Dira, Vid." Jawab bunda Resty. "... tadi aku di telepon ayahnya Axell, Katanya Dira masuk rumah sakit." Jelas bunda Resty.


"Maaf menyela. Jadi Anda berdua ini orang tua gadis yang ada di dalam?" Tanya dokter dengan hijab yang menutupi kepalanya itu.


"Iya, Dok." Jawab ayah dan bunda hampir bersamaan. Tak ayal, hal itu malah menimbulkan pertanyaan di benak Nayla.


'Kenapa mereka malah mengklaim sebagai orang tua Dira? Sebenarnya apa yang nggak gue tahu selama ini tentang mereka?'


"Mari, kita bicara di dalam!" Ajak dokter itu sambil membuka ruang tindakan di mana Dira yang masih terbaring di dalamnya. Ayah dan Bunda berjalan mengikuti dokter tersebut. Di ikuti juga oleh Om David yang kebetulan menjadi salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Ia juga ingin melihat keadaan Dira istri dari keponakannya.


"Jadi sebenarnya apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?" Ayah Marvellyo kembali membuka suara terlebih dahulu.


Sebelum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Dira, nampak dokter bernama Aisyah itu menghela nafas.


"Sebelumnya maaf bapak ibu, apakah pasien sudah menikah?" Tanya sang dokter.


Ayah dan bunda saling berpandangan mendengar pertanyaan dari dokter Aisyah. Kenapa bisa muncul pertanyaan seperti itu?


"Sudah, Dok. Anak saya sudah menikah Beberapa bulan yang lalu." Jawab bunda Resty jujur.


"Sudah menikah berapa bulan, Bu?" Tanya sang dokter itu lagi.


Ini aneh. Jelas-jelas pasien di dalam masih mengenakan seragam SMA. Tapi orang tuanya meng-klaim kalau dia sudah menikah.


Ayah Marvellyo menarik satu alisnya, ia tahu apa yang sedang dokter itu pikirkan. Yang ayah Marvellyo tidak mengerti, untuk apa dokter di depannya ini mengajukan pertanyaan seperti itu.


"Kurang lebih 3 bulan ..." Jawab ayah Marvellyo yang juga diangguki oleh bunda Resty. "... Sebenarnya ada apa, Dok? Tidak bisa kah Dokter langsung jelaskan saja?! Saya tidak suka bertele-tele, karena ini menyangkut kesehatan putri saya." Ucap Ayah Marvellyo tegas.


Dokter Aisyah mengangguk tanda ia mengerti. "Jadi begini bapak dan ibu, ada dua kabar yang harus saya sampaikan." Jawab dokter Aisyah.


"Katakan saja, Dok! Kami siap mendengar kabar apapun." Ujar Ayah Marvellyo. Sementara bunda Resty. Ia hanya menatap sang Dokter lalu mengangguk pelan, berharap dokter Aisyah segera mengatakan kebenaran tentang kondisi sang menantu.


"Putri bapak dan ibu sedang hamil."


"Hamil, Dok?" Ulang Ayah dan bunda secara bersamaan.


Kata Dira hamil sebenarnya terdengar jelas di pendengaran keduanya. Hanya saja Ayah dan bunda masih memastikan, kata kalau kabar yang mereka dengar memang benar adanya.


"Iya, Putri bapak dan ibu hamil -


"Ayah dengar itu?" Ucap bunda Resty yang terdengar begitu bahagia setelah mendengar bahwa putrinya hamil. Bahkan bunda Resty sampai menggenggam erat lengan Ayah Marvellyo.


"Iya, Bun, Ayah dengar. Kita sebentar lagi akan punya cucu." Jawab ayah Marvellyo sambil menepuk-nepuk tangan bunda Resty pelan. Keduanya terlihat begitu bahagia. Jangan lupakan Om David yang turut senang.


"Tapi maaf bapak dan ibu, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan ini -"


Lagi. Ucapan sang dokter terputus oleh ayah Marvellyo. Karena teringat akan satu hal.


"Lalu apa kabar lainnya, Dok? Langsung katakan saja! Kami siap mendengar kabar baik selanjutnya."


Dokter Aisyah kembali menghela nafas. "Maaf bapak ibu, tapi dari yang saya lihat saat memeriksa pasien tadi, Putri bapak dan ibu mengalami tindak kekerasan yang fatal dibagian perut. Dan hal itu menyebabkannya keguguran -


"APA??"

__ADS_1


Mendengar ada suara lain, keempatnya kompak menoleh ke arah pintu.


__ADS_2