
Saat ini Rosa sangat bahagia padahal di pesantren itu semua santri sedang sedih karena mereka sekarang tak bisa belajar akibat kelas mereka hancur di robohkan.
"Ning Rosa kenapa senyum senyum begitu" tanya santri putri yang melihat Rosa tersenyum.
"Tak ada aku hanya menyembunyikan kesedihan dengan tersenyum karena aku sangat tau kalau Abah dan keluarga sangat sedih makan nya kalau kita mau bantu Abah kita tak boleh sedih juga karena takutnya Abah akan kepikiran" ucap Rosa merasa paling benar.
"Oh begitu ya" tanya santri putri.
"Ya" ucap Rosa.
"Baik lah kita sekarang harus kumpul di madrasah kata Abah" ucapnya.
"Baik lah aku ikut" ucap Rosa.
Sedangkan Abah sekarang tengah menatap bangunan roboh bersama dengan Umi.
"Abah kita mendapatkan musibah dua kali sekali gus" ucap Umi.
"Sabar Umi, Abah akan berdoa kalau Musibah ini segera berakhir" ucap Abah.
"Ya Abah, Umi berharap kalau Doa kita terkabul" ucap Umi.
"Jangan lupakan Hadist riwayat Ahmad, Umi, Jika kamu berdoa dan memohon sesuatu kepada Allah SWT maka memohon lah dengan penuh keyakinan bahwa Doa mu akan terkabul" ucap Abah.
"Ya Abah Umi ingat" ucap Umi.
"Baik lah kita ke Madrasah kita runding kan bagai mana keputusan para santri" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Umi.
Saat mereka akan ke Madsarah, datang lah Adam dan Fauzi yang sekarang memarkir kan motor nya di halaman rumah Abah.
"Abah ada Adam ayo kita tanya bagai mana kondisi Zia" ucap Umi.
"Ya" ucap Abah.
Umi dan Abah mendekat pada Adam.
"Dam bagai mana kondisi Zia" tanya Umi.
"Zia terpaksa harus di penjara selama satu Minggu Umi, kata polisi dia akan bebas kalau aku punya semua bukti yang membenarkan perlakuan Zia itu, Alhamdulillah Umi, Abah polisi di sana itu pak Toni yang dulu tetangga kita, dia percaya pada ucapan aku dan dia minta bukti untuk membebaskan Zia, tapi kalau sampai aku gak dapet bukti Zia akan di penjara kasus pembu nuhan" ucap Adam.
"Astaghfirullah" ucap Abah dan Umi.
"Apa" sahut Nita mamahnya Zia dari arah belakang.
Adam menatap pada kedua mertua nya itu, rasa takut Adam akhirnya terjadi juga.
"Nita" sahut Topan saat istri nya itu akan pingsan.
"Pak Topan ayo bawa ke rumah" sahut Umi
"Ya pak Topan takutnya Bu Nita pingsan" ucap Abah.
Topan menggendong istri nya itu menuju ke arah rumah Umi dan Abah karena tak mau sampai Nita pingsan di halaman pesantren.
"Ya Alloh tolong jangan buat kondisi nya semakin runyam" gumam Adam berdoa.
"Amin Gus" ucap Fauzi.
"Ayo masuk" ucap Adam pada Fauzi.
Mereka berada di dalam rumah Umi, dengan cepat Umi menyuguhkan Minuman untuk besan nya itu.
"Ayo di minum" ucap Umi.
Topan membantu Nita untuk minum air.
"Sadar Nita" ucap Topan.
"Mas, Zia" ucap Nita.
"Kamu tenang Nita aku yakin Zia baik baik saja" ucap Topan.
"Tapi Mas anak kita Zia dalam masalah" ucap Nita.
"Bu Nita maafkan saya karena tak bisa menjaga Zia aku sangat menyesal Bu Nita" ucap Adam menundukkan kepalanya.
"Jangan begitu Nak Adam" ucap Topan.
"Tapi pak saya sangat menyesal karena tak bisa menjaga Zia" ucap Adam.
"Tak apa masalah dalam rumah tangga itu pasti ada yang paling penting kita harus saling menguatkan satu sama lain" ucap Topan.
__ADS_1
"Ya benar pak, jika seorang wanita ingin laki laki yang sempurna dan laki laki juga ingin wanita yang sempurna maka mereka salah karena Alloh menciptakan mereka untuk menyempurnakan satu sama lain" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Topan.
"Lalu bagai mana kondisi Zia" tanya Nita pada Adam.
"Aku baru saja datang ke sana, kata pak polisi nya aku harus banyak kumpulan bukti dan saat itu kita akan melakukan sidang untuk menentukan bagai mana Zia" ucap Adam.
"Apa yang aku takutkan terjadi" ucap Topan.
"Apa maksudnya" tanya Adam.
"Walau pun Zia hanya di penjara Beberapa hari saja, tapi kalau memang sudah masuk ke dalam penjara dia akan di cap sebagai narapidana" ucap Topan.
"Aku sangat minta maaf pak" ucap Adam.
"Jangan nak Adam" ucap Topan.
"Mas lakukan sesuatu agar Zia cepat keluar" ucap Nita.
"Apa kita perlu beritahu pada Rayhan untuk menyewa kan pengacara" tanya Topan.
"Tak usah mas, Rayhan sibuk jangan ganggu dia" ucap Nita.
"Aku akan sewa pengacara sendiri" ucap Topan.
"Abah kami ingin tanya bagai mana kronologi nya" tanya Nita.
"Begini Bu Nita, pak Topan" ucap Abah.
Abah menceritakan semua nya dari awal kejadian sampai akhir nya Zia di bawa polisi ke kantor polisi.
"Siapa Sofi" tanya Nita.
"Adik kandung saya" ucap Abah.
"Oh" ucap Nita.
"Lalu bagai mana sekarang" tanya Topan.
"Aku harus kumpulan banyak bukti untuk melawan Sofi" ucap Adam.
"Baik lah pengacara ku akan segera datang, kita akan meminta bantuan dia" ucap Topan.
"Ya" ucap Adam.
Zia menangis sejak tadi karena dia sangat takut di penjara apa lagi dengan kesalahan nya Zia merasa sangat takut dan menyesal.
Tapi ada rasa bahagia juga pada diri Zia kalau dia bisa membebaskan Umi dari jerat Sofi dan pistol itu, namun Zia tak menyangka kalau dia lah yang akan terjerat masalah.
Zia menatap pada polisi yang berlalu lalang di sana, dia merasa sangat takut apa lagi banyak sekali polisi yang mentertawakan Zia karena masalah itu.
Zia tak bisa bayangkan bagai mana kalau orang tuanya tau kalau Zia membu Nuh janin yang masih dalam kandungan.
"Ya Alloh aku tak sengaja" gumam Zia.
Polisi wanita datang ke sana memberikan makanan pada Zia.
"Makan lah" ucapnya sambil menyodorkan satu piring makanan.
Zia mengambil nya hanya ada nasi dan tahu serta sayur di sana.
Walau bagaimana pun Zia sekarang sangat lapar dia tak mau membiarkan perut nya kosong hanya karena masalah itu.
Apa lagi dulu juga pernah Zia pingsan karena mogok makan saat memaksa kakak nya untuk menikah karena dia sangat ingin menikah dengan Akash dahulu.
Ibarat meraih bulan tapi tak sampai.
Zia rela sampai berkorban hanya karena ingin menikah dengan Akash tapi sayang nya Zia malah mendapat pahit nya empedu karena Akash menikah dengan seorang wanita tua padahal Zia sudah membobol uang perusahaan Rayhan dan memberikan nya pada Akash.
Zia memakan nasi itu sampai habis, dia sangat tak menyangka kalau nasib nya akan sekejam ini.
Sedangkan di pesantren, Abah saat ini tengah berkumpul dengan para santri yang lain.
Mereka semua tak ada yang berani bicara apa lagi Abah, Adam dan guru senior pun tak ada yang bicara di sana, mereka sibuk pada pikiran mereka masing masing.
Adam ikut kumpul dahulu sambil menunggu pengacara yang di panggil Topan datang ke sana.
"Baik lah, kita langsung saja pada intinya" ucap Abah sambil menghela nafas.
Semua santri menatap pada Abah.
"Kelas kita sudah roboh, dan kita tak punya kelas lagi, apa lagi 18 hari lagi kita akan melaksanakan ibadah puasa, Abah hanya ingin dengar bagai mana saran kalian" tanya Abah.
__ADS_1
"Abah" sahut salah satu santri yang bernama Manhaj
Semua mata langsung menuju padanya.
"Ya ada apa" tanya Abah.
"Saran saya kita libur saja Abah" ucap Manhaj.
"Terima kasih, ada yang lain" tanya Abah.
Fauzi mengacung kan tangan nya.
"Abah apa tak sebaik nya kita belajar seadanya saja, misal kita bisa belajar di ruang makan dengan para santri yang terpisah mungkin, ya sambil menunggu datang nya bulan Ramadhan kan setelah Ramadhan kita pasti akan melakukan belajar agama kita tak akan membutuhkan kelas kan" ucap Fauzi.
Abah berfikir sejenak.
"Siapa yang setuju pada pikiran Manhaj, atau ada yang lain" tanya Abah pada para santri.
Semua santri diam saja menandakan kalau mereka tak setuju pada pemikiran Manhaj.
"Lalu kalian mau bagaimana" tanya Abah.
"Kami ikut pemikiran Gus Fauzi, Abah" serempak para santri.
"Abah tak akan memaksa kalian, kalau memang kalian mau libur maka Akan Abah pertimbang kan" ucap Abah.
"Tidak Abah" serempak.
"Maaf Manhaj semua santri tak memihak pada mu" ucap Abah.
"Ya Abah tak masalah" ucap Manhaj.
"Baik lah Abah akan pikirkan biaya pembangunan kelas kembali, namun sebelum itu Abah harus membebaskan Zia dari kantor polisi dan membicarakan semuanya, karena seharusnya Abah sudah membeli tanah dari kelas itu walaupun itu memang tanah hak Abah" ucap Abah.
Rosa tersenyum tipis.
"Aku sangat yakin Gus Adam tak bisa membebaskan Zia" batin Rosa.
"Baik lah kalian boleh bubar, hari ini kalian bebas dari pelajaran" ucap Abah.
"Siap Abah" serempak.
Dari kejadian tadi banyak sekali para santri putra yang terluka sampai babak belur karena membantu melawan anak buahnya Sofi.
Bahkan di wajah Adam pun ada luka memar namun Adam tak memperdulikan nya karena yang sekarang Adam pedulikan adalah bebasnya Zia.
Semua santri bubar dari sana sedang kan Adam masih diam di sana dengan tatapan datar.
"Gus pengacara nya datang" ucap Fauzi.
"Oh ya" tanya Adam.
"Ya" ucap Fauzi.
Adam langsung berjalan ke arah pengacara itu berada bersama dengan Fauzi, saat ini pengacara itu tengah bersama dengan Topan papahnya Zia.
"Pak" sahut Adam.
"Nak Adam ini pengacara yang akan membantu kamu membebaskan Zia, setelah ini kamu urus semuanya papah akan urus biaya nya" ucap Topan.
"Ya pah" ucap Adam.
"Baik lah aku akan urus biaya nya nanti, pak Anwar anda bisa minta bantuan pada Adam" ucap Topan.
"Baik pak Topan" ucap Pak Anwar.
Topan pergi dari sana setelah berpamitan pada Abah karena akan mengurus biaya semuanya.
"Baik lah pak kita akan mulai dengan cctv nya" ucap Adam.
"Baik lah ayo" ucap Pak Anwar.
Mereka pergi dari sana menuju rumah Abah karena akan melihat hasil rekaman cctv.
"Gawat, mereka punya rekaman Cctv" gumam Rosa yang mendengar semuanya.
Rosa berjalan ke arah kamarnya dia harus memikirkan rencana untuk membuat Zia tetap di penjara.
"Bagai mana sekarang" gumam Rosa berpikir dengan keras.
Dia mundar mandir sambil memikirkan rencana itu, karena Rosa sangat tak rela kalau Zia harus bebas dari penjara.
"Aku tau" ucap Rosa yang memikirkan sebuah rencana.
__ADS_1
Adam memperlihatkan rekaman cctv pada pak Anwar karena sekarang dia akan memberitahu kan kebenaran nya.
bersambung..