
"Bunda tanya, kamu nanti pulang ke apart, atau ke rumah?" Sambung laki-laki itu dan sukses membuat satu alis Arfen menukik ke atas.
'Bunda Resty? Mereka udah sedekat itu, bahkan sampai nanyain Dira mau pulang kemana?'
Dira melirik ke arah Arfen sekilas yang ternyata sedang menatap wajah santai suaminya. Entahlah, tatapan mata Arfen tadi, Dira tidak bisa mengartikannya.
"Aku nggak tau, kak. Aku masih pengen disini nemenin mama Diva." Jawab Dira.
Axell tersenyum mendengar jawaban Dira. Lalu pandangannya beralih pada Arfen. Axell menatap Arfen lama. Keduanya kini bahkan saling tatap tanpa mengucap kata satu sama lain. Hingga sampai akhirnya Axell sengaja memutus kontak mata dengan Arfen dan beralih menatap wajah Dira yang terlihat santai, tidak seperti biasanya.
Axell masih bisa mengingat dengan jelas, dimana istrinya itu menunjukkan ekspresi tegang dan sedikit takut saat berhadapan dengan Arfen beberapa waktu yang lalu.
"OK, nanti kamu aja yang bilang ke bunda. Kalo gitu, aku ke ruangan Mama dulu. Sepertinya ..." Pandangan Axell kembali menatap Arfen. "... masih ada hal yang mau kalian omongin." Ujar Axell pada Dira.
Dira meraih tangan Axell. "Aku nggak lama, kak. Nanti aku langsung masuk ke dalam." Jawab Dira lega.
Axell kembali mengangguk. Lalu melepas tangan Dira dan mengusap pelan rambut istrinya. Di tambah dengan kecupan singkat yang Axell berikan di puncak kepala sang istri tanpa peduli dengan adanya Arfen diantara mereka.
Iya, Axell memang sengaja. Mengingatkan pada sang rival kalau ialah pemilik dari Dira.
"Ya udah, aku tunggu di dalam. Jangan lama-lama. Kalo udah selesai langsung masuk ... sebelum papa nyariin kamu." Ucap Axell mengingatkan.
Kali ini Axell memang mengizinkan Dira untuk menemui Arfen. Tapi tidak untuk berlama-lama dengan sahabat tapi suka istrinya itu. Laki-laki itu bahkan tersenyum ke arah Arfen. Senyum yang entah apa artinya, Arfen tidak bisa mengartikan senyum dari Axell itu sendiri.
Dari sudut pandang Axell, ia dapat melihat. Betapa Arfen yang menatapnya kesal. Bahkan Axell semakin tersenyum miring melihat tangan Arfen yang mengepal dengan sempurna.
Setelah perginya Axell kini Dira dan Arfen kembali duduk dengan pikiran masing-masing. Hening. Masih tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Sampai akhirnya Arfen yang memecah keheningan diantara mereka.
"Jadi ..." Satu kalimat menggantung yang muncul dari mulut Arfen. Dira menoleh ke arah Arfen dengan kedua alis yang terangkat. Menunggu apa yang akan Arfen katakan setelahnya.
"... Udah sedekat itu hubungan Lo sama Axell ... Sama bunda Resty juga?" Satu pertanyaan yang akhirnya keluar setelah Arfen lama menahan rasa keingintahuannya.
Dira mengangguk pelan setelah hanya diam beberapa menit tak memberi jawaban. Dan hal itu malah membuat Arfen tersenyum getir. Sepertinya ia memang harus menutup rapat perasaannya pada Dira. Ia tak ingin kembali di cap sebagai perebut kekasih orang. Seperti apa yang pernah dituduhkan padanya.
__ADS_1
"Tapi, Ar... Lo kok bisa kenal bunda Resty juga?" Pertanyaan dari Dira yang tidak sengaja malah membuat Arfen kembali mengingat kejadian di masa lalu. Masa dimana ia belum terjebak dengan kesalahan pahaman yang membuat Axell begitu membencinya ... dua tahun lalu.
Arfen menggeleng samar, "Cuma sekedar kenal, Dir." Jawabnya. Dira tak kembali bertanya karena sama sekali tak menaruh curiga dengan Arfen. Lalu keheningan kembali menyapa keduanya.
Canggung. Itu yang tengah mereka rasakan satu sama lain saat ini. Entah mengapa keduanya merasa seperti ada sekat yang tiba-tiba muncul diantara keduanya.
"Sebenarnya gue seneng banget bisa ketemu Lo hari ini, Dir. Tapi kayaknya ... momennya aja yang nggak tepat. Gue pengen liat keadaanya Tante Diva. Tapi nggak dulu, deh. Ada Axell soalnya." Ujar Arfen.
Dira tak langsung menjawab, ia malah meremat ujung Rok seragam sekolahnya untuk mengalihkan rasa yang ... entah, Dira juga tidak mengerti.
"Ar, ada sesuatu yang mau gue kasih tau sama Lo. Gue pikir, Lo harus tau tentang ini. Tapi maaf, nggak sekarang. Gue belum siap cerita." Ujar gadis yang kini menundukkan kepalanya itu.
Arfen menarik satu alisnya seakan bertanya pada dirinya sendiri. Menebak kira-kira hal apa yang tidak ia ketahui tentang Dira selama ini. Detik kemudian Arfen tersenyum kaku.
"It's okay, Dir. Lo bisa cerita kapan pun Lo mau. Kalo Lo pengen ketemu gue atau sekedar curhat, nomor w.a gue masih sama."
...***...
Ceklek!
Axell menatap Dira sekilas lalu kembali menatap layar terang di pangkuannya. Tangannya pun bergerak untuk menepuk sofa di sebelahnya, "Duduk sini, Yang!" Interupsinya.
Dira menurut dan langsung duduk di samping Axell. Ada rasa aneh yang Dira rasakan saat ini. Rasa seperti telah melakukan kesalahan. Kesalahan karena telah menemui laki-laki lain. Gadis itu pun menghela nafas pelan untuk menetralkan detak jantung yang mulai tak biasa itu.
"Kenapa, Yang? Tuh cowok ngomong apa sama kamu tadi?" Tanya Axell yang kini beralih menatap sang istri.
Dira yang tengah menunduk itu menggeleng pelan, "Kak, maafin aku, ya!" Bukannya menjawab pertanyaan yang Axell berikan, Dira malah mengucap permintaan maaf.
Axell menarik satu alisnya, "Hey, Yang ... kenapa malah minta maaf." Tanya Axell yang malah jadi bingung.
"Tadi aku nggak sengaja ketemu sama Arfen. Beneran, kak ... aku nggak bohong. Tadi dia duluan yang tiba-tiba nya -
"Ssstth... Yang. Udah! Aku percaya, kok ..." Sahut Axell memotong ucapan Dira dengan jari telunjuk yang menempel pada bibir istrinya itu. "... Makanya tadi aku sengaja kasih kamu kesempatan buat ngomong sama dia." Sambung Axell lagi.
__ADS_1
Dira tersenyum mendengar apa yang Axell katakan. Dira senang karena Axell yang tidak marah saat ia tidak sengaja bertemu dengan Arfen seperti sebelum-sebelumnya.
Menit kemudian Dira lalu memeluk Axell dari samping. "Makasih ya, kak." Seru Dira senang.
"Hey, Yang!" Axell terkesiap saat merasakan Dira yang tanpa ia duga memeluknya. "... Aku cuma kasih izin kamu buat nemuin dia, tapi reaksi kamu sampai kayak gini. Kamu terlalu senang kayaknya!"
Masih dengan posisi memeluk dirinya, Axell bisa merasakan istrinya itu menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu lalu membalas pelukan Dira sambil mengecup kening istrinya itu lama.
"Aku seneng kak Axell nggak marah." Ucap Dira pelan.
Axell tersenyum, "Aku emang nggak gampang ngatur emosiku, Yang. Tapi bukan berarti aku orang yang suka marah-marah tanpa sebab." Balas Axell dan membuat Dira kembali mengangguk.
Masing dengan posisi saling memeluk, tiba-tiba Axell mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Dira melepaskan pelukannya dengan Axell.
"Yang ... jangan suka mancing disini! Nanti kalo aku tiba-tiba pengen gimana?"
"Pengen?" Dahi Dira berkerut. "... Pengen apa, kak?"
"Pengen kamu?" Jawab Axell yang langsung mengecup singkat bibir Dira.
Cup...
"Kak! Kita di rumah sakit. Dasar mesum!" Protes Dira yang kini sedikit menggeser tubuhnya beberapa senti menjauh dari Axell.
"Kan kamu yang mancing, Yang! Kamu yang peluk aku duluan tadi." Jawab Axell yang pura-pura menyalahkan Dira. Padahal sebenarnya seneng banget. Jarang-jarang kan Dira berinisiatif meluk duluan.
"Iihh ... nggak, ya. Siapa yang mancing? Aku cuma meluk kak Axell karena aku seneng, kak Axell nggak marah sama aku tadi. Terima kasih ya, kak." Ucap Dira.
'Terima kasih.'
Mendengar kata terima kasih dari Dira, Axell jadi menarik satu sudut bibirnya. "Bukan begitu cara seorang istri berterima kasih pada suaminya, Yang." Jawab Axell.
"Terus aku harus gimana, kak?" Tanya Dira dengan wajah bingungnya. Benar-benar nggak nyadar kalau Axell lagi modusin dirinya.
__ADS_1
Axell tersenyum menyeringai, "Nanti aku kasih tau dirumah, Yang. Tentang bagaimana seorang istri, berterima kasih pada suami dengan baik dan benar."