Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 147


__ADS_3

Brughh


"Suara apa itu" gumam Zia sambil memeluk Adam.


Adam membalas pelukan Zia namun tetap saja Adam masih tidur bahkan dia tidur sangat nyenyak.


"Zia mungkin itu hanya angin saja" batin Zia meyakin kan supaya tak takut lagi.


Zia mencoba memejamkan mata nya namun tak bisa juga.


"Ya Alloh apa salah aku" gumam Zia.


Zia membaca Al Fatihah di sambung dengan Doa tidur.


": Bismika Allâhumm ahyâ wa amût,"


Zia juga membaca kan Surat tiga Kul.


Setelah itu Zia membaca Syahadat sebanyak tiga kali dan di akhiri dengan Ayat kursi yang menutup Doa nya.


Zia merasa sedikit lebih baik kan namun tetap saja rasa takut nya masih ada.


Zia memejamkan matanya namun suara suara dari luar membangun kan nya lagi.


"Apa itu" gumam Zia melihat ke arah sekeliling namun tak ada.


"Gus bangun" ucap Zia membangun kan Adam.


"Apa sayang aku ngantuk" ucap Adam yang langsung memunggungi Zia.


"Gus" ucap Zia yang semakin ketakutan.


Adam bangun dia menatap pada Zia yang sekarang masih membuka mata nya.


"Apa" tanya Adam lembut padahal hatinya sangat ingin marah karena tidur nya di ganggu oleh Zia.


"Ada suara" ucap Zia.


"Suara apa" tanya Adam.


"Tadi kaya ada yang jatuh terus ada suara ribut kaya gesekan kayu" ucap Zia.


"Zia sudah malam ayo tidur jangan gadang kita harus sahur dua jam lagi" ucap Adam.


"Gus ayo lah" ucap Zia.


"Apa sayang" tanya Adam.


"Peluk" ucap Zia yang pasrah saja karena kasihan pada Adam yang masih mengantuk.


Adam memeluk Zia dengan sangat erat.


"Kenapa aku jadi penakut begitu" gumam Zia.


Zia memejamkan matanya sambil melantunkan Dzikir pelan.


Hingga tak terasa Zia tertidur pulas namun saat Zia tertidur sekarang sudah waktunya Sahur.


Abah sudah berada di mesjid untuk membangun kan Sahur, Adam sudah bersiap akan sahur namun Zia sangat susah untuk bangun karena tidur larut malam.


"Zia bangun" ucap Adam membangun kan Zia.


Namun tak ada jawaban dari Zia, Adam memutuskan untuk makan bersama dengan Umi dan Abah terlebih dahulu.


"Adam di mana Zia" tanya Abah.


"Masih tidur" ucap Adam.


"Kenapa tak di bangun kan" tanya Umi.


"Kasihan Umi aku akan bangunkan dia beberapa menit lagi, semalam Zia tak tidur" ucap Adam.


"Kenapa" tanya Umi.


"Entah tapi katanya ada suara lah ada itu lah ada ini lah" ucap Adam.


"Kau bangun" tanya Abah.


"Bangun Abah tapi kata Zia tidur lagi saja Gus" ucap Adam.


"Jangan bohong" ucap Abah yang tau pada Sikap Adam.


"Gak bohong Abah beneran Zia juga gak minta apa apa" ucap Adam.


"Baiklah biarkan beberapa menit setelah itu bangunkan lagi Zia" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


Mereka semua makan di sana, bahkan Rena juga ada di sana dia tak bicara apa apa karena baru bangun tidur Rena jarang sekali banyak bicara.


Hingga selesai makan Adam masuk lagi ke dalam kamar karena akan membangunkan Zia untuk Sahur.


"Bangun Zia mumpung ada waktu beberapa menit lagi" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia menggeliat.


"Ayo cepat sudah pukul empat pagi" ucap Adam.


"Hah yang benar saja" tanya Zia yang langsung bangun.

__ADS_1


"Ya" ucap Adam.


Zia langsung bangun dan secepat nya makan karena takutnya cepat Imsyak.


"Gus aku masih mengantuk" ucap Zia saat sudah selesai makan dan sekarang juga sudah Imsyak.


"Sholat Subuh dulu ya" ucap Adam.


"Ya Ayo" ucap zia.


Setelah selesai sholat subuh Zia langsung tidur pulas hingga siang hari.


Adam bersama dengan Abah membersihkan mesjid untuk nanti Sholat idul Fitri karena para warga Pasti akan datang ke sana.


Karena setiap tahun biasanya para warga melaksanakan Sholat idul Fitri di sana karena Mesjid di pesantren sangat besar dan mampu menampung warga di sana.


Zia baru saja bangun dari tidur nya, dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi.


"Astaghfirullah aku baru Bagun" gumam Zia.


Zia langsung keluar dari kamar nya dia melihat tak ada siapa siapa di rumah itu.


Tiba tiba saja Zia melihat sebuah bayangan yang melintas di hadapannya.


"Aaaaa" Zia berteriak nafas nya tersengal senggal melihat hal itu


Zia terduduk di lantai sambil memeluk pahanya, dia sangat ketakutan apa lagi dia punya trauma pada masa lalunya.


Keringat Zia bercucuran bahkan sampai membasahi kening nya.


Zia terbangun dari duduknya dia hendak keluar namun.


Brakk


Pintu rumah itu tertutup dengan sendirinya, membuat Zia semakin ketakutan karena hal itu.


"Gus Adam" teriak Zia dari dalam Rumah sambil menutup telinga nya karena takut.


Adam yang tengah di mesjid pun hawar hawar mendengar teriakkan dari Zia.


"Ada apa Dam" tanya Abah yang juga mendengar Suara teriak kas Zia.


"Seperti nya suara Zia" ucap Adam yang langsung pergi ke sana berlari menuju ke arah rumah.


Adam membuka pintu itu Adam terkejut melihat Zia yang pingsan karena ketakutan.


"Astaghfirullah Zia" ucap Adam yang langsung merangkul Zia membawa nya ke dalam pelukannya.


Adam menepuk pelan pipi Zia guna membangun kan nya, namun Zia tak bangun bangun juga Adam membaringkan Zia di kursi yang ada di sana.


"Bangun Zia" ucap Adam.


Rena yang dari tadi berada di kelas bersama umi masuk ke dalam rumah karena ingin mengambil cangkul.


"Gus kak Zia kenapa" tanya Rena yang langsung mendekat pada Zia.


"Pingsan" ucap Adam.


"Kak bangun kak" ucap Rena.


Adam menggosok gosok tangan Zia dengan tagan nya.


"Gus coba dengan minyak kayu putih" ucap Rena.


"Ya" ucap Adam yang langsung mengambil minyak kayu putih di dalam kamar nya.


Adam mengoles kan pada kening dan pelipis Zia.


"Zia berkeringat" ucap Adam.


Dia langsung membuka kerudung Zia yang melekat di kepala Zia.


"Zia bangun lah" ucap Adam.


"Apa perlu aku panggil umi" tanya Rena.


"Tolong panggil kan" ucap Adam.


"Ya" ucap Rena.


Adam kembali membangun kan Zia, tetap saja tak ada jawaban dari Zia.


Sedangkan Rena sekarang dia berlari ke arah Umi yang sekarang sudah ada di halaman pesantren dekat dengan pintu gerbang pesantren.


"Umi" sahut Rena.


"Apa Ning jangan lari" ucap Umi.


"Umi, kak Zia dia pingsan" ucap Rena.


"Apa" tanya Umi terkejut.


"Ayo umi kita lihat" ucap Rena.


"Ya ayo" ucap Umi.


Mereka langsung menuju ke arah rumah,


"Dam kenapa Neng Zia" tanya Umi.

__ADS_1


"Dia pingsan umi" ucap Adam.


"Ya ampun ada apa ini" tanya Umi yang langsung mengecek suhu tubuh Zia.


"Gak panas cuman Zia berkeringat" ucap Umi.


"Kira kira kenapa Kak Zia dia seperti melihat hantu saja" ucap Rena.


Adam mulai merasa kan hal aneh saat Rena menyebutkan dengan kata hantu.


Lalu Adam teringat dengan pertanyaan Zia yang semalam menanyakan.


"Gus apa benar di pesantren ini ada hantu" tanya Zia yang selalu terngiang ngiang di pikiran Adam.


Adam mulai berpikir lagi tentang Semalam Zia yang tak bisa tidur karena ketakutan.


"Umi Zia punya trauma apa ini karena trauma nya" tanya Adam.


"Trauma apa" tanya Umi.


"Trauma pada masa lalunya Umi" ucap Adam.


"Kenapa begitu" tanya Umi.


"Aku gak tau pasti tapi kata Zia sendiri begitu, selain itu juga Zia Sangat Takut dengan kegelapan katanya kalau gelap dia selalu melihat mahluk halus" ucap Adam.


"Masa sih ini kan siang" ucap Umi.


"Entah lah" ucap Adam.


Tiba tiba saja tangan Zia bergerak mata nya bangun Zia melihat ada Adam juga di sisi nya.


"Gus" ucap Zia yang langsung bangun dan memeluk Adam.


Sebenarnya ada rasa malu pada diri Adam saat melakukan pelukan di hadapan Umi dan Rena namun Adam tak mungkin membiarkan Zia yang sekarang tengah ketakutan itu.


"Gus aku melihat ada hantu" ucap Zia.


"Di mana" tanya Adam.


"Ada tadi di sini" ucap Zia.


"Gak ada Zia, jangan takut ada aku" ucap Adam.


"Benar kata Ibu itu" ucap Zia.


"Apa kata Ibu itu Neng" tanya Umi.


"Ibu kata Ibu itu kalau di pesantren ini ada hantu, ada kuntilanak yang melayang dan ada genderewo juga dia ada di dekat pohon itu" ucap Zia.


"Neng itu hanya mitos itu hanya cerita bohong saja, tak ada hal yang seperti itu umi bahkan sudah lama di sini gak ada yang seperti itu" ucap Umi.


"Ada Umi tadi aku lihat" ucap Zia.


"Istighfar Zia banyak berdoa gak ada yang seperti itu di sini" ucap Adam.


"Tapi gus aku takut" ucap Zia.


"Jangan Takut ada aku" ucap Adam.


"Kira kira ibu siapa yang sudah menyebar kan berita ini" tanya Umi.


"Aku gak tau Umi" ucap Adam.


"Apa ibu yang waktu di pengajian bicara dengan kak Zia, aku sempat lihat mereka bicara seperti nya serius" ucap Rena.


"Mungkin saja karena malam hari nya Zia bertanya apa di pesantren ini banyak hantu, Begitu katanya" ucap Adam.


"Tak benar ibu itu" ucap Umi.


"Ya ja hat sekali orang itu" ucap Rena.


"Kau tau orang nya, nama nya kau tau Ning" tanya Umi.


"Tidak Umi kayanya orang baru" ucap Rena.


"Hah kalau saja Umi ketemu sama orang itu umi pasti marahi dia" ucap Umi.


"Sudah lah tak usah di pikirkan" ucap Adam.


Adam menatap pada Zia yang sekarang mulai tenang.


"Zia mau tidur lagi aku temani ya" ucap Adam.


"Boleh" ucap Zia.


mereka masuk kedalam kamar Adam setia menunggu Zia yang sekarang tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Adam mengelus kepala Zia dengan lembut.


"jangan takut ada aku" ucap Adam lagi.


Adam berdzikir dengan suara pelan sambil menemani Zia yang sekarang berbaring di samping nya.


sebenarnya Adam merasa kasihan pada Zia, Adam juga marah pada Ibu itu karena sudah menyebar mitos apa lagi Zia sangat ketakutan.


"astaghfirullah ada orang seperti dia yang membohongi Zia yang sudah jelas jelas Zia punya trauma, semoga ucapan nya itu segera di ampuni Ya Alloh" ucap Adam berdoa.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2