Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
160. I love you too, Xello.


__ADS_3

"Jadi ... masih mau main lapor-laporan?" Ejek Bastian dengan dagu terangkat. Jangan lupakan juga senyum menyebalkan yang Bastian tunjukkan pada Derry.


Asli, deh. Siapa pun yang lihat senyum Babas sekarang ini, ia pasti nggak berpikir dua kali untuk melayangkan sebuah pukulan pada cowok bernama lengkap Sebastian Arseino itu.


Termasuk ... Derry sendiri.


Derry menatap Bastian sengit. Jelas banget kalau dia kelihatan nggak suka. Tangannya terangkat dan menuding ke arah Babas, "Lo -


"Cukup, Der!"


Baru juga mau ngomong, tapi interupsi seseorang menghentikan ucapannya. Derry langsung menoleh pada Nicholas. Kelihatan banget kalau dia nggak terima dan mau protes.


"... Jangan bikin keadaan semakin runyam!" Lanjut Nicholas yang jelas-jelas melihat kalau sahabatnya itu nggak terima.


Nicholas lalu berbalik. Ia berjalan ke ruangan sang adik setelah mengatakan kalimat peringatan pada sahabatnya itu. Saat ini pikirannya sedang kacau. Ia tidak ingin semakin emosi dan malah membuat keadaan semakin tidak terkendali.


Masalah perusahaan ... ia akan pikirkan lagi nanti.


Derry menatap ketiga cowok berstatuskan pelajar di depannya itu secara bergantian. Bastian, Zaki dan yang terakhir ... Axell.


Jelas terlihat tatapan Derry pada Axell yang menggambarkan kebencian.


Entah bersalah atau tidak? Faktanya Renata sempat sampai melakukan percobaan bunuh diri. Itu artinya Axell memang telah melakukan sesuatu pada gadis itu. Dan di sini, Derry masih tetap pada pendiriannya. Kalau Axell adalah orang yang patut disalahkan.


Kalau Nicholas memilih untuk tidak membalaskan apa yang telah Axell lakukan pada Renata, maka lain halnya dengan apa yang telah Derry rencanakan.


Pemuda berusia 21 tahun itu akan tetap membalas perbuatan Axell, tanpa sepengetahuan Nicholas. Entah bagaimana caranya nanti?


"Urusan kita belum selesai." Ucap Derry lalu kembali memasuki ruangan Renata.


"Dih, di kira kita takut apa?!" Celetuk Bastian yang ikut mendengar ucapan Derry.


"Udah biarin! Emangnya dia bisa apa?" Zaki ikut menimpali.


Sementara Axell, ia malah menarik satu sudut bibirnya.


'Gue akan lihat, apa yang bakal Lo lakuin?'


...***...

__ADS_1


Masih di rumah sakit.


Malam sudah semakin larut. Jika kebanyakan orang sudah mulai mengarungi mimpinya masing-masing, maka lain halnya dengan apa yang sedang Axell lakukan saat ini. Menantu dari Prastiko Lucky itu bahkan belum tidur sama sekali. Padahal jam sudah menunjukan angka 12 malam lewat beberapa menit.


Bukan karena memikirkan ancaman Derry yang akan melaporkannya sore tadi. Bukan sama sekali. Percayalah! Bagi Axell, Derry bukanlah ancaman apa-apa.


Lalu, apa yang membuat Axell belum tidur malam ini? Itu karena Axell tengah sibuk memperhatikan wajah damai milik sang istri yang tengah tertidur lelap, berbantalkan lengan kirinya. Sementara tangan kanan Axell ia gunakan untuk mengusap pelan punggung Dira agar istrinya itu semakin nyenyak dalam tidurnya.


Axell mencium puncak kepala Dira. Entah sudah tak terhitung berapa kali ia mendaratkan kecupan di kepala sang istri, untuk menyalurkan rasa cinta pada istrinya yang tengah terlelap itu.


Sampai beberapa menit berlalu, dan Axell masih belum juga tertidur. Masih dengan posisi yang sama, Axell tiba-tiba di kejutkan dengan satu pertanyaan yang muncul dari mulut sang istri.


"Kak Axell belum tidur?" Tanya Dira lirih dengan suara serak khas bangun tidur.


Axell melepas ciumannya di puncak kepala Dira, ia sedikit menunduk untuk melihat wajah Dira yang sama sekali nggak bisa bohong kalau dia benar-benar masih mengantuk.


"Nanti, Yang." Jawab Axell pelan.


"Kok nanti? Memangnya ini jam berapa?" Tanya Dira lagi. Dira lalu mengubah posisinya menjadi telentang. Satu tangannya terangkat untuk mengusap matanya yang terasa sedikit pedih dan susah untuk terbuka.


"Hampir jam 1, Yang. Masih malam, kamu tidur lagi, gih!" Jawab Axell pelan sambil tersenyum saat melihat Dira yang reflek menutup mulutnya sendiri yang tengah menguap.


Dira kembali ke posisinya miring menghadap Axell. Keduanya saling pandang sampai pada akhirnya Axell kembali tersenyum karena melihat Dira yang mendadak salah tingkah.


Kan malu kalo beneran ada air liur yang tengah mengalir dengan bebas dari mulutnya...😁


"Kenapa?" Tanya Axell singkat.


"Kenapa Kak Axell ngelihatin aku begitu?" Tanya Dira balik. "... aku ileran, ya?" Sambungnya lagi.


Axell kembali tersenyum mendengar pertanyaan Dira, kenapa istrinya itu bisa berpikir kalau dia ileran? Random sekali ternyata istrinya ini. Penuh kejutan.


Axell menggeleng pelan, masih dengan senyum yang entah kenapa bisa mudah sekali muncul kalau ia hanya sedang bersama dengan sang istri seperti sekarang ini.


"Kenapa kamu cantik banget sih, Yang?" Satu pertanyaan yang bukannya membuat Dira tersanjung, Dira malah memukul perut Axell pelan.


"Gombal!" Kata Dira mendadak sewot.


Axell menarik satu alisnya. Nggak ngerti sama jalan pikir istrinya ini. Ia mengatakan kebenaran. Dira memang selalu cantik di matanya. Jadi, kenapa istrinya itu malah memukulnya?

__ADS_1


"Kok malah mukul aku sih, Yang! Aku ngomong jujur. Untung nggak kena Jasson tadi!" Jawab Axell yang pura-pura tak terima di pukul Dira. Padahal pukulan Dira sama sekali tak berasa apa-apa bagi Axell.


"Ya habisnya kak Axell bohong banget!" Protes Dira. "... Rambutku berantakan, aku juga baru bangun tidur ... Cantiknya dari mana coba?!" Tanyanya dengan nada menggerutu.


Axell kembali tersenyum, kenapa istrinya semakin kesini semakin menggemaskan?


"Justru itu, Yang. Kata orang, kalo kita mau mengukur kecantikan seseorang, bukan di liat dari berapa mahal skincare yang dia pakai? Bukan dari serumit apa perawatan yang dia lakukan? Bukan juga seberapa banyak dan setebal apa make up yang dia poles kan di wajah mereka. Tapi, liat dia dari saat bangun tidur apa lagi kalo belum mandi kayak kamu sekarang ini ..." Ucap Axell pelan. Tangannya bergerak untuk menyelipkan anakan rambut Dira ke belakang telinga Dira. "... Tapi..."


Mata Dira mengerjap, ia menunggu Axell melanjutkan kata-katanya.


"... nyatanya istriku selalu cantik dalam keadaan apapun." Lanjut Axell.


Blush...


Dira mengulum bibirnya. Lalu reflek menutup wajah dengan kedua tangannya. Entah kenapa ia mendadak malu sendiri.


Axell kembali tersenyum. Ia pandai membaca situasi. Dimana sekarang ini istrinya itu tengah malu karena ucapannya tadi.


"Yaahh ... kok di tutupin sih, Yang. Aku kan jadi nggak bisa liat wajah kamu!" Ucap Axell yang kembali berhasil membuat Dira semakin malu.


"Ihh... kak Axell! Jangan gombalin aku terus, dong!" Protes Dira masih dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. "... leher dan telinga aku sampai memanas ini!" Keluh Dira mengatakan apa yang dirasakannya.


"Hahaha... istri aku kenapa gemesin gini, sih!" Axell tak betah kalau harus menahan tawa.


Jika malam sebelumnya ia di buat sedih karena kejadian yang menimpa Dira, di tambah dengan kelakuan Derry yang sempat memancing emosinya sore tadi, kini Axell seolah terhibur dengan tingkah istrinya itu. "... Yang... Yang..."


"Ihh... kak Axell! Malah ketawa!" Protes Dira yang kini sudah membuka wajahnya. Bahkan tangan satunya dengan lincah bergerak untuk mencubit pinggang Axell di beberapa bagian.


"Aduhh... Yang! Sakit, Yang!" Ucap Axell sambil pura-pura kesakitan. "... kan... ini KDRT namanya." Lanjut Axell sambil mengusap pinggang yang Dira cubit tadi seolah itu benar-benar sakit.


Dira manyun melihat Axell yang seperti kesakitan karena ulahnya. "Habisnya ... siapa suruh kak Axell tengah malem gombal!" Protes Dira tak mau kalah. Kini tangannya berhenti mencubit pinggang Axell.


"Bukan gombal, Yang. Aku emang ngomong apa adanya. Seperti apa yang aku bilang tadi. Istriku memang cantik ..." Ucap Axell. Lalu tangan Axell terangkat untuk memegang dagu Dira. "... Ini kenapa di manyunin gini? Minta di cium?" Tanya Axell dengan satu alis yang bergerak naik turun.


Dira melebarkan matanya, "Ihh ... Tuh, kan. Kak Axell mulai ngeselin, deh!" Rajuk Dira yang terdengar manja di telinga Axell.


Axell kembali tersenyum. Lalu menghela nafas, "Iya, Yang... Iya. I love you."


Dira tersenyum, bukan karena mendengar kalimat yang baru saja Axell katakan. Kalau cuma Axell yang bikin dia kesel, kesannya nggak seru.

__ADS_1


"I love you too, Xello."


"Yang!"


__ADS_2