Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 41


__ADS_3

Sore hari para santri sedang belajar nun mati dan Tanwin, bahkan Zia pun mengikuti tetapi Zia tak tau apa saja.


Zia hanya menatap pada para santri yang mulutnya kumat kamit karena sedang membaca tulisan tentang Tanwin di bukunya masing masing.


"Kak Zia pakai punya ku" ucap Gita.


"Boleh kah kalau kamu" tanya Zia.


"Aku ada dua kak, kemarin aku menyalin ke buku yang ini, karena buku itu sudah penuh" ucap Gita.


"Terima kasih Gita" ucap Zia.


Zia membaca buku itu.


"Nun mati dengan tanwin ada empat, yang pertama idzhar, Idghom, iqlab, ikhfa" ucap Zia.


*Idzhar artinya bayan atau jelas, Ada enam huruf izhar, yaitu hamzah (ء), kha (ح), ha (خ), ain (ع), ghain (غ), dan ha' (هـ).


Contoh bacaan idzhar.


مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ


Arab latin: Mā agnā 'an-hu (QS Al Lahab: 2).


*Idghom artinya idkhal atau memasukan, Idghom di bagi menjadi dua bagian yaitu,


--idgham bigunnah yaitu jika nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf ya (ي), nun (ن), mim (م), dan wau (و), maka harus dibaca idgham disertai dengan dengung di hidung (gunnah).


Contoh bacaan idgham bighunnah:


أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ


Arab latin: Abī lahabiw wa tabb (QS Al Lahab: 1)


--idghom bilagunnah yaitu jika nun mati atau tanwin bertemu dengan lam (ل) dan ra (ر), maka harus dibaca idgham tanpa disertai dengung di hidung (gunnah).


Contoh bacaan idgham bilagunnah:


وَلَمْ يَكُنْ لَهُ


Arab latin: Wa lam yakul lahụ (QS Al Ikhlas: 4).


*Iqlab artinya mengubah atau memindah sesuatu dari asalnya, mengubah atau menggantikan nun mati menjadi mim disertai dengungan jika bertemu dengan huruf ba (ب).


Contoh bacaan iqlab:


مِنْۢ بَعْدِ


Arab latin: mimm ba'di (QS Al Bayyinah: 4).


*ikhfa artinya satru yang berarti menutupi atau menyamarkan. Adapun menurut istilah, ikhfa adalah menyamarkan nun mati atau tanwin karena muncul suara dengungan (gunnah) jika bertemu dengan 15 huruf.


Huruf ikhfa antara lain kaf ( ك ), qaf ( ق ), fa' ( ف ), zha ( ظ ), tha ( ط ), dhad ( ض ), shad ( ص ), syin ( ش ), sin ( س ), za' ( ز ), dzal ( ذ ), dal ( د ), jim ( ج ), tsa' ( ث ), dan ta' ( ت ).


Contoh bacaan ikhfa:


لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ


Arab latin: Laqad khalaqnal-insāna (QS At Tin: 4).


"Oh jadi ini kuncinya para santri bisa menjawab kalau ada pelajaran tajwid" gumam Zia.


"Baiklah sekarang kita akan belajar lagi, berkumpul dengan kelompok yang waktu itu sudah di buat oleh para senior" ucap Abah.


Semua santri langsung sibuk mencari kelompoknya yang berjumlah 18 orang itu, Zia pun langsung bergabung dengan yang lain.


Dan kali ini kelompok Zia akan di gurui oleh Husna karena sekarang hanya ada guru senior saja yang berada di sana karena guru yang biasa libur karena hari minggu.


"Hah dia lagi" gumam Zia.


"Baiklah tutup Al Quran kalian" ucap Husna.


"Wah kebetulan sekali Zia, kita ketemu lagi di sini" ucap Husna.


"Ya Ning" ucap Zia ketus.


"Baiklah aku akan bacakan dan kalian jawab ya, ini surat surat pendek" ucap Husna.


"Baik Ning" serempak.


"Aku akan bacakan Surat pendek Al Bayinnah Lam yakunil-lażīna kafarū min ahlil" tanya Husna.


"pada lafadz min Ahlil terdapat hukum tajwid idzhar halqi karena terdapat nun mati atau nun berharkat sukun bertemu dengan huruf a" jawab santri.


"Bagus, Lam yakunil-lażīna kafarū min ahlil-kitābi wal-musyrikīna munfakkīna ḥattā ta'tiyahumul-bayyinah, munfakkina adalah" tanya Husna.


"Ikhfa" jawab santri.


"Alasannya" tanya Husna.


" karena terdapat nun mati atau nun berharkat sukun bertemu dengan huruf fa" jawab nya.


"Rasūlum minallāhi" tanya Husna menatap pada seluruh santri.


"Idghom" ucap salah satu santri.


"Idghom apa" tanya Husna.


"Idghom bigunnah".


"Alasannya kenapa Idgham bigunnah" tanya Husna.


"karena terdapat tanwin (dhammatain)  bertemu dengan huruf ma" ucap santri.


"Ya baru tiga orang kan, yang ketiga orang tadi tak bisa menjawab lagi dan yang harus menjawab kalian yang belum menjawab" ucap Husna.


"Rasūlum minallāhi yatlū ṣuḥufam muṭahharah, suhufam mutahharah" tanya Husna.


"Idghom bigunnah karena tanwin Fathatain bertemu dengan huruf ma" jawab santri.


"Ya benar" ucap husna.


"Fīhā kutubun qayyimah" tanya Husna.

__ADS_1


"Ikhfa, alasannya kare.." ucap santri terpotong.


"Tak apa jangan beri alasan waktunya sebentar lagi" ucap Husna.


"Wa mā tafarraqal-lażīna ūtul-kitāba illā mim ba‘di mā jā'athumul-bayyinah, mim ba'di adalah" tanya Husna.


"Iqlab".


"Wa mā umirū illā liya‘budullāha mukhliṣīna lahud-dīn(a), ḥunafā'a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu'tuz-zakāta wa żālika dīnul-qayyimah(ti).


Innal-lażīna kafarū min ahlil-kitābi wal-musyrikīna fī nāri jahannama khālidīna fīhā, ulā'ika hum syarrul-bariyyah(ti). Min ahlil adalah" tanya Husna.


"Idzhar halqi" jawab santri.


"Zia kenapa tak menjawab" tanya Husna.


Zia hanya diam saja karena Zia tau kalau Husna hanya akan membuatnya marah saja, padahal Zia tak pernah membuat salah pada Husna tapi Husna selalu saja mengusik Zia.


"Apa kamu gak bisa Zia" tanya Husna.


"Ning jangan begitu aku tau aku tak bisa makannya aku tak menjawab, aku tau kau hanya ingin membuat aku malu saja" ucap Zia kesal.


"Apa salah jika aku bertanya" tanya Husna menatap pada Zia.


"Bukan salah Ning tapi kau terlalu menyalahkan ku, kau selalu bertanya pada ku padahal kau sendiri tau jawabannya" ucap Zia.


"Lalu" tanya Husna.


"Ya aku gak bisa, kau puas" ucap Zia sedikit meninggikan suaranya karena jarak mereka juga cukup jauh.


"Makannya belajar Zia" ucap Husna.


"Jangan mentang mentang kau bisa kau menyepelekan aku Ning" ucap Zia.


"Tidak aku hanya mengingatkan saja" ucap Husna.


"Apa salah ku pada mu Ning sampai kau se begitu benci pada ku" ucap Zia.


"Aku tak benci hanya saja kau yang terlalu baperan" ucap Husna.


"Aku tau siapa yang benci pada ku dan siapa yang suka pada ku, dan kau sangat memperlihatkan benci mu itu" ucap Zia dengan mendekat pada Husna karena Husna tau Zia mendekat Husna pun berdiri mensejajarkan tinggi badannya.


"Kau salah sangka" ucap Husna.


"Salah sangka bagaimana bukan kah kau yang mulai duluan, apa kau tak punya teman untuk kau ajar bertengkar" ucap Zia.


Karena Kesal Husna mendorong Zia hingga Zia terjatuh ke lantai, namun bukan Zia namanya kalau hanya diam saja.


Zia langsung bangkit lagi dan mendorong Husna namun hanya perlahan.


Husna langsung menarik kerudung Zia yang sekarang Zia pakai.


"Berani nya kau" geram Zia.


Zia mendorong Husna hingga mentok di dinding, lalu Zia menarik rambut Husna yang tertutup kerudung.


"Aahh Zia lepaskan sakit" ucap Husna berontak.


"Lain kali cari lah lawan yang se imbang Ning" ucap Zia.


Semua santri langsung mendekat dan mencoba memisahkan kedua wanita yang sedang berkelahi itu.


Adam maju ke depan dan melepaskan tangan Zia yang sekarang sedang menarik kerudung Husna.


"Lepaskan Ning Husna Zia" ucap Adam.


"Gus bukan aku yang salah" ucap Zia membela diri sendiri karena menurut Zia dia lah yang benar.


"Bohong Gus Zia yang salah" ucap Husna.


Adam melepas sorban yang berada di lehernya, dia memasangkan pada kepala Zia supaya menutupi kepala Zia.


"Ikutlah ke rumah Abah" ucap Adam.


"Baik Gus" ucap Husna.


Adam jalan di depan sedangkan Zia dan Husna jalan berjauhan.


"Gus aku tak salah" ucap Zia.


"Biar Abah yang menentukan Zia" ucap Adam.


"Tapi Gus" ucap Zia.


Namun Adam tak mendengarkan ucapan Zia karena Adam tak mau Husna sampai curiga kalau Adam membela Zia.


Padahal saat perkelahian itu Adam melihat jelas kalau Husna lah yang pertama mendorong Zia hingga terjatuh.


Namun Adam tak tau masalahnya.


Mereka bertiga masuk ke rumah Abah dan Abah ada disana karena sekarang Abah libur dan akan istirahat.


"Assalamualaikum Abah" ucap ke tiganya serempak.


"Waalaikum salam ada apa" tanya Abah.


"Mereka bertengkar Abah" ucap Adam.


"Duduklah" ucap Abah.


"Masalahnya apa" tanya Abah.


"Abah aku tak salah Zia yang salah" ucap Husna.


"Apa apaan kamu kan yang mendorong aku" uacp Zia.


"Jangan fitnah Zia" ucap Husna.


"Kau li cik Ning" ucap Zia.


"Sudah diam" ucap Adam meninggikan suara nya dua oktaf.


Zia dan Husna hanya diam saja karena takut Abah akan marah, apa lagi tatapan Abah sudah mulai tajam pada keduanya.

__ADS_1


"Ning Husna silahkan bicara" tanya Abah.


"Abah Zia memfitnnah aku katanya aku selalu bertanya padanya, padahal kan aku bertanya karena aku ingin Zia bisa apa lagi Abah Zia selalu saja salah menjawab, tapi saat aku tanya barusan dia marah dan mendorong aku Abah" ucap Husna membela diri sendiri.


"Zia silahkan" ucap Abah pada Zia.


"Abah aku tak salah Ning Husna seolah mempermalukan aku Abah, tempo lalu juga pernah Ning Husna bertanya pada ku padahal dia sendiri belum menjelaskannya" ucap Zia yang mencekal sorban Adam yang sekarang menutupi kepalanya supaya tak jatuh.


"Lalu di mana kerudung mu" tanya Abah.


"Ning Husna menariknya jadi jatuh ke lantai" ucap Zia.


"Bukan aku Abah tapi Zia yang melakukannya sendiri" ucap Husna.


"Jangan Bohong Ning" ucap Zia.


"Tak bohong Abah" ucap Husna.


"Jika Abah simpulkan, di pihak Husna memang tak salah Husna mau kamu bisa Zia, jadi Husna bertanya pada mu, dan untuk pihak Zia tak ada salahnya Ning Husna untuk mengikuti ucapan Zia tadi sebelum bertanya lebih baik jelaskan dulu" ucap Abah.


"Abah aku tak salah" ucap Husna.


"Ning Husna kembali lah ke Madrasah" ucap Abah dengan terpaksa Husna keluar dari sana memuju Madrasah lagi.


Abah menatap pada Zia yang sekarang sedang menunduk.


"Zia" ucap Abah.


"Ya Abah, aku tak salah" ucap Zia.


"Zia sudah hampir satu bulan kau berada di pesantren ini, berapa banyak kasus yang melibatkan mu di dalamnya" ucap Abah.


"Ya Abah tapi untuk kali ini aku gak salah" ucap zia.


"Abah harap ini tak terulang lagi Zia, kau sudah besar kau sudah dewa sa Zia, kau bukan lagi anak kecil yang bisa mengadu pada orang tua mu saat ada orang yang menghina mu, kau sudah besar anggaplah hinaan orang itu sebagai motifasi agar hidup mu lebih baik dari sebelumnya, bukan seperti ini Zia" ucap Abah.


Zia hanya diam saja dan menunduk.


"Abah harap kau bisa mengontro lagi emosi Zia, jika ada yang menghina biarkan saja" ucap Abah.


"Ya abah" ucap Zia.


"Paham" tanya Abah.


"Paham" ucap Zia sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Baiklah ingat ucapan Abah" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Zia.


"Kembali lah ke Madrasah" ucap Abah.


"Baik Abah, Assalamualaikum" ucap Zia.


"Waalaikum salam" ucap Abah dan Adam sambil menatap pada Zia yang sekarang sudah berjalan keluar.


"Ada ada saja" ucap Abah tersenyum.


"Abah aku tau Zia tak salah" ucap Adam.


"Lalu kenapa kau tak membela Zia" tanya Abah.


"Aku tak mau membuat Ning Husna sakit hati saja Abah karena aku lebih membela Zia" ucap Adam.


"Biarkan ini terjadi, siapa tau saja kejadian ini bisa merubah Zia" ucap Abah.


"Amin" ucap Adam.


Setelah selesai belajar semua santri kembali ke kamarnya untuk istirahat, Zia juga sama dia langsung merebahkan badannya di atas ranjang.


"Kak Zia apa kakak tau kata santri yang lain saat Gus Adam memakai kan sorbannya pada kakak, kalian sangat romantis" ucap Rena.


"Kalian ini aku dan Adam sudah berteman jadi biasa saja" ucap Zia.


"Kak Zia tak tertarik pada Gus Adam" tanya Gita.


"Tidak, lagi pula aku suka pada Haddad" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Rena.


"Tapi kak Zia lebih cocok dengan Gus Adam" ucap Gita.


"Kami cocok itu kan menurut mu bukan menurut ku" ucap Zia.


"Jangan so jual mahal kak nanti suka baru tau rasa" ucap Rena.


"Kalian anak kecil tau apa soal pacaran" ucap Zia.


"Ya walau pun kita belum pernah pacaran tapi aku tau apa itu pacaran" ucap Gita.


"Apa jangan jangan kalian pernah pacaran" tanya Zia.


"Tidak" bantah keduanya.


"Hah aku cape aku akan tidur dulu bangunkan aku saat Adzan maghrib" ucap Zia.


"Jangan tidur jam segini kak kata orang di sini gak boleh tidur setelah Ashar pamali" ucap Rena.


"Baiklah aku tidur dengan kalian" ucap Zia.


"Maaf kami sibuk" ucap Gita.


"Awas kau" geram Zia.


Tanpa terasa Zia tertidur karena sangat lelah dan mengantuk lagi pula Zia tak percaya pada perkataan mistis.


Hingga adzan maghrib sudah ber kumandang zia masih tidur dengan pulas di ranjang kamarnya.


padahal sejak tadi Rena dan Gita membangunkan Zia tapi Zia tak bangun bangun, lalu Rena inisiatif membawa satu gelas air dan menciprat cipratkannya pada wajah Zia .


Akhirnya Zia bangun dan ikut sholat berjamaah, namun para santri menatap Zia dengan tatapan tak suka karena sudah berani pada senior sendiri.


Tetapi zia tak memperdulikannya, dia hanya melaksanakan Sholat dengan Khusyu, bahkan sampai Sholat Isya Zia mengikuti dengan fokus dan teliti.

__ADS_1


"aku heran dengan Ning Husna kenapa dia selalu ingin menghancurkan aku bahkan dia juga sangat senang jika melihat aku di permalukan" gumam Zia menatap pada Husna yang tak jauh dari sana.


Bersambung...


__ADS_2