
Zia pergi kembali ke kamarnya Karena akan ganti baju memakai baju putih seperti seragam supaya sama dengan para santri yang lain.
"Kak sudah perpisahan nya" tanya Gita.
"Sudah" ucap Zia.
"Apa ada hal yang aneh" tanya Rena.
"Aneh bagai mana" tanya Zia.
"Ya misal kan selamat jalan sayang begitu ya kan Ning" ucap Gita.
"Ya" ucap Rena.
"Sudah lah kalian terlalu banyak menghayal bahkan aku dan Gus Adam saja sangat kaku" ucap Zia.
"Kenapa kaku, kak Zia Gus Adam itu memang belum pernah pacaran dia ta'aruf saja baru kemarin bersama dengan Ning Marwah" ucap Rena.
"Oh" ucap Zia.
"Jadi bersama dengan Ning Marwah kemarin, Gus Adam baru merasakan sakit hati" tanya Gita.
"Ya tentu saja" ucap Rena.
"Wow" ucap Gita.
"Aku ke kelas sebentar lagi masuk" ucap Rena.
"Ya ayo" ucap Zia dan Gita.
Zia masuk ke kelas tiga SMA sekarang di kelas itu akan di gurui oleh Haddad.
Zia merasa sangat malas karena harus berada dekat dengan Haddad.
"Kita akan belajar yaumul Hisab" ucap Haddad.
"Ada yang tau yaumul hisab artinya apa" tanya Haddad.
"Perhitungan" ucap para santri serempak hanya Zia dan Ainun saja yang tak menjawab karena tak tau.
"Yaumul hisab di akhirat yaitu perhitungan amal perbuatan kita selama kita hidup baik mau pun buruk amal kita Alloh akan menghitung nya nanti, tetapi menurut Islam Al-hisab secara bahasa berarti al-'addu wa al-muhâsabatu yang artinya hitungan, atau perhitungan (Kamus Al-Bisyri, hal. 113). Kata hisab dapat dipahami sebagai usaha menghitung-hitung amaliah negatif diri" ucap Haddad.
"Lalu Berapa lama kita di hisab?
Waktu tidur qailulah itu sekitar sepertiga atau setengah jam. Sekadar qailulah inilah waktu menghisab seluruh makhluk, lalu apa yang pertama kali dihisab?
Segala amal akan dilihat dan ditimbang. Amalan pertama yang akan dihisab di pengadilan Allah Swt kelak adalah sholat, maka dari itu kita penting melaksanakan Sholat tepat waktu" ucap Haddad.
Seorang santri mengangkat tangan nya.
"Ustadz apa para nabi juga di hisab" tanya nya.
"Para nabi? Pasti orang yang pertama di hisab di hari kiamat nanti adalah umat nabi Muhammad Saw" ucap Haddad.
"Kalian ingin tau siapa orang yang paling lama di hisab" tanya Haddad.
"Siapa" tanya santri serempak.
"Suatu ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam berkata, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya, sehingga dihisabnya paling lama" ucap Haddad.
"Bukan hanya manusia yang akan di hisab barang juga di hisab, bahkan pakaian, tas, sepatu dan segala aksesoris, perabotan rumah, perabot dapur pun sama. Barang-barang yang menumpuk, tidak pernah dipakai menjadi tidak memiliki manfaat dan ini bisa menjadi bagian dari perhitungan hisab harta kita kelak di akhirat, maka dari itu jika memang kita masih punya barang atau pakaian lebih baik kita pakai saja yang ada jangan segala di beli kalau memang kita tak terlalu membutuhkan nya jadi jangan segala di pakai, dan kalau memang ada baju bekas yang masih berada di rumah jangan biarkan tersimpan begitu saja maka dari itu semua pakaian itu akan terkena hisab juga karena barang itu tak bermanfaat bagi kita, ada baik nya kalau kita sumbangkan saja pada orang yang lebih membutuhkan karena akan lebih bermanfaat" ucap Haddad.
"Ustadz mau tanya, kalau misal kita memberi pada orang lain tapi orang itu tak pernah menghargai barang kita, misal aku memberi kan dia barang tapi dia malah membakar atau memberikan pada orang lain apa salah kalau kita nantinya tak memberi lagi" tanya salah satu santri.
"Begini setelah kita memberi barang atau sesuatu pada orang lain, maka barang yang kita berikan itu sudah bukan lagi milik kita tapi milik orang lain jadi terserah orang lain mau barang itu di apa kan" ucap Haddad.
"Misal begini kamu memberikan pensil pada ku, jadi pensil ini milik siapa" tanya Haddad sambil memegang pensil.
"Milik ustadz" jawab nya.
"Bukan milik kamu" tanya Haddad.
"Bukan" ucap nya menggeleng.
"Ini jadi milik aku, nah karena aku punya pensil dan barang ini jadi tak berguna maka aku berikan pada dia, apa pensil ini masih milik ku" tanya Haddad.
"Buka Ustadz milik dia" ucap salah satu santri.
"Ya jadi begitu, kamu yang memberi pensil tak berhak menyalah kan aku kalau aku berikan lagi pada orang lain dan aku jangan marah kalau misal pensil ini di berikan lagi pada orang lain" ucap Haddad.
"Oh jadi begitu" ucap nya.
"Paham" tanya Haddad.
"Paham ustadz" ucapnya.
"Mau di apa kan barang nya tak masalah karena kita sudah memberikan nya dengan ikhlas maka kita tak boleh mengungkit nya lagi, maka dari itu penting nya memberi barang pada orang yang membutuhkan kan karena akan lebih bermanfaat" ucap Haddad.
Kringgg..
Jam pergantian pelajaran sudah berbunyi.
"Hanya ini yang bisa aku sampai kan Assalamualaikum" ucap Haddad.
"Waalaikum salam" serempak.
Haddad keluar dan di saat bersamaan Husna datang ke sana, mereka saling tatap beberapa detik lalu Haddad memaling kan Wajah nya.
Husna hanya bisa menarik nafas kasar saja karena hubungan mereka tak seindah yang santri lain harap kan apa lagi Haddad hanya menganggap Husna sebagai teman tidur dan teman bicara saja.
"Assalamualaikum" ucap Husna.
"Waalaikum salam" serempak.
"Baik lah sekarang pelajaran ku" ucap Husna.
Mereka belajar selama satu setengah jam, setelah itu mereka istirahat.
Setelah istirahat Husna masih berada di kelas ini padahal para santri sudah tak ada di sana.
"Ning Husna" sahut Rosa yang baru saja datang ke pesantren karena selama ini Rosa cuti.
__ADS_1
"Ning Rosa kapan datang" tanya Husna.
"Baru saja, aku dengar kau datang jadi aku langsung ingin menemui mu" ucap Rosa.
"Oh bagai mana kabar orang tua mu" tanya Husna.
"Baik" ucap Rosa.
"Lalu Ning bagai mana rumah tangga mu apa sangat menyenangkan menjadi istrinya Ustadz ternama" tanya Rosa.
"Kenyataan nya tak seindah keinginan ku Ning" ucap Husna.
"Apa Ustadz Haddad tak baik pada mu" tanya Rosa.
" Bukan tak baik tapi dia belum bisa mencintai ku, kau tau kan pernikahan kami hanya terpaksa saja dan aku sangat yakin kalau hati Ustadz Haddad masih pada Zia, aku paham Ning aku juga lihat kalau sekarang Zia menjauh pada Ustadz Haddad namun sayang nya Ustadz Haddad seakan susah untuk melupakan nya" ucap Husna.
"Apa ini salah Zia" tanya Rosa.
"Tidak bukan salah Zia tapi memang hati Ustadz Haddad saja yang belum bisa mencintai ku" ucap Husna.
"Aku yakin Ustadz Haddad bisa mencintai mu" ucap Rosa.
"Amin" ucap Husna.
Sekarang Zia tengah menikmati cemilan yang baru saja dia beli tapi sekarang Zia merasa kesepian, entah apa yang sekarang tengah Zia rasakan karena rasa nya ada sesuatu yang hilang di hari hari Zia.
"Bosan" ucap Zia sambil melamun.
"Bosan kenapa" tanya Rena.
"Oh aku tau kak Zia bosan karena apa" ucap Gita.
"Apa" tanya Zia dan Rena.
"Karena Gus Adam nya tak ada" ucap Gita.
"Ya ada benar nya juga" ucap Rena.
"Ya aku merasa sangat bosan sekali" ucap Zia.
"Kak dari buku yang pernah aku baca katanya kalau seseorang merasa kehilangan saat seseorang pergi maka orang itu tandanya sudah jatuh cinta" ucap Gita.
"Tapi Git masa sih aku begitu karena kan Gus Adam juga baru beberapa jam pergi, kenapa aku se bosan ini" ucap Zia menempel kan tangan nya di dagu.
"Memang begitu kalau jatuh cinta kak satu jam saja terasa satu hari" ucap Gita.
"Tapi saat aku cinta sama seseorang aku tak pernah merasakan ini" ucap Zia.
"Karena merasa bukan jodoh kakak dan Gus Adam itu benar benar jodoh kakak" ucap Gita.
"Ya terserah lah" ucap Zia.
"Tenang kak tinggal dua puluh sembilan hari lagi" ucap Rena.
"Masih lama Ning" ucap Zia.
Mata Zia menatap pada seorang wanita yang menggendong anak laki laki, bahkan para santri laki laki membawakan koper dan tas nya.
"Entah" ucap Rena.
"Mau apa dia ke sini" tanya Gita.
"Apa dia guru baru" tanya Zia.
"Ah gak mungkin karena kan tak ada guru yang keluar" ucap Rena.
"Sudah lah nanti juga pasti tau" ucap Zia.
Mereka kembali duduk di depan kelas.
Hanya cemilan saja yang menemani mereka karena tadi pagi mereka sudah makan jadi sekarang mereka masih merasa kenyang.
"Tadi siapa yang menggurui kelas kak Zia" tanya Rena.
"Ustadz Haddad" ucap Zia.
"Oh aku tadi belajar Inggris" ucap Rena.
"Oh ya" tanya Zia.
"Ya aku tak bisa belajar ini" ucap Rena.
"Oh ya kak saat kakak di luar negeri dulu apa kakak makan nasi" tanya Gita.
"Tentu saja" ucap Zia.
"Apa di sana ada nasi" tanya Gita.
"Tentu saja ada" ucap Zia.
"Tapi yang aku lihat di film film aktor semua memakan roti" ucap Gita.
"Ya tapi tak semua" ucap Zia.
"Oh kalau lihat film aku lebih suka nonton Drakor" ucap Gita.
"Ya kau benar kalau saja Abah boleh kan aku nonton mungkin aku juga akan nonton " ucap Rena.
"Lalu kenapa Abah tak ijin kan" tanya Zia.
"Ya mungkin Film orang tak seperti film azab di kita kak" ucap Rena.
" Hahah kalian ini" ucap Zia tertawa.
"Oh ya kak di mana kakak dulu tinggal" tanya Gita.
"Kanada" ucap Zia.
"Jauh ya" ucap Gita.
"Ya tentu saja" ucap Zia.
__ADS_1
Zia yang sekarang masih di sana di kaget kan dengan keberadaan anak kecil yang tak jauh dari nya.
"Anak siapa itu" tanya Zia.
"Kaya anak tadi" ucap Rena.
"Ya yang di bawa ibu ibu tadi" ucap Gita.
"Arman" teriak ibu tadi mencari cari anak yang bernama Arman.
"Itu ibunya" ucap Rena.
"Bu ini anak nya" Sahut Gita.
Ibu itu datang ke sana.
"Arman ya ampun kau jangan na kal malu di sini itu kita hanya sebagai tamu" ucap Ibu itu.
"Bu apa Ibu guru baru" tanya Rena.
"Bukan saya Nirvana saya istri Ustadz Yunus" ucap nya.
"Istri" ucap Rena.
"Ya saya istri muda nya" ucap Nirvana itu.
Zia mendekat pada Nirvana itu.
"Aku rasa usia kita tak beda jauh" tanya Zia.
"Aku dua puluh empat tahun" ucap Nirvana.
"Kalau begitu sama" ucap Zia.
"Oh kamu guru" tanya Nirvana.
"Bukan aku santri" ucap Zia.
"Oh baik lah aku akan ke sana dulu" ucap Nirvana.
"Ya" ucap Zia.
Zia menatap pada Nirvana,
" jadi ini istri muda Ustadz Yunus lalu di mana istri tua nya" gumam Zia.
"Ning" sahur Zia pada Rena dan Gita yang sekarang akan masuk ke dalam kelas nya.
"Ya kak" tanya Rena.
"Di mana istri tua ustadz Yunus" tanya Zia.
"Ada di kampung ini" ucap Rena.
"Oh" ucap Zia.
Kringg
Bel masuk berbunyi.
"Kak aku akan masuk kita bicara lagi nanti" ucap Rena.
"Ya" ucap Zia.
Zia kembali ke kelas nya, Zia melihat Ainun yang sekarang berada di kelas.
"Dimana kamu saat tadi istirahat" tanya Zia.
"Zia aku menemui Fauzi" ucap Ainun.
"Ada apa" tanya Zia.
"Tidak ada" ucap Ainun.
"Oh baik lah" ucap Zia.
Sedangkan sekarang Adam masih berada di dalam mobil Umum yang akan membawa mereka ke bandara internasional di ibu kota.
"Gus apa kau tak melupakan sesuatu" tanya Yasya teman Adam yang ikut ke luar negeri bersama dengan Adam.
"Tidak aku sudah mengecek lagi semuanya" ucap Adam.
"Ya aku harap kita bisa banyak belajar ilmu di sana" ucap Yasya.
"Ya aku juga begitu" ucap Adam.
"Apa kau punya laptop" tanya Yasya.
"Tidak" ucap Adam menggeleng.
"Kata kakak aku kalau kita ingin Daring maka kita harus punya laptop karena ponsel saja gak akan cukup menyimpan data nya Gus" ucap Yasya.
"Oh ya lalu bagai mana kalau tak punya" tanya Adam.
"Santai saja kita beli di Indonesia nanti" ucap Yasya.
"Ya" ucap Adam.
Jujur saja sebenarnya uang Adam sangat pas pasan Adam tak akan mampu membeli laptop di sana apa lagi harga di sana pasti lebih mahal beda dengan di Indonesia.
Walau pun Adam orang kaya tapi Adam tak nampak seperti orang kaya bahkan Abah juga yang punya pesantren terlihat layak nya seorang Ustadz pada umumnya.
Bahkan Adam sejak kecil pun sudah di ajar kan keras oleh Abah, hingga sampai sekarang kalau Adam ingin sesuatu maka Adam akan kerja dan mengumpulkan uang sendiri.
Namun baru sekarang Abah memberikan uang bekal untuk Adam dan jumlah nya lumayan besar untuk Adam.
Adam merasa kalau Abah mendukung keinginan nya itu, kalau memang uang tabungan Adam untuk Nikah tak terpakai saat di luar negeri rencana nya Adam akan langsung menikahi Zia saat sudah pulang dari luar negri.
itu pun kalau keluarga Zia siap dan menerima lamaran Adam kalau tidak maka Adam akan mencoba lagi sampai keluarga Zia bisa menerima nya.
karena menurut Adam orang tua Zia pasti akan menerima nya karena dengan alasan apa mereka akan menolak Adam.
__ADS_1
bersambung..