
"Aarghh...!" Teriak Axell frustasi sambil mengacak rambutnya kasar. Ia mengerutuki kesalahannya sendiri karena gagal menjaga gadis yang berstatuskan istrinya.
"Sorry, Dir! Gue nggak becus jagain Lo. Harusnya gue nggak pergi ninggalin Lo gitu aja tadi." Ujar Axell lirih sambil menatap wajah Dira.
Tak lama kemudian terdengar suara orang mengetok pintu.
Tok...
Tok...
Tok...
Tak perlu menebak siapa yang datang, Axell langsung bergegas untuk membukakan pintu. Dan benar saja, orang yang mengetuk pintu tadi adalah orang yang sedang Axell tunggu.
"Syukurlah... Om udah Dateng!" Ucap Axell lega. Berbeda dengan pria paruh baya yang masih berdiri di depannya ini. Ia bahkan menatap Axel dengan bingung.
Orang yang di sapa Axell dengan sebutan 'Om' tadi mengerutkan dahinya bingung, "Kamu nggak kelihatan seperti orang sakit, Xell! Dan juga sejak kapan kamu pindah ke sini? Setahu Om, apartemen kamu masih naik satu lantai lagi, kalau tidak salah." Tanya pria paruh baya itu yang tak lain bernama Om David. Adik ipar ayah Marvellyo.
"Bukan Axell Om, yang sakit. Mending Om cepetan masuk!" Jawab Axell sambil mengajak Om David masuk ke dalam apartemen Dira.
"Jadi kalau bukan kamu yang sakit terus siapa?" Tanya om David sambil berjalan mengikuti Axell.
Axell tak menjawab, ia malah langsung mengajak Om David masuk ke kamar Dira. Dan saat sudah memasuki kamar gadis itu.
"Hey... anak gadis siapa ini? Kamu apakan dia, Xell?" Tanya om David tak sabaran. Om David mengira jika Axell telah melakukan sesuatu yang membuat gadis itu tak sadarkan diri.
Axell tampak memijat pelipisnya sesaat, Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut. Laki-laki itu lalu menghela nafas pelan, "Bisa nggak, om, reaksinya biasa aja?!"
"Biasa aja gimana maksud kamu? Mentang-mentang di bebasin tinggal di apartemen sendiri, bisa-bisanya kamu main bawa masuk anak orang! Bisa kamu jelaskan Axell, kenapa gadis ini bisa sampai pingsan? Kamu apakan dia?" Tanya Om David yang menuntut penjelasan dari keponakannya itu.
Axell mendengus sebal. Untuk sesaat ia menyesali tindakannya yang telah meminta om nya itu untuk datang tadi. Kalau saja ia tak butuh bantuannya, sudah dapat dipastikan kalau Axell tidak akan memanggil pria yang usianya hampir sama dengan ayahnya itu. "Ini Dira, om. Istri aku. Dan aku sendiri juga nggak tau, kenapa dia bisa pingsan!" Jawab Axell menjelaskan.
Om David memicingkan matanya ke arah Axell, seakan sedang mencari kebohongan yang sedang Axell buat. "Istri? Yakin dia istri kamu?" Tanya om David tak yakin dengan apa yang Axell katakan. Sementara Axell mendapat pertanyaan yang terkesan meragukannya itu malah menatap om David dengan tatapan datar. Ia sedang malas berdebat saat ini.
"Bisa langsung periksa aja nggak, om?" Ucap Axell yang semakin kesal. Bisa-bisanya suami dari adik Bunda Resty itu tidak mengerti situasi seperti saat ini.
Om David lalu memeriksa keadaan Dira. Tak butuh waktu lama untuk memeriksa kondisi Dira, om David telah mengetahui keadaan dari gadis yang di klaim istri oleh keponakannya itu.
"Gadis ini mengidap asma. Ia sedang banyak pikiran dan sedikit tertekan. Itu yang menyebabkan asmanya kambuh." Jelas om David pada Axell.
Mendengar apa yang di katakan oleh om David barusan membuat tangan Axell terkepal sebelah. Benar dugaannya.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan, om?" Tanya Axell.
"Tenang, Axell. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Ini masih di batas wajar dan tidak mengancam jiwanya." Jawab Om David menjelaskan.
"Huuhhh..."
Mendengar penjelasan dari om David membuat Axell bisa bernafas lega. Ia bisa merasa tenang sekarang.
"Ini resep obat untuk... Tapi tunggu dulu!" Ucap om David menggantungkan kalimatnya ragu.
"Ada apa, om?" Tanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Beneran dia istri Kamu?" Tanya om David meyakinkan.
'Astaga...' Desah Axell dalam hati.
"Om bisa tanya ayah sama bunda." Jawab Axell singkat dan langsung membuat Om David percaya. Tidak mungkin kan, Axell berbohong dengan menyebutkan ayah dan bundanya.
Om David menganggukkan kepalanya mengerti. Om David memang sudah mengetahui kalau Axell telah menikah. Tapi sayangnya Om David belum mengetahui seperti apa wajah istri dari keponakannya itu. Karena sesaat sebelum prosesi ijab Kabul antara Dira dan Axell berlangsung, tiba-tiba saja Om David mendapatkan telepon dari rumah sakit dan mengharuskannya untuk segera datang karena ada pasien gawat darurat yang harus segera di tangani. Sementara yang menyaksikan prosesi ijab Kabul istrinya dan juga anaknya.
Setelah kepergian Om David dari apartemen Dira, Axell kini tengah menemani Dira yang masih belum sadar dari pingsannya. Sebelumnya tadi Axell sempat meminta 9ada pak Septa, salah satu orang kepercayaan keluarga Marvellyo untuk membeli obat sesuai dengan resep yang Om David berikan padanya tadi.
"Dir..." Panggil Axell lirih sambil berjalan mendekat ke arah Dira.
Dira yang seperti mendengar ada suara yang memanggilnya pun menoleh dan mendapati Axell 6ang kini duduk di sampingnya.
"Kak Axell." Ucap gadis itu lirih.
"Apa yang Lo rasain sekarang? Nafas Lo... masih sesak?" Tanya Axell pelan.
Dira menggelengkan kepalanya pelan mendengar apa yang Axell tanyakan. Tapi kenapa Axell bisa ada di apartemennya?
"Kak Axell kok tau aku lagi ada disini? Dan kak Axell kok bisa masuk?" Tanya Dira penasaran. Gadis itu ingin tahu, seingatnya ia belum pernah memberitahu Axell nomor angka smartlock apartemennya. Lalu bagaimana laki-laki itu bisa masuk?
Bukannya menjawab, Axell malah melayangkan pertanyaan untuk Dira. "Lo udah makan?" Tanyanya.
Dira menggeleng pelan, "Belum, kak." Jawab Dira.
"OK, gue ambilin makan dulu buat Lo, bentar." Ucap Axell dan langsung berjalan menuju ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Dira. Dan tak lama berselang, Axell pun kembali membawa nampan berisi semangkuk bubur yang ia buat sendiri tadi dan segelas teh hangat.
"Lo makan, abis itu minum obat!" Ucap Axell setelah menyerahkan bubur pada Dira.
__ADS_1
"Obat? Kenapa aku harus minum obat?" Tanya Dira tak mengerti.
Axell menghela napas pelan, "Lo pingsan tadi."
'Pingsan?'
Oh iya, Dira. Gue baru ingat. Tadi asmanya sempat kambuh dan hal itu membuatnya pingsan.
"Aku udah nggak pa-pa, kak." Tolak Dira halus. Bukan Dira ingin menolak pemberian makanan yang Axell berikan untuknya. Hanya saja Dira memang sedang tak berselera untuk makan saat ini.
"Tapi Lo harus makan sebelum minum obat." Jawab Axell.
"Aku nggak laper, kak." Tolak Dira lagi. Mendengar jawaban dari Dira tadi membuat Axell nampak kembali mendengus kesal. Ternyata selain bandel, Dira juga begitu keras kepala.
"OK, nggak apa-apa kalo Lo nggak mau makan..." Ucap Axell terjeda.
Sementara Dira menarik satu alisnya, menunggu apa yang akan Axell katakan.
"But, Gue punya pilihan buat Lo." UcapAxell yang kembali menggantungkan kalimatnya.
Mendengar apa yang Axell katakan membuat Dira mengernyitkan dahinya bingung, sebenarnya apa yang akan Axell katakan padanya sekarang ini?
Axell nampak terdiam sesaat, sampai akhir ya ia kembali berkata, "Lo pilih makan, atau..."
Lagi, Axell kembali mengantungkan ucapannya. Membuat Dira kembali menunggu apa yang akan Axell katakan padanya sekarang.
"Lo pilih makan, atau Lo yang gue makan? Kebetulan... gue juga belum makan, sih." Ucap Axell yang terkesan ambigu sambil menampilkan senyum smirk-nya.
"Hah..."
"Lo pilih mana?" Tanya Axell yang menunggu jawaban dari Dira sambil mengangkat sebelah alisnya.
Deg...
'Mampus!'
"K-kak... g-gue...?" Ucap Dira terbata.
"Gue apa?" Tanya Axell cepat.
"Gue....
__ADS_1