Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
107. Malam panjang.


__ADS_3

"Yang ... Sekarang, ya?" Ucap Axell dengan suara berat. Terdengar jelas kalau laki-laki tengah menahan sesuatu. Hasrat yang meminta untuk segera di tuntaskan. Tak ada jawaban, Dira hanya menatap wajah sang suami yang benar-benar lagi di mode 'pengen banget'.


Sementara Axell, ia juga sedang menatap ke arah Dira. Axell dapat melihat, ada keraguan yang sedang istrinya ini rasakan. Mengerti dengan apa yang menganggu pikiran dari istrinya ini, Axell mendaratkan kecupan singkat di kening sang istri.


"Kali ini gue janji ... rasanya nggak akan sesakit seperti saat kita pertama kali melakukannya." Ujar Axell yang masih berusaha untuk membujuk istrinya itu. Misinya harus berhasil. Axell sudah bertekad untuk membuat Dira benar-benar hamil.


Dan berhasil. Dira mengangguk. "Pelan-pelan, kak. Aku masih belum terbiasa." Jawab Dira lirih. Selain gugup, gadis itu juga tengah menahan rasa malu saat ini.


Apa tadi? Belum terbiasa? Ah iya, tentu saja. Axell begitu bahagia saat mengingat bahwa ialah laki-laki pertama yang menjamah dan memasuki gadisnya. Mengubah Dira dari seorang gadis menjadi seorang wanita. Betapa beruntungnya dia.


"Gue akan melakukannya selembut mungkin, Yang! Gue nggak mungkin menikmatinya sendirian sementara Lo kesakitan ..." Ujar Axell yang kembali mengecup singkat bibir Dira. "... Bagaimana? Are you ready, baby?"


Dira tersenyum dan mengangguk pelan.


"OK. Let's do it now, baby!" Ucap Axell yang langsung melancarkan aksinya. Laki-laki itu lalu melepaskan kaos yang menutup tubuh bagian atasnya, lalu kembali mengungkung Dira.


Axell meraih satu tangan gadis itu dan menuntun untuk meraba tubuh bagian atas miliknya.


"Ini semua milik Lo, Yang. Hanya milik Lo seorang." Ujar laki-laki itu lagi.


Axell kembali menciumi Dira. Melu**t bibir merah alami itu dengan sangat lembut. Ciuman yang penuh dengan perasaan tanpa menuntut sedikit pun. Keduanya saling mengecap dan merasai bibir masing-masing. Dira, gadis itu kini sudah belajar banyak darinya.


Axell beralih ke bagian leher, salah satu tempat favoritnya. Mengecup, menghisap dan menggigitnya pelan. Tangannya pun tak tinggal diam. Ia buka satu persatu kancing baju piyama milik Dira. Meraih pengait bra yang masih menjadi satu penghalang pandangannya untuk menikmati tubuh bagian atas milik sang istri.


Setelah berhasil melepas satu dan bra milik Dira, Axell kembali melanjutkan aksinya yang sempat terhenti. Ia kembali menciumi setiap inci leher putih Dira dan bergantian sesat dengan bibir dan tangan yang sudah mulai mere**s-re**s kedua gundukan kenyal milik Dira secara bersamaan.


Semakin turun, Axell kini menciumi gundukan kenyal yang sempat ia re**s tadi. Mencium, menghisap dan memainkan puncaknya dengan satu tangan yang masih memainkan bagian yang lainnya. Membuat tubuh istrinya itu tiba-tiba menuju ke atas karena merasakan sensasi luar biasa yang Axell salurkan padanya.


OK, cukup. Axell sudah tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi sekarang. Laki-laki itu lalu bangkit dan dengan gerakan cepat Axell melepas celananya. Menampilkan Jason yang sudah berdiri tegak siap beraksi. Axell lalu membantu Dira untuk melepas satu penghalang terakhir miliknya.

__ADS_1


Setelah keduanya sudah benar-benar polos, Axell kembali memposisikan dirinya. Tangannya kini mulai mengerakkan Jason pada Jessie di bawah sana sambil sesekali memperhatikan Dira. Sangat jelas terlihat, istrinya itu ... tegang sekali.


Axell kembali membungkuk. Ia cium kening Dira lagi untuk lebih meyakinkan sang istri.


"Rileks, Yang!" Bisik laki-laki yang langsung mendapat anggukan kepala dari Dira yang masih memejamkan matanya. Dira sudah sedikit bisa lebih tenang sekarang. Dan ...


"Aakkhhh..."


Dira kembali mendesah saat Jason berhasil kembali memasuki dirinya. Axell menggerakkan Jason dengan pelan agar Jessie terbiasa. Masih dengan tempo yang sangat pelan namun pasti. Saat ini Axell masih menuruti permintaan Dira agar melakukannya dengan pelan.


Tapi, seketika gerakan Axell terhenti saat melihat istrinya itu yang membekap mulutnya sendiri. Axell tahu apa yang sedang Dira lakukan sekarang. Istrinya itu sedang menahan desahannya agar tak terdengar.


"Lepasin aja, Yang! Nggak usah Lo tahan! Gue suka saat dengar Lo mendesah di bawah gue." Ujar Axell dengan suara serak yang terdengar begitu seksi. Tangan Axell pun bergerak untuk memindahkan tangan Dira yang masih menutup mulutnya itu. Axell menautkan jari jemarinya dengan tangan Dira. Dan saat Axell kembali menghentak,


"Aakkhhh..."


Pekikan itu kembali terdengar saat Jason yang kembali memasuki Jessie sepenuhnya. Axell menghentak dengan sedikit kencang tadi. Dan kini gerakan yang tadinya pelan itu semakin lama semakin cepat. Axell sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia semakin mempercepat tempo gerakannya.


Beruntung kamar Axell didesain kedap suara, jadi sekeras apapun suara desa**n dan erangan yang keluar dari mulut keduanya, sudah dapat di pastikan tidak akan ada yang mendengarnya dari luar.


"Kak ... akkuhh ... emmbh ..." Paham dengan apa yang akan istrinya itu katakan, Axell langsung membungkam dan melu**t bibir Dira sekilas.


"Bentar, Yang. Tunggu gue!" Ujar Axell yang semakin mempercepat gerakannya. Dan ...


"Akh ... Kak ... akhh ..."


Hentakan terakhir dari Axell yang menyemburkan bukti kepuasan dari keduanya.


"Akh ... kita sampai, sayang." Satu kalimat yang Axell ucapkan sesaat sebelum ia mencium kening Dira lama. Bahkan tanpa melepas penyatuan keduanya.

__ADS_1


'Gue harap setelah ini, Lo bisa cepat hamil, Yang!'


Setelah melepas ciuman beserta penyatuannya, Axell langsung membaringkan tubuhnya di samping Dira. Meraih remote AC yang tergeletak di atas nakas dan menyalakan mesin pendingin ruangan tersebut. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.


Nafas keduanya masih memburu satu sama lain. Axell menatap wajah Dira yang nampak berpeluh. Tak jauh berbeda dengan dirinya. Mata gadis itu terpejam. Ia terlihat begitu lelah dengan apa yang baru saja mereka lakukan dengan durasi satu jam lebih tadi.


Sekilas Axell melirik ke bawah, dimana Jason yang masih terlihat stay on di bawah sana. Laki-laki itu tersenyum sambil menggeleng pelan. "You are great Jason!" Ujarnya.


Lalu kembali memandang wajah Dira yang kini sudah terlihat lebih tenang. "Kita istirahat sejenak, Yang! Setelah ini ... kita lanjut ke sesi berikutnya."


...***...


Suara nyaring dari dentuman musik yang memekakkan telinga dan lampu-lampu yang berkelip warna warni yang menyala di ruangan yang temaram. Serta bau alkohol yang menusuk hidung itu langsung menyapa kedatangan dari laki-laki muda berusia 21 tahun tersebut.


Seorang Derry Bramantyo datang memenuhi panggilan dari seseorang yang menelponnya satu jam yang lalu.


Pandangan mata laki-laki itu kini mulai menelisik ke setiap sudu ruangan untuk menemukan seseorang yang sedang ia cari sekarang.


Dan, ya ... dapat. Tak butuh waktu lama bagi Derry menemukan gadis itu. Tanpa membuang waktu lagi, laki-laki itu langsung berjalan mendekat ke arah gadis yang sekarang ini sudah setengah mabuk.


"Udah berapa banyak Lo minum, Re?" Pertanyaan yang terkesan menyindir itu keluar dari mulut Derry. "... Udah gue bilang. Jangan kesini kalo Lo lagi nggak ada temennya. Sambung laki-laki itu.


"Itu gunanya gue telpon Lo, kak. Kalo gue telpon kak Nicho, yang ada habis gue!" Jawab Renata dengan kepala yang sedang menggeleng ke kanan dan ke kiri, seakan tengah menikmati musik yang sekarang sedang di mainkan oleh sang disc jockey di club' tersebut.


Derry memperhatikan seisi meja. Dimana sudah ada dua botol kosong minuman favoritnya yang tergeletak begitu saja, tiga botol lain yang sudah berkurang isinya. Dan ada banyak gelas yang entah itu milik siapa.


"Lo minum banyak kali ini. Akh ... akh ... sial, gue ketinggalan." Ujar laki-laki itu kesal sendiri.


"Gue baru minum dua gelas, kak ..." Jawab Renata. Derry tak yakin dengan jawaban yang ia dengar dari gadis itu. Pasalnya, Renata mengatakan dua tapi jari tangannya membentuk angka empat. Renata sudah mulai tidak bisa mengontrol apa yang di ucapkannya sekarang.

__ADS_1


"... Salah Lo sendiri, Lo lebih milih nuruti naf*u bir**i Lo itu dari pada nemenin gue minum!" Protes Renata yang kini mulai cegukan.


Derry berdecak. "Cckk. Ayo, gue anterin Lo pulang. Gue bisa habis kalo Nicholas tau keadaan Lo yang kayak gini."


__ADS_2