
"Aku nggak pa-pa, kak. Aku nggak sekolah karena mau nemenin kak Axell dirumah."
Axell tak menjawab, laki-laki itu memilih diam dengan pandangan mata yang tak pernah lepas dari wajah cantik Dira.
"Kak Axell cuci muka dulu, ya. Abis itu sarapan!" Aku udah bawain makanan sama obat buat kak Axell." Ucap Dira.
"Emangnya kenapa gue harus minum obat?" Tanya Axell yang kini merubah posisinya menjadi duduk.
"Semalem Kak Axell demam." Ucap Dira memberitahu.
Axell mengangguk. Ia ingat semalam Dira mengompresnya. "Thanks untuk yang semalem. Ya udah, gue mandi dulu." Ucap Axell lalu bangkit menuju kamar mandi sambil sesekali memijat kepalanya.
Seperti yang sudah-sudah, melihat Axell yang masuk ke kamar mandi, Dira lalu menyiapkan baju ganti untuk Axell. Tak lama kemudian, Axell keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Laki-laki itu berjalan ke arah ranjang untuk mengambil baju ganti yang sudah Dira siapkan tadi. Dengan tanpa malunya, Axell langsung memakai bajunya tanpa menghiraukan adanya Dira di dekatnya. Sementara Dira semenjak kejadian di apartemen kemarin, ia sekarang tak lagi mempermasalahkan sikap Axell yang tiba-tiba suka ganti baju di depannya. Lagi pula Axell suaminya, kan? Jadi apa masalahnya?
Selesai mengenakan baju, bukannya makan seperti yang Dira bilang, Axell malah kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap.
"Kak Axell makan dulu!" Ucap Dira.
Tak ada jawaban. Laki-laki itu bahkan tidak bergerak sama sekali. Dira lalu berjalan mendekati Axell untuk memastikan apakah Axell tidur lagi atau hanya sekedar malas untuk makan.
"Kak ... kak Axell tidur lagi, ya?" Tanya Dira sambil menepuk pelan pundak Axell.
"Gue belum mau makan?" Jawab Axell dengan mata terpejam.
"Tapi kak Axell harus minum obat!" Ucap Dira lagi.
"Gue nggak mau minum obat, Dira! Gue cuma mau tidur sebentar. Nanti juga sembuh sendiri." Jawab Axell dengan nada malas.
Mendengar jawaban Axell membuat Dira menghela nafas, ia semakin khawatir. "Tapi kak Axell harus makan. Um ... atau mau aku siapin." Ucap Dira dengan sedikit keraguan di akhir kalimat.
"Cckk." Axell berdecak. Ia pura-pura kesal. Padahal kenyataanya berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hati. Jelas di dalam sana hatinya tengah berbunga-bunga.
Dengan malas laki-laki itu berguling menjadi telentang. Lalu perlahan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. "Gue cuma demam dikit, tapi itu malah berhasil buat Lo jadi bawel kayak gini."
"Maaf ..." Lirih Dira yang tiba-tiba merasa tidak enak dengan Axell. Memang benar apa yang Axell katakan, ia jadi lebih banyak bicara sekarang.
Tak menjawab, Axell malah mengangkat satu alisnya. Ia menunggu apa yang akan Dira katakan selanjutnya.
"Aku cuma khawatir sama kak Axell." Lanjut Dira.
Axell sedikit menarik satu sudut bibirnya, "Khawatir? Sama gue? Emang kenapa harus khawatir kayak gitu? Gue siapa Lo emang?" Jawab Axell malas. Bukan malas, sih. Tapi lebih ke menyindir sebenarnya.
Deg!
'Kok kak Axell nanyanya gitu, sih'
Dira menghela nafas berat, "Karena kak Axell suami aku, Jadi wajar kan, kalo aku khawatir sama kak Axell. Dan ... itu nggak salah!"
"Suami, ya?" Axell mendengus geli mendengar pernyataan Dira yang menyebutnya 'Suami', padahal kenyataan yang Axell dapat, Dira sampai sekarang belum memperlakukannya seperti suami yang sebenarnya. "... Status doang, kan!"
Deg!
__ADS_1
Mendengar apa yang Axell katakan tadi entah mengapa seketika Dira merasa tertampar. "Kok kak Axell bilang gitu?" Tanya Dira tak terima.
Axell menghela nafas, lalu menggeleng pelan, "Nggak. Ya udah sini ... katanya mau nyuapin gue?"
...***...
Di tempat lain, lebih tepatnya di SMA Bhakti Bangsa, bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan semua murid sedang berjalan bergantian untuk keluar dari dalam kelas masing-masing untuk mengistirahatkan otak setelah belajar beberapa jam tadi.
"Rel, gue mau nanya." Celetuk seorang gadis yang kini berjalan mendekat ke arah meja Verrel yang duduk di samping Nayla.
Nayla yang sedang memainkan ponsel pun seketika pasang telinga. Tapi sama sekali tak berniat menatap wajah gadis yang berdiri di samping Verrel saat ini. Sementara Bastian yang duduk di meja depan Verrel menoleh sesaat dengan sedikit malas.
"Apaan?" Tanya Verrel ketus.
Gadis itu memutar bola matanya, "Kenapa Xello hari ini nggak masuk?" Tanya gadis itu penasaran.
"Nggak tau gue." Jawab Verrel dengan nada cuek. Tapi bener, sih. Verrel emang belum tahu, apa alasan Axell tidak masuk sekolah hari ini.
"Bohong banget! Gue nggak percaya." Ucap gadis yang tak lain adalah Renata.
"Nggak ada pasal yang mengharuskan Lo untuk percaya, Re! Yang namanya mantan, dilarang kepo!" Bukan Verrel tapi Bastian yang bicara.
"Nyambar aja tuh mulut! Gue nggak tanya sama Lo, ya ..." Ucap Rere mencibir. "... mulut receh Lo belum pernah di cabein?" Tambahnya dengan nada pedas.
Bukannya marah, Bastian malah tergelak dengan apa yang Rere katakan. "Hahaha ... ngeliat Lo yang kek gini, gue jadi makin tau artinya bersyukur. Setidaknya hidup gue nggak semenyedihkan kek hidup Lo ... Jelas-jelas udah di tolak mentah-mentah, masih aja nguber-nguber cowok yang statusnya udah ada yang punya ..." Bastian lalu menatapnya dengan tatapan seolah mengejek. "... Jadi ciwi kok nggak ada harga dirinya banget! Eh gue lupa ..." Ucap Bastian pura-pura menepuk bibirnya.
Renata menatap Bastian kesal, tapi ia juga menunggu apa yang akan Bastian katakan padanya. "... Lo kan emang udah nggak ada harganya." Sambung Bastian yang langsung berhasil membuat kedua tangan gadis itu mengepal dengan kuat.
"Lo ya, ukhh!" Ucap Renata yang tak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu memilih pergi meninggalkan kelas.
"Beuh ... apa lagi gue, jyjyg!"
...***...
Dira kembali menghela nafas. Setelah berhasil membujuk Axell untuk makan, Dira masih harus kembali membujuk Axell untuk meminum obat. Setelah makan, laki-laki di depannya ini masih dengan pendiriannya untuk tidak meminum obat yang ia bawa.
"Ini kan cuma satu butir, kak." Bujuk Dira pelan, berharap Axell mau meminum obat yang sekarang ia ulurkan.
"Cckk. Maksa banget, sih?" Balas Axell.
"Biar kak Axell ceper sembuh." Ucap Dira lirih. Gadis itu hampir menyerah. Tenyata membujuk Axell untuk sekedar meminum obat sangatlah sulit dari apa yang ia bayangkan.
'Ganteng-ganteng kepala baru!'
Bahkan Dira sampai mengatai Axell dalam hati. Ia sendiri melupakan kalau sebenarnya ia juga tak kalah keras kepala. Dira emang nggak sadar diri banget. Sebenarnya, siapa yang kepala batu disini?🤣🤭🤫
"Kalo gue minum obat ini, apa imbal balik yang gue dapet?" Tanya Axell yang kini meraih obat dari tangan Dira.
"Kak Axell bisa cepet sembuh." Jawab Dira spontan. Memang beberkan, Kalau orang sakit minum obat akan mempermudah penyembuhan. Tapi bukan itu sebenarnya jawaban yang ingin Axell dengar dari gadis di depannya ini.
"Cckk. Nggak menarik." Decak Axell.
Dira kembali menghela nafas. Gadis itu benar-benar frustasi sekarang. "Terus kak Axell maunya apa?" Satu pertanyaan yang tiba-tiba mengundang senyum Axell dalam hati.
__ADS_1
'I want you.'
"Kalo gue minta hak gue, emang Lo bisa kasih?" Tanya Axell balik.
Deg!
Nah kan.
'Mikir, Dira! Mikir!'
"Udah lupain ... gue nggak serius." Ucap Axell yang kini memasukkan pil ke dalam mulutnya tanpa air. Benar-benar di telan begitu saja.
Setelah menelan obatnya, Axell kini meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Alis Axell terangkat sebelah saat melihat ada dua pesan masuk di ponselnya.
📥 Bastian.
Lo kenapa gk masuk, Xell?
Bini Lo masih sakit?
Lagi-lagi Axell berdecak. sesaat laki-laki itu merasa kesal. Kenapa sahabatnya itu menanyakan tentang istrinya? Detik kemudian jari jemari Axell mengetikkan pesan balasan untuk sahabatnya itu.
^^^📤 Axarkan.^^^
^^^Gw kecapekan.^^^
^^^Istri gw gpp.^^^
Send ✔️
Lalu Axell mengambil pesan yang lainnya.
📥 Verrel.
Lo kenapa gk masuk, bro?
Jan bilang Lo abis apa2in Dira di apart ny semalem?
^^^📤 Axarkan.^^^
^^^Stop ngeliatin koleksi mandi, Rel!^^^
^^^Otak Lo udah mulai terkontaminasi.^^^
Send ✔️
Axell kembali meletakkan ponsel di atas nakas seperti semula. Laki-laki itu kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya. Kepalanya masih sedikit berdenyut. Tanpa ia sadari, Dira yang sedari tadi duduk di tepi ranjang sedang memperhatikan dirinya.
"Kak Ax-...
"Gue mau tidur."
__ADS_1
*Cepat sembuh ya, Boy ...