
"Sakit, Mel! Kok Lo malah mukul gue, sih?" Protes Zaki tak terima dengan Melody yang malah tiba-tiba memukul perutnya.
"Salah sendiri! Siapa suruh ngatain gu -
Ceklek!
Pintu ruang tindakan IGD kembali terbuka dan menampilkan seorang wanita dewasa bersnelli lengan panjang. Menandakan kalau ia seorang dokter spesialis.
"Dengan keluarga pasien?" Tanya dokter itu.
Zaki spontan berdiri lalu diikutin juga dengan Melody. "Saya temannya, dok." Jawab Zaki.
Dokter itu menatap tampilan Zaki dan Melody secara bergantian. Keduanya mengenakan seragam yang sama dengan pasien yang ia periksa tadi. Jelas terlihat kalau mereka masih berstatuskan pelajar. Detik kemudian ia terlihat menghela nafas. Pikirannya langsung terarah pada kenakalan remaja zaman now. Dan seketika muncul pikiran negatif.
"Kalian sudah menghubungi keluarganya?" Tanya dokter itu lagi.
"Belum, dok." Jawab Zaki cepat.
Nampak dokter itu kembali menghela nafas. "Kalian tahu teman kalian sedang hamil?"
"APA??"
...***...
"Jadi bagaimana meeting dengan MG, boy?" Tanya ayah Marvellyo di sela-sela mengunyah makanannya.
Saat ini pria paruh baya itu tengah menikmati makan siang dengan sang putra. Axell tadi memang sempat meminta sekretarisnya untuk memesankan makan siang untuknya. Tapi saat Raline datang, sang ayah malah memintanya untuk makan siang bersama. Sekaligus untuk membahas tentang hasil meeting dengan MG pagi tadi di ruangan ayah Marvellyo.
Axell tak langsung menjawab karena memang mulutnya masih penuh dengan makanan. Setelah mendorong makanannya dengan menenggak sedikit air, barulah Axell menjawab pertanyaan dari sang ayah tadi.
"Axell setujui kontrak kerja sama itu, Yah. Dan Axell percayakan Pandu untuk mengurus semuanya." Jawab Axell dengan menatap wajah sang ayah.
Axell ingin tahu, bagaimana respon dari ayahnya itu?
Ayah Marvellyo nampak menarik satu alisnya mendengar jawaban dari sang putra. "Ayah terkejut dengan keputusan yang kamu ambil. Ayah pikir kamu akan menolaknya ..." Ucap Ayah Marvellyo memberikan pendapatnya.
Axel kembali diam karena ia kembali melanjutkan makannya.
"... Jangan bilang kalau kamu masih berharap dengan gadis itu? Ingat Axell kamu sudah punya istri!" Peringat Ayah Marvellyo.
__ADS_1
Axell menarik satu alisnya. Kenapa ayahnya bisa berpikir seperti itu? "Ayah pikir Axell masih mengharapkan Gadis itu? Yah, Axell udah ada Dira, yah! Bahkan ayah tau sendiri, Renata tidak sebanding dengan istri Axell." Jawab Axell tak terima dengan apa yang ayahnya ucapkan. Dan hal itu malah mengundang senyum di wajah Ayah Marvellyo.
"Jadi Bagaimana dengan cucu yang ayah bicarakan? Tidakkah kamu lupa dengan kewajiban memberi ayah dan bundamu cucu, boy?" Ucap ayah penuh harap.
Axell meletakkan gelas yang masih tersisa sedikit airnya. "Segera. Ayah tunggu aja kehadirannya."
...***...
"APA??" Pekikan itu keluar dari mulut Nayla yang baru saja datang dengan seorang Bastian bersamanya.
Jangan tanyakan ekspresi yang lainnya? Semua yang ada di situ juga sama terkejutnya. Kecuali Zaki yang memang sudah menduga hal ini sebelumnya.
Bedanya ekspresi yang terlihat di wajah Melody dan Bastian tidak seterkejut Nayla. Bukan terkejut lagi, Nayla bahkan shock brutal.
Zaki menghela nafas. Ia menatap dokter itu serius. "Jadi bagaimana dengan kondisi teman saya, Dok?" Tanyanya pada dokter itu.
Dokter itu membenarkan letak kaca mata yang ia kenakan. "Sebelumnya maaf, saya tidak bisa membicarakan kondisi pasien yang sebenarnya dengan yang bukan bersangkutan. Jadi tolong segera hubungi keluarganya untuk penjelasan lebih lanjut, tentang keadaan pasien ..." Jawab dokter itu." ... kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter itu lalu pergi.
Zaki mengangguk lalu menatap pada Melody. Ia harus segera menghubungi seseorang yang tadi sempat ia lupakan.
"Lo tunggu di sini sama yang lain, ingat pesan gue! Gue cari minum dulu." Ucap Zaki lalu pergi sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
'Dira hamil? Harusnya gue bisa nangkep dengan sifat aneh Dira dan kak Axell yang aneh belakangan ini.'
"Nay, jadi gimana? Asma Dira beneran kambuh?" Tanya Verrel yang baru saja datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Cowok itu tadi sedang memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Nayla langsung menoleh, ia menatap Verrel tak suka. "Ini bahkan jauh lebih buruk dari itu." Jawab Nayla.
Verrel mengerutkan dahinya. "Lebih buruk?" Tanya Verrel bingung. "... Maksudnya gimana sih, Nay?"
"Ini yang gue takutin. Bener kan apa yang gue bilang? Sahabat yang selalu Lo bela-bela itu, dia bahwa pengaruh buruk buat sahabat gue." Ucap Nayla yang sekarang sudah mulai emosi.
"Hei... Nay, tenang dulu! Coba Lo ngomong yang jelas biar gue ngerti!" Ucap Verrel pelan. Bermaksud agar Nayla bisa sedikit lebih tenang. Mengingat mereka sedang berada di rumah sakit sekarang ini.
Nayla menghela nafas panjang. "Sahabat Lo, Axell, udah bikin sahabat gue hamil. Puas Lo?"
"Apa? Hamil? Jadi Dira hamil anak ... Axell?" Tanya Verrel memastikan. Lalu pandangannya beralih menatap Bastian yang ternyata juga sedang menatap kearahnya. Tak menampik, raut keterkejutan juga sedikit tampak di wajah Bastian.
Verrel terdiam.
__ADS_1
'Harusnya gue nggak kaget, sih. Mereka kan udah nikah dan tinggal bareng. Yang gue nggak habis pikir, kenapa Axell nggak nunggu sampai Dira lulus dulu?'
...***...
"Bangsad! Ini orang gue telepon dari tadi kenapa nggak diangkat, sih?" Umpat Zaki kesal. Setelah meninggalkan ruang UGD tadi, ia mencoba untuk menghubungi Axell beberapa kali. Tapi ternyata Axell tak kunjung menerima panggilan teleponnya. Entah apa saja yang sedang dilakukan oleh kakak kelasnya itu?
"Ckk. Bajing*n! Asyuw! Kaget gue, Njing!" Zaki kembali mengumpat saat seseorang yang tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya.
"Gimana? Udah coba hubungin Axell?" Tanya Bastian sambil menempelkan ponselnya ke telinganya. "... gue coba telepon dia dari tadi nggak diangkat."
"Sama, Njing. Gue chat juga nggak di read sama dia." Jawab Zaki.
Bastian menghela nafas, "Kayaknya si Axell masih meeting di kantor bokapnya." Ucap Bastian. Kini keduanya sedang duduk di kursi yang tersedia di lorong rumah sakit.
"Jadi gimana ceritanya si Dira bisa pingsan?" Tanya Bastian setelah ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia akan mencoba untuk menghubungi Axell lagi nanti. Bastian penasaran dengan apa yang terjadi pada Dira sebelumnya.
"Ini semua perbuatan Renata." Jawab Zaki.
Bughh!
Bastian reflek memukul tembok di sampingnya.
"Gue udah duga sebelumnya, hal kayak gini pasti bakalan terjadi. Itu cewek emang terbilang nekat." Ucap Bastian kesal.
"Tapi gue bener-bener nggak habis pikir sama tuh cewe. Sesama perempuan, tapi dia bisa sejahat itu sama Dira. Gue jadi khawatir sama Dira." Ucapnya pelan.
Bastian menatap Zaki penuh selidik. "Jangan sampai Lo ada niat nikung sahabat gue." Ucap Bastian memperingatkan adik kelasnya itu. Bastian ingat, ia dan Zaki pernah saling memperebutkan Dira beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat awal Dira baru memasuki SMA Bhakti Bangsa.
Bastian pikir, mungkin Zaki masih menyukai Dira sekarang ini.
Zaki mendengung sebal. Ia tidak seperti apa yang ada di pikiran Bastian. "Di saat kek gini, harusnya bukan itu yang perlu Lo khawatirin!" Protes Zaki pada kakak kelasnya itu.
Bastian mengangkat satu alisnya, "Maksud lo apa?" Tanyanya tak paham.
Zaki menatap Bastian serius, "Yang harus Lo khawatirin itu, sesuatu yang ada di perut istri sahabat Lo. Lo nggak denger apa yang dokter katakan tadi?"
Bastian malah jadi diam. Ia juga sempat mendengar dengan jelas, apa yang Dokter katakan tentang Dira tadi.
"Gue tadi temuin Dira di toilet ... dengan posisi kaki Rere yang nginjak perut Dira."
__ADS_1