
Renata keluar begitu saja dari dalam mobilnya dan memarkirkan mobil itu dengan sembarangan di halaman luas rumah orang tuanya. Bahkan Pak satpam yang berjaga di rumah itu pun sampai menggelengkan kepalanya karena melihat anak dari majikannya itu yang terlihat sengaja tidak kembali menutup pintu mobil itu. Pintu kendaraan itu seperti sengaja dibiarkan terbuka begitu saja. Dengan sigap Pak satpam mendekati mobil tersebut. Ia mencabut kunci mobil itu dan menutup pintunya.
Ia akan menyimpan kunci mobil tersebut.
Saat memasuki rumah Renata langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Bahkan ia tidak menghiraukan sapaan dari Bik Surti, ART yang bekerja di rumahnya.
Ceklek!
Saat sampai di kamarnya Renata langsung melempar tas sekolahnya ke sofa dengan kasar. Dan,
Brrakk!
Trrangg!!
Renata mulai mengamuk. Ia mulai melempar benda apa saja yang bisa di jangkauannya. Melempar semua benda-benda yang ada di depannya dan mulai menghancurkan seisi ruang pribadinya.
Ini hal biasa yang selalu Renata lakukan jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa baik-baik saja? Jika kenyataannya, Ia baru saja ditampar kenyataan. Kenyataan bahwa Axello - sang mantan kekasih yang masih begitu ia inginkan - lelaki yang berusaha ia rebut kembali dari kekasihnya, ternyata dia sudah berstatuskan suami orang. Dan Dira lah orang itu. Gadis yang begitu ia benci sekarang ini.
Merebut kekasih orang, mungkin dia masih bisa melakukannya. Tapi untuk merebut suami orang, apa ia bisa? Dan juga, pasti orang tuanya pun akan marah kalau sampai mengetahui apa yang sudah ia lalukan.
Merusak rumah tangga orang lain.
Seketika Renata teringat dengan apa yang Derry dan Nicholas pernah katakan padanya kemaren.
'Bahkan si Xello sampai bilang kalau mereka udah nikah.'
'Se-posesif itu dia sama tuh cewek.'
'Lupain Xello! Dan jangan ganggu lagi hubungan mereka!'
Arrghh!
Brrakk!!
"Dasar, Bajing*n Sial*n! Mata Lo udah buta, Xell! Mata Lo udah benar-benar buta gara-gara 'tuh cewek."
Trangg!
Renata kembali melempar sebuah kristal berbentuk mawar, tepat di kaca meja riasnya. Membuat kaca dan kristal itu pecah dan hancur berantakan.
__ADS_1
"Sejak kapan, Xell? Sejak kapan Lo nikah sama dia? Sejak kapan Lo nikah sama cewe sial*n itu? Gue pergi baru dua tahun. Dan Lo udah lupain gue gitu aja dan nikah sama gadis murahan itu."
Brrakk!!
"Arrghh! Gue benci... Gue benci gadis sial*n itu! Gue benci!"
Ceklek!
"Astaga... Renata! Stop it! What are you doing?"
...***...
"Permisi, mbak?" Sapa seseorang yang masih berseragam SMA - lengkap dengan almamaternya, pada kedua resepsionis yang berada di lobby kantor.
Kedua resepsionis itu nampak berdiri dan mengangguk sopan.
"Iya, dik. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu diantara kedua resepsionis tersebut.
"Jadi begini, Mbak. Saya ke sini karena mau ketemu dengan Pak Axell. Ada hal penting mendesak yang harus saya sampaikan sesegera mungkin padanya. Jadi ..." Pandangan orang itu menatap kedua resepsionis tersebut bergantian. "... apa bisa salah satu diantara kalian menunjukkan ruang kerja pak Axell?"
"Maaf, dik. Sebelumnya apakah adik ini sudah bikin janji terlebih dahulu dengan Pak Axell?" Tanya Michelle.
"Kebetulan Pak Axell sedang meeting. Pak Axell sedang sibuk sekali hari ini. Dan tidak sembarangan orang bisa menemuinya." Sahut Raquel ikut bersuara.
"Ayolah, Mbak! Tolong! Ini penting tentang -" Menggantung. Bastian tidak kembali melanjutkan kata-katanya. Ia bingung. Bagaimana menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Menit kemudian mata Bastian memincing saat ia melihat mobil yang berhenti di depan sana.
"Om Marvell." Gumamnya saat melihat ayah Marvellyo turun dari mobil dan berjalan memasuki lobi dengan asisten pribadinya.
Tak ingin semakin mengulur waktu, Bastian langsung menghampiri ayah dari sahabatnya itu.
"Bastian, kan?" Sapa ayah Marvellyo saat melihat sahabat dari sang putra yang berjalan mendekat ke arahnya. "... Ada apa kamu ke sini?" Tanya ayah Marvellyo to the points. Ayah Marvellyo merasa ada hal penting yang membuat Bastian sampai harus datang ke kantornya.
"Om... Dira, Om!" Seru Bastian terdengar panik.
"Dira?" Ulang ayah Marvellyo. Tiba-tiba matanya melebar. "... Kenapa? Ada apa dengan Dira?" Tanyanya terdengar begitu panik.
"Dira di rumah sakit, Om. Tadi Dira pingsan di sekolah. Aku tadi udah coba telepon Axell, Om. Tapi nggak diangkat sama dia." Jelas Bastian.
Ayah Marvellyo mengangguk paham. "Axell sedang meeting. Ponsel Axell tadi dia letakkan di ruang kerja Om. Mungkin masih tertinggal di sana?" Jawab ayah Marvellyo.
__ADS_1
Bastian langsung meraup wajahnya kasar dengan kedua tangannya. Pantas saja Axell tidak kunjung menerima panggilan telepon darinya maupun dari Zaki tadi.
"Michelle, antar kan Bastian ke ruang meeting untuk menemui Axell, sekarang!" Ucap ayah Marvellyo pada Michelle.
Michelle yang memang sedari tadi masih berdiri itu mengangguk patuh. "Mari, saya antar kan." Ucapnya.
"Bastian, tolong kamu kasih tau Axell! Om mau langsung ke rumah sakit sekarang. Dan juga, terima kasih, sudah mau repot datang kesini." Ucap Ayah Marvellyo.
"Baik, Om. Hati-hati di jalan." Jawab Bastian.
Ayah Marvellyo langsung pergi dan di ikuti juga oleh pak Septa di belakangnya.
Sementara itu, di ruang meeting...
Axell nampak begitu serius memperhatikan presentasi dari perwakilan salah satu kepala cabang dari MJ Corps. Meskipun sesekali jari telunjuk bagian kanan mengetuk-ngetuk pada tepi meja sampingnya, untuk mengalihkan rasa aneh yang ... entah. Rasa aneh yang entah, kenapa tetiba muncul kembali seperti pagi tadi?
Rasa seperti khawatir. Tapi Axell sendiri bingung, dia harus khawatir untuk apa? Padahal ia yakin, kalau istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun Axell sendiri tidak bisa menjamin seratus persen, Dira benar-benar baik.
Untuk mengurangi rasa khawatirnya, tangan kekar Axell merogoh ponsel di saku celananya. Ia akan mengirimkan Dira pesan untuk memastikan keadaan sang istri.
'O-SHITT'
Axell mengumpat dalam hati. Tangan Axell mengepal di dalam saku celananya.
Axell baru saja menyadari kalau ponselnya masih tertinggal di ruang kerja sang ayah. Tiba-tiba perasaannya menjadi semakin tidak tenang.
Tiba-tiba pintu ruang meeting terbuka dari luar. Sontak saja semua mata mengarah pada pintu yang menampilkan dua orang di sana.
Michelle dan Bastian.
Michelle sedikit menganggukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maaf. "Permisi ... Maaf mengganggu." Michelle berjalan mendekat pada Axell. Dan malah membuat laki-laki itu spontan menatap serius pada Bastian.
Tidak mungkin Bastian datang karena sekedar ingin bertemu dengannya kan, pasti ada hal lain dan itu pasti sangat, penting.
Deg!
Hanya dengan melihat wajah Bastian yang tiba-tiba muncul di kantor sang ayah, entah kenapa tiba-tiba rasanya Axell seperti baru saja di hantam ombak.
Belum sampai Michelle sampai di mana Axell duduk dan mengatakan maksud dari kedatangan Bastian, Tapi sepertinya, Bastian sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk mengatakan apa yang sedang terjadi. Bastian sudah lebih dulu mengatakan alasan yang mendorongnya datang ke MJ Corps.
__ADS_1
"Xell, Dira masuk rumah sakit."
Deg!