Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
112. Dipecatnya Linda.


__ADS_3

"Memangnya kenapa? Apa peduli kamu? Oh ... tentu, aku tau. Kamu kayak gini karena kamu suka kan, sama kak Axell ... suami aku? Suka tapi nggak bisa dapetin! Iya, kan? Umm... kayak apa ya rasanya? Aku nggak bisa bayangin, deh. Kasihan." Dira tersenyum mengejek.


Linda semakin kesal. Lebih tepatnya ia marah dan terbakar di saat yang bersamaan, setelah mendengar apa yang baru saja Dira katakan. Tangan yang sedari tadi terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya, kini terayun dan melayang bebas di pipi mulus milik Dira, bertepatan dengan terbukanya pintu ruang kerja Axell.


Ceklek!


Plaakk!


"Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan, Linda?" Tanya seorang laki-laki yang baru saja keluar dari dalam ruang kerja Axell tersebut.


Sebelumnya, Rheyhan yang kebetulan memang sedang berada di dalam ruang kerja Axell itu tengah sibuk membaca laporan keuangan mingguan, yang hampir dua Minggu ini terbengkalai dan sama sekali tak tersentuh olehnya maupun Axell. Saat tengah fokus membaca laporan tersebut, konsentrasinya terpecah tatkala ia yang tiba-tiba saja mendengar suara dari luar ruangan. Karena merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi di luar sana, Rheyhan pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dan tepat saat Rheyhan keluar dari ruang kerja Axell, laki-laki itu terkejut saat tidak sengaja melihat adegan kekerasan yang baru saja di lakukan oleh salah satu pelayan di kafe milik sepupunya tersebut.


Entah hal apa yang menjadi pemicunya, seorang Linda tiba-tiba saja menampar wajah Dira dan langsung membuat wajah istri dari sepupunya itu tertoleh kesamping, akibat tamparan keras yang Linda berikan.


Dira yang sedang berdiri berhadapan dengan Linda, dengan posisi wajah yang sedikit menunduk dan satu tangan yang menempel pada bagian pipi sebelah kiri. Sudah jelas menggambarkan ada sesuatu yang terjadi padanya.


"P-Pak Rhey..." Ucap Linda tertahan. Gadis itu terkejut mendapati seorang Rheyhan, manager dari d'Axe Cafe yang tiba-tiba muncul dari ruang kerja Axell. Setahu Linda Rheyhan belum datang tadi. Tapi ini ...


"Linda, apa yang kamu lakukan?" Tanya Rheyhan tak sabaran. Laki-laki yang hanya berbeda usia tiga tahun dari Axell itu kini beralih menatap Dira yang masih menundukkan kepalanya sedari tadi.


Rheyhan mendekat ke arah Dira, menyibakkan rambut gadis yang hanya terdiam di depannya itu dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya berusaha meraih tangan Dira agar tak lagi menutupi bekas kemerahan hasil karya telapak tangan Linda tadi.


Dan saat Rheyhan berhasil menurunkan tangan Dira, tiba-tiba mata Rheyhan membulat dengan sempurna saat mendapati pipi Dira yang memerah bekas telapak tangan. Sangat jelas terlihat, tamparan Linda tidak main-main tadi.


"Ada apa ini?" Pertanyaan yang muncul dari seseorang yang baru saja datang. Axell. Laki-laki itu melihat tiga orang yang sedang berdiri di depan ruangannya. Dapat Axell tebak, sesuatu pasti telah terjadi sesaat sebelum kedatangannya.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Axell, Rheyhan lebih memilih untuk melontarkan pertanyaan pada Linda. "Linda, bisa kamu katakan, kenapa kamu menampar Dira?" Pertanyaan yang bernada dingin itu seketika berhasil membuat gadis bernama Linda itu tegang.


Berbeda dengan Linda, Axell malah semakin di buat terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Menampar?" Tanya Axell yang mengulangi pertanyaan dari Rheyhan tadi. Memastikan apa yang dia dengar itu benar.


Axell lalu memperhatikan wajah sang istri, dan benar saja. Axell dapat melihat dengan jelas, gambaran berwarna merah berbentuk Lima jari yang nampak sangat ketara terlukis di pipi mulus milik istrinya.


Seketika rahang Axell mengeras saat itu juga. Pipi mulus yang selalu ia kecup dan cium dengan lembut itu meradang hanya karena sebuah tamparan dari seorang Linda yang tak lebih dari seorang pelayan yang bekerja di kafenya. Tangan Axell bergerak naik ke atas untuk mengelus pipi istrinya yang mulai terlihat bengkak itu.


"Sshht..." Terdengar ringisan pelan yang keluar dari mulut Dira. Menandakan istrinya itu yang kesakitan dan hal itu langsung membuat Axell melayangkan tatapan tajam penuh kebencian ke arah si pelaku penamparan, Linda.


Gleg!

__ADS_1


Mendapat tatapan demikian yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya dari Axell yang seperti itu, gadis yang bernama Linda itu meneguk ludahnya itu kasar. Perasaan takut tiba-tiba menghampirinya tanpa permisi.


"JAWAB LINDA!" Tegas. Rheyhan seakan menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari gadis itu.


"A-Aku -"


Axell langsung mengangkat satu telapak tangannya ke arah Linda. Seakan tak menerima satu kata pun yang akan terlontar dari mulut gadis itu.


"Yang ... Ayo masuk, aku obatin, ya!" Ujar Axell sambil melingkarkan tangannya di pundak Dira. Lalu menggiring gadis itu lalu agar masuk lebih dulu ke dalam ruang kerjanya. Saat langkah kaki Axell mulai mengikuti langkah Dira masuk ke dalam, tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rheyhan.


"Bang, gue serahin dia sama Lo. Bilang ke dia, ini terakhir kali gue lihat mukanya di d'Axe Cafe. Next time, gue nggak mau lagi lihat mukanya ada di sini." Ujar Axell penuh dengan ketegasan sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruang kerjanya untuk menyusul sang istri.


Mata Axell memang menatap ke arah Rheyhan tadi, tapi tidak dengan jari telunjuk Axell yang dengan jelas menuding ke arah Linda m Dari sudut pandang Rheyhan, ia bisa melihat dengan jelas, betapa Axell tengah marah saat ini. Melihat gadis berstatuskan istri yang begitu dicintainya mendapat tindakan kekerasan seperti ini, siapa yang bisa terima? Dan Axell adalah salah satu dari sekian banyak orang yang akan menjaga apa yang ia punya, termaksud Dira.


...***...


"Dira lama banget sih, di toilet." Keluh Nayla yang memang sedari tadi menunggu Dira yang tak kunjung keluar dari toilet.


"Si Dira lagi sakit perut kali, Beib." Jawab Verrel yang terdengar begitu santai. Tak lagi mengatakan apapun, Nayla malah menatap malas ke arah Verrel. Ia masih sedikit kesal dengan kekasihnya itu.


Sementara Bastian, ia hanya menatap kedua pasangan yang duduk satu meja dengannya. Laki-laki itu menggeleng samar kala mengingat, mengapa Axell memilih untuk tidak mengatakan kebenaran antara statusnya dengan Dira?


"Lo kenapa, Bas?" Tanya Verrel yang tadi memang sempat melihat Bastian yang menggelengkan kepalanya. Ia berpikir, pasti Bastian tengah memikirkan sesuatu.


"Gue kenapa?" Bukannya menjawab, Bastian malah bertanya balik.


"Cckk." Verrel berdecak. Bastian terlihat tidak seperti biasa akhir-akhir ini. Verrel tahu itu. Ada yang sedang Bastian sembunyikan darinya. Sayangnya Verrel tidak tahu apa itu. Dan belum berniat untuk mencari tahu untuk saat ini.


"Gue susulin Dira, deh!" Celetuk Nayla yang sudah mulai berdiri untuk menyusul Dira ke toilet.


"Eh, Nay ... mau kemana Lo? Di sini aja udah. Kita tungguin Dira bentar! Nanti juga Dira balik ke sini lagi." Ucap Bastian yang memang sengaja mencegah Nayla. Bisa bahaya, kan kalau saja Nayla sampai masuk ke ruang kerja Axell, kita semua tidak ada yang tahu apa yang sedang Dira dan Axell lakukan di ruang kerjanya, sampai keduanya tidak kembali keluar bergabung dengan mereka.


"Kelamaan! Gue nggak mau kalo -"


Kalimat yang akan Nayla ucapkan seketika terhenti saat melihat seorang gadis yang berjalan cepat melewati mereka menuju pintu keluar dengan air mata yang mengalir di jedua pipinya.


"Kenapa? Belum pernah liat cewe nangis?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Rheyhan.


"Bukannya nggak pernah liat cewe nangis, Bang. Pertanyaannya di sini, kenapa tuh cewe nangis? Gitu!" Sahut Bastian.


Enggan menjawab, Rheyhan malah mengangkat bahunya acuh.

__ADS_1


"Ada hubungannya sama Lo, Bang?" Tanya Verrel penuh selidik.


"Lebih tepatnya sama Axell." Jawab Rheyhan pada akhirnya.


"Axell?" Ucap Bastian dan Verrel bsecara bersamaan.


"Habis cari gara-gara dia." Ujar Rheyhan lagi.


"Nyari masalah gimana maksud Lo, Bang? Yang jelas dong kalo ngomong! Jangan setengah-setengah!" Protes Verrel ingin tahu. Setahu Verrel, Linda itu sudah lama bekerja di d'Axe Cafe. Bahkan Verrel masih ingat, gadis itu pernah mengatakan kalau ia senang bisa bekerja di kafe milik sahabatnya itu. Terus sekarang masalah seperti apa yang di perbuat oleh gadis itu?


"Tadi gue lihat, tuh cewe nampar Dira." Jelas Rheyhan dan sukses membuat tiga pasang mata itu membulat sempurna.


"APA?" Ucap Verrel, Bastian dan juga Nayla secara bersamaan. Benar-benar kompak dan berjamaah. Ketiganya begitu terkejut dengan apa yang baru saja Rheyhan katakan tadi.


"Tapi kenapa, Bang?"


"Kenapa tuh cewe nampar Dira?"


"Kenapa tuh ciwi keluar sambil nangis gitu?"


"Terus, sekarang Dira dimana, bang?"


"Terus reaksi Axell? Haish ... pasti si Axell marah banget!"


Serentetan pertanyaan beruntun yang di ucapkan bergantian dari ketiganya. Bukannya menjawab, Rheyhan malah menatap malas ke arah ketiganya secara bergantian.


"Kenapa malah diem sih, Bang? Jawab, dong!" Protes Nayla.


"Kenapa mendadak jadi wartawan sih Lo pada?" Balas Rheyhan yang ikuta protes.


"Ya kita kan emang pengen tahu, ilaahh...!" Jawab Bastian yang kini malah semakin penasaran.


Rheyhan mendengus sebal, "Lo pada ngeh nggak, tuh cewe kayak suka nggak sih sama Axell?" Ucap Rheyhan yang malah melontarkan pertanyaan pada ketiganya.


Verrel dan Bastian kompak mengangguk. Karena memang mereka juga tahu hal itu sejak lama. Tapi lain halnya dengan Nayla yang memang tidak tahu apa-apa. Gadis itu hanya memilih diam dan mendengarkan apa yang akan Rheyhan katakan setelahnya.


"Gue nggak tau apa motif di balik aksi Linda sebenarnya yang nampar Dira tadi, tapi kayaknya tuh cewe cemburu ngelihat Dira sama Axell ... Kita semua tahu, sebelumnya Axell nggak pernah bawa cewek ke d'Axe Cafe." Ujar Rheyhan.


"Terus sekarang Dira -"


Pertanyaan yang belum terucap sepenuhnya itu langsung di jawab oleh Rheyhan. "Ada. Lagi di obatin sama Axell."

__ADS_1


__ADS_2