
Zia memegang baju salin Adam di depan pintu kamar mandi, saat ini Adam di kamar mandi sangat lama sekali entah apa yang di lakukan Adam di dalam.
"Gus sudah" tanya Zia.
"Belum" ucap Adam.
Zia berjalan ke arah meja makan dia duduk di sana.
"Zia" ucap Adam.
Zia mendekat dan memberikan baju salin pada Adam.
Dengan cepat Adam memakai pakaian nya dan keluar dari kamar mandi.
"Masuk lah" ucap Adam.
"Kau tunggu saja di ruang tamu aku bisa sendiri" ucap Zia.
"Tak apa" tanya Adam.
"Tak apa Gus" ucap Zia.
Di ruang tengah keluarga Zia sedang berkumpul bahkan sebagian ada yang membereskan di luar.
Adam ikut gabung bersama dengan keluarga Zia.
"Nak Adam" tanya Puput.
"Ya" ucap Adam.
"Dulu aku pernah melihat mu saat aku tinggal di sini, dulu kau masih sangat kecil mungkin sekitar 4 tahun aku dulu masih SMP kaya nya" ucap Puput.
"Oh ya" tanya Adam.
"Ya aku tau kau sudah tampan sejak kecil jadi tak salah kalau kau makin tampan sekarang" ucap Puput.
"Kau terlalu banyak memuji" ucap Adam.
"Ini beneran loh" ucap Puput.
"Gus" teriak Zia dari dalam kamar mandi.
"Aku permisi dulu" ucap Adam.
"Ya".
Adam mendekat ke kamar mandi dan memberikan pakaian Zia pada Zia yang sekarang ada di dalam.
Setelah selesai mereka makan bersama, setelah selesai mereka menunggu Adzan Maghrib di kamar karena ini malam pertama bagi mereka jadi keluarga Zia tak bisa menganggu Zia dan Adam.
Mereka tak bicara, karena terasa sangat canggung saja apa lagi apa yang akan mereka bicara kan, Zia benar benar tak punya topik untuk bicara padahal sebelum menikah Zia sangat banyak bicara.
Adzan Maghrib sudah berkumandang di mesjid terdekat di sana.
"Ayo sholat aku akan jadi imam" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Mereka melaksanakan Sholat bersama hingga selesai Sholat isya.
"Amin" ucap mereka serempak saat Adam berhenti berdoa dan mengusap kan tangan nya pada wajah nya.
Adam melihat ke arah belakang, Adam menyodorkan tangannya pada Zia.
Zia yang paham pun langsung menyalami tangan Adam.
"Gus mau minum" tanya Zia.
"Tidak usah" ucap Adam.
"Lalu" tanya Zia.
"Aku mau tidur saja aku capek banget Zia, maaf ya" ucap Adam.
"Ya tak masalah lagi pula aku juga akan tidur" ucap Zia.
"Bagai mana mungkin malam pertama tapi tak melakukan apa apa" batin Zia.
Adam naik ke atas ranjang kamar itu, dia langsung tidur tanpa melihat Zia lagi karena dia sangat capek sekarang jadi dia tak memperdulikan posisi tidur nya.
Zia hanya menatap suami nya itu, bukan ini yang Zia ingin kan di malam pertama nya tapi Zia hanya bisa bersabar saja karena saat ini dia juga sangat lelah.
Malam harinya mereka tak melakukan apa apa hanya tidur saja sampai subuh.
subuh nya Adam sudah bangun dan menatap pada Jam dinding.
"Sudah pukul lima pagi, pasti sudah adzan" ucap Adam.
Adam menatap pada wajah cantik Zia yang sekarang tengah tertidur pulas.
"Sungguh tak ada ciptaan mu yang tak sempurna ya Rab" gumam Adam.
"Zia" ucap Adam menepuk nepuk Pelan pipi Zia.
"Ayo bangun sudah siang" ucap Adam.
"Ya lima menit lagi" ucap Zia yang masih tidur.
"Ayo Zia" ucap Adam.
Zia dengan terpaksa membuka matanya.
"Gus kau" ucap Zia yang langsung bangun saat di tatap oleh suami nya itu.
"Ayo Sholat" ucap Adam.
"Ya ayo" ucap Zia.
Zia hendak turun dari ranjang, namun tangan Adam menghentikan Zia.
Zia kembali duduk karena Adam menarik tangan nya.
Wajah Adam mendekat pada Zia.
Cup
Sebuah kecupan mendapat di pipi Zia membuat Zia seolah terbang ke atas awan, bahkan sekarang jantung nya berderak sangat kencang seperti mendapatkan sengatan listrik dari Adam.
"Kemarin di pelaminan aku tak sempat menci um mu sekarang aku tepati ucapan ku" ucap Adam.
"Hah" ucap Zia yang merasa sangat bahagia karena di ci um oleh Adam.
Adam mendekat kan kembali wajah nya pada Zia yang membuat Zia langsung menutup matanya, namun Adam tak melakukan apa apa dia hanya meniup bulu selimut yang ada di kerudung Zia.
Jujur saja bagi seorang wanita Zia menginginkan hal yang lebih, tapi sayang nya Adam dia langsung turun dari ranjang.
"Sekarang mau kan kau ikut aku ke pesantren" tanya Adam.
Zia membuka matanya dan melihat kalau Adam sekarang sudah berdiri di hadapan nya.
"Ke pesantren? Apa aku akan tinggal di kamar bersama Ning Rena dan Gita lagi" tanya Zia.
"Tentu saja tidak kau sekarang istri ku jadi kemana pun aku pergi kau harus ikut" ucap Adam.
__ADS_1
"Baik lah, lalu aku akan tinggal di rumah Umi" tanya Zia.
"Ya kau tak apa kan" tanya Adam.
"Tak masalah Gus" ucap Zia.
"Baik lah ayo sholat" ucap Adam.
"Ya aku nyusul".
Zia melihat suami nya yang sekarang sudah keluar dari kamar nya.
"Hanya ci uman saja aku pikir dia mau... Argh Gus Adam tak peka" gumam Zia.
Sedangkan di pesantren Abah mendapatkan kabar dari kerabat nya kalau sekarang Ustadz Zaki yang tak lain adalah kakak nya Abah sedang sakit, apa lagi jarak nya sangat jauh.
Kalau tak datang Abah pasti akan merasa berdosa karena tak datang saat kakak nya sakit tapi mau datang pun bagai mana juga karena jarak nya cukup jauh.
"Bagai mana Abah kita berangkat" tanya Umi.
"Abah masih Bingung kalau kita pergi bagai mana pesantren, dan para santri mau makan apa" tanya Abah.
"Abah, Bu Tati dan Bu Anis juga ada kan dia pasti akan datang dan masak di sini, kita bicarakan saja pada mereka kalau kita akan pergi dan soal masak biar mereka masak di rumah mereka saja, kita naik kan gajih mereka" ucap Umi.
"Tapi bagai mana Umi" ucap Abah.
"Bagai mana apa nya lagi" tanya Umi.
"Pesantren" ucap Abah menatap pada istrinya itu.
"Abah kita kan punya Adam Umi tau kalau adam pasti bisa mengurus pesantren apa lagi kan hanya beberapa hari saja kita di sana, percaya kan pada Adam, Abah sekalian kita uji Adam apa dia bisa mengurus amanah yang kita berikan" ucap Umi.
"Ya ide umi cemerlang" ucap Abah.
"Eh umi tea atuh" ucap Umi.
"Ya sudah Abah akan hubungi dulu Adam" ucap Abah.
"Ya".
📞📞
"Ya Bah ada apa" tanya Adam.
"Dam, Abah baru dapat kabar kalau Ustadz Zaki sekarang sakit dan dia minta Abah datang ke sana, Dam bisa datang ke sini Abah titip pesantren pada mu" ucap Abah.
"Tapi Abah" ucap Adam.
"Abah tau kau bisa maka dari itu Abah percaya kan pada mu" ucap Abah.
"Baik lah Abah, Adam akan ke sana" ucap Adam.
"Ya" ucap Abah.
📞📞
"Siapa" tanya Zia.
"Abah" ucap Adam.
"Ada apa" tanya Zia.
"Katanya Abah akan ke rumah Uwa Zaki jadi aku di beri tugas untuk menjaga pesantren" ucap Adam.
"Oh lalu" tanya Zia.
"Ya aku terpaksa harus ke sana" ucap Adam.
"Kau yakin" tanya Adam.
"Ya yakin" ucap Zia.
"Baik lah ayo bersiap" ucap Adam.
"Gus makan lah dulu" ucap Zia.
"Baik lah ayo" ucap Adam.
Mereka makan bersama dengan keluarga Zia di sana,.
"Mah di mana Alena dan Bibi Sarah" tanya Zia.
"Tadi pagi sekali mereka pulang Zia" ucap Nita.
"Oh" ucap Zia.
"Ayo makan nak Adam " ucap Topan.
"Ya" ucap Adam.
Mereka makan bersama di meja makan.
"Mah aku sama Gus Adam akan kembali ke pesantren sekarang" ucap Zia di sela sela makan nya.
"Sekarang" tanya Nita.
"Ya mah sekarang karena katanya Abah akan pergi menjenguk Uwa nya Gus Adam" ucap Zia.
"Oh, ya sudah Nak Adam titip Zia ya" ucap Nita.
"Ya Bu" ucap Adam.
"Kalau dia macam macam jitak saja kepala nya" ucap Rayhan.
"Kak ihh" ucap Zia.
"Apa" tanya Rayhan.
Adam hanya tersenyum saja menatap pada Zia dan kakak nya itu.
"Aku pasti akan jaga Zia" ucap Adam.
"Jangan terlalu di manja, Zia suka lupa diri" ucap Rayhan.
"Baik kak" ucap Adam.
"Kakak awas ya" ucap Zia.
Setelah selesai Adam dan Zia langsung mengemas pakaian Zia ke dalam tas karena akan pindah ke rumah Abah.
Hanya beberapa baju saja yang Zia bawa karena baju Zia semuanya masih ada di pesantren.
"Sudah" tanya Adam.
"Sudah ayo" ucap Zia.
Adam berpamitan pada Topan.
"Pak saya permisi saya akan bawa Zia ke pesantren, insya Alloh kalau ada waktu senggang kami akan sering datang ke sini" ucap Adam.
"Nak Adam titip Zia ya, maaf kan Zia kalau misal kan nanti ada kata kata Zia yang menyentuh hati mu atau ada sikap Zia yang membuat mu malu maaf kan dia" ucap Topan.
"Tak masalah pak, Sekarang Zia istri ku jadi dia sudah menjadi tanggung jawab ku" ucap Adam.
__ADS_1
"Ya" ucap Adam.
Adam dan Zia langsung berpamitan pada semua keluarga nya dan pergi dari sana menuju pesantren.
Adam membawa tas Zia sedang kan Zia sekarang berjalan di samping Adam, tak ada percakapan di antara mereka hanya suara langkah kaki saja yang terdengar sampai telinga mereka.
Bahkan Adam pun terasa sangat kaku karena baru kali ini dia merasakan pernikahan dengan teman sendiri, apa lagi Adam juga bingung mau bicara apa.
"Kau capek" tanya Adam.
"Tidak" ucap Zia.
"Oh".
Hanya itu saja percakapan yang terjadi di antara mereka, karena rasanya sangat canggung sekali bagi Adam untuk bicara banyak pada Zia, padahal sebelum menikah mereka bicara sangat banyak.
"Gus ada berapa saudara Abah" tanya Zia.
"Saudara Abah ada dua, pertama uwa Zaki terus bibi Sofi, jadi Abah anak kedua" ucap Adam.
"Oh jadi kamu hanya punya uwa dan bibi saja, lalu kalau Abah punya anak dua saja ya" tanya Zia.
"Ya aku dan Ning Rena" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
"Kau tau Zia kata orang orang rumah ini" ucap Adam menatap pada rumah kosong yang ada di sebrang jalan.
"Rumah siapa" tanya Zia.
"Rumah itu katanya ada hantunya" ucap Adam.
"Aaahh kau ini menakuti aku" ucap Zia.
"Gak lah aku hanya dengar kata orang saja" ucap Adam.
"Bagai mana kalau benar" tanya Zia.
"Tak mungkin Zia, tak semua orang dapat melihat hantu dan semacam nya" ucap Adam.
"Lalu" tanya Zia.
"Ayo percepat langkah kita, aku takut Abah keburu berangkat " ucap Adam.
"Tunggu Gus, di mana uwa mu itu berasal" tanya Zia.
"Uwa ku tinggal di kota Semarang" ucap Adam.
"Wah jauh ya" ucap Zia.
"Tentu saja" ucap Adam.
Mereka melangkah dan akhirnya Sampai juga di pesantren, sekarang semua santri sedang belajar dan Abah serta Umi sudah menunggu di depan rumah nya.
"Assalamualaikum, Abah maaf aku lama" ucap Adam.
"Waalaikum salam tak masalah Adam" ucap Abah.
"Zia ayo masuk" ucap Umi pada menantu baru nya itu.
"Ya Umi" ucap Zia.
"Maaf ya Umi sekarang akan ke kota Semarang karena Uwa nya Adam sakit, jadi kami bisa kan tinggal di sini bersama dengan Adam" ucap Umi.
"Ya umi tak masalah" ucap Zia.
"Baik lah Dam, Zia, Abah dan Umi akan berangkat sekarang takut nya ketinggalan Bus" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Adam menyalami tangan Abah dan Umi, begitu juga dengan Zia.
"Kami berangkat Assalamualaikum" ucap Abah dan Umi
"Waalaikum salam" serempak.
"Ayo masuk" ucap Adam.
"Apa aku akan belajar sekarang" tanya Zia.
"Kamu kan cuti jadi tak apa istirahat saja" ucap Adam.
"Oh baik lah" ucap Zia.
Zia dan Adam masuk ke dalam rumah.
"Ayo ke kamar" ucap Adam.
"Hah" tanya Zia yang merasa malu karena Adam mengajak Zia ke kamar.
Adam masuk lebih dahulu.
Zia menatap pada sekeliling kamar itu.
"Wah, Gus kau punya foto ku, aku tebak lokasi nya di Villa yang waktu itu kita datangi kan, tapi kenapa kau punya apa jangan jangan kau diam diam memotret aku ya" ucap Zia.
"Engak, yang foto Ning Rena di ponsel ku karena kau istri ku jadi apa salah nya kalau aku cetak" ucap Adam.
"Oh ya, aku fikir" tanya Zia.
"Fikir apa" tanya Adam.
"Hah tak ada" ucap Zia.
"Baik lah bereskan pakaian mu di lemari, lemari itu banyak yang kosong kamu simpan saja di sana" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Zia.
Zia membereskan pakaian nya pada lemari di dalam lemari pakaian Adam hanya sedikit saja bahkan Zia bisa menghitung nya,
"Gus pakaian mu hanya sedikit" tanya Zia.
"buat apa banyak banyak" ucap Adam.
"bukan begitu maksud ku apa kau hanya pakai baju segini saja" tanya Zia.
"Zia buat apa banyak banyak aku hanya pakai baju itu itu saja karena banyak pun buat apa Zia karena aku gak pakai semua" ucap Adam.
Zia memegang perut nya.
"Gus perut ku sakit aku akan ke kamar mandi dulu" ucap Zia.
"ya" ucap Adam.
Zia ke kamar mandi, Adam mendekat pada tas Zia dan dia pun membantu Zia memasukan pakaian nya pada lemari.
namun ada pakaian Zia yang membuat Adam heran.
"baju apa ini bahan nya nerawang begini apa Zia pakai yang ini" gumam Adam.
karena tak mau banyak bicara Adam pun memasukan semua pakaian Zia ke dalam lemari nya itu.
**bersambung..
pakaian apa itu Gus**???
__ADS_1