Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
110. Sikap Axello.


__ADS_3

"Yang ... kamu tad -


Ddrrtt... ddrrtt...


Ucapan Axell seketika terhenti karena ponselnya yang tiba-tiba berdering, tanda ada panggilan masuk.


"Shitt!" Umpatan yang seketika keluar dari mulut Axell. Entah mengapa hari ini laki-laki itu begitu kesal hanya karena sebuah telepon.


Di hari Minggu seperti ini sebenarnya Axell hanya ingin bersantai seharian di rumah dan tak ingin ada yang mengganggu waktu senggangnya. Tapi, sepertinya keinginan Axell untuk menikmati hari Minggu akan sedikit terganggu.


Dengan malas Axell berdiri dari posisinya yang masih bersandar pada kaki Dira tadi dan beralih duduk di samping sang istri. Tangannya terulur untuk meraih ponsel yang sedari tadi ia letakkan di meja dekat tempat duduknya tersebut.


📞 Bastian is Calling...


Axell mengangkat satu alisnya saat membaca nama id si pemanggil. Terdapat nama Bastian di layar terang tersebut. Seketika muncul tanda tanya di benak Axell. Ada apa sahabatnya itu menghubunginya di hari Minggu sepagi ini?


"Halo." Ucap Axell dengan nada datar khas miliknya seperti biasa. Axell memang seperti itu kan orangnya? Lalu ia menekan lencana speaker pada ponselnya.


"Wait, santai dong, bro! Lo kok kek nggak seneng gitu gue telpon?" Jawab Bastian di seberang sana.


"Go damn! Lo ganggu hari Minggu gue, Bas." Hardik Axell yang kini menyandarkan kepalanya di pundak Dira sambil memejamkan mata. Laki-laki itu masih mengatur nafasnya setelah berolahraga melawan ayah Marvellyo bermain tenis tadi.


"Ganggu yang apa dulu, nih? Eh ... anjay! Otak gue kek tiba-tiba ngajak booking tiket pesawat tau nggak? Dengerin nafas Lo yang kek abis maraton gitu. Masih pagi, woy! Mentang-mentang udah sah, si Dira di gas Mulu!" Ujar Bastian yang malah mengira jika Axell dan Dira tengah melakukan pemersatuan bangsa-bangsa saat ini.


Emang dasar si Babas, itu kepalanya kenapa bisa mengarah ke sana?


"Sialan Lo, Bas! Gue abis main tenis, Anj**ng!" Jawab Axell yang menampik apa yang apa yang ada di pikiran Bastian saat ini.


Tapi, bukan Babas namanya kalau langsung berhenti godain Axell sahabatnya. "Main tenis yang apa dulu, nih? Tenis yang main pukul pake tangan atau tenis yang maju mundur cantik? Bhahahaha..." Tanya bastian yang semakin gencar menggoda Axell. Bahkan Axell dan Dira dapat mendengar dengan jelas tawa pecah Bastian di seberang sana.


"Kayaknya otak Lo perlu di restart deh, Bas! Pikiran Lo udah mulai penuh dengan koleksi mandi!" Axell menghela nafas pelan, "... Gue lagi di rumah." Jawab Axell yang kini mengangkat kepalanya dari bahu Dira.


"Jadi tadi Lo beneran abis main tenis sama om Marvel?" Tanya Bastian yang kini mulai percaya dengan apa yang Axell katakan tadi, Jika Axell memang benar bermain tenis dengan ayah Marvellyo. Dan Bastian hafal betul dengan kegiatan yang memang sudah biasa Axell dan ayahnya lakukan setiap hari libur.


"Menurut Lo?" Tanya Axell balik.


"OK-OK, gue percaya." Jawab Bastian di seberang sana.


"Nggak dibutuhin." Sahut Axell cepat.


"Apanya?" Tanya Bastian yang nggak kalah cepat juga.


"Pendapat Lo ... nggak di butuhkan disini!" Balas Axell, laki-laki itu kini meraih tangan Dira untuk dia genggam.

__ADS_1


"Sialan Lo!" Kini giliran Bastian yang mengumpat.


"Ada apa Lo telpon gue?" Tanya Axell yang memang belum mengetahui kenapa sahabatnya itu menelponnya sekarang.


"Nggak ada apa-apa sih, bro ... Cuma si Verrel ngajakin nongki di d'Axe Cafe." Jawab Bastian


Tak langsung menjawab, Axell malah beralih menatap Dira.


"Woy, Xell! Lo masih di situ, kan?" Panggil Bastian dari seberang sana setelah tak kunjung ada jawaban apapun dari Axell.


"Lo berdua duluan! Satu jam lagi gue nyusul." Jawab Axell.


"OK." Jawab Bastian dan telpon langsung di tutup sepihak oleh Axell.


Tuutt...


Axell lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja.


"Yang..."


"Kak..."


Panggil Axell dan Dira secara bersamaan.


"Kak Axell aja yang duluan!" Jawab Dira yang malah meminta Axell untuk mengatakan apa yang ingin suaminya itu katakan.


"Kan ladies first?" Ujar Axell dengan senyum yang menghias wajah tampannya.


Dira menghela nafas pelan mendengar apa yang ada katakan. "Tadi itu ..."


"Tadi yang mana?" Tanya Axell yang tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh sang istri.


"Yang kak Bastian bilang tadi?" Ucap Dira yang terlihat ragu.


"Banyak yang Bastian bilang tadi!" Jawab Axell yang masih belum mengerti dengan apa yang Dira maksudkan.


Dira kembali menghela nafas pelan sambil menatap wajah Axell.


"Yang mana sih, Yang! Coba ngomong yang jelas!" Ujar Axell lagi.


"Kak Bastian ... um ... dia udah tau hubungan kita yang sebenarnya?" Tanya Dira yang sudah tidak bisa lagi memendam rasa keingintahuannya.


Axell mengangguk, "Udah." Santai banget Axell menjawab seperti tidak ada beban sama sekali.

__ADS_1


"Sejak kapan?" Tanya Dira lagi. Istri dari Axell itu begitu penasaran tentang kapan lebih tepatnya Bastian mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.


Axell menghela nafas, ia lupa memberitahu Dira tentang hal itu, "Beberapa waktu yang lalu, Yang. Aku terpaksa kasih tau Bastian tentang pernikahan kita karena dia masih terus ngarepin kamu." Jelas Axell.


"Tapi kan, kak -


"Udah, Yang! Nggak ada tapi. Cuma Bastian yang tau." Putus Axell. Laki-laki itu mengerti dengan arti penolakan yang Dira tunjukkan.


Mendengar jawaban dari Axell, Dira hanya menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi, Bastian sudah terlanjur tahu, kan?"


"Aku malah berencana untuk go publik tentang hubungan kita yang sebenarnya, Yang! Tapi kayaknya, kamu belum siap." Ujar Axell.


Dira menatap Axell terkejut, sama sekali nggak mengira kalau suaminya berpikir akan mengatakan kebenaran tentang hubungan mereka. "Kak ... aku masih kelas sebelas!"


"Tau. Tapi apa salahnya sih, yang? Semua guru di sekolah kita bahkan sudah tau tentang status kita yang sebenarnya. Dan juga, sekolah itu milik ayah. Kamu bahkan masih bisa tenang bersekolah di sana meskipun sudah berstatuskan seorang istri. Jadi apa yang masih kamu takutkan?" Ujar Axell. Laki-laki itu masih tak habis pikir dengan apa yang sedang istrinya itu pikirkan sekarang. Kenapa istrinya itu begitu takut dengan statusnya yang di ketahui banyak orang?


Hening. Untuk sesaat Dira diam mencerna apa saja yang Axell katakan padanya tadi. Memang benar sekolah itu milik mertuanya. Tapi yang sedang Dira pikirkan itu adalah tanggapan dari teman-teman di sekolahnya. Apa yang akan mereka pikirkan kalau tahu status Dira dan Axell bukanlah pacaran melainkan suami istri?


Melihat reaksi Dira yang malah hanya diam termenung, Axell menghela nafas pelan. Sepertinya ia harus memberikan pengertian lebih pada istrinya itu.


Kini kedua tangan Axell terangkat untuk membingkai wajah Dira. Dipandanginya wajah yang sedang asyik termenung di depannya itu.


Cup...


Satu kecupan Axell berikan pada kening Dira. "Yang, dengerin kata-kata aku baik-baik! Pernikahan kita itu suci. Aku tau ... kita memang menikah di usia yang terbilang masih sangat muda. Bahkan kita sama-sama masih berstatuskan pelajar. Pernikahan kita memang terkesan buru-buru, tapi kita menikah bukan karena married by accident seperti orang-orang di luaran sana. Kita menikah karena perjodohan yang udah orang tua kita tentukan. Mungkin awalnya kita memang tidak saling kenal. Tapi kamu bisa lihat sekarang, kita sudah bisa menerima kehadiran satu sama lain, bahkan kita saling mencintai. Sebisa mungkin kita harus bisa berusaha untuk menjaga pernikahan kita. Jadi aku minta sama kamu, jangan terlalu memikirkan apa yang akan orang lain pikirkan tentang pernikahan kita nanti." Ujar Axell yang memberikan pengertian dengan sikap dewasanya.


"Tapi aku beneran belum siap, kak." Jawab Dira lirih.


"Udah, nggak usah dipikirin! Semuanya akan baik-baik saja." Ujar Axell sambil mengusap pelan rambut Dira.


Gadis itu mengangguk, "Tapi jangan dulu kasih tau mereka, kak! Aku benar-benar belum siap!"


"Iya ..." Jawab Axell. Mau tidak mau laki-laki itu harus menuruti kemauan sang istri dari pada nanti istrinya itu marah. "... OK, kalo gitu kamu ganti baju! Aku juga mau mandi. Kita ke kafe habis ini."


...***...


Pukul 10.15 Axell dan Dira sudah sampai di d'Axe Cafe. Saat baru memasuki kafe tersebut, pandangan mata Axell langsung tertuju pada sebuah meja yang biasa mereka tempati. Dimana meja tersebut sudah terdapat Bastian, Verrel dan juga ... Nayla yang lebih dulu sampai disana.


Keduanya pun berjalan mendekat dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain. Nayla yang mengetahui kedatangan keduanya pun merasa senang saat melihat Dira yang berjalan mendekat. Tapi reaksi berbeda ia tunjukkan saat melihat wajah laki-laki yang berjalan tepat di samping Dira, Axell.


Entah mengapa sekarang Nayla menjadi begitu malas jika berinteraksi dengan teman sekelasnya tersebut.


Karena menurut Nayla, semenjak Dira berpacaran dengan Axell, sifat dari Dira perlahan mulai berubah tertutup. Dan juga gaya berpacaran keduanya yang terlalu ... intens. Jangan lupakan dengan Nayla yang berpikir keduanya sudah tinggal satu atap di apartemen Dira! Mengingat gadis itu yang sempat melihat banyaknya baju cowok di lemari Dira saat ia mendatangi apartemen milik sahabatnya itu. Nayla pikir Axell lah orang di balik perubahan sikap Dira sekarang ini. Perubahan yang mengarah ke arah negatif.

__ADS_1


"Sini, Dir ... duduk samping gue!


__ADS_2