
Dira meraba ke kasur dimana Axell biasa tidur tepat di sampingnya. Matanya langsung terbuka saat menyadari sang suami yang sudah tak berada di sampingnya.
"Kak Axell..." Lirih Dira yang langsung terduduk. Terkejut dan panik. Tak biasanya suaminya itu bangun lebih dulu dan meninggalkannya.
"Ya, sayang ..." Axell yang sedang berdiri di depan cermin langsung menoleh ke arah sang istri. Laki-laki itu tengah mengancingkan lengan kemejanya. "... kamu sudah bangun?" Tanya Axell.
Mata Dira menyipit melihat tampilan suaminya yang sudah terlihat rapi. "Kak Axell sudah bangun dari tadi?" Tanya Dira. Tangannya bergerak untuk menggosok sebelah matanya. "... kok nggak bangunin aku, sih, kak?" Ucapnya terdengar menggerutu.
Axell tersenyum. Ia berjalan mendekat pada Dira lalu menunduk untuk mengecup sekilas bibir istrinya. "Tadi aku lihat tidur kamu pules banget, Yang ..." Tangan Axell naik mengacak rambut Dira yang memang sedikit berantakan. "... Aku jadi nggak tega banguninnya." Lanjut Axell.
Axell lalu berjalan ke arah lemari. Ia mengambil dasi yang memang ia taruh di dalam laci. Hal itu pun tak luput dari pandangan Dira.
"Kak Axell hari ini nggak sekolah?" Tanya Dira yang baru menyadari kalau suaminya tidak mengenakan seragam sekolah. Kesadarannya memang baru terkumpul sempurna.
'Padahal bentar lagi ujian.' Desah Dira dalam hati.
Dalam hati, Dira seperti merasa bersalah pada Axell. Karena harus menafkahinya sebagai suami, Axell harus lebih mementingkan pekerjaannya dari pada sekolah yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.
"... Biar aku bantu, kak." Ucap Dira yang memang sudah turun dari ranjang. Ia meraih dasi di tangan sang suami dan mulai memakaikannya.
Tangan Axell melingkar di pinggang Dira, menarik tubuh ramping itu agar semakin merapat padanya. "Aku ada meeting penting hari ini, Yang." Beri tahu Axell.
Dira mengangguk paham. Di lihat dari semalam, Axell memang terlihat sangat sibuk. "Sudah." Ucap Dira setelah melihat dasi yang sudah terpasang dengan begitu rapi di leher sang suami.
Axell kembali mengecup bibir Dira, "Thank's, Yang."
...***...
"Seperti yang tadi ibu bilang, ya. Tugas ini di kerjakan secara berkelompok! Satu kelompok beranggotakan empat orang. Bebas. Mau cowok cewek, boleh. Hari Senin pagi, tugas harus sudah ada di meja ibu. Berhubung hari ini hari Kamis, jadi kalian hanya punya waktu tiga hari untuk mengerjakannya ..." Interupsi Bu Retno di akhir jam mata pelajarannya. "... Mengerti anak-anak?" Tanyanya lagi.
"MENGERTI, BU!!!" Teriak semua siswa di kelas, termasuk Dira.
"Baik. Kalau semua sudah mengerti, pelajaran kita akhiri sampai di sini. Selamat siang." Ucap Bu Retno lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas karena bel pulang sekolah yang memang sudah berbunyi.
"Lo kelompok sama kita aja, Dir!" Ucap Zaki yang kini sudah berdiri di samping meja Dira dan Melody, lengkap dengan tas yang sudah bertengger di punggungnya.
__ADS_1
"Kita?" Ulang Melody yang kini mendongak melihat zaki.
"Iya. Gue, Lo, sama Dira." Jelas Zaki santai.
Dira memutar bola matanya malas, "Nggak, ah. Entar yang ada gue malah jadi nyamuk." Tolak Dira langsung.
"Yah, Dir. Kok Lo gitu, sih!" Protes Melody. "... mau, ya?!"
Sementara Dira hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dira lalu berdiri, menoleh dan mendapati salah satu temannya. "Lis, kelompok sama gue, ya?" Teriak Dira pada Lisa yang hampir keluar dari kelas.
Zaki langsung menekan pundak Dira pelan agar kembali duduk. "Nggak jadi, Lis. Dira udah sama gue." Sahut Zaki sebelum Lisa sempat menjawab.
Lisa lalu mengangguk, "Gue duluan." Ucap Lisa sebelum akhirnya berjalan keluar kelas.
Melody dadah-dadah pada Lisa, "Bye, Lisa blekping."
"Ih, Zak. Lo ngeselin, deh!" Protes Dira tak terima.
Zaki nyengir melihat tampang kesal Dira. "Ya udah, sih. Lo kelompok sama gue dan Melody aja! Valid ..." Zaki lalu menoleh. "... Eh, Cug, Lo ada kelompok belum?" Tanyanya pada Adit.
Adit yang baru saja berdiri dari duduknya itu menoleh, "Masih ada tiga hari. Gue santai orangnya." Jawab cowok bernama lengkap Lambang Aditya Pratama, sang ketua kelas yang memang terkenal cerdas itu.
"Lo kelompok sama gue!" Bukan pertanyaan, tapi ucapan yang terdengar seperti memerintah dan Adit tidak menolak.
Adit mengangguk. "OK ..." Jawabnya santai. "... telpon gue, kapan kerjainnya?" Lanjut Adit yang kini sudah berada di ambang pintu kelas.
"Lo sibuk, Cug? Sekarang aja gimana?" Tanya Zaki yang kini mengetikkan pesan dan mengirimkannya pada seseorang.
Selesai dengan urusannya, Zaki kembali menatap Adit. Menunggu jawaban sang ketua kelas yang nampak berpikir. "Elahh... pake mikir!" Dengusnya.
"OK." Jawab Adit setelahnya.
"Gitu, kek."
...***...
__ADS_1
"Belum ada yang jemput, Dir?" Tanya Adit yang kini berhenti di dekat Dira.
Dira menoleh, ia mendapati Adit dengan motor sport-nya. "Belum, Dit." Jawab Dira singkat.
Adit nampak memperhatikan sekitar. Sekolah sudah hampir sepi karena memang kelas mereka keluar paling akhir tadi. Hanya tinggal beberapa murid yang masih menunggu jemputan.
Adit menepuk-nepuk Tanki motornya dengan kedua jari telunjuk secara bergantian seolah ia tengah bermain drum. "Ayo! Bareng gue aja gimana? Kebetulan gue bawa dua helm." Ajak Adit menawarkan.
Dira diam tak langsung menjawab. Ia nampak memperhatikan sekitar. Benar apa kata adit. Sekolah sudah mulai sepi.
Mau nolak, bingung dengan alasannya. Mereka tadi kan sudah sepakat mau mengerjakan tugas kelompok dari Bu Retno. Tapi mau terima tawaran Adit, Dira malah nggak yakin dengan pilihan yang ini. Mau nebeng Nayla dan kawan-kawan, itu malah tambah nggak mungkin. Mereka masih ada bimbel dan baru akan pulang satu jam lagi.
Bukan apa-apa. Dira hanya takut jika ia pulang dengan Adit jadi skandal dan malah berakhir bikin sang suami jadi malah salah paham. Apa lagi Axell sedang tidak ada di sekolah saat ini.
Seketika Dira jadi teringat saat ia pulang di jemput Rheyhan hari itu. Keesokan harinya ia mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari para gadis-gadis yang mengidolakan sang suaminya di sekolah. Mereka mengira Dira selingkuh dari Axell.
"Dir! Hallo..." Panggil Adit lagi. "... Jadi gimana? Atau Lo nunggu di jemput sama Axell?"
"Ehh." Dira langsung menatap Adit dengan dahi berkerut.
"Tapi gue nggak liat mobil Axell di parkiran. Kek nya dia nggak masuk hari ini ..." Beritahu Adit. "... Atau Lo mau bareng Zaki. Kek nya tuh anak tadi belum keluar dari parkiran.
Tin... Tin...
Bunyi klakson mobil Zaki yang kini berhenti tak jauh dengan posisi Dira dan Adit. "Lo belum di jemput, Dir?" Tanya Zaki.
"Belum, Zak -"
Tinnn!! Tinnnn!!
Belum selesai Dira menjawab Zaki, kembali terdengar suara klakson mobil yang terdengar begitu nyaring.
"Tuh, di jemput!" Celetuk Adit.
Dira menoleh. Ia melihat mobil yang sangat ia kenal berhenti di depan pintu gerbang sana. Senyumnya mengembang saat melihat laki-laki yang berstatuskan suaminya berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Yang, ayo pulang!"