Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
22. Pasrahnya Axello.


__ADS_3

Sekarang ini Axell sedang di perjalanan menuju ke rumahnya. Tadi bunda Resty memintanya untuk pulang, karena ada sesuatu hal yang perlu di bahas. Tanpa banyak bertanya lagi, Axell yang tak suka membuang-buang waktu itu pun langsung bergegas menuju rumah kedua orang tuanya.


Mobil Axell memasuki pintu gerbang rumah seorang pengusaha sukses sekaligus pemilik sekolah SMA Bhakti Bangsa, sekolah dimana Axell mengenyam pendidikan disana.


Axell memasuki rumah melalui pintu utama. Dan tepat saat Axell akan membuka pintu, bunda Resty ternyata lebih dulu membukanya dari dalam.


"Bunda." Sapa Axell sambil mencium pipi bunda Resty sebelah.


"Cepat sekali, boy. Kamu tidak ngebut kan tadi?" Tanya Bunda Resty menelisik putranya itu.


"Nggak dong, Bun. Axell tadi mandi dulu terus langsung ke sini. Sampai Axell belum sempat makan." Jawab Axell santai.


"Berarti anak bunda belum makan?" Tanya bunda Resty yang langsung mendapat gelengan kepala dari Axell.


"Belum, Bun. Ini Axell udah laper banget." Jawab Axell.


"Ya udah, sambil nunggu ayah pulang, kamu makan dulu, ya." Titah Bunda Resty lalu pergi entah kemana.


...***...


Axell yang sudah menyelesaikan makannya itu kini sedang mencari-cari di mana bunda Resty berada saat ini.


"Kemana bunda, ya?" Tanya Axell pada dirinya sendiri sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal sama sekali. Bahkan Axell sampai menengok ke kanan dan ke kiri.


Sampai pada akhirnya langkah kaki Axell membawanya ke taman belakang, dimana bunda Resty dan ayahnya kini berada. Melihat kedatangan Axell, bunda Resty langsung memanggil putranya itu untuk mendekat.


"Kemari, boy! Bunda sama ayah sudah menunggumu disini." Pinta bunda Resty sambil menepuk kursi di sampingnya.

__ADS_1


Axell mengangguk patuh dan berjalan mendekati ke arah orang tuanya. Dan kini Axell tengah duduk di antara ayah Marvellyo dan juga bunda Resty.


"Ada apa, yah." Satu pertanyaan yang langsung muncul dari Axell. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia tahu, pasti ada hal yang sangat penting yang akan orang tuanya itu bicarakan padanya saat ini.


"Ayah mau bahas tentang pernikahanmu." Jawab ayah Marvellyo tenang. Axell menghembuskan nafasnya pelan setelah mendengar apa yang baru saja ayah Marvellyo katakan. Axell hampir saja lupa kalau ia sudah dijodohkan.


"Kenapa, yah?" Tanya Axell ingin tahu apa yang akan ayahnya itu katakan tentang pernikahan yang di maksudkan nya.


"Ayah sudah mengurus semuanya, dan besok untuk tiga hari ke depan kamu tidak perlu berangkat ke sekolah." Jawab ayah Marvellyo.


Axell menarik satu alisnya, kenapa ayahnya itu melarangnya bersekolah untuk tiga hari ke depan?


"Tiga hari, yah? Untuk apa ayah melarang Axell sekolah selama tiga hari? Memangnya ada hal penting apa yang mengharuskan Axell untuk nggak sekolah?" Tanya Axell yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin ayahnya itu katakan padanya.


"Kenapa?" Tanya ayah Marvellyo mengulang ucapan Axell tadi. "...Karena dua hari lagi kamu akan menikah." Ucap ayah Marvellyo sambil menatap wajah putranya itu.


"Kecilkan suaramu, boy! Jangan terkejut seperti itu. Kamu lupa, bukan kah ayah sudah pernah menjelaskan tentang perjodohanmu dan bahkan kamu sendiri telah menyetujuinya!" Ucap Ayah Marvellyo datar.


"Iya, yah. Axell tau. Tapi kenapa harus secepat ini? Dua hari lagi. Maksud Axell, kenapa harus terburu-buru? Emang nggak bisa ya, yah, Nunggu dulu sampai Axell lulus kuliah?" Protes Axell tak terima.


"Cepat atau lambat, pernikahan ini juga pasti akan terjadi. Jadi buat apa membuang-buang waktu? Bukankah lebih cepat akan lebih baik." Jawab ayah Marvellyo.


"Tapi, yah -..."


"STOP! Tidak ada tapi, AXELL! Keputusan ini sudah bulat. Dan kamu, tidak bisa lagi membantahnya." Jawab ayah Marvellyo tegas seakan tidak menerima bantahan dari putra semata wayangnya itu.


Axell menghela nafas pelan. Ia tahu, jika ayahnya sudah memanggil dengan namanya, berarti ayahnya dalam keadaan tidak main-main dan tidak menerima bantahan atau pun penolakan darinya.

__ADS_1


Axell masih terdiam memikirkan keputusan sepihak dari ayahnya. Menikah diusia muda bukan hanya perkara penyatuan dua insan laki-laki dan perempuan saja, tapi penyatuan dua orang yang mungkin memiliki sifat dan karakter yang pasti akan sangat berbeda dari segala hal. Entah itu dari cara berpikir, perilaku, kebiasaan dan mungkin masih banyak lagi yang lainnya. Apakah mungkin mereka bisa melewati ini semua nantinya? Begitulah isi di dalam kepala Axell saat ini.


"Turuti saja, boy! Ayah sama bunda melakukan ini semua hanya demi kebaikanmu." Ucap bunda Resty lembut. Bunda Resty tahu, mungkin putranya terkejut mendengar keputusan sepihak dari ayahnya tadi.


Akhirnya mau tidak mau Axell luluh setelah mendengar apa yang di katakan oleh bunda Resty. Axell menerima keputusan yang telah orang tuanya itu tentukan.


"OK, Axell terima, yah." Jawab Axell pasrah.


* Mau bagaimana lagi, menolak pun kalian tak akan bisa. Udah, nurut aja!🤭


"Harus, boy. Kamu harus menerimanya!" Putus ayah Marvellyo sambil menepuk pundak Axell sebelum akhirnya bangkit dan pergi untuk beristirahat. Karena setelah mendapat telepon dari bunda Resty yang mengatakan kalau Axell sudah pulang ke rumah, ayah Marvellyo yang sedang berada di kantor langsung memutuskan untuk pulang dan cepat-cepat bahas tentang pernikahan antara Axell dan Dira. Sehingga ayah Marvellyo belum sempat untuk beristirahat tadi.


Melihat wajah putranya yang terlihat seperti melamun, membuat bunda Resty menghela nafasnya pelan. Ia tahu, mungkin putranya itu belum sepenuhnya menerima keputusan dari ayahnya.


"Kamu bisa, boy. Kamu pasti bisa." Ucap bunda Resty sambil mengusap lembut punggung putranya itu.


...***...


'Resiko jadi anak tunggal.' Batin seseorang yang kini tengah merebahkan dirinya di kamar sambil menatap langit-langit kamarnya.


Axell kini tengah merebahkan tubuhnya di kamar yang sekarang jarang ia tempati setelah ia memutuskan untuk tinggal di apartemen.


"Menikah dua hari lagi. Gila. Bener-bener gila! Gue bahkan belum lulus sekolah. Dengan sifat gue yang seperti ini, Apa gue bisa jadi suami yang baik? Apa gue bisa, nggak nyakitin tuh cewe nantinya?" Gumam Axell. Setelah apa yang di katakan ayahnya satu jam yang lalu, Axell beranjak pergi menuju ke kamarnya.


Begitu banyak hal yang sedang Axell pikirkan saat ini. Semuanya begitu mendadak bagi dirinya. Tapi bagaimana lagi? Axell tahu betul, bagaimana sifat dari ayahnya itu, tegas dan apa yang di katakan harus dilakukan.


Cukup lama Axell bergelut dalam pikirannya sendiri sampai-sampai ia merasa lelah dan terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2