Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
123. Hak paten.


__ADS_3

Bingung? Tentu. Dira tengah berpikir, harus ia apakan foto yang masuk di ponsel Axell tersebut? Apakah ia harus menghapusnya atau malah membiarkan Axell melihatnya? Tapi, semisal di hapus pun percuma. Dira yakin kalau Renata pasti masih ada foto yang lainnya.


"Ada apa, Yang?" Satu pertanyaan yang langsung mengalihkan perhatian Dira dari benda pipih yang sekarang ini tengah ia genggam.


Axell sang suami ternyata sudah selesai dengan urusan mandinya. Dan kini ia tengah berdiri di samping Dira dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


Ting...


Ting...


Belum sempat Dira menjawab pertanyaan yang Axell berikan, dua pesan kembali masuk masih dari nama pengirim yang sama.


Axell menarik satu alisnya seakan bertanya, siapa yang tengah mengiriminya pesan beruntun sekarang ini?


"Pesan dari siapa, yang? Coba baca!" Pinta Axell sambil meraih baju yang sedari tadi sudah Dira siapkan dan langsung memakainya tak jauh dari Dira berdiri saat ini.


"D-Dari -


"Siapa?" Sela Axell cepat. Laki-laki itu tengah menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Dari Renata." Jawab Dira pada akhirnya. Meskipun dengan jelas terdengar gugup. Dan sialnya, Axell menyadari hal itu. Axell menarik satu alisnya, ada apa dengan Dira?


"Renata?" Ulang Axell memastikan. "... Mau apa lagi dia?" Ucap Axell yang mendapat gelengan kepala tak mengerti dari Dira.


"Kamu kenapa sih, Yang? Kok jadi aneh gitu?" Tanya Axell pada lagi saat melihat Dira yang semakin aneh.


Tak ingin semakin penasaran, laki-laki itu lalu mendekat ke arah sang istri saat setelah menggantungkan handuk yang tadi ia gunakan pada gantungan yang terletak di sudut ruangan.


"Coba sini, liat!" Desak Axell pada akhirnya.


Merasa Dira yang hanya dia tak mendekat, Axell mengambil alih ponsel yang kini berada di tangan Dira dan langsung melihat pesan apa yang sang mantan kekasih kirimkan untuknya.


Tanpa ekspresi.


Itu yang Dira tangkap dari raut wajah Axell saat setelah melihat pesan yang Renata kirimkan. Dira yakin pasti saat ini Axell tengah menahan amarah karena melihat foto antara dirinya dengan Arfen tadi. Apa lagi ditambah dengan dua pesan yang sudah sempat Dira baca sebelumnya Axell merebut ponselnya.


📥 Renata.


Pacar kesayangan Lo.


Ternyata juga suka main belakang.


1 detik.


2 detik.

__ADS_1


3 detik.


Tiba-tiba Axell tersenyum miring setelah beberapa menit membaca pesan yang Renata kirimkan. Lalu pandangannya beralih menatap Dira.


'Mampus gue!'


Tiba-tiba Dira langsung teringat dengan kejadian pagi tadi. Dimana Axell yang meragukan perasaannya.


Baru saja ia bisa meyakinkan Axell pagi tadi dengan cara menuruti kemauannya untuk mencium laki-laki itu. Tapi sekarang, Renata malah mengirimkan foto dirinya dengan Arfen siang tadi di depan pintu gerbang sekolah.


"Ada yang mau kamu jelasin sama aku, Yang?" Tanya Axell tenang. Tapi bukannya merasa lega dengan reaksi yang di perlihatkan Axell, Dira malah semakin gugup.


"K-Kak ... A-Aku bisa j-jelasin. I-ini semua g-gak s-seperti yang kak Axell kira. Tadi it -


"Ssshht... " Axell menempelkan jari telunjuknya pada bibir Dira dan langsung membuat gadis itu terdiam seketika.


Cup.


Axell mengecup bibir Dira sekilas, "Aku bercanda, Yang. Nggak ada yang perlu kamu jelasin. Aku percaya kamu ..." Ucap Axell sambil tersenyum. "... aku percaya kamu pasti nggak akan khianati aku seperti dia."


...***...


Trraanggg...!


"Lo buta, Xell! Mata Lo udah benar-benar buta gara-gara tuh cewe!" Teriak Renata penuh emosi. Bahkan nafas gadis itu terlihat memburu setelah membaca pesan balasan yang Axell kirimkan padanya.


Bagaimana tidak? Niat hati ingin membuat hubungan Axell dan Dira merenggang dengan mengirimkan foto Arfen yang menemui Dira di depan pintu gerbang sekolah. Tapi ternyata rencananya sama sekali tidak membuahkan hasil. Malah balasan mengejutkan yang Renata terima dari mantan kekasihnya itu.


📥 Xello.


APAPUN YANG LO KATAKAN TENTANG DIRA, ITU GAK AKAN PERNAH BISA MERUBAH KENYATAAN. BAHWA DIRA LAH PEMILIK HAK PATEN ATAS DIRI GUE.


SEKERAS APAPUN USAHA LO, DAN APAPUN YANG AKAN LO LAKUIN, ITU HANYA AKAN BERDAMPAK SIA-SIA.


GUE, AXELLO NGGAK AKAN TERPENGARUH ATAU BAHKAN BERFIKIR SEDIKIT PUN UNTUK NGELEPAS DIRA GITU AJA, HANYA BUAT BALIK SAMA LO!


NGERTI!


"Sialan! Dasar breng**k!" Umpat Renata masih dengan emosi yang memuncak.


Tok...


Tok...


Tok...

__ADS_1


"Re, boleh kakak masuk?"


...***...


"Kamu kenapa? Hmm?" Tanya seorang cowok yang baru saja memasuki kamar bernuansa perpaduan merah dan gold, milik gadis yang tak lain bernama Renata Isabella.


Nicholas. Laki-laki yang baru saja pulang dari kampus itu, mendengar suara teriakan dan benda yang sudah di pastikan jatuh dan pecah dari kamar sang adik saat laki-laki itu melewatinya. Sudah dapat di pastikan, adiknya itulah sumber dari suara yang ia dengar saat ini.


"Kesel aku, kak." Jawab gadis itu masih dengan amarah yang menguasainya.


Nicholas menghela nafas pelan, mengingat adiknya ini yang masih saja sulit untuk mengendalikan emosinya. Menjadi saudara kandung, bukan berarti keduanya memiliki sifat dan perilaku yang sama.


Jika Nicholas memiliki sifat yang tenang, maka berbanding terbalik dengan sang adik yang cenderung tempramen. Bahkan Renata tidak segan untuk menghancurkan kamarnya sendiri dengan melempar atau menghancurkan benda apa saja yang mudah ia jangkau disaat di selimuti dengan amarah seperti saat ini.


"Kesel kenapa? Hmm? Coba sini, cerita sama kakak!" Ujar Nicholas tenang, berharap agar adiknya itu mau menceritakan tentang apa yang saat ini tengah membuatnya begitu marah. Nicholas khawatir kalau adiknya itu melakukan hal yang bisa di bilang ... NEKAT.


Tangan Nicholas bergerak untuk meraih tangan Renata dan menuntun gadis itu agar duduk di ranjang.


"Aku kesel sama Xello, kak!" Ucap Renata saat keduanya sudah duduk bersebelahan di tepi ranjang milik gadis itu.


Tak ada balasan apapun yang keluar dari mulut Nicholas. Laki-laki itu lebih memilih untuk mendengarkan apa yang akan adiknya itu katakan selanjutnya.


"... Tadi Xello nggak masuk sekolah. Terus pas pulangnya gue sempet liat tuh cewe di jemput sama cowo lain yang ... gue nggak kenal."


"Cewe yang kamu maksud ... Dira?" Terus?" Tanya Nicholas tenang agar Renata juga ikut tenang dalam bercerita.


"Pas Dira masuk mobil tuh cowo, tiba-tiba ada satu cowo lain lagi yang nyamperin tuh cewe. Dan setelah gue lihat lebih jeli, Kakak bisa nebak nggak siapa cowo itu?" Tanya Renata yang hanya mendapat gelengan kepala pelan dari sang kakak.


Renata menghentak nafas kasar, "Seorang Arfen Arsetya Restu." Ujar Renata dengan penekanan di setiap untaian nama dari lelaki yang menjadi alasannya berpaling dari Axell dulu.


"Oh Arfen?" Jawab Nicholas yang terkesan santai saat menyebutkan nama 'Arfen' tadi.


"Iihh..." Renata melengos sambil mendengus kesal, melihat respon dari sang kakak yang sama sekali tidak terkejut itu.


"Terus letak masalahnya di mana sih, Re? Kenapa kamu bisa sebegitu marah hanya karena melihat ada dua cowo yang jemput Dira?" Tanya Nicholas yang begitu santai dan malah membuat rasa kesal Renata bertambah.


"Ya gimana nggak kesel sih, kak. Gue tadi sempet fotoin tuh cewe bareng Arfen, terus gue kirim tuh foto ke Xello ..." Ucap Renata menjeda sebentar ucapannya.


"... Kita semua tau, Xello itu orangnya gimana? Pencemburu. Xello tipikal orang yang nggak bisa liat apa yang dia punya deket sama cowo lain. Jadi, dengan gue ngirim foto itu ke Xello, gue berharap dia bakal marah sama tuh cewe ... dan boom ... mereka putus ..." Jelas Renata. Gadis itu kembali menghentakkan nafasnya kasar setelah kembali mengingat pesan balasan dari Axell.


Nicholas mengangguk setuju. Ia mengiyakan ucapan Renata tentang salah satu sifat Axell tersebut. Bahkan Nicholas masih mengingat dua tahun lalu, dimana adiknya itu sering mengeluh dengan sifat pencemburu yang Axell miliki saat keduanya masih berpacaran.


"... Dan ini chat balasan dari Xello yang gue dapet." Lanjut Renata sambil menunjukkan pesan balasan dari Axell, setelah sempat mengambil ponsel yang ia lemparkan tadi.


'Hak paten?"

__ADS_1


__ADS_2