
"PACARAN TEROOOS!!!" Teriak Verrel yang masih berdiri di samping pintu kantin. Sementara Axell hanya mendengus sebal. Sebenarnya ia malas sekali menanggapi sahabatnya itu. Apalagi Verrel datang beserta dengan kekasihnya.
"Lo ngomongin diri Lo sendiri?" Cibir Axell pada Verrel yang kini duduk didepannya Dan Nayla yang duduk di depan Dira.
Verrel malah terkekeh mendengar tanggapan yang sahabatnya itu berikan padanya. "Lo liat Babas nggak?" Tanyanya.
"Kenapa tanya ke gue?" Jawab Axell malas.
"Ya karena Lo disini kan lagi bareng Dira." Jawab Verrel asal.
"Apa hubungannya?" Tanya Axell dengan satu alis terangkat.
"Ya karena Dira kan bidada... da... da... da... da, nggak jadi." Ucap Verrel yang nyeleneh, karena melihat perubahan ekspresi wajah Axell yang mulai tidak bersahabat. Hampir saja verrel mengatakan kalau Dira bidadari seperti apa yang sering Bastian sebutkan pada Dira. Tapi melihat wajah kesal yang tiba-tiba saja muncul dari wajah Axell, Verrel langsung meralat kata-katanya tadi.
"Wait, bro. Sejak kapan Lo make cincin?" Tanya Verrel saat melihat benda melingkar di salah satu jari manis Axell.
"Sibuk lo!?" Cibir Axell yang kembali ia lontarkan untuk Verrel.
"Jadi, foto yang semalem... Tangan Lo berdua? Kirain cuma gambar yang nemu di pint*r*st!" Tebak Verrel sambil meunjuk ke arah Axell dan Dira. Tak menjawab, Axell hanya mengangkat bahunya acuh.
Sementara Nayla, ia diam-diam juga memperhatikan cincin yang melingkar di jari Axell. Sama persis dengan jari yang melingkar dijari manis Dira.
'Ini maksudnya apa?'
...***...
"Baik anak-anak, kerjakan seperti contoh yang ada dibuku. Ingat, harus di tulis dengan tangan, harus rapi, dan tidak boleh ada kesalahan dalam menulis. Mengerti semua?" Tidak pak Raka, guru yang kebetulan mengajar di kelas Dira saat ini.
"MENGERTI PAK!" Jawab semua murid kompak
"Bagus, besok saya tunggu di atas meja say -...
Tok...
Tok...
Tok...
Belum selesai pak Raka menjelaskan tentang tugas yang harus anak didiknya kerjakan, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang mengetuk pintunya dari luar.
"Masuk!" Titah pak Raka.
__ADS_1
Pintu terbuka dan langsung menampilkan Axell dari balik pintu. Dengan langkah khas ala dia, Axell berjalan mendekat bak gaya slow motion ke arah pak Raka.
"Lho, Axello. Ada apa, Xell?" Tanya pak Raka yang ingin mengetahui maksud dari kedatangan di kelasnya mengajar saat ini.
Axell menatap ke arah Dira sekilas, otomatis tatapannya bertemu dengan gadis yang menjadi tujuannya datang ke kelas tersebut. Detik kemudian ia beralih menatap pak Raka. "Saya mau jemput Dira, pak?" Jawabannya tenang dan santai seperti tak ada beban.
Pak Raka mengangguk setelah mendengar jawaban Axell. Memang saat ini hampir semua guru yang mengajar di jelas Axell dan Dira sudah mengetahui status dari Dira yabg sudah resmi menyandang status sebagai menantu dari SMA Bhakti Bangsa.
Pak Raka kembali menganggukkan kepalanya, mengerti akan maksud Axell yang ingin mengajak istrinya pulang. Padahal jam pelajaran yang masih tersisa satu jam lagi. "Baik, silahkan." Jawaban yang keluar dari mulut pak Raka setelahnya.
Axell mengangguk dengan sekali anggukkan kepala Lalu berjalan mendekat ke arah meja Dira. "Ayo pulang, Yang!" Ajaknya.
"Pulang?" Beo Dira yang masih bingung dengan apa yang di maksud oleh laki-laki yang sedang berdiri di depannya saat ini. "Kak, ini kan masih jam pelajaran?"
Bukan hanya Dira saja yang bingung disini Seisi kelas juga berpikir yang sama. Kecuali Melody dan juga Zaki yang memang mengetahui tentang status keduanya, dalam kurung pacaran.
"Udah, nggak pa-pa. Pak Raka juga udah izinin Lo pulang, kan?" Jawabnya santai. Karena tak ingin semakin menjadi tontonan gratis teman-teman sekelas Dira, dengan sigap Axell merapikan buku dan alat tulis Dira yang masih terletak diatas meja. Memasukkannya kedalam tas sekolah milik gadisnya itu dan menentengnya dengan tangan sebelah kiri. Sementara tangan satunya ia gunakan untuk meraih tangan Dira dan menggandengnya. Sedikit menarik agar gadis itu lekas berdiri. Seakan Axell tak menerima penolakan dari Dira yang sepertinya enggan pulang sebelum waktunya.
"Saya duluan, pak. Permisi." Pamit Axell sopan pada pak Raka yang kembali mendapat anggukan kepala.
Menyadari dirinya yang sekarang jadi pusat perhatian dengan Axell, Dira yang sudah terlanjur digandeng Axell hanya pasrah di tarik oleh laki-laki itu. Meninggalkan teman-teman sekelas yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang menatapnya kagum karena bisa merebut hati Axell yang notabene ketua OSIS dingin tak tersentuh dan sulit untuk didekati. Bahkan ada peraturan yang melarang untuk mengusiknya disekolah. Tapi, tak sedikit juga yang menatapnya iri, bahkan lebih ke tidak suka. Ya, dimana-mana kan pro dan kontra selalu ada.
"Sebenarnya kita mau kemana sih, kak? Aku kan jadi nggak enak diliatin temen-temen sekelas tadi." Tanya Dira setelah dari tadi sempat diam. Kini keduanya sedang berjalan menuju parkiran sekolah.
Diam-diam Axell tersenyum dalam hati mendengar gadisnya ini mengeluh perihal ia yang mengajaknya pulang. Gadisnya ini sudah mulai berani mengatakan apa yang membuatnya tidak nyaman.
"Nggak gitu... Maksud aku -..."
"Gue laper. Jadi gue minta Lo temenin gue makan!" Jawab Axell tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dira tercengang. Axell mengajaknya pulang padahal jam pelajaran masih berlangsung hanya untuk menemaninya makan! Apa kata teman-teman sekelasnya kalau mereka tahu tujuan Axell mengajaknya pulang tadi?
Dira menghela nafas pelan, "Kalo laper kenapa tadi nggak makan waktu jam istirahat?" Tanya Dira sedikit kesal. Melihat Dira yang sedang mengerucutkan bibirnya, Axell jadi gemas sendiri. Ia lapar, tapi kenapa malah pengen makan bibir Dira?
Tangan Axell terangkat untuk mengacak pelan rambut gadis itu, "Tadi gue belum laper, Dira."
"Terus sekarang kita mau kemana?" Tanya Dira dengan bibir yang semakin manyun.
"Emang Lo maunya kemana?" Tanya Axell balik.
"Tadi katanya pulang?" Jawab Dira. Axell mengangguk, tadi saat masih di jelas Dira, ia memang mengatakan akan mengajaknya pulang. Tapi sekarang ia berubah pikiran.
__ADS_1
"OK, kita ke kafe." Ujar Axell sekenanya.
Dira geleng-geleng kepala sendiri mendengar apa yang Axell katakan. Suaminya ini aneh dan sulit di tebak. Ia seperti menemukan sisi lain dari diri Axell.
'Ini kak Axell beneran abis kejedot pintu, atau emang lagi sakit, sih?'
...***...
Mobil Axell sudah terparkir dengan rapi di halaman d'Axe Cafe. Axell langsung turun dari mobil, menghampiri Dira yang juga ikut turun. Keduanya lalu masuk kedalam kafe dengan tangan Axell yang sudah menggandeng Dira.
"Mbak Lita, tolong bawa buku menu ke ruangan saya sekarang!" Pintanya pada salah satu pelayan di kafe yang usianya sekitar beberapa tahun lebih tua darinya.
"O... iya, tunggu bentar, ya!" Jawabnya ramah.
Setelah meminta Talita membawakan apa yang ia minta, Axell langsung membawa Dira masuk ke dalam ruang kerjanya. Tanpa Axell sadari, ada dua cowok yang kebetulan memperhatikannya dari sudut ruangan sejak Axell masuk ke kafe tadi.
"Mbak... mbak..." Panggil salah satu diantaranya.
"Iya, kak. Mau nambah pesanan?" Tanya Linda yang kebetulan berdiri tak jauh dari dua cowok tadi.
"Nggak, mbak. Saya cuma mau tanya. Cowok yang barusan masuk sambil gandeng cewek tadi siapa, ya?" Tanya cowok yang tak lain adalah Derry.
"Oh... yang tadi? Dia Axello, kak. Owner nya d'Axe Cafe." Jawab Linda.
"Owner d'Axe Cafe -..."
"Kalo cewe yang tadi, Siapanya mbak?" Kini giliran Nicholas yang bertanya tentang siapa gadis yang datang bersama dengan Axell tadi. Nicholas sengaja berpura-pura tidak mengenal siapa Dira hanya untuk memastikan kebenaran dari apa yang sahabatnya katakan padanya beberapa hari yang lalu.
"Maaf, kak. Kalo cewe itu, saya nggak tau. Axello memang sering datang dengan gadis itu belakangan ini." Jawab Linda.
"Kan... kan... kan... Apa gue bilang. Mereka itu em - ..."
"Oh... iya udah, mbak, saya minta Bill nya." Ujar Nicholas sengaja memotong kalimat Derry tadi.
...***...
Setelah membayar makanannya tadi, kini Nicholas dan Derry berjalan keluar. "Gue masih belum bisa percaya sama apa yang Lo bilang kemaren! Setau gue, Dira nggak pernah deket sama cowo lain. Kecuali Arfen. Dan gue juga tau, mereka itu sahabat." Ujar Nicholas.
"Jangan kan Lo, gue sendiri aja nggak percaya sama apa yang Xello bilang waktu itu. Gue cuma ngasih tau Lo, apa yang gue denger dari si Xello. Gue masih inget betul, tuh orang bilang kalo Dira istrinya." Jelas Derry.
Nicholas diam, bukan karena ia tengah fokus menyetir. Tapi karena ia sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
'Gue harus cari tau sendiri kebenarannya.'