Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
93. Gangguan.


__ADS_3

Dira sedang memasak sore ini. Gadis itu tengah berkutat dengan peralatan di dapur, di bantu dengan bi Inah yang sedang memotong beberapa sayuran.


"Bi, kak Axell kalo dirumah sukanya makan apa?" Tanya Dira pada bi Inah.


"Den Axell orangnya nggak pernah pilih-pilih makan, non. Semua makanan den Axell makan. Yang penting nggak pedes aja, non. Soalnya den Axell nggak bisa makan pedes dari kecil, pasti langsung sakit perut." Jawab bi Inah sambil beralih mencuci beberapa peralatan bekas memasak tadi.


Dira menganggukkan kepalanya mengerti. Memang di awal menikah, Axell sempat memberitahunya tentang hal itu. Dengan apa yang bi Inah katakan, Dira dapat menyimpulkan kalau wanita paruh baya yang sedang membantunya memasak saat ini sudah bekerja sedari lama. Sejak Axell kecil.


Saat Dira tengah asyik memasak, tiba-tiba gadis itu merasakan ada tangan kekar yang mengelus pelan puncak kepalannya dan sebuah ciuman yang mendarat di pelipisnya.


Dira yang saat itu terkejut langsung menoleh dan mendapati Axell yang sedang tersenyum manis padanya.


"Masak apa, Yang?" Tanya Axell yang kini sedang memperhatikan gadisnya yang sedang memasak.


"Bikin Sop ayam, kak." Jawab Dira yang kini sedang memasukkan sayuran dan wortel ke dalam panci yang berisi air mendidih.


Axell mengangguk mengerti. Pandangannya kini beralih menatap bi Inah yang ternyata juga sedang menatapnya. Seketika Axell menganggukkan kepalanya. Bi Inah yang paham dengan maksud maksud Axell pun ikutan mengangguk, me itu kemudian ia pergi entah kemana.


"Bunda dimana, Yang? Nggak kelihatan dari pagi." Tanya Axell yang kini berjalan ke kulkas untuk mengambil buah apel kesukaannya. Lalu kembali ke tempat dimana ia berdiri tadi sambil menggigit apel tersebut.


"Kata bi Inah, bunda pergi ke Bandung, nyusul ayah. Nanti malam juga pasti pulang." Jawab Dira tanpa menoleh ke arah Axell. Gadis itu tengah mengaduk sayur yang sepertinya mulai mendidih itu.


Axell mengangguk, lalu meletakkan apelnya di atas meja dan mendekat pada Dira dan melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping gadisnya.


"Eh ..." Dira menoleh. Terkejut dengan apa yang di lakukan Axell. "... Kak -...


"Kenapa, Yang ... mau nolak gue lagi?" Tanya Axell sambil mengangkat satu alisnya.


Dira menghela nafas pelan. Ia melupakan sesuatu. Bukankah ia sudah bertekad untuk lebih mendekatkan diri dengan Axell, suaminya? Harusnya ia membiarkan apa yang Axell lakukan padanya kan?


"Nggak gitu ... umm ... aku nggak enak kalo diliatin bibi." Jawab Dira lirih.


Axell tersenyum di balik rambut Dira. "Dira, Lo liat sekeliling Lo, ada orang lain disini?" Ucap Axell. Dira lalu menoleh ke arah dimana bi Inah berdiri tadi dan ia tak mendapati bi Inah di sana.


"Sayang ..." Panggil Axell tepat di dekat telinga Dira. Gadis itu kini tiba-tiba menegang. Entah kenapa mendengar suara Axell malah membuat bulu kuduknya meremang.


"K-kak Axell ..."


"Kenapa, Yang?" Sahut Axell cepat.


"Kak Axell panggil aku apa tadi?" Tanya Dira.

__ADS_1


Axell mengrenyit, "Sayang ... kenapa memangnya? Lo nggak suka gue panggil gitu? Atau, Lo berharap ada orang lain yang manggil Lo sayang, kayak ... sahabat tapi suka Lo mungkin?" Ucap Axell. Laki-laki itu kini bahkan memutar tubuh Dira agar menghadap ke arahnya untuk melihat raut wajah gadis itu.


Deg!


Jantung Dira berdebar kencang saat bertatapan dengan Axell. "B-bukan gitu, kak." Jawab Dira dengan terbata. Tiba-tiba saja lidah gadis itu kaku.


Sementara Axell menarik satu alisnya seakan menunggu apa yang akan Dira katakan selanjutnya.


"Biasanya kak Axell manggil sayang kalo ada orang lain selain kita. Di sekolah, atau nggak di depan ayah sama bunda. Tapi sekarang kita cuma berdu -...


"Apa salahnya sih, Yang? Lo kan emang kesayangan gue, istri gue kan?" Jawab Axell yang kembali memotong kata-kata Dira. Pandangan Axell bahkan tak pernah lepas sedikit pun dari istrinya.


Axell menghela nafas, "Lo keberatan kalo gue manggil Lo gitu? Atau ... Lo malah nggak suka?" Tanya Axell yang hanya mendapat gelengan kepala dari Dira. Axell tersenyum lalu memeluk gadisnya.


"Gue sayang sama Lo, Dira." Ucap Axell lirih tapi masih bisa di dengar oleh Dira. Pelukan itu kini perlahan terlepas. Tangan Axell bergerak untuk meraih sesuatu di belakang gadisnya.


Klik!


Axell mematikan kompor yang masih menyala sedari tadi. Lalu tangannya terangkat untu menangkup wajah Dira agar semakin dekat padanya. Mengikis jarak di antara keduanya. Dan,


Cup!


Axell mencium bibir Dira dengan sangat lembut. Hanya kecupan singkat, karena setelahnya ia kembali menatap wajah gadisnya. Keduanya saling diam tanpa kata. Kini pandangan Axell turun pada bibir yang sedikit basah karena ulahnya tadi.


Axell kembali mendaratkan ciumannya pada bibir Dira. Seakan tak peduli dengan apa yang akan gadisnya itu katakan. Sama seperti tadi. Hanya kecupan singkat yang Axell berikan. Laki-laki itu tersenyum, senyum manis yang seakan menghipnotis Dira. Gadis itu diam sesaat sampai akhirnya entah sadar atau tidak ia membalas senyum Axell.


Melihat gadisnya yang ikut tersenyum, seketika Axell merasa mendapatkan lampu hijau. Kembali ia mendaratkan bibirnya pada bibir Dira. Sedikit berbeda, Axell sedikit Melu**t bibir merah alami milik gadisnya itu. Tangan Axell yang satu kini bergerak meraih tengkuk Dira, seakan meminta gadisnya untuk menciumnya lebih dalam lagi. Tapi tiba-tiba ...


"Ekhem ...!"


Ciuman keduanya seketika terlepas begitu saja karena mendengar suara deheman seorang pria paruh baya yang sudah pasti Axell dan Dira kenal.


Reflek, keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati ayah Marvellyo dan Bunda Resty yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat mereka.


"Boy, jangan ganggu menantu cantik bunda lagi masak!" Ucap bunda Resty.


Sementara Dira kini menunduk malu karena kepergok kedua mertuanya saat tengah berciuman dengan Axell. Tapi berbeda dengan reaksi yang Axell tunjukkan. Laki-laki itu hanya menampilkan wajah santai seperti tidak terjadi apa-apa.


Bunda Resty menaruh tasnya di tepi meja makan lalu mendekat pada sang putra. Tangannya terangkat untuk menggapai salah satu telinga Axell. Dan ...


"Auw ... sakit, bunda!" Pekik Axell saat tangan bunda Resty berhasil menarik telinga Axell.

__ADS_1


"Nakal, ya kamu, gangguin menantu bunda. Istri lagi masak itu di bantuin, bukannya malah di gangguin begitu!" Ucap Bunda Resty menegur putranya dengan tangan yang masih berada di telinga Axell.


"Axell bantuin kok, Bun ..." Jawab Axell sambil memegang tangan bunda Resty yang menarik telinganya. "... Bunda sakit!"


Mendengar putranya yang kesakitan, Bunda Resty langsung melepas tangannya dari telinga Axell. Padahal Bunda Resty tidak benar-benar menarik telinga putranya tadi. Bunda Resty menggeleng pelan. "Anak nakal."


"Bunda kan baru dateng, jadi bunda tadi nggak liat. Axell tadi bantuin Dira ... ya kan, Yang?" Ucap Axell yang berusaha membela diri dengan melempar senyum yang di arahkan pada Dira.


"Bantuin apa? Bunda liat dari tadi, apa yang kamu lakukan sama menantu bunda. Ingat tempat, boy!" Ujar Bunda Resty.


"Bantuin kasih semangat dong, bun. Apa lagi?" Jawab Axell santai tanpa rasa bersalah sama sekali. Bunda Resty kembali menggeleng.


"Sini kamu, boy! Bunda mau pelintir lagi telinga kamu." Ucap bunda Resty.


"Ampun, bunda, Axell nggak bakal nakal lagi, kok ... Ya kan, Yang?" Ucap Axell yang kini berjalan cepat menghindari sang bunda.


Melihat tingkah Axell saat ini malah membuat Dira terkikik sendiri. Sangat berbeda sekali dengan sikap yang Axell tunjukkan selama ini.


Axell yang melihat Dira menertawakan dirinya, membuat Axell terhenti, ia tak lagi lari dari sang bunda. "Awas Lo, ya, Yang. Nanti Lo juga bakal kena dari gue."


"Jangan ancam menantu bunda, boy. Sini kamu!" Ucap bunda Resty.


"Oh ... iya, Bun. Axell lupa ..." Ujar Axell tiba-tiba dan berhasil menghentikan tangannya bunda Resty yang kembali ingin menjewer telinga Axell. "... Axell mau telepon bang Rhey dulu, Dah ... bunda." Axell lalu kembali lari menjauh dari sang bunda dan pergi dari dapur.


"Anak itu ...!"


...***...


"Kenapa bisa ada di Lo?" Tanya Arfen pada gadis di depannya itu.


"Dira minta tolong ke gue buat balikin itu ke Lo." Jawab Nayla setelah menyerahkan paper bag warna Oren yang berisikan Hoddie milik Arfen. Kini keduanya sedang duduk berhadapan di salah satu sudut ruangan di Serenity Cafe.


"Gue baru tau, ternyata yang bawa Dira waktu itu, beneran Lo!" Ucap Nayla memastikan.


Arfen yang sedari tadi menatap ke arah jalanan di balik kaca jendela seketika menoleh pada Nayla. "Iya."


"Gila! Pantesan Axell ngamuk dan langsung nuduh Lo! Ternyata dia emang udah tau itu Lo yang bawa Dira pergi." Ucap Nayla.


"Dan Lo juga liat waktu dia kesini datengin gue." Ucap Arfen malas. Nayla mengangguk, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana Arfen yang tiba-tiba membawa Dira pergi dan membuat Axell marah.


"Ar ..." Panggil Nayla lirih, Gadis itu dapat melihat ada raut kesedihan pada sahabatnya.

__ADS_1


"It's so hard, Nay!"


__ADS_2