Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
85. Belum siap.


__ADS_3

"Jangan buat gue khawatir, Dira ...!" Ucap Axell pelan. Axell lalu meletakkan laptopnya di meja. Kini kedua tangan Axell menangkup wajah Dira. Ia pandangi wajah gadis yang berstatuskan istrinya itu. "... Dir, Lo itu tanggung jawab gue. Jadi sebisa mungkin gue harus bisa jagain Lo, lindungin Lo dan buat Lo selalu merasa nyaman di samping gue. Karena itu kewajiban gue sebagai suami Lo. Sebisa mungkin gue berusaha jadi tempat ternyaman buat Lo pulang."


Deg!


Lagi-lagi jantung Dira berdetak kebih kencang. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul di dalam hati gadis itu. Tanpa sadar, Dira menarik kedua sudut bibirnya. Senyum manis yang entah kenapa begitu memabukkan bagi Axell.


Bagaikan magnet, Axell yang melihat senyum Dira pun refleks ikut tersenyum. Pelan namun pasti, kini Axell mulai mendekatkan wajahnya pada Dira. Tak ada perlawanan berarti dari gadis itu, membuat Axell semakin mendekat. Dan...


Cup...


Axell mengecup singkat bibir Dira. Tak ada penolakan, tak ada perlawanan yang membuat Axell kembali tersenyum. Kembali ia mendekatkan wajahnya untuk mengulangi aksinya lagi.


Cup...


Axell kembali mencium bibir Dira. Mengecup, menghisap dan ******* bibir ranum milik gadisnya itu. Ada sensasi berbeda yang Axell rasakan sekarang. Gadisnya ini sudah mulai bisa membalas ciumannya. Meskipun masih sedikit kaku.


"Dirahhmm ... bukah mmulutnyahh, sayyang!" Ucap Axell dengan suara berat di sela ciumannya. Sementara Dira, bukannya menuruti permintaan Axell untuk membuka mulut, gadis itu malah terdiam tak lagi membalas ciuman Axell. Dira malah tertegun mendengar suara Axell tadi. Suara yang terdengar begitu seksi bagi Dira.


Merasa gadisnya yang tak kunjung membuka mulut, Axell lalu menggigit bibir bagian bawah gadis itu. Sontak saja Dira yang merasa terkejut pun refleks langsung membuka mulutnya. Axell dengan cepat menyusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Dira. Mengabsen tiap inci rongga mulut istrinya. Tangan Axell pun kini semakin menekan tengkuk leher gadisnya seakan tak ingin ciumannya terlepas.


Axell tahu, gadisnya ini hampir kehabisan nafas. "Bernafash,, sayyaangg!" Ucap Axell masih dengan nada dan suara yang sama seperti tadi. Jelas terdengar, Axell sedang menahan hasrat yang timbul dalam dirinya. Ya, Axell kan normal, jadi wajar kan?


Tangan Axell bergerak turun mengelus leher Dira. Dira yang pertama kali mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa pasrah. Otaknya seakan menolak, tapi tidak dengan raganya. Malah Dira kini perlahan mulai menikmati setiap sentuhan yang Axell berikan padanya.


Ciuman Axell kini beralih ke telinga Dira. Mengecup dan menjilat. Lalu beralih semakin turun ke bagian leher putih milik gadisnya. Mengecup, menghisap dan menggigit di bagian sana. Axell bahkan dengan sengaja meninggalkan beberapa jejak yang pasti orang lain akan dengan sangat mudah melihatnya. Seakan Axell ingin menunjukkan kalau Dira adakah miliknya seorang. Teruntuk Arfen juga pastinya.


Satu tangan Axell turun ke gundukan kenyal milik Dira. Memijat dengan lembut di bagian sana. Dira yang merasakan pijatan tangan Axell pun seketika tersentak.


Sungguh ini baru pertama kali Dira di perlakukan seperti ini. Ingin menolak karena merasa belum siap ke tahap lebih lanjut karena merasa ini belum saatnya. Tapi berbanding terbalik dengan respon dari tubuhnya yang seakan ingin diperlakukan lebih. Mungkin ini karena rangsangan yang Axell berikan tadi langsung membangkitkan gairah dari gadis itu. Ah, Axell memang pandai sekali merayu.


"K-kak Axell, please ... aku belum siap?" Ucap Dira saat melepas ciumannya.


Axell menatap Dira, gairah yang sempat timbul itu buyar seketika. "It's okay, gue bisa ngerti. Gue akan nunggu sampai Lo benar-benar siap dan Lo sendiri yang minta itu ke gue. But, Jangan salahin gue kalo ada cewe yang dengan suka rela ngasih itu ke gue duluan sebelum Lo, Karena gue yang mungkin nggak bisa nunggu lama ..." Ujar Axell yang langsung membuat Dira diam mematung seketika.


"... Dira, seharusnya Lo inget! Dengan status kita yang udah nikah! Dengan status gue yang udah sah jadi suami Lo, seharusnya Lo bisa ngerti keadaan! Jadi, nggak ada alasan buat Lo nunda kasih gue sesuatu yang seharusnya udah jadi hak gue sekarang." Sambung Axell yang kini bangkit dari sofa lalu pergi meninggalkan Dira. Tak lupa ia meraih ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja. Sebelum Axell membuka pintu, ia berhenti dan menoleh.


"Gue ada urusan bentar. Udah malem, Lo langsung tidur dan jangan kemana-mana!" Ucap Axell lalu pergi dari apartemen Dira.


"Sekarang gue harus gimana?"


...***...

__ADS_1


Pukul 06.35 Dira dan Axell sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah. Keduanya tadi terlambat bangun karena sama-sama tak bisa tidur. Keduanya sama-sama bergelut dengan isi kepala masing-masing.


Selama perjalanan menuju ke sekolah, tak ada perbincangan dari Axell maupun Dira. Keduanya memilih diam, masih dengan pikiran masing-masing.


Axell yang sudah mulai sering mengajak Dira bicara pagi ini kembali pada kesan pendiam dan cueknya. Bahkan sikap Axell sekarang ini kembali seperti saat baru mengenal Dira. Dan tentu Dira menyadari perubahan suaminya itu.


Dua puluh menit perjalanan, kini mobil Axell memasuki gerbang sekolah SMA Bhakti Bangsa.


"Kak Axell ..." Panggil Dira lirih.


"Bentar lagi pelajaran dimulai, sebaiknya Lo masuk kelas." Ucap Axell dingin.


Axel tak ingin membahas ini sebetulnya. Semalam ia tidak bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan. Axell hanya ingin mengingatkan tentang status keduanya yang sudah resmi menjadi suami istri. Hanya sekedar gertakan saja untuk Dira.


Dira masih bisa mendengar helaan nafas yang keluar dari mulut Axell, setelah memintanya untuk segera masuk ke kelas tadi. Gadis itu kini semakin merasa bersalah.


Kalau dipikir-pikir, benar apa yang dikatakan Axell semalam. Axell punya hak penuh atas dirinya. Dan sebagi istri harusnya ia bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan dari Axell.


Dira lalu keluar dari mobil Axell setelah berpamitan dengan suaminya itu. Ia berjalan pelan menuju dimana kelasnya berada. Tapi belum jauh Dira melangkah, tiba-tiba langkah kaki Dira terhenti saat mendengar seorang gadis yang memanggil suaminya.


"Xello..."


Dira menoleh. Ia mendapati Renata yang berdiri tak jauh darinya. Renata berjalan mendekat ke arah Axell yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Dira dapat melihat dengan jelas, saat Renata tengah tersenyum pada Axell.


...***...


Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan kini Dira sedang berada di kantin dan menunggu pesanannya datang.


"Lo kenapa sih, Dir?" Tanya Zaki yang sejak di kelas tadi terus memperhatikan Dira.


"Iya, dari tadi kek nggak fokus gitu belajarnya." Sahut Melody.


Dira menoleh, menatap Zaki dan Melody secara bergantian lalu tersenyum. "Gue nggak pa-pa, semalem gue cuma kurang tidur."


"Lo pusing? Mau gue anterin ke UKS?" Tawar Melody.


"Nggak usah, Mel." Tolak Dira yang kini mulai memakan bakso yang sudah diantarkan oleh Bu kantin.


Melihat Dira yang lebih banyak diam, Zaki mengkode Melody. Ia menunjuk-nunjuk Dira menggunakan dagunya.


"Gue juga nggak tau." Jawab Melody hanya menggunakan gerakan bibir tanpa suara sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Ada masalah keknya." Tebak Zaki masih dengan tanpa suara.


"Tumben, Dir, Lo makan baksonya polosan gitu. Biasanya kan Lo kalo makan bakso, tuh kuah sampe merah banget." Celetuk Zaki yang memang menyadari ada keanehan pada Dira.


"Ha...!"


"Iya, nih. Biasanya kan Lo yang paling doyan pedes diantara kita!" Sahut Melody.


"Ha...!"


"Ha he ho mulu! Lo lagi mikirin apa, sih? Lagi ada masalah? Sama kak Axell?" Tebak Melody.


"Ha ... eh, iya. Gue lupa belum kasih saos sama sambal. Pantesan rasanya aneh ... nggak ada pedes-pedesnya." Jawab Dira yang memang baru menyadari tentang dirinya yang lupa menaruh sambal pada baksonya.


Sementara Zaki dan Melody hanya geleng-geleng kepala sendiri melihat Dira yang memang aneh hari ini.


"Yah ... saosnya pake kena rok lagi." Keluh Dira saat saus yang ia tuang menetes di rok seragamnya.


"Kenapa, Dir?" Tanya Melody yang melihat Dira bangkit dari duduknya.


"Nih kena saos. Gue ke toilet bentar, ya? Yang akur Lo berdua, jangan berantem!" Ujar Dira yang ia tujukan pada Melody dan juga Zaki.


"Dira mana?" Tanya Axell yang baru saja datang bersama dengan antek-anteknya.


"Ke toilet, kak?" Jawab Melody singkat.


"Ada apa? Kangen?" Tanya Zaki.


Axell diam, tak lagi bertanya. Ia memilih duduk sambil memainkan ponselnya.


"Udah dari tadi ke toiletnya, Mel?" Bukan Axell yang bertanya, melainkan Nayla.


"Sepuluh menitan kek nya ada, kak." Jawab Melody santai.


Mereka pun melanjutkan makannya masing-masing. Sampai pada akhirnya Melody kembali bersuara.


"Si Dira ke toilet lama banget, sih? Jangan-jangan ilang lagi?" Ucap Melody yang sudah lebih dulu menghabiskan baksonya.


Deg!


Axell yang mendengar ucapan Melody barusan jadi teringat dengan Arfen yang kemarin datang dan membawa Dira. Tak ingin kembali terulang, ia langsung berdiri dan meninggalkan mejanya.

__ADS_1


"Mel, Lo ikut gue!" Ucap Axell saat berhenti dan kembali melanjutkan langkahnya.


__ADS_2