
"Kalo Dira mau sama gue, Lo mau apa?" Tantang Zaki pada Bastian.
"Wah... ngajakin perang dunia." Jawab Bastian yang sudah mulai berdiri dari duduknya.
"Siapa takut? Kuy, baku hantam kita." Balas Zaki menyanggupi ucapan Bastian. Laki-laki itu kini mengikuti Bastian yang sudah lebih dulu berdiri dari duduknya.
Sementara Axell hanya melirik Zaki dan Bastian bergantian. Bukannya melerai, Axell malah tertarik dengan tingkah keduanya yang sedang memperebutkan Dira - Istrinya.
"STOP!" Pekik Dira tiba-tiba dan sukses menghentikan Zaki dan Bastian yang sudah siap baku hantam tadi.
"Ck. Kenapa sih, Dir?" Kesal Zaki karena Dira yang menghentikan aksinya.
"Iya, ada apa sih, Dir? Seharusnya Lo biarin gue sama Zaki. Gue mau nunjukin ke ke nih monyet satu buat nggak gangguin orang mulu dari tadi." Jawab Bastian.
Bukannya menjawab, Dira malah memijat pelipisnya sebelah. Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut.
"Gue? Gangguin? Yang ada Lo yang gangguin!" Protes Zaki tak terima.
Axell yang melihat Dira yang tengah memijat pelipisnya pun kembali mengambil ponsel dari dalam saku Hoodie nya. Jari jemarinya terampil mengetikkan sesuatu pada benda pipih itu lalu mengarahkannya pada Dira dengan menunjukkan di bawah meja agar tidak ada yang melihatnya.
"Ayo pulang!"
Tulisan yang Dira baca dari ponsel Axell. Gadis itu pun langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Eh, babi! Jelas-jelas Lo tadi yang tiba-tiba dateng waktu bidadari gue masuk ke mobil gue. Terus Lo yang seenak jidat Lo malah bawa bidadari gue masuk ke dalam mobil Lo. Itu namanya apa kalo ngga gangguin? Secara tidak langsung Lo itu udah rencana PDKT gue, monyet!" Balas Bastian ngegas.
"Gue balik dulu." Ucap Dira pada Melody dengan menggunakan gerakan bibir sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Melody yang mengerti maksud Dira pun mengangguk sembari tersenyum. Dira lalu berdiri dan berjalan mengendap-endap untuk keluar dari kafe tanpa Zaki dan Bastian sadari.
"Eh, anj*ng! Mana gue tau kalo Lo lagi on proses buat PDKT sama Dira. Gue cuma mau ngobrol bentar sama dia tadi. Ada sesuatu yang mengusik jiwa, batin dan ketenangan gue sejak pagi tadi." Jawab Zaki yang memang tengah penasaran dengan siapa yang mengantarkan Dira berangkat sekolah pagi tadi.
Dan dugaan Zaki benar. Seorang Axello lah yang mengantarkan Dira pagi tadi. Dilihatnya dari mobil yang terparkir rapi di depan d'Axe Cafe adalah mobil yang sama persis dengan mobil yang mengantarkan Dira tadi.
"Apa tadi? Mengusik jiwa? Berarti, Lo gila dong?" Cibir Bastian asal.
Karena dirasa Dira sudah masuk ke dalam mobilnya, tanpa menunggu lama, Axell pun langsung bangkit dari posisinya dan segera keluar untuk menyusul Dira.
"Nggak, sih. Yang gila di sini kan Lo, bukan gue." Jawab Zaki enteng dan di akhiri dengan dengan tawanya.
"Sialan Lo!" Umpat Bastian kesal.
__ADS_1
"Nama gue Zaki, bukan Alan. Catet, biar Lo nggak lupa!" Jawab Zaki asal lalu kembali duduk setelah melihat Axell yang keluar dari kafe. Ia sudah bisa menebak kalau Axell pergi untuk menyusul Dira yang sudah lebih dulu keluar tadi. Tapi Zaki masih berpura-pura tidak melihat agar Bastian tidak menyadari kepergian Dira dan Axell.
"Lah... bidadari gue mana?" Tanya Bastian yang baru saja menyadari kalau Dira sudah tidak ada.
"PULANG!" Jawab Zaki dan Melody kompak.
"Hah... pulang?" Beo Bastian tak percaya tapi sialnya tak mendapat jawaban dari Zaki atau pun Melody. "Sama siapa?" Tanyanya lagi.
Lagi. Bastian kembali tak mendapat jawaban karena Zaki dan Melody yang kompak melanjutkan makannya dari pada menjawab pertanyaan dari Bastian.
"Kan... di tinggal lagi gue. Dira... Dira... licin banget Lo, udah kek belut." Desah Bastian pelan.
...***...
"Kenapa, pusing?" Tanya Axell saat melihat Dira yang memijat pelipisnya sambil memejamkan matanya.
Dira membuka matanya dan menatap laki-laki yang kini tengah duduk di balik kemudi yang juga sedang menatap ke arahnya. "Sedikit." Jawab gadis itu.
"Perlu ke dokter?" Tanya Axell yang khawatir pada istrinya itu.
Dira menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, kak. Aku nggak pa-pa kok " Jawab Dira.
"Iya. Nggak pa-pa, kak." Jawab Dira. Axell menganggukkan kepalanya dan mulai menjalankan mobilnya untuk pulang.
"Em... kak. Boleh minta tolong?" Tanya Dira sedikit ragu.
Axell menoleh ke arah Dira sesaat sambil menarik satu alisnya. "Ada apa?" Tanya Axell.
"Aku lagi kangen sama papa. Jadi bisa tolong anterin aku ke rumah papa nggak, kak?" Tanya Dira sambil menatap ke arah Axell.
"Tentu." Jawab Axell singkat. Axell lalu melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya sesuai dengan permintaan Dira. Kurang dari empat puluh menit, kini mobil Axell telah sampai di rumah papa Pras.
Dira dan Axell turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah bersamaan.
"Eh, non Dira... den Axell. Bagaimana kabarnya?" Sapa bi Sumi ramah pada anak dan menantu majikannya itu.
"Baik, bi. Kok sepi, papa sama Mama kemana?" Tanya Dira pada bi Sumi.
"Tuan sama nyonya belum pulang dari kantor, non." Jawab bi Sumi yang mendapat anggukan kepala dari Dira.
__ADS_1
"Mama Diva ke kantor bi?" Tanya Dira lagi.
"Iya, non. Tadi nganterin makan siang buat tuan. Oh iya, non Dira sama den Axell mau makan apa, biar bibi bikinin?" Balas bi Sumi.
"Dira nggak usah, bi. Capek, mau istirahat. Kak Axell aja mungkin." Jawab Dira sambil berbalik menatap wajah Axell yang kebetulan berdiri di belakangnya.
"Nggak usah, bi. Aku juga mau istirahat." Ucap Axell.
"O ya udah. Kalo begitu bibi ke dapur dulu ya, non, den. Nanti kalo butuh apa-apa panggil bibi!" Ucap bi Sumi sambil berjalan ke dapur meninggalkan pasangan suami istri yang masih SMA itu.
Sampai di kamar, Dira langsung meletakkan tas sekolahnya di sofa dan langsung bergegas ke kamar mandi. Tak lupa ia membawa serta baju ganti yang ia ambil sebelumnya.
Setelah Dira hilang di balik pintu kamar mandi, pandangan mata Axell kini beralih menelusuri seisi kamar Dira yang begitu berbeda dari sebelumnya.
Axell masih ingat betul saat ia pertama kali memasuki kamar tersebut setelah prosesi ijab Kabul yang di laksanakan sebulan lalu. Layaknya kamar pengantin pada umumnya, kamar yang penuh dengan hiasan dan juga bunga mawar merah yang bertebaran dimana-mana.
Tapi, ini berbeda. Kamar Dira ternyata tidak seperti kamar gadis pada umumnya yang identik dengan warna pink. Bahkan warna hitam, putih dan abu-abu yang mendominasi kamar tersebut.
Setelah puas melihat-lihat, Axell memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya sembari menunggu Dira selesai mandi. Sepertinya ia akan tidur sebentar.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Dira yang sudah terlihat segar setelah mandi. Aroma harum yang lembut yang dari aroma shampoo dan juga sabun mandi yang Dira pakai langsung menusuk Indra penciuman Axell dan membuatnya kembali membuka mata.
"Kak Axell nggak mandi dulu?" Tanya Dira sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
"Gue udah mandi tadi sebelum Lo sampe ke kafe." Jawab Axell yang kini kembali duduk dan melepas Hoodie yang di pakainya.
Dira hanya menganggukkan kepalanya sambil menyisir rambut panjangnya yang masih setengah basah itu.
Hening untuk beberapa saat sampai akhirnya Axell kembali membuka suara.
"Em... Dir, boleh gue nanya sesuatu?" Tanya Axell sambil menatap ke wajah Dira.
"Tanya apa, kak?" Tanya Dira balik sambil melihat wajah Axell dari pantulan cermin di depannya.
"Lo... lagi deketan sama ..."
__ADS_1