Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 22


__ADS_3

Zia menemani Umi belanja pakaian untuk seserahan pernikahan Adam dan Marwah, Zia menatap Marwah dengan tatapan kesal karena bisa bisanya Marwah menutupi kejahatannya dengan kerudung dan cadarnya.


Padahal bagi Zia memakai kerudung itu menandakan kita menjadi seorang yang alim dan terbilang baik, namun namanya juga manusia pasti punya kesalahan.


"Bagaimana Neng Zia apa ini bagus di Badan Ning Marwah" tanya Umi pada Zia.


"Bagus Umi" ucap Zia.


"Baiklah kita ambil yang ini saja" ucap Marwah.


"Umi akan bayar ya" ucap Umi menuju pedagang nya untuk membayar.


"Aku saran kan secepatnya kau beri tau Umi" ucap Zia dengan berbisik pada Marwah.


"Diam" ucap Marwah.


"Andai saja kau tak memberikan aku kemarin Ning, mungkin aku tak akan se cerewet ini padamu" ucap Zia.


"Salah siapa" tanya Marwah.


"Salah mu Ning" ucap Zia.


Setelah selesai belanja beberapa setel baju dan kerudung, Umi dan Zia pulang ke pesantren begitu juga dengan Marwah, namun tetap saja yang membawa barang barang hanyalah Umi dan Zia karena Marwah sibuk menenteng satu kantong kresek kecil yang isinya minuman kesukaan Adam.


"Neng kita duduk dulu disana" ucap Umi pada Zia sambil menunjuk pada bangku yang berada di bawah pohon yang cukup besar.


"Umi aku akan ke pesantren dulu" ucap Zia.


"Mau apa" tanya Umi.


"Aku akan panggilkan santri untuk membantu kita, Umi lihat belanjaanya banyak dan jarak pesantren masih cukup jauh Umi" ucap Zia.


"Tapi kamu akan bulak balik Neng" ucap Umi.


"Tak apa Umi" ucap Zia.


Marwah duduk di samping Umi karena merasa kegerahan, padahal yang cape adalah Zia dan Umi tapi Marwah lah yang merasa kecapean.


Zia pergi dari sana menuju pesantren, karena ini lebih baik dari pada mengangkat kantong kresek yang sangat banyak dan hanya di bawa oleh dua orang.


Zia kasihan pada Umi, apa lagi Umi membawa sangat banyak barang tadi jadi Zia tak tega melihat Umi mengangkat yang berat sendirian.


Setelah menempuh jarak yang menghabiskan waktu tiga puluh menit, Zia sampai di pesantren.


"Gus" sahut Zia memanggil Fauzi.


"Ya Ukhti" tanya Fauzi.


"Bisa tolong aku dan Umi Gus" tanya Zia.


"Apa pun yang kau minta akan abang berikan wahai ukhti ku" ucap Fauzi.


"Umi belanja banyak jadi kita tak bisa membawanya berdua" ucap Zia.


"Baiklah ayo kita kesana" ucap Fauzi.


"Tunggu aku akan ajak Gus Adam" ucap Fauzi.


"Ya itu lebih baik" ucap Zia.


Mereka bertiga kembali ke posisi dimana tadi Zia meninggalkan Umi, dan benar saja Umi dan Marwah masih berada di sana.


"Umi kenapa tak telpon Adam" ucap Adam.

__ADS_1


"Umi gak bawa ponsel Dam" ucap Umi.


"Ayo kita pulang" ucap Adam sambil mengangkat barang belanjaan yang sangat banyak itu.


Fauzi juga membantu mengangkat belanjaan, hanya tinggal tiga kantong kresek saja yang tersisa.


"Biarkan yang ini" ucap Umi pada Adam yang akan mengambil kantong kresek yang tersisa.


"Baiklah" ucap Adam.


Umi mencoba menguji Marwah, apa Marwah mau membantunya karena saat Zia tak ada juga Marwah tak menawarkan segelas air pada Umi padahal Marwah sekarang sedang membawa air minum.


"Neng Zia bawa yang ini ya" ucap Umi.


"Baik Umi" ucap Zia.


"Ning..." ucap Umi terpotong saat melihat calon menantunya itu berjalan lebih dahulu menyusul Adam.


"Huhh" Umi menarik nafas dalam dalam.


"Ayo Umi, apa perlu aku bantu" tanya Zia.


"Tidak usah Neng Umi bisa membawa ini" ucap Umi menenteng dua kantong kresek yang cukup ringan.


"Apa ini calon menantuku" batin Umi menatap pada Marwah yang berjalan lebih dulu.


Umi menatap pada Zia.


"Aku lebih ikhlas Adam dengan Zia, Ya Alloh, walau pun Zia sedikit na kal tapi dia tau cara membantu orang lain walau pun Zia tak bisa memasak tapi Zia mau belajar, lalu Ning Marwah" batin Umi berdoa.


"Umi aku saran kan kita menanam pohon di halaman pesantren" ucap Zia yang menyadarkan lamunan Umi Arum.


"Ya Neng Umi juga berfikir begitu tapi dimana kita akan mendapatkan bibit tanaman" ucap Umi.


"Oh ya Umi maafkan aku, nanti aku tak bisa membantu cuci piring, aku akan mencuci pakian Umi, pakaian aku sangat banyak yang kotor" ucap Zia.


"Ya tak masalah" ucap Umi.


Mereka sampai di pesantren, waktunya semua santri istirahat karena sebentar lagi akan sholat Dzuhur.


Zia menyimpan belanjaan Umi ke rumah Umi dan segera keluar menuju kamarnya.


"Ukhti" sahut Fauzi yang melihat Zia sedang berjalan.


"Ya Gus" tanya Zia.


"Pipi mu merah, kau pasti sangat capek, aku bawa ini untuk mu" ucap Fauzi.


"Ahh terima kasih Gus kau sangat baik" ucap Zia meminum minuman botol dari Fauzi.


"Aku bawakan itu dengan penuh cinta" ucap Fauzi.


"Pantas rasanya masam Gus" ucap Zia.


"Ukhti kau bisa saja menggombal" ucap Fauzi.


Zia heran pada Fauzi, padahal niat Zia tak menggombal bahkan kata kata yang baru saja Zia lontarkan cukup menghina bagi yang paham, tapi Fauzi langsung salting.


"Aku permisi akan mencuci baju" ucap Zia.


Sedangkan Adam sekarang sedang duduk di rumahnya bersama dengan Marwah,


"Gus aku belikan ini untuk mu, ini minuman kesukaan kamu kan" ucap Marwah.

__ADS_1


"Wah kau masih ingat terima kasih Ning" ucap Adam.


"Sama sama" ucap Marwah.


"Oh ya Gus aku tak sabar ingin menikah bersama mu" ucap Marwah.


"Sabar, hanya menunggu empat hari lagi" ucap Adam.


Umi duduk disana dan ikut gabung bersama dengan Adam dan Marwah.


"Ning Marwah, Umi saran kan kau pulang ke rumah" ucap Umi.


"Kenapa" tanya Adam.


"Kalian akan menikah kan seharusnya kalian itu di pingit kalau bahasa sunda" ucap Umi.


"Apa maksudnya Umi" tanya Marwah.


"Maksudnya kalian tak boleh bertemu selama empat hari ini dan bertemu lagi nanti saat tanggal pernikahan" ucap Umi.


"Oh ya" tanya Adam.


"Ya".


"Baiklah aku akan pulang, selamat ketemu empat hari lagi calon imam ku" ucap Marwah pada Adam dan langsung pergi dari sana tanpa pamitan pada Umi.


"Umi Adam akan bersiap" ucap Adam.


"Ya" ucap Umi.


"Apa aku salah merestui Adam dengan Ning Marwah, tapi itu pilihan Adam" gumam Umi.


Sedangkan di luar pesantren Zia sudah menunggu Marwah keluar dari rumah Umi, karena jujur saja Zia sangat geram pada Marwah yang seperti setan berkedok malaikat itu.


"Ning Marwah" ucap Zia.


"apa lagi" tanya Marwah.


"terakhir kalinya aku ingatkan beri tau sekarang atau aku yang akan beri tau pada Adam" ucap Zia.


"apa kau tuli? Aku sudah ingatkan pada mu untuk Diam dan jangan campuri urusanku tapi kau nimbrung" ketus Marwah.


"aku hanya peduli pada Adam, pada keluarga Abah" ucap Zia.


"banyak ba cot kau" ucap Marwah menarik baju Zia sehingga membuat bajunya sobek.


"beraninya kau" ucap Zia.


"apa kau mau yang lebih dari ini" ucap Marwah.


Zia memegang tangan Marwah yang masih menarik bajunya, padahal cekalan tangan Zia sangat pelan, Marwah melihat kearah belakang ada Adam dan Haddad yang mendekat pada mereka.


Sebuah ide terlintas di pikiran Marwah, sedetik kemudian dia tersenyum tipis.


"tolongg..... Zia lepaskan.... Sakit" teriak Marwah kesakitan.


teriakan itu membuat semua santri langsung datang melihat apa yang terjadi.


Dengan sengaja Marwah membawa tangan Zia dan menamparkan pada Pipinya.


**plakk


Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2