
Bel pulang sekolah telah berbunyi sekitar 15 menit yang lalu. Dan sekarang ini mobil Zaki sedang melaju perlahan keluar dari area parkiran sekolah dan melewati gerbang Bhakti Bangsa, membawa Melody - sang kekasih dan juga Dira di dalamnya.
Zaki benar-benar menuruti apa yang Axell katakan padanya untuk mengantarkan Dira pulang dan juga menemaninya bersama Melody sampai Axell datang. Tapi, tidak cukup sampai di situ, dari jarak 20 meter dari belakang, nampak satu motor sport juga terpantau mengikuti laju mobil Zaki.
Ya, Zaki tahu apa yang di maksud Axell dengan 'Ada sesuatu yang akan Adit kerjakan', yang ternyata mengawal mereka dari belakang saat mereka keluar dari gedung sekolah.
Cukup pintar menurut Zaki. Karena Axell sengaja tidak memakai bantuan bodyguard yang selalu standby di rumah dan beberapa kantor Ayah Marvellyo untuk mengawal Dira, seperti apa yang ayahnya tawarkan pada Axell sejak kejadian Dira dan Renata hari itu. Menurut Axell, itu akan terlihat mencolok dan tidak menutup kemungkinan orang akan mencari tahu siapa Dira? Jadi, menurut Axell untuk menjaga Dira, ia punya caranya sendiri.
Lalu pertanyaannya, Dimana Axell sekarang? Kenapa bukan dia sendiri saja yang mengantarkan istrinya itu untuk pulang? Kenapa harus orang lain? Setidak becus itu kah dirinya dalam hal menjaga istrinya sendiri, hingga harus meminta bantuan adik-adik kelasnya?
Tidak seperti itu. Axell bisa saja membawa Dira pulang bersamanya. Hanya saja langkah itu dirasa Axell tidak tepat menurutnya. Dan inilah langkah yang Axell ambil. Membawa Dira pulang, meskipun tidak dengan tangannya sendiri.
Dan sekarang ini Axell sedang mengendarai mobilnya yang berada tidak jauh di belakang Adit. Axell memang sengaja menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Adit dan juga mobil Zaki saat ini.
Gara-gara menyadari ada orang yang mengikuti dirinya pagi tadi, membuat Axell mencari cara agar Dira tidak ikut terpantau keberadaannya oleh orang itu dan itu akan membuat Dira tetap aman. Disini Axell juga akan memastikan orang yang sedang mengintai dirinya saat ini ikut serta mengikuti pergerakan Dira atau tidak?
Sadar pergerakannya diawasi seseorang, Axell mempercayakan Zaki dan Adit untuk mengantarkan Dira pulang dengan aman tanpa ada yang tahu, kalau ia dan Dira tinggal bersama.
Selain mengikuti Zaki dan Adit yang tengah membawa Dira ke Greenland residence, Axell juga tengah awas memperhatikan setiap kendaraan yang berada di sekitarnya dan juga di sekitaran mobil Zaki saat ini. Dan sejauh ini, Axell belum menemukan apapun. Atau mungkin ... orang itu hanya mengincar dirinya saja?
Kalau memang itu benar, Axell akan mengucapkan syukur untuk itu. Itu tandanya ia bisa menarik nafas lega karena Dira tidak sedang dalam bahaya saat ini. Bagi Axell sudah cukup ia lalai dengan semua hal yang menimpa istrinya. Dan kali ini, tidak lagi.
Dan saat sampai di lampu merah, ponsel Axell tiba-tiba berdering. Dengan sigap, Axell langsung memasang airpods untuk menerima panggilan yang sudah Axell tebak siapa yang menelponnya.
Ya. Siapa lagi kalau bukan Pandu - sang asisten yang sekarang ini berada tepat di belakangnya? Pandu memang sengaja mengikuti Axell demi untuk mencari tahu, siapa yang tengah mengintai bos mudanya itu sekarang ini
"Bagaimana?" Bukan kata halo yang keluar dari mulut Axell. Karena di saat seperti ini, Axell benar-benar akan berada di mode serius dengan Pandu.
"Positif. Posisinya tepat di samping saya, Tuan."
"Siapa dia?" Tanya Axell to the points.
"Anda mengenalnya."
__ADS_1
Axell memijat pangkal hidungnya mendengar jawaban dari Pandu, "Ada beberapa nama di kepala gue, Ndu ..." Balas Axell. "... Gue nggak bisa langsung nuduh walaupun sebenarnya gue bisa." Satu jari telunjuk Axell nampak mengusap dagunya. Lalu kembali memegang setir mobil dan menjalankannya saat lampu merah kembali hijau.
"Anda sangat mengenalnya, Tuan."
'Sangat?'
Satu alis Axell terangkat disusul dengan senyum menyeringai yang terlihat di wajah tampan putra Ayah Marvellyo itu. Tepat seperti dugaannya.
"Tapi, Tuan. Ada lagi yang ingin saya sampaikan."
"Katakan!" Tegas Axell.
"Saya juga melihat kedua sahabatnya anda, Tuan. Mereka tidak jauh dari posisi anda sekarang." Tambah Pandu lagi.
Terkejut. Kali ini Axell langsung menoleh ke belakang. Satu alisnya terangkat saat melihat mobil yang sangat ia kenal.
"Mereka ngapain?"
...***...
Keduanya memang kebetulan berangkat sekolah bersama pagi tadi. Dan sekarang ini, Verrel meminta Bastian untuk mengantarkannya pulang karena rumah mereka yang memang searah dan masih satu komplek.
"Dia ngomong apaan?" Tanya Verrel yang kini duduk sambil berbalas pesan dengan kekasihnya.
Sejak hari itu, mereka tidak lagi saling berhubungan dengan Arfen. Lalu sekarang, tiba-tiba Bastian bilang kalau Arfen menghubunginya.
Ada angin apa ini?
"Ada yang bilang ke tuh orang, katanya gaya pacaran Axell sekarang toxic, bahkan sampai bikin Dira hamil." Jelas Bastian.
Verrel melebarkan matanya, ia langsung menoleh ke arah Bastian.
Sadar dengan wajah kepo Verrel yang menatap padanya, Bastian kembali melanjutkan cerita. "Dia tanya ke gue tentang cerita yang ia dengar ..." Bastian melirik Verrel sekilas. "... Dan gue jawab ... itu benar."
__ADS_1
"Lo gila, Bas!" Maki Verrel di samping Bastian yang tengah santai mengemudikan mobilnya. "... Axell hamilin Dira kan emang karena dia suaminya. Dia berhak atas Dira. Terus, kenapa Lo malah nyebar fitnah kek gitu!"
Bastian tertawa, "Hahaha... See, Lo baru tau kalo gue ini gila?!" Tanya Bastian tanpa menoleh ke arah Verrel sekilas lalu kembali fokus pada mobil-mobil di depannya.
Verrel menghentak nafas kasar, "Nggak, sih. Gue udah taunya dari lama."
"Bajin*an Lo!" Umpat Bastian pada Verrel.
"Tapi, Ckk! Gue nggak habis pikir sama Lo!" Verrel berdecak sambil geleng-geleng kepala sendiri karena tak habis pikir dengan apa yang Bastian lakukan. Bisa-bisanya Bastian membenarkan kabar yang jelas-jelas tidak benar itu. "... Bisa-bisanya Lo ngarang cerita kek gitu!"
Bukannya merasa tersudut, Bastian malah terkekeh sendiri. "Anggap aja gue lagi balas dendam sama Axell." Tambahnya.
"Balas dendam?" Verrel menatap bingung Bastian. "... Maksud Lo?"
"Lo punya dendam pribadi sama Axell?" Tanya Verrel lagi. Ia terkejut mendengar ucapan santai Bastian. Jujur ia tidak paham dengan 'Dendam' yang sedang Bastian maksudkan di sini. Atau ia melewatkan sesuatu? Pikir Verrel.
"Si Axell itu, udah tau gue suka sama Dira dari pertama kali liat tuh cewek masuk ke sekolah kita. Bukannya bantuin gue deketin Dira, eh... malah diembat sendiri! Siapa suruh dia rebut bidadari gue?" Bastian menginjak rem mobilnya, "... Mana langsung dikawinin lag -"
Plaakkk!
"Auww... Asw! Sakit, Njirr!"
"Nikah, Be9o! Nikah! Bukan kawin!" Protes Verrel yang langsung memukul kepala Bastian seenaknya, setelah mendengar kata kawin keluar dari mulut Bastian.
"Lah... pada akhirnya mereka kawin juga kan?! Nyatanya Dira sempat hamil walau akhirnya keguguran gara-gara Rere." Jawab Bastian seenaknya dan apa adanya. Ia kembali menginjak pedal gas nya dan mulai mengikuti mobil putih yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya.
"Eh... iya juga, ya!" Sahut Verrel cepat mengiyakan ucapan Bastian. "... Tapi beneran Lo nyimpen dendam sama Axell gara-gara itu?" Verrel menatap Bastian serius. "... Gue pikir Lo udah fine-fine aja ngeliat Axell sama Dira."
"Nggak lah. Lo kek nggak tau gue aja sih, Rel!" Jawab Bastian. "... Gue cuma iseng aja tadi."
"Gue semakin nggak ngerti." Verrel menatap Bastian serius. Bahkan kini ia sampai mengabaikan pesan dari Nayla yang mungkin saat ini masih menunggu balasannya.
"Yang gue bilang suka sama Dira itu beneran. Dan sebenarnya gue udah relain Dira karena status mereka bukan lagi main-main ..." Jelas Bastian.
__ADS_1
"Kalo Lo udah bisa relain Dira sama Axell, terus yang Lo maksud dendam ke Axell tadi apaan, Babas?" Verrel gemas sendiri. Disaat serius seperti sekarang ini, Bastian malah asyik muter-muter sendiri.
Bastian menatap Verrel jahil. "Gue lagi gabut."