Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
44. Tebakan Verrel.


__ADS_3

"Ini peringatan terakhir buat Lo, gue nggak mau lagi lihat dia datang apalagi sampai bisa masuk ke sekolah gue... terutama buat nemuin Lo, istri gue. Ngerti!" Ucap Axell tenang, tapi seperti peringatan untuk Dira.


"Iya... Aku ngerti, kak." Jawab Dira patuh.


"Kalau sampai Lo langgar..." Axell mendekatkan wajahnya kepada Dira dan berbisik, "...Gue bakal minta hak gue sebagai suami." Lanjutnya lalu segera membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Dira yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


Deg...


Deg...


Deg...


Seulas senyum muncul di bibir Axell. Untuk kesekian kalinya Axell berhasil menggertak Dira.


'Gue bakal lihat. Setelah ini, Lo masih berani nggak nemuin tuh orang?!' Batin Axell sambil berjalan menuju kelasnya.


Jika Axell masih bisa merasa biasa saja setelah apa yang ia katakan pada Dira, maka lain halnya dengan gadis itu. Dira sekarang sedang memegang bagian dadanya sebelah kiri. Ia merasai jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Jantung gue... Kak Axell bilang apa tadi?"


...***...


Setelah menormalkan detak jantungnya, kini Dira berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kelas karena bel sekolah yang telah berbunyi sedari tadi.


"Lo baru Dateng, Dir?" Tanya Zaki yang melihat Dira berjalan dengan tergesa-gesa.


"Iya, Zak." Jawab Dira yang kini berjalan sejajar dengan Zaki.


"Tunggu!" Panggil seseorang yang suaranya sangat Dira kenal.


'Kenapa lagi?' Batin Dira gugup sambil menghentikan langkahnya.


"Kenapa, Xell?" Tanya Zaki saat melihat Axell yang berjalan mendekat ke arahnya dan Dira, dengan satu tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Zaki yang ditujukan padanya, Axell malah memilih menatap gadis yang berjalan di samping Zaki tadi.


"Simpan ini!" Ucap Axell sambil mengulurkan kantong plastik bertuliskan sebuah nama suatu toko obat yang berisi entah apa itu pada Dira.


"Ini apa, kak?" Tanya Dira bingung. Sama halnya dengan Dira, Zaki pun sama bingungnya dengan kakak kelas yang menjabat sebagai ketua OSIS itu. Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam benak Zaki, tentang apa yang di berikan Axell pada Dira?


'Mereka lagi deket?' Batin Zaki menerka kemungkinan yang tak ia ketahui.


"Sesuatu yang mungkin akan Lo butuhin!" Jawab Axell lalu berbalik kembali ke kelasnya.


"Apaan, Dir?"tanya Zaki yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran yang sedari tadi terus menyelimutinya. Menurut Zaki, ini adalah hal yang...


'Aneh!'


Ya, mungkin satu kata itu yang pantas menggambarkan tentang kejadian hari ini. Karena tak biasanya, seorang Axell menghampiri seorang siswi dan bahkan memberinya suatu barang. Padahal yang biasa terjadi adalah kebalikannya.

__ADS_1


Tak menjawab, dira malah mengendikan bahunya acuh. Tangannya bergerak untuk membuka kantong plastik berwarna putih yang baru saja Axell berikan padanya tadi. Dan...


Ting...


Terdengar bunyi notifikasi pesan masuk pada ponsel Dira membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya untuk membuka kantong plastik yang Axell berikan tersebut. Tiba-tiba dahi Dira terangkat saat setelah membaca nama dari si pengirim pesan.


📥 Axello.


Simpan ini buat jaga2!


Gue ga mau asma Lo kambuh d saat Lo lg ga bareng gw kyk kemaren.


Tanpa Dira sadari, seulas senyum muncul diwajahnya setelah membaca pesan dari Axell tersebut. Tanpa melihat isi dari kantong plastik tadi, Dira sudah bisa menebak apa yang Axell berikan padanya tadi.


"Dih, senyum..." Cibir Zaki saat melihat Dira yang senyum-senyum sendiri setelah membaca pesan di ponselnya. "...Lo nggak lagi sakit, kan, Dir?" Tanya Zaki sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Dira.


"Iihh.... apaan, sih, Zak?" Protes Dira sambil menurunkan tangan Zaki yang menempel di dahinya.


"Abisnya, Lo.. Abis baca chat, langsung senyum-senyum sendiri. Dapet chat dari siapa, sih? Hm?" Tanya Zaki sambil melihat ke arah ponsel Dira.


"Kepo! Bukan dari siapa-siapa." Jawab Dira dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku tanpa sempat membalas pesan dari Axell tersebut.


"Udah, kuy, masuk kelas!" Ajak Zaki pada teman sekelasnya tersebut.


Dira dan Zaki pun berjalan memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran yang sudah hampir dimulai. Tapi, tanpa Dira dan Zaki sadari, ada seseorang yang memperhatikan keduanya dan bahkan sempat mengabadikan momen saat tangan Zaki menempel di dahi Dira tadi.


Seulas senyum muncul dari bibir orang itu saat melihat hasil foto yang baru ia ambil tadi.


...***...


"Dira, tungguin gue!" Ucap Nayla yang berjalan beberapa meter di belakang Dira. Dira yang mendengar ada yang memanggil namanya itu pun seketika menoleh dan mendapati Nayla yang berjalan mendekat ke arahnya. "...Gue kemarin nyariin Lo, Dir." Celetuk Nayla.


"Ada apa, Nay?" Tanya Dira santai.


"Gue mau tanya yang waktu itu?" Balas Nayla.


"Yang mana, Nay?" Tanya Dira penasaran.


"Itu, yang waktu gue telepon Lo, terus ada suara cowok." Jelas Nayla.


'Nah... kan... bener dugaan gue.' Batin Dira.


"O... yang waktu itu?" Tanya Dira balik yang langsung mendapat angkutan kepala dari Nayla.


"Dia..." Ucapan Dira terpotong oleh Nayla.


"Siapa, Dir?" Tanyanya tak sabaran.


"Em... sepupu gue. Iya, sepupu gue, Nay." Jawab Dira bohong.

__ADS_1


"Sepupu?" Beo Nayla tak yakin. "...Sejak kapan Lo punya sepupu, Dir?" Tanya Nayla menelisik.


"Itu... eh, Nay. Lo mau pesen apa? Tolong Lo pesenin gue sekalian, ya. Gue mau ke toilet bentar soalnya." Ucap Dira yang sengaja mengalihkan pembicaraan dengan Nayla dan langsung pergi ke toilet.


"Yahh... Kabur, dia. Kebiasaan banget, sih, Dira, suka kabur kalo di tanya." Cibir Nayla pelan sambil melihat punggung Dira yang semakin mengecil dari pandangannya.


"Kenapa, Beib?" Tanya Verrel yang baru saja datang bersama dengan Axell. Nayla menggelengkan kepalanya dan mendekat ke arah ibu kantin untuk memesan makanan.


"Bu Ida, saya pesan baso nya dua, es jeruk satu sama Lemon tea anget satu ya, Bu." Ucap Nayla pada Bu kantin.


"Siap atuh, neng." Jawab Bu kantin sambil mengangkat satu jempolnya ke arah Nayla.


"Itu si Dira, kabur Mulu kalo di tanya. Kebiasaan emang." Ucap Nayla bermaksud menjawab pertanyaan dari Verrel yang belum sempat ia jawab tadi. Mendengar jawaban dari Nayla membuat Verrel melirik sahabatnya sekilas.


"Ini, neng, pesanannya." Ucap Bu kantin yang menaruh pesanan dari Nayla tadi. Verrel memperhatikan minuman yang baru saja di letakkan di depannya oleh Bu kantin.


"Lo pesen Lemon tea, Beib? Bukannya Lo lebih suka es jeruk?" Tanya Verrel pada kekasihnya itu.


"Ini bukan punya gue, Beib." Sambil mengaduk-aduk es jeruknya.


"Terus, kalo bukan punya Lo -.." Ucapan Verrel di potong oleh Nayla.


"Punya Dira, Beib." Jawab Nayla cepat dan secara tidak langsung mengingatkan Verrel akan satu hal.


'Tunggu! Lemon tea anget dan Dira? OK... gue tau sekarang.' Batin Verrel sambil menganggukkan kepalanya karena mengetahui satu fakta. 'Udah sedeket itu ternyata... Gercep juga Lo, Xell!'


"Dira! Sini!" Panggil Nayla yang melihat Dira kembali dari toilet.


"Sorry, Nay. Lama gue." Ucap Dira yang langsung duduk di samping Nayla. Verrel yang melihat Dira yang duduk berhadapan dengan Axell pun tersenyum miring.


OK, Verrel akan mencoba mancing sekarang. Bukan memancing ikan, melainkan memancing reaksi dari sahabatnya itu.


"Dir, gue mau tanya sesuatu sama Lo." Celetuk Verrel tiba-tiba sambil sesekali melirik ke arah Axell.


Dira tampak mengernyitkan dahinya bingung. Kira-kira hal apa yang ingin Verrel tanyakan padanya. "Tanya soal apa, kak?"


Sementara Axell, laki-laki itu diam-diam menguping sambil menunggu. Apa yang akan sahabatnya itu tanyakan pada istrinya.


"Lo lagi sakit, ya?" Tanya Verrel to the points.


"Ha... Eng-gak kok kak?" Jawab Dira setengah cengo. Kenapa Verrel bertanya seperti itu.


"Kok Lo nanya gitu, sih, Beib? Emangnya Dira sakit?" Tanya Nayla sambil menoleh ke arah Dira. "Kok Lo nggak ngomong kalo lagi sakit, sih, Dir?!" Ucapnya khawatir pada Dira dan dibalas gelengan kepala oleh gadis itu.


"Yakin?" Tanya Verrel memastikan. Bukan itu sebenarnya maksud Verrel. Ia hanya ingin melihat ekspresi wajah dari Axell setelahnya.


"Pagi tadi gue liat si Zaki pegang dahi Lo. Gue kira Lo demam, makanya gue tanya, Lo sakit?" Ucap Verrel dan sukses membuat Axell melayangkan tatapan tajam ke arah Dira. Dan hal itu otomatis membuat Verrel kembali tersenyum miring.


'Gotcha!'

__ADS_1


__ADS_2