
"Tapi waktu itu Lo bilang kalo Dira -..."
"Istri gue. Itu status Dira yang sebenarnya." Potong Axell cepat.
"Istri?" Seketika tawa sumbang keluar dari mulut Bastian. Kemarin beberapa waktu yang lalu Axell mengatakan kalau Dira Pacarnya dan sekarang berubah menjadi istri? Yang benar yang mana?
"... Sejak kapan, Xell... Sejak kapan Lo jadi pinter bohong kayak gini? Pake segala ngarang cerita kalo Dira istri Lo ..." Bastian menggelengkan kepala sembari tertawa. "... Sebegitu takutnya Lo kalo gue sampe ngerebut Dira dari Lo, sampe Lo harus Ngarang cerita yang nggak masuk akal kek begini?" Kepala Bastian kembali menggeleng. "... Lawak Lo!" Ucap Bastian di akhir tawanya
Axell diam. Ia urung menjawab perkataan Bastian. Laki-laki lalu menyandarkan bahunya pada pagar beton pembatas rooftop. Kepalanya mendongak keatas. Matanya terpejam menikmati tiupan angin yang menerpa wajahnya.
Reaksi Bastian persis seperti apa yang sudah ia duga sebelumnya. Sahabatnya ini pasti akan sulit untuk percaya dengan kebenaran yang baru saja ia ungkap. Tapi kalau Axell tidak segera menceritakan kebenaran yang sebenarnya terjadi, sahabatnya itu pasti akan terus seperti ini. Dan mungkin akan terus mengharapkan Dira atau bahkan malah akan bersedih lebih dari ini.
Beberapa menit berlalu dengan tanpa ada kata yang keluar dari Axell maupun Bastian. Keduanya saling diam. Hingga akhirnya terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulut Axell.
"Hari ini, Bas. Tepat di hari ini, Dua bulan lebih satu minggu. Hari di mana gue resmi menyandang status dari suami Dira ..." Ujar Axell dengan mata yang masih terpejam.
Masih hening. Bastian memilih diam. Ia tak ingin menyela apa yang akan Axell katakan padanya. Disini ia lebih memilih untuk mendengar cerita dari Axell. Tapi disisi lain hatinya seperti menolak untuk percaya pada sahabatnya itu. Tapi, kalau diingat-ingat selama mereka bersahabat, Axell bukanlah seorang pembohong. Dan apa yang dikatakan Axell pasti adalah kebenaran yang sudah terjadi sebenarnya. Sepertinya tidak akan salah mendengar cerita dari Axell yang sebenarnya. Begitu pikir Bastian.
"Lo ingat hari di mana gue nggak masuk sekolah selama dua hari tanpa keterangan dan Lo maksa pengen ketemu di d'Axe Cafe hari itu? Lo nggak nyadar, hari itu Dira juga nggak masuk. Kenapa? Karena waktu itu adalah hari di mana Gue nikahin dia..."
Bak disambar petir di siang bolong. Bastian benar-benar terkejut mendengar pengakuan yang sebenarnya dari Axell. Ia tak siap. Ingin rasanya tak percaya, tapi sepertinya Axell berkata jujur.
"... Lo tau kenapa gue milih nggak pacaran, meskipun Gue udah lama move on dari Rere?" Tanya Axell lagi. Itu karena gue lagi dalam proses menerima keputusan terbesar dalam hidup gue yang udah orang tua gue tentuin sebelumnya." Lanjut Axell.
"Keputusan terbesar bagaimana maksud Lo?" Tanya Bastian yang kini semakin dibuat penasaran dengan cerita Axell bahkan nada bicaranya kini berubah serius.
Axell kembali menghela nafas panjang sebelum benar-benar menceritakan semuanya pada Bastian. "Tepat setelah Bunda tahu gue putus sama Rere, Bunda bilang kalau ternyata gue udah dijodohin."
"Dijodohin?" Tanya Bastian dengan dahi berkerut. Ia jadi semakin tak mengerti disini.
Axell diam sejenak, mengingat dimana saat Bunda Resty menceritakan tentang perjodohan yang telah diatur oleh ayahnya dulu.
"Awalnya gue berusaha keras untuk nolak ..." Ucap Axell lalu kepalanya menggeleng. "... Tapi Lo tahu kan, gimana bokap gue? Sifat keras yang gue punya, itu turunan dari bokap."
"Buah emang jatuh tak jauh dari pohonnya." Sahut Bastian membenarkan.
"... Apapun yang bokap gue katakan, maka itu yang harus gue lakuin. Dan bokap bilang kalau gue harus nikah sama anak dari sahabatnya. Disini gue nggak bisa nolak dan akhirnya harus menerima perjodohan itu ..." Ujar Axell lagi.
Bastian benar-benar dibuat diam, mendengar setiap pengakuan yang Axell katakan.
"... Gue berusaha nutup hati gue buat siapapun cewe yang berusaha deketin gue. Itu gue lakuin bukan karena gue yang belum bisa move on dari Rere. Nggak sama sekali. Lo paling tau kalo gue orang yang nggak bisa nerima penghianatan. Gue sengaja nutup hati karena perjodohan yang bakal gue jalanin nantinya ..."
"... menurut gue percuma menjalin hubungan dengan seseorang yang nggak bisa kita miliki. Gue harus terpaksa ninggalin dia suatu saat nanti, kalau pernikahan gue udah tiba saatnya dan malah bikin gue nyakitin hati orang akhirnya. Karena itu gue milih buat dia pacaran ..."
"... Dan apa Lo tau, saat Dira masuk ke sekolah ini, gue hampir goyah dengan keputusan yang udah gue buat sendiri. Diam-diam gue sering perhatiin dia dari jauh. Tapi belum sampai Gue berhasil deket sama dia, gue kembali ditampar kenyataan saat Ayah bilang kalau gue bakalan nikah dua minggu lagi ..."
"... Gue sendiri bingung, kenapa orang tua gue sebegitu kerasnya buat jodohin gue dengan gadis yang sama sekali nggak gue kenal?Jangankan tau namanya, fotonya aja gue nggak dikasih liat. Tunangan juga gue tinggal makai cincin. Pandangan Axell kini turun menatap cincin yang melingkar dijari manisnya, diikuti Bastian yang juga mengikuti arah pandangnya.)Dan nggak ada pertemuan sama sekali. Disini gue benar-benar buta karena nggak tahu siapa yang bakal gue nikahin ..."
"... Gue baru tahu kalau gadis yang gue nikahin itu Dira setelah ijab Kabul. Saat gue inget nama gadis yang gue sebutin itu tak lain dari Andira." Jelas Axell menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Axell nampak menghela nafas lega seakan Ia baru saja melepaskan sebuah beban yang berat di pundaknya.
__ADS_1
"... Kalo hubungan gue sama Dira hanya sekedar pacaran, gue nggak keberatan kalo harus ngelepas dia buat lo, sahabat gue sendiri. Tapi status gue dan Dira disini bukan main-main. Jadi gue harap Lo bisa nerima kenyataan yang terjadi. Dan sorry kalo pernikahan gue sama Dira nyakitin buat lo. Tapi satu hal yang harus Lo ingat, gue pengen tetap jadi sahabat Lo, dan nggak ada yang berubah setelah hari ini." Ujar Axell lalu menepuk pundak Bastian sebelah sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu dengan beribu keterkejutannya.
"Sial!"
...***...
Di kantin sekolah Zaki dan Melody sejak tadi hanya dia memperhatikan Dira, yang hanya melamun sambil mengaduk-aduk bakso di depannya, tanpa minat untuk memakannya sedikitpun .
"Dira kenapa?" Tanya Zaki pada Melody dengan mulut yang hanya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Sementara Melody hanya menggelengkan kepalanya, sama dia juga nggak ngerti.
"Dir..." Panggil Zaki yang tak mendapat respon apapun dari Dira
"Dira..." Kini giliran Melody yang memanggil. Namun hasilnya masih tetap sama, tak ada respon yang gadis itu tunjukkan.
"Lahh... Ini anak Kenapa, sih?" Tanya Zaki semakin bingung.
*Nggak tahu. Tadi masih baik-baik aja kok. Eh tapi tunggu dulu, deh!" Ucap Melody sambil mengingat sesuatu.
"Apaan?" Tanya Zaki penasaran.
"Si Dira jadi kek gini abis keluar dari toilet." Ucapin Melody.
"Toilet?" Ulang Zaki sambil menaikkan salah satu alisnya. Sementara Melody mengangguk yakin dengan apa yang baru dikatakannya.
"Jangan-jangan... Dira kesambet setan dari toilet, Mel?" Sahut Zaki asal.
"Iish... ngawur Lo! Mana ada setan siang-siang bolong begini?" Protes Melody.
"Dira kenapa?" Tanya Nayla yang baru saja datang bersama Verrel.
"Nggak tahu, Kak." Jawab Melody.
Nayla memperhatikan Dira ya memang sedang diam dari tadi.
'Pasti terjadi sesuatu!'
Tangan Nayla bergerak untuk menggenggam tangan Dira. "Lo kenapa?" Tanya Nayla halus dan berhasil membuat Dira menoleh padanya
Dira menggeleng, "Gue nggak papa, Nay."
"Jangan bohong, Dir! Gue tahu pasti terjadi sesuatu sama Lo... Ada hubungannya sama Axell?" Tanya Nayla lagi. Tapi kembali tak mendapat jawaban karena seseorang yang tiba-tiba datang.
"Yang, ikut gue bentar!" Sahut Axell yang tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung menggandeng tangan Dira lalu membawa Gadis itu pergi begitu saja. Dira yang tak siap langsung menurut ke mana Axell membawanya. Menimbulkan tanda tanya besar Melody, Zaki dan juga Nayla, terkecuali Verrel yang memang datang bersama Axell tadi
Axell membawa Dira masuk ke dalam mobilnya. Tak ada kata yang terucap. Keduanya hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
Jika Dira sedang memikirkan tentang kebenaran yang baru ia dengar dari gadis yang mengaku sebagai kekasih Axell suaminya. Sementara Axell yang ragu untuk memberitahu Dira tentang kebenaran yang baru ia ungkap pada Bastian.
Tapi tunggu! Axell menyadari satu hal. Ada yang aneh dengan gadisnya. Axell menebak pasti ada sesuatu dengan Dira tadi. Ini tidak seperti biasanya, gadis itu pasti akan protes kalau ia tiba-tiba membawanya pergi seperti ini.
__ADS_1
Tapi kali ini tidak. Gadis itu seakan bungkam dan enggan membuka mulut. Sampai akhirnya Axell teringat dengan apa yang Verrel katakan padanya sebelum sampai ke kantin tadi.
"Jangan mudah percaya sama orang baru. Lo cukup percaya sama gue!" Ujar Axell tenang.
Dira menoleh, "Kak, boleh aku tanya sesuatu?"
Axell menoleh pada Dira yang hanya menatap lurus ke depan. "Apapun yang ingin lo ketahui."
"Kak Axell punya pacar, ya?" Tanya Dira yang malah entah kenapa memancing seulas senyum muncul di bibir Axell.
"Ada. Kenapa Lo tiba-tiba tanya gitu?" Tanya Axell balik.
Deg!
Mendengar jawaban Axell entah mengapa malah membuat dada Dira terasa sesak.
'Kenapa tiba-tiba rasanya sakit?'
"Maaf!" Lirih Dira.
Axell mengernyitkan dahinya, "Kok maaf?" Tanya Axell bingung kenapa. Dira malah minta maaf padanya?
"Gara-gara kak Axell nikah sama aku, Hubungan kak Axell sama pacar kak Axell jadi terganggu." Jawab Dira.
"Hubungan gue sama pacar gue baik-baik aja. Nggak usah Lo pikirin!" Ujar Axell.
"Tapi tadi ada cewe bilang kalo hubungannya sama kak Axell jadi renggang gara-gara aku!" Ucap Dira sambil menahan rasa sesak didalam dada.
Urung menjawab, satu sudut bibir Axell tertarik kesamping.
'Benerkan dugaan gue!'
"Hubungan gue sama pacar gue baik-baik aja. Malah gue lagi satu mobil sama dia sekarang." Ucap Axell yang malah berhasil membuat Dira jadi bingung sendiri.
Dira diam, ia sedang mencerna apa yang baru saja Axell katakan tadi. Ini yang di maksud pacar oleh Axell, dirinya kan?
"Tadi gue bilang apa sama Lo?" Tanya Axell.
"Yang mana, kak?" Tanya Dira balik.
"Jangan mudah percaya sama orang baru! Karena Lo cukup percaya sama gue, suami Lo!" Pesan Axell yang mengulangi kata-katanya yang tadi.
"Tapi, kak -..."
"Apa?"
"Tadi ada yang bilang, kalo -..."
"Nggak usah Lo dengerin dia! Hubungan gue sama dia udah lama berakhir. Bahkan jauh sebelum Lo masuk dalam kehidupan gue ..." Ucap Axell yang langsung menyangkal apa yang gadis yang tidak sengaja ia temui di toilet tadi katakan.
__ADS_1
"... Apapun yang udah dia katakan sama Lo tadi, nggak usah Lo percaya!" Lanjut Axell lagi.
"Kak Axell tau?"