
Adam menatap pada halaman pesantren yang cukup luas, entah kenapa dalam benak Adam selalu saja melihat Zia bahkan Adam selalu melihat Zia yang sekarang sedang beres beres padahal kenyataanya Zia tak ada.
"Gus ayo kita ke Madrasah" ucap Fauzi.
Adam menatap pada jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Baru jam satu Gus" ucap Adam.
"Ya ayo sesuai jadwal kita akan Tadarus dahulu kan sekarang" ucap Fauzi.
"Ya aku lupa" ucap Adam.
"Baiklah ayo" ucap Fauzi.
"Gus maaf aku ada urusan aku akan pulang dulu" ucap Adam.
"Oh baiklah aku tunggu di Madrasah ya" ucap Fauzi.
"Ya" ucap Adam.
Adam pulang ke rumah nya entah kenapa sekarang Adam sangat ingin menghubungi Zia.
{Assalamualaikum} pesan Adam pada Zia.
Adam terus saja menatap pada layar ponselnya itu, tetapi Zia tak menjawabnya bahkan sekarang Zia tak sedang online.
"Kemana Zia apa dia sedang sibuk" gumam Adam menatap layar ponsel.
"Baiklah aku bawa saja ponselnya" ucap Adam mengantongi ponselnya di baju kokonya.
Adam berjalan ke Madrasah karena sekarang dia akan mengajar pada santri, Adam masuk kedalam Madrasah dan langsung ber gabung bersama dengan Gus senior.
Disana hanya ada Fauzi, Farid, Rosa, Isma, dan juga Adam, hanya ada lima santri senior saja apa lagi sekarang Husna dan Haddad cuti karena mereka akan segera menikah.
Seorang santri wanita mengacungkan tangannya.
"Ya ada apa" tanya Isma.
"Apa boleh aku kembali ke kamar, aku sedang tak enak badan" ucap santri wanita itu.
"Baiklah silahkan istirahat saja kalau memang tak sehat jangan lupa minum obat ya" ucap Isma.
"Terima kasih Ning" ucapnya.
"Ya sama sama".
Adam menatap pada Isma.
"Ning dia kenapa" tanya Adam.
"Katanya dia tak enak badan Gus" ucap Isma.
"Oh" ucap Adam.
Adam membuka al qurannya dan membacanya dengan sangat khusyuk, tetapi sejak tadi Isma selalu mencuri pandang pada Adam karena sejak dahulu Isma sudah menaruh hati pada Adam.
"Ganteng nya" gumam Isma.
"Ning ada apa" tanya Rosa yang aneh melihat Isma.
"Lihat Gus Adam ganteng ya" ucap Isma.
"Ya tapi sayang dia pacar Zia yang na kal itu" ucap Rosa.
"Oh ya" tanya Isma.
"Benar Ning" ucap Rosa meyakinkan.
Sedangkan Adam yang sekarang sedang membaca Al Quran harus ter paksa ber henti karena ada pesan yang masuk pada ponselnya.
Ternyata ada balasan dari Zia.
{Waalaikum salam Gus Adam} balas Zia.
Adam tersenyum tipis.
{Kemana saja} pesan Adam bertanya pada Zia.
{Sibuk} balas Zia.
{Sibuk apa} tanya Adam.
{Sibuk mikirin hidup yang penuh tanda tanya} balas Zia.
Adam hanya tersenyum saja melihat balasan dari Zia, Fauzi yang melihat tingkah Adam pun jadi merasa aneh.
"Gus ada apa" tanya Fauzi.
"Hah tidak apa" ucap Adam.
Karena menuruti aturan Adam pun membalas pesan Zia dan langsung mematikan ponselnya karena tak mau para santri melihat kalau Adam tak taat peraturan.
{Aku lagi tadarus, nanti aku telpon} pesan dari Adam.
Sedangkan Zia yang sekarang sedang berada di rumah Rayhan pun hanya tersenyum tipis menatap pesan dari Adam yang menurut Zia sangat bucin.
Prakk
Zia mendengar suara gelas yang pecah dari arah dapur, karena penasaran apa yang terjadi Zia pun berjalan ke arah dapur.
"ada apa kak" tanya Zia.
"ini Zia gelas jatuh" ucap Raya.
"hati hati kak" ucap Zia.
"zia aku merasa tak enak hati apa terjadi sesuatu pada pak Ray" tanya Raya.
"istighfar kak, kak Rayhan pasti baik baik saja percaya pada Alloh kak, seharusnya kita mendoa kan mereka semoga mereka selamat dan mamah serta papah segera di temukan jangan ber fikir yang macam macam" ucap Zia.
"ya Zia aku hanya tak enak hati saja" ucap Raya.
"ayo kita berdoa saja" ucap Zia mengajak kakak iparnya itu.
Zia dan Kakak iparnya itu menuju kamar tamu yang waktu itu Raya pakai untuk melaksanakan Sholat, dan sekarang mereka membaca Al Quran disana.
Setelah membaca Al Quran hati Raya sedikit merasa tenang tak seperti tadi yang sangat gelisah.
"Apa sudah baikan kak" tanya Zia.
__ADS_1
"Ya" ucap Raya.
"Oh ya kak aku sangat berharap mamah, papah dan kak Rayhan bisa pulang sekarang apa lagi aku harus segera kembali ke pesantren" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Raya.
"Ada acara di pesantren, lebih tepatnya di rumah ning Husna karena dia ingin menikah" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Raya.
"Ya sebenarnya aku malas untuk datang kak karena dia menikah dengan mantan aku" ucap Zia.
"Kenapa bisa" tanya Raya.
"Entah aku gak tau alasannya, karena yang aku tau dia bicara kalau dia ingin menikah" ucap Zia.
"Lalu bagai mana dengan laki laki yang kemarin menyakiti mu" tanya Raya.
"Akash, ahh kak dia sudah aku buang ke tong sampah lagi pula aku sudah move on darinya" ucap Zia.
"Ya deh aku percaya" ucap Raya.
"Oh ya aku lupa aku akan masak Zia, siapa tau saja pak Ray pulang sekarang dan membawa mamah dan papah" ucap Raya.
"Aminn" ucap Zia mengamini ucapan Raya.
Di pesantren Adam dan para senior santri sudah menyiapkan sebuah tanya jawab, jadi santri yang di tunjuk maka harus menjawab pertanyaan yang para santri senior berikan.
"Baik lah kita akan mulai tanya jawab nya" ucap Adam.
Pertama tama Fauzi yang akan bertanya pada santri, Fauzi menunjuk seorang santri wanita yang duduk di tengah tengah.
"Baiklah jawab pertanyaan aku, ada berapa banyak syarat wajib melaksanakan Shaum" tanya Fauzi.
"Ada empat Gus" jawabnya.
"Apa saja" tanya Fauzi.
"Ber agama islam" ucap Santri wanita itu.
"Kedua" tanya Fauzi menunjuk santri yang duduk di sudut.
"Sudah besar Gus" ucapnya.
"Bukan sudah besar tapi sudah baligh atau ber akal" ucap Fauzi.
"Yang ke tiga" tanya Fauzi menunjuk santri wanita yang duduk di sampingnya.
"Suci dari Haid dan Nifas" ucapnya.
"Dan ke empat" tanya Fauzi.
"Kuasa".
" baik lah terima kasih, gus Adam silahkan" ucap Fauzi pada Adam.
"Jangan aku Gus Farid dulu saja" ucap Adam.
"Baik lah aku saja dulu" ucap Farid yang langsung maju.
"Aku tak akan bertanya kalian saja yang bertanya biar aku yang jawab" ucap Farid.
"Ya" tanya Farid.
"Mau tanya kalau misalkan begini aku pernah punya hutang pada orang lain tapi sampai sekarang aku gak ketemu lagi dengan dia, apa aku ber dosa karena tak membayar hutang" tanya nya.
"Hutang? Misal kan begini kamu punya hutang pada orang lalu orang itu tak ketemu lagi, begini saja kamu sedekahkan sebesar uang yang kamu pinjam pada orang yang membutuhkan tapi kamu sedekahkan dengan nama dia" ucap Fauzi.
"Oh tapi kalau misal ketemu lagi" tanyanya.
"Kalau ketemu lagi lalu kamu punya uang kamu bayar saja, karena kan gak tau usia kamu sampai mana jadi lebih baik begitu saja, misal begini aku punya hutang pada Gus Adam tapi kami gak ber temu lagi maka aku harus bersedekah atas nama Gus Adam, bagai mana kalau aku meninggal sebelum membayar hutang itu maka aku mati dengan membawa beban hutang, masih untung kalau ada keluarga kita yang bayarkan kalau tidak" ucap Farid.
"Nah maka dari itu ber sedekah lah menggunakan nama teman mu itu" ucap Farid.
"Terima kasih Gus" ucapnya.
"Ya sama sama" ucap Farid.
Lama mereka bertanya jawab hingga waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga sore, para santri istirahat dulu karena sebentar lagi akan melakukan Sholat ashar.
Adam kembali ke kamarnya karena akan mengganti pakiannya bahkan sarung nya pun sekarang sudah mulai kotor.
Adam menatap pada Ponsel nya yang dia simpan di saku kokonya.
Adam teringat kalau dia akan menghubungi Zia sekarang.
Drtt drtt
Zia menatap pada ponselnya yang berdering karena ada panggilan telpon.
"Ada apa Ustadz bucin ini menelpon aku" gumam Zia.
📞📞
"Ya Gus ada apa" tanya Zia.
"Lagi apa" tanya Adam.
"Lagi duduk" jawab Zia.
"Bagai mana kabar orang tua mu" tanya Adam.
"Belum ada kabar Gus" ucap Zia.
"Belum ada kabar" tanya Adam.
"Ya bahkan kakak juga tak menghubugi aku, kau tau aku panik Gus apa lagi tadi kak Raya merasa tak enak hati" ucap Zia.
"Kau tau kan kalau filing istri itu tak pernah salah" ucap Zia lagi.
"Ya aku tau tapi ber fikir lah fositif Zia" ucap Adam.
"Ya gus" ucap Zia.
"Baiklah aku akan ke mesjid karena sekarang jadwal aku adzan" ucap Adam.
"Baik lah, Adzan yang benar Gus jangan memikirkan apa apa" ucap Zia.
"Ya Ukhty" ucap Adam.
__ADS_1
"Apa" tanya Zia.
"Ukhty" ucap Adam.
"Apa ukhty" tanya Zia.
"Kau akan tau artinya sendiri Zia" ucap Adam yang langsung menutup telponnya.
📞📞
"Ustadz Bucin, aku tanya dia tak jawab coba kalau dia yang tanya terus aku tak jawab mungkin dia sudah marah" ucap Zia menggerutu.
Adam sudah bersiap akan Adzan karena sekarang jadwal Adam Adzan.
Adam mengganti sarung dan kokonya lalu berjalan ke Mesjid.
Saat itu Adam berpapasan dengan Isma yang sekarang hendak ke rumah Abah,
"Assalamualaikum Gus" ucap Isma.
"Waalaikum salam" ucap Adam.
"Gus apa Abah ada" tanya Isma.
"Ada" ucap Adam.
"Gus tunggu" ucap Isma.
"Ya" tanya Adam yang langsung menghentikan langkahnya dan menatap pada Isma.
"Mau kah kau menjadi imam ku Gus" tanya Isma.
"Apa" tanya Adam terkejut.
"Mau kan" tanya Isma.
"Maaf Ning tapi di hati ini ada seseorang walau pun orang itu tak tau perasaan ini tapi aku yakin dia akan mem balasnya, maaf aku tak mau mengecewakan mu" ucap Adam.
"Ahh tak masalah lagi pula aku terlalu agresif langsung mengajak nikah seorang laki laki" ucap Isma..
"tolong jangan salah paham" tanya Adam.
"tidak Gus aku yang salah" ucap Isma terlihat kalau dia kecewa.
"baik lah aku harus ke Mesjid sekarang jadwal aku adzan" ucap Adam yang langsung pergi meninggalkan Isma yang masih berdiri sendirian.
"bukan nya mau menolak tapi aku tak punya rasa padanya, Ya alloh tolong kasih petunjuk padanya kalau aku bukan jodohnya" batin Adam.
Adam mengumandangkan Adzan Ashar di Mesjid dan para santri banyak sekali yang bersiap untuk wudhu dan yang lain sudah bersiap di mesjid dengan memakai mukena.
Adam duduk di antara barisan para santri yang lain karena sekarang Gus Fauzi yang menjadi imam untuk memimpin Sholat Ashar sekarang.
Adam menundukan pandangannya, entah kenapa Adam selalu merasa bersalah kalau ada wanita yang mengajak nya menikah tapi Adam tolak, Adam adalah tipikal orang yang gampang kasihan dan tak enakan pada orang lain.
"ada apa Gus" tanya Farid yang sekarang duduk di sebelahnya.
"ning Isma dia mengajak aku menikah" ucap Adam.
"apa, apa kau terima" tanya Farid.
"tidak aku menolaknya, apa aku se kejam itu menolak wanita Gus" tanya Adam.
"tidak Gus kalau kita tak suka maka jangan di paksakan dari pada kita memberi kan harapan pada orang lain tapi kita sendiri yang mematahkan harapan itu" ucap Faris.
"ya Gus aku hanya takut kalau dia sakit hati saja" ucap Adam.
"Kalau begitu terima saja" ucap Farid.
"Tak bisa begitu Gus, aku sudah punya seseorang yang aku jadi kan sebagai pelabuhan hati ku" ucap Adam.
"Siapa" tanya Farid.
"Ada" ucap Adam.
"Siapa ayo beri tau aku" ucap Farid.
"Ahh jangan, tapi Gus aku juga masih ragu apa dia suka atau tidak pada ku" ucap Adam.
"Aku yakin tak akan ada yang bisa menolak mu, kau sangat tampan bahkan kalau aku seorang wanita mungkin aku akan meminta mu menikah dengan mu" ucap Farid.
"Istighfar gus" ucap Adam.
"Kan kalau Gus bukan berarti aku jadi wanita" ucap Farid.
"Baiklah ayo Sholat Gus Fauzi sudah datang" ucap Adam.
Mereka pun melakanakan Sholat ashar ber jamaah.
Sedangkan di kota Zia sekarang sedang melaksanakan Sholat ashar sendirian karena Raya masih sibuk memasak.
Zia menggelar sejadah di atas lantai, Zia hendak memulai tapi suara mobil membuat Zia tak fokus, Zia melihat pada jendela siapa mobil yang datang karena takutnya itu adalah musuh Rayhan lagi.
Semua orang yang berada di mobil langsung turun sedangkan Zia dia menatap orang tuanya yang sekarang turun dari mobil.
Zia tersenyum bahagia karena orang tua nya pulang.
Tanpa sadar Zia langsung ber lari menuruni anak tangga karena hendak menemui orang tuanya.
Bahkan sekarang Zia masih memakai mukena karena lupa melepaskan karena terlalu bahagia.
"Terima kasih ya Alloh kau mengabul kan Doa ku dengan cepat" gumam Zia.
Zia memeluk mamahnya yang sekarang berada di halaman rumah Rayhan.
Raya datang kesana dan langsung mencari keberadaan Rayhan suaminya yang sekarang tak ada di antara orang orang itu.
"Dimana Pak Ray" tanya Raya pada Rega.
"Tuan pingsan dia di bawa ke markas" ucap Rega.
"Apa" tanya Raya terkejut.
"Ya dia tenggelam bahkan ada bagian tubuhnya yang mendapati luka bakar" ucap Rega.
"Bisa kau antar aku kesana" ucap Raya.
"Maaf Nona kata tuan dia tak mau kau melihatnya, saat dia sudah sembuh dia akan pulang" ucap Rega.
"Kenapa begitu aku istrinya" ucap Raya.
__ADS_1
Bersambung