Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
68. Nakal.


__ADS_3

"Gue mau nemenin pacar gue yang lagi belajar." Ucap Axell dengan sedikit senyum yang terlihat di wajahnya. Ah... iya, bukan kah tadi ia sedikit mengarang cerita, mengatakan kalau Dira adalah pacarnya pada Bastian tadi. Diam-diam Axell tergelak dalam hati kala mengingatnya.


Deg...


Deg...


Deg...


Dira yang melihat senyum Axell malah semakin gugup. Bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin kencang. Untuk sesaat Dira terpaku saat memperhatikan senyum dari wajah Axell.


'Ya Tuhan... kenapa gue baru nyadar, ternyata... Lo itu ganteng banget, kak?'


"Hey... kenapa?" Tanya Axell sambil mengelus lembut pipi Dira. "... Ada yang lagi Lo pikirin?"


Gadis itu menggeleng, "Nggak ada kok, kak."


"Terus?" Tanya Axell dengan satu alis yang terangkat.


"Um... aku nggak bisa belajar sambil di tungguin kayak gini?" Jawab Dira pelan.


"Kenapa memangnya? Salah kalo gue nungguin Lo belajar?" Tanya Axell lagi.


"Um... nggak gitu." Ucap Dira bingung.


"Terus... Lo nggak mau gue deketin? Lo mau bilang kalo Lo nolak gue?" Tanya Axell dengan pandangan yang tak pernah lepas dari Dira.


'Aduh... kok malah jadi salah paham gini, sih? Bukan gitu maksud gue.'


"OK, gue tau jawaban Lo." Ucap Axell lalu bangkit dari duduknya. Laki-laki itu lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.


Dira yang melihat Axell keluar kamar tiba-tiba jadi tak enak hati. Gadis itu lalu meletakkan pena yang sedari tadi ia gunakan untuk mengerjakan tugas dan berjalan keluar kamar mengikuti Axell.


Setelah keluar dari kamar, Dira mendapati Axell yang tengah berbaring di sofa depan tv dengan mata terpejam dan earphone yang terpasang pada kedua telinganya.


Dira mendekat pada Axell, berniat untuk meminta maaf pada suaminya itu. "Kak Axell..." Panggil Dira pelan.


Hening... Tak ada jawaban dari Axell. Mungkin telinga Axell tidak bisa bisa mendengar karena terpasang dengan earphone atau memang karena Dira yang memanggilnya terlalu lirih.


"Kak Axell!" Panggil gadis itu lagi. Dan ternyata masih sama. Tak mendapat jawaban dari Axell.


Dira menghela nafas pelan. Gadis itu memberanikan diri untuk menepuk pelan pundak Axell dan kali ini berhasil membuat mata Axell kembali terbuka. Axell menatap Dira sesaat lalu mengubah posisinya menjadi duduk. "Ada apa? Udah selesai belajarnya?" Tanya Axell pelan.


"Kak Axell marah?" Bukannya menjawab, Dira malah balik mengajukan pertanyaan pada Axell.


"Marah? Siapa? Gue?" Tanya Axell balik. "... Kenapa gue harus marah?"


"Tadi..." Jawab Dira menggantung.


Axell menarik tangan Dira agar gadis itu duduk di sampingnya. "Gue nggak mau ganggu Lo belajar, makanya gue langsung keluar kamar tadi."


"Aku pikir, kak Axell marah tadi." Ujar Dira.


Axell menatap Dira lama. Tangannya terangkat untuk menyelipkan anakan rambut gadis itu. Detik kemudian seulas senyum menghias di wajah tampan Axell, "Gue nggak marah."


Hening...


Satu menit,


Dua menit,

__ADS_1


Tiga menit,


Masih hening.


Lima menit,


Sepuluh menit,


Lima belas menit,


Tetap hening. Sampai pada akhirnya Axell kembali bersuara.


"Dir..." Panggil Axell pelan.


Dira menoleh, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Axell dari samping. Laki-laki itu masih menatap lurus ke depan.


"Boleh gue tanya sesuatu?" Tanya Axell.


Dira mengangguk, "Mau tanya apa, kak?" Tanya Dira balik.


"Kita nikah udah hampir dua bulan, kan? Menurut lo pernikahan kita ini... gimana?" Tanya Axell yang masih menatap lurus ke depan.


"Gimana maksudnya, kak?" Tanya Dira tak mengerti maksud dari pertanyaan Axell tadi. Ini sebenarnya Dira yang kelewat polos atau emang pura-pura nggak ngerti, sih?


"Maksud gue, perasaan lo ke gue. Gimana?" Tanya Axell yang kini sudah merubah pandangannya ke arah Dira.


Deg...


Dira diam. Ia bingung harus menjawab apa?


"Gimana? Kok Lo malah diem?" Tanya Axell yang kini menatap Dira intens. Bahkan kini Axell memutar badannya menghadap ke arah Dira.


Axell menarik satu alisnya mendengar jawaban dari Dira. "Ada cowo yang lagi Lo suka?" Tanya Axell lagi.


Eh...


Dira spontan menoleh. "Maksud kak Axell gimana?"


"Ya... mungkin Lo nggak bisa suka sama gue karena lagi ada cowok yang Lo suka?" Jawab Axell asal. "... siapa orangnya? Gue kenal, nggak?"


"Hah..." Dira menatap Axell cengo. Kenapa Axell bisa berpikir seperti itu.


"Atau Lo masih suka... Sama sahabat tapi suka Lo itu." Tanya Axell yang langsung mendapat gelengan kepala dari Dira.


Karena nggak mungkin kan Dira menjawab 'Iya'. Meskipun sedikit, Dira masih memiliki perasaan terhadap sahabatnya itu. Tapi, Dira sadar. Sebisa mungkin ia harus menghilangkannya. Kalau Dira tetap mempertahankan rasa sukanya pada Arfen, Dira salah. Itu tidak dibenarkan. Mengingat statusnya yang sudah berubah menjadi seorang istri.


"Kalo Zaki?" Tanyanya lagi. Ah... iya, Axell sempat mengira kalo Zaki menyukai Dira. Diam-diam Axell suka memperhatikan Zaki saat sempat memperebutkan gadis itu bersama Bastian beberapa waktu lalu.


Dira mengernyitkan dahinya bingung. Sama sekali tidak tahu apa-apa. Kenapa Axell bisa berpikir kalau ia menyukai Zaki?


"Kenapa Zaki?" Tanya Dira.


"Gue cuma nebak." Jawab Axell yang kini sudah bisa santai. Ia merasa sedikit lega, karena menurutnya Dira tidak memiliki perasaan pada Zaki.


"Nggak, kak. Kita emang deket akhir-akhir ini. Tapi cuma temenan. Bukan cuma Zaki, tapi Melody juga. Mungkin karena kita satu kelas." Jawab Dira yang kini mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Kalau nggak suka, jangan deket-deket! Bisa?" Ucap Axell memperingatkan. Udah mulai posesif nih, Axell.


Dira mengangguk ragu. Bagaimana mungkin ia menjauhi Zaki, sementara ia berada dalam misi mendekatkan Zaki pada Melody? OK, Dira akan memikirkan masalah itu nanti.

__ADS_1


Melihat Dira yang menganggukkan kepalanya membuat Axell menarik satu sudut bibirnya. Gadis itu menuruti apa yang ia ucapkan. Tapi tunggu, ada satu lagi...


"Kalo Babas?" Tanya Axell lagi.


Dira kembali menatap Axell dan tersenyum. Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu tak lama berselang mengangguk, "Sebenarnya, aku suka sama kak Bastian, kak."


Wah... cari gara-gara si Dira.


"Jadi... Lo bener, suka sama Bastian?" Tanya Axell lagi, ia sedang mencoba meyakinkan apa yang baru saja ia dengar. Mungkin saja pendengarannya bermasalah.


Tapi lagi-lagi Dira mengangguk. "Iya, kak."


OK, Axell mulai mendidik sekarang. "Apa yang bisa bikin Lo suka sama dia?" Tanya Axell penasaran. Axell ingin tahu, apa yang Dira sukai dari sahabatnya itu? Padahal jelas-jelas ia lebih segala-galanya dari si Bastian.


"Nggak ada alasan untuk tidak suka, kak. Kak Bastian baik orangnya." Jawab Dira.


'Jadi menurut Lo, gue kurang baik?'


Axell mendengus kesal mendengar jawaban Dira. Jawaban gadis itu terlalu biasa. Memangnya Axell kurang baik apa?


"Gue nggak izinin." Ujar Axell berubah datar.


"Kenapa?" Tanya Dira yang pura-pura tak mengerti. Dira memang sengaja.


"Ya karena gue suami Lo. Nggak seharusnya cewek yang udah punya suami, suka sama cowo lain!" Jelas Axell. "... Dosa." Tegas laki-laki itu.


"Tapi kan, kak -..."


"Dira, nggak ada tapi. Lo kan tau gue nggak suka di bantah." Ucap Axell lagi. Kalo udah begini, Axell jadi mirip ayah Marvellyo banget, ya? Nggak suka di bantah. Dan apa pun yang sudah keluar dari mulutnya adalah valid.


Dira diam Gadis itu tahu, ia telah salah mengerjai Axell tadi. Dira sendiri tidak tahu, kenapa ia begitu berani menjahili suaminya tadi.


OK. Pernyataan penyesalan selalu berada di akhir memang benar, dan Dira membenarkan akan hak itu. Dan sekarang, Dira akan meluruskan kesalahpahaman yang sudah ia ciptakan sendiri.


"Kak..." Panggil Dira lirih. ".... Tapi, aku suka sama kak Bastian cuma sebatas temen. Nggak lebih."


Axell menoleh ke arah Dira dan mendapati gadis itu tengah tersenyum padanya. Senyum yang terlihat ...


'Cantik.'


Tapi tunggu! Axell baru menyadari kalau gadis di sampingnya itu tengah menjahilinya. Berani sekali Dira.


'Nantangin gue ternyata.'


"Lo ngerjain gue? Udah mulai berani Lo, ya?" Ucap Axell sambil terus menatap ke arah Dira. Tatapan yang Dira tahu apa artinya.


"Maaf." Jawab Dira lirih.


Tak menjawab, dengan gerakan cepat dan sangat tiba-tiba, Axell meraih tengkuk Dira. Dan...


Cup...


Axell mencium bibir Dira sekilas. "Ini hukuman buat Lo." Dan lagi...


Cup...


Axell kembali menempelkan bibirnya pada bibir Dira. Sedikit lama. Bahkan Axell sengaja ******* sedikit bibir gadis itu.


"Dan ini untuk Lo yang udah berani jahilin gue."

__ADS_1


__ADS_2