Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
141. Balas dendam Renata.


__ADS_3

"Lo jadi pulang bareng gue, kan?" Tanya Zaki yang kini sudah berdiri di samping meja Dira dan melody, lengkap dengan tas sekolah yg sudah tersampir di punggungnya.


Melody menoleh ke arah Dira dengan tatapan menelisik. "Jangan bilang Lo berubah pikiran?Kak Axell bilang Lo harus pulang sama gue! Gue nggak mau, ya, ngambil resiko di amuk sama dia ..." Melody tiba-tiba bergidik ngeri. Ia teringat saat begitu marahnya Axell waktu Dira yang tiba-tiba hilang di bawa Arfen beberapa waktu lalu. "... cukup sekali deh, gue liat dia marah hari itu. Asli. Nyeremin!".


Zaki menarik satu sudut bibirnya.


'Itu masih belum seberapa. Aslinya lebih nyeremin sih.' Batin Zaki.


"Iya. Gue pulang bareng kalian." Jawab Dira pasrah. Itu emang keputusan yang paling tepat menurutnya. Ia tak ingin lagi mencari masalah yang akan menciptakan kesalahan pahaman antara dirinya dengan sang suami.


"Ya udah, kalian langsung ke depan aja! Gue mau ambil mobil ke parkiran." Ucap Zaki yang langsung berjalan keluar kelas.


Dira dan Melody berjalan beriringan menuju pintu gerbang. Saat sampai di dekat taman, Dira merasakan sesuatu. Rasa yang mengharuskannya untuk segera ke ke toilet.


"Eh, Mel, gue -


"Kenapa? Mau ke toilet?" Potong Melody cepat. Gadis itu sudah hafal betul dengan kebiasaan Dira setiap akan pulang sekolah seperti sekarang ini.


"Hhe... Lo duluan aja, nggak pa-pa." Ucap Dira yang langsung pergi ke toilet, meninggalkan Melody yang geleng-geleng kepala sendiri.


Tanpa mereka sadari, tak jauh dari Dira dan Melody, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


'Aku datang, baby."


...***...


"Hai... bit*h, kita ketemu lagi." Sapanya pada gadis yang baru keluar dari salah satu bilik toilet.


Dira, gadis yang tengah mengibaskan tangan pada bajunya itu mengangkat pandangannya. Detik kemudian ia membuang muka setelah tatapannya bertemu dengan mantan suaminya, Renata.

__ADS_1


Gadis itu berdiri membelakangi cermin dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan menatap Dira dengan begitu angkuh.


"Ada apa? Gue nggak ada urusan ya, sama Lo. Minggir!" Ucap Dira ketus pada Renata, saat gadis itu tiba-tiba menghalangi jalannya yang ingin cepat-cepat keluar dari toilet. Dira enggan berurusan dengan gadis yang menurutnya sakit jiwa itu.


Renata mendengus sebal sembari membuang muka. "Lo emang nggak ada urusan sama gue. Tapi urusan gue sama Lo, itu banyak." Jawab Renata yang langsung mendorong kedua bahu Dira dengan kasar ke dinding.


Bughh...


"Akhh! Lo apa-apaan, sih?!" Tanya Dira yang tak terima dengan apa yang baru saja Renata lakukan padanya. Tangan kirinya memijat bahunya sebelah kanan yang terbentur ke dinding dengan cukup keras.


"Apa-apaan?!" Ucap Renata menirukan gaya bicara Dira tadi. Lalu tangan kanannya mengibaskan rambutnya kebelakang. "... Udah cukup, ya, gue ngebiarin Lo terus-terusan sama Xello akhir-akhir ini. Lama-lama makin lama gue makin muak ngelihatnya. Dan sekarang, waktunya Gue bikin perhitungan sama Lo." Ucap Renata lagi sambil menekan kedua bahu Dira ke dinding.


Dira menepis kedua tangan Renata dengan kuat. "Perhitungan?" Tanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Lalu mendengus geli dengan apa yang Renata katakan. "... yang ada gue yang harusnya bikin perhitungan sama Lo, Karena Lo udah gangguin hubungan gue sama kak Axell. Harusnya Lo itu nyadar! Lo itu nggak lebih dari sekedar MANTAN PACAR dari kak Axell!" Jawab Dira dengan penekanan kata 'mantan pacar'. Dan hal itu sontak membuat amarah Renata semakin menjadi-jadi.


Renata tak terima Dira menyebutnya mantan pacar dari Axello.


Plakk!


"Jaga mulut Lo, ya! Lo gue diemin makin lama makin ngelunjak ternyata ..." Tangan Renata terayun bebas menarik rambut Dira. "... Gue tegasin ya sama Lo, Xello itu milik gue. Denger nggak? MILIK GUE! Selagi gue masih bisa sabar, sebaiknya lo putusin Xello sekarang juga, dasar bit*h!" Jawab Renata dengan tangan yang semakin kuat menarik rambut Dira dan sontak membuat Dira memekik kesakitan.


"Akkhh!!" Teriak Dira. Gadis itu merasakan sakit luar biasa saat Renata yang menarik rambutnya semakin kuat. Dan hal itu membuat Renata tersenyum puas.


Ia ingat, Beberapa waktu yang lalu ia juga pernah melakukan hal yang sama pada Dira di apartemen Axell. Sayang, Axell tiba-tiba datang dan menghentikan aksinya. Sontak saja kesenangannya harus terhenti saat itu juga.


Dan kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Kesempatan yang entah kapan datang lagi. Kesempatan untuk membalaskan dendam pada gadis yang berhasil merebut seorang Axello darinya. Menghapuskan namanya di hati laki-laki yang begitu ia inginkan itu. Dan sekarang ini ia tidak akan melepaskan Dira sampai ia benar-benar puas membalaskan dendamnya itu.


"Denger ya, bit*h! Sebelumnya Xello nggak pernah dingin sama gue. Dia selalu nggak pernah abai kalo sama gue. Selalu take care ke gue. Selalu peduli apapun hal tentang gue. Dan sekarang karena adanya Lo, Sikap dia ke gue jadi berubah. Lo udah bikin dia acuh ke gue, Lo udah bikin dia mukulin temen gue. Dan satu lagi, Lo bahkan udah bikin gue berantem sama Kaka gue." Ucap Renata yang kini melepaskan tarikan tangannya pada rambut Dira dan langsung mendorongnya ke dinding dengan kuat.


Buhhg!

__ADS_1


"Akkhh!" Dira memegangi kepalanya yang terbentur cukup keras. Nampak dahi Dira mulai mengeluarkan darah segar. "... Ssshht... Lo gila, ya. Maksud Lo apa? Gue nggak ngerti apa yang Lo maksud."


Renata mendengus sebal mendengarnya. "Gue bahkan bisa lebih gila dari pada ini ..." Renata kembali mendekat. Ia mencengkram kuat leher Dira. Memandangi wajah Dira yang tengah kesakitan tepat di depannya dengan seksama. "... Kalo di lihat-lihat, Lo cantik juga. Pantes sih, kalo kakak gue bisa suka sama Lo." Ucapnya lalu kembali mendorong Dira ke arah yang lain. Dan,


Bughh!


Perut Dira menghantam wastafel dengan keras.


"Akkh!" Pekik Dira sambil meringis kesakitan. Gadis itu membungkuk lalu terduduk dengan kedua tangan yang memegangi perutnya yang tiba-tiba menjadi sakit luar biasa.


"Kenapa? Sakit? Gitu doang padahal! Dasar lemah!" Cibir Renata yang kini duduk jongkok di depan Dira. "Rasa sakit Lo itu nggak ada apa-apanya. Dan pasti nggak lebih dari rasa sakit yang gue rasakan ..." Ucap Renata lagi. Gadis itu lalu berdiri. Ia berjalan perlahan memutari Dira.


"... Xello mukulin kak Derry gara-gara Lo. Dan kemarin, gue berantem sama kak Nicho juga gara-gara Lo." Renata tersenyum masam mengingat dimana sang kakak yang terlihat begitu marah saat ia menyebut Dira gadis murahan. "Tragis, sih. Dia bahkan lebih ngebela Lo dari pada gue ... Adiknya sendiri."


Dira mengangkat kepalanya menatap Renata yang kini berdiri di depannya. "Kak Nicho?" Ucapnya pelan sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.


"Iya. Nicho. Nicholas Mahaputra. Dia kakak gue." Jawab Renata lalu tersenyum melihat wajah terkejut milik Dira. "... Kenapa? Kaget?" Tanya Renata yang kini membungkuk dan mencengkram dagu Dira dengan tangan kanannya.


"... Kak Nicho bahkan sampai peringatin gue buat jauhin Xello gara-gara Lo! Gue nggak tau, apa yang udah Lo lakuin sampai kak Nicholas milih lebih belain Lo dari pada gue, adiknya sendiri? Sialan!" Ucap Renata sambil melepas cengkraman tangannya pada dagu Dira dan mendorongnya kuat. Membuat tubuh Dira terhempas ke lantai dan membuat kepalanya kembali terbentur untuk kesekian kalinya.


Tak cukup sampai di situ. Seakan tak pernah puas melihat wajah rivalnya yang terus kesakitan, bahkan kini terbaring lemah tak berdaya, Renata langsung berdiri dan kembali melanjutkan aksinya.


Bughh!


"Arrghh! Sakit!" Pekik Dira lagi. Gadis itu memekik merasakan sakit yang tak tertahankan. Ia mencoba untuk melepaskan diri dari kaki Renata yang menginjak dan menekannya kuat di bagian perut. Pandangan Dira mulai memburam. Rasanya ia seperti akan pingsan saat itu juga.


"Sakit banget, ya? Kasian ..." Ucap Renata dengan nada mengejek. Ia lalu menurunkan kakinya yang tadi ia gunakan untuk menginjak perut Dira. "... Padahal gue nginjeknya pelan lhoh. Kok Lo bisa kesakitan gitu, ya?" Tambahnya dengan memasang wajah pura-pura bingung.


Dira diam tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengontrol nafasnya dan mengumpulkan kesadarannya yang tadi sepertinya sempat hampir pingsan. Ia tak ingin pingsan di toilet. Rasanya ia ingin segera keluar dari tempat mengerikan itu sekarang juga. Menyelamatkan diri dari kegilaan seorang Renata Isabella.

__ADS_1


Tapi, bagaimana caranya? Tubuhnya terasa lemas. Rasa sakit di perutnya masih mendominasi dirinya saat ini. Rasa sakit itu malah semakin menjadi ia rasakan.


Melihat Dira yang hanya memegangi perutnya, Renata membungkuk, "Sebelum semuanya terlambat, Gue masih bisa berbaik hati sama Lo. Ngelepasin Lo dari tempat ini sekarang juga. Tapi, dengan ...


__ADS_2