
Setelah selesai sholat isya Benar saja Gus Ilham dan Gus Yasya datang saat ini Adam masih melakukan Sholat isya karena tadi Adam menyelesaikan menggoreng pisang goreng.
Tok
Tokk
Zia membuka kan pintu.
"Silahkan masuk" ucap Zia.
Yasya dan Ilham masuk ke dalam.
"Apa Gus Adam nya ada" tanya Ilham.
"Ada sebentar ya masih sholat isya" ucap Zia.
Zia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air dan makanan untuk mereka.
"Tak perlu repot repot Kak" ucap Ilham.
"Tak masalah, hanya air saja" ucap Zia sambil menyuguhkan air dan makanan.
"Terima kasih" ucap Ilham dan Yasya.
"Oh ya kakak ipar, kata Gus Adam kau bisa bahasa Inggris" tanya Yasya.
"Ya" ucap Zia.
"Di mana kau belajar" tanya Yasya.
"Di Kanada" ucap Zia.
"Apa kau belajar di sana" tanya Yasya.
"Ya aku belajar saat aku SMA" ucap Zia.
"Pantas kata Gus Adam kau pandai bahasa Inggris" ucap Yasya.
"Tak pandai biasa saja" ucap Zia
"Tapi katanya Gus Adam pandai bahasa Inggris hanya satu bulan saja" ucap Yasya.
"Ya aku mengajari nya, tapi Gus Adam juga bisa sendiri" ucap Zia.
"Ya pantas saja dia cepat bisa, orang belajar nya dengan calon istri nya" ucap Ilham.
"Ya" ucap Zia tersenyum saja melihat mereka yang bercanda.
Adam keluar dari kamarnya karena sudah selesai sholat Maghrib,
"Kalian sudah datang" tanya Adam.
"Ya dari tadi" ucap Ilham.
"Ya maaf aku tadi sholat dulu" ucap Adam.
"Oh ya Gus aku kesini mau sekalian ngundang kamu sekeluarga, aku mau nikah" ucap Ilham.
"Sama wanita yang kamu ceritakan itu" tanya Adam.
"Ya ternyata dia teman kita waktu sekolah" ucap Ilham.
"Kau terima" tanya Adam.
"Tentu saja mana mungkin aku tak terima" ucap Ilham.
"Kalian menikah lalu aku" tanya Yasya.
"Kau ini di pesantren ini kan banyak santri putri kau pilih saja salah satu di antara mereka" ucap Ilham.
"Tapi kan mereka gak mau sama aku" ucap Yasya.
"Jangan begitu Gus aku yakin ada yang mau sama kamu" ucap Adam.
"Pinta saja pada pemiliknya kaya Gus Adam" ucap Ilham.
"Kalian ini" ucap Adam menatap pada Zia karena takut Zia marah.
"Ayo cepat belajar " ucap Yasya.
"Aku sudah aktif dari tadi" ucap Ilham.
"Aku akan bawa laptop ku dulu" ucap Adam.
"Tak masalah Gus, biar aku yang ambil kan" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia pergi dari sana menuju kamar nya karena akan mengambil laptop untuk belajar Adam.
"Gus aku akan tidur duluan" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Adam belajar bersama dengan teman teman nya, dia sekarang tengah melakukan daring karena di sana pukul 1 sore jadi dosen mengajar saat mahasiswa sudah pulang.
Dan jika menurut jam di sana maka di kampung Adam sekarang pukul 8 malam, Adam dan kedua teman nya pun terpaksa ikut jadwal itu karena mau bagai mana lagi, mereka tak bisa menentukan apa apa.
Pagi harinya.
Sekarang hari Minggu para santri bebas dari pelajaran, bahkan banyak santri yang memilih jalan jalan bahkan ada juga yang memilih berbelanja kebutuhan sehari hari nya.
"Kak Zia kau mau ke pasar" tanya Rena.
"Ke pasar? Gak tau" ucap Zia.
"Ayo lah" ucap Rena.
"Aku bicara dulu dengan Gus Adam" ucap Zia.
"Ya sudah" ucap Rena.
Zia mencari keberadaan suami nya itu, tapi tak Zia temukan.
"Di mana Gus Adam" gumam Zia.
Zia berjalan ke arah kamarnya ternyata Adam sedang mengumpulkan pakaian kotor.
"Gus jangan biar aku saja" ucap Zia.
"Tak masalah Zia" ucap Adam.
"Jangan Gus Malu ada bekas ku" ucap Zia merebut pakaian nya dari tangan Adam.
"Bekas apa" tanya Adam.
"Kau tak paham juga" tanya Zia.
"CK tak masalah Zia biar aku yang cucikan, Zia ini tugas ku" ucap Adam.
"Jangan biar aku yang cucikan" ucap Zia yang langsung membawa semua pakaian kotor nya ke kamar mandi.
Namun sebelum itu Zia menemui Rena terlebih dahulu.
"Ning aku gak akan ikut" ucap Zia.
"Oh baik lah" ucap Rena.
Zia masuk lagi ke dalam rumah sekarang Zia akan mencuci pakaian nya dengan pakaian Adam.
Zia mencuci dengan sabun yang ada di sana, Adam datang ke sana sambil membawa pewangi pakaian.
"Zia pakai ini" ucap Adam menyerahkan pewangi sasetan dari warung pada Zia.
__ADS_1
"Apa aku salah pakai" tanya Zia menatap pada deterjen yang sekarang dia pakai.
"Benar ini deterjen" ucap Zia lagi.
"Ya maksud ku ini buat pewangi nya" ucap Adam.
"Oh baik lah" ucap Zia yang langsung mengambil itu.
Adam pergi dari sana karena akan membereskan kamar nya.
Zia menatap pada pewangi yang baru saja Adam berikan.
"Bagai mana cara nya memakai pewangi ini? Kayanya aku pernah melihat nya? Tapi di mana? Hah aku pernah melihat nya di tv benar ini yang di iklan kan artis, lalu bagai mana cara pakai nya? CK iklan memang begitu tak pernah memperlihatkan cara pakai nya, aku baca saja di belakang nya" gumam Zia bermonolog sendiri.
Zia membaca petunjuk yang tertulis di belakang Bungkus itu.
"Air 10L? Apa ini tak salah 10 liter itu sangat banyak, aku pakai nya berapa?" gumam Zia bertanya tanya.
Zia memikirkan bagai mana cara nya, mau bertanya pun Zia malu tapi kalau tak tanya Zia tak tau cara pakai nya.
"Bismillah aku pakai saja" gumam Zia.
Zia memasukan tiga gayung air ke dalam ember, Zia memasukan pewangi itu dua bungkus pada ember itu.
Zia mengucek nya.
"Oh benar pewangi ini sangat wangi pantas saja Gus Adam selalu wangi pasti pakai ini" gumam Zia.
Zia memasukan pakaian Adam yang sudah bersih ke dalam sana, sedang kan pakaian nya tak Zia masukan karena pikir Zia pewangi itu hanya lah untuk baju beberapa biji saja.
Setelah selesai membereskan kamar Adam melihat Zia yang sekarang berada di kamar mandi, niat Adam dia mau membantu Zia menjemur pakaian nya.
"Udah, kalau sudah biar aku jemur" ucap Adam.
"Sudah ini" ucap Zia menunjuk pada pakaian Adam yang sekarang di rendam oleh pewangi yang banyak.
"Astaghfirullah Zia kenapa bau menyengat begini, kamu pakai berapa pewangi nya" tanya Adam menutup hidung nya karena terlalu wangi jadi menyengat hidung.
"Aku pakai semua" ucap Zia.
"Tapi Zia kenapa bau begini" tanya Adam.
"Apa aku salah? Gus aku hanya masukan tiga gayung air ke dalam ember ini dan pewangi nya semua, apa salah?" Tanya Zia.
"Zia kau salah memakai nya, kalau begini baju nya akan bau menyengat bukan wangi" ucap Adam.
"Lalu aku harus apa" tanya Zia.
"Tambahkan air pada ember itu dan masukan semua pakaian yang sudah kau bersih kan ke dalam nya" ucap Adam.
"Apa akan wangi" tanya Zia.
"Tentu saja" ucap Adam.
Zia menambahkan beberapa gayung Air ke dalam ember itu.
Zia melakukan nya sesuai yang Adam bilang.
"Sudah lalu" tanya Zia.
"Apa lagi" tanya Adam.
"Ya apa lagi sekarang Gus" tanya Zia.
"Jemur" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
Zia hendak membawa ember berisi air dan pakaian itu keluar, namun Zia tak kuat mengangkat nya.
"Astaghfirullah, apa Zia memang gak tau atau pura pura gak tau" gumam Adam.
"Peras dulu Zia jangan di bawa dengan airnya" ucap Adam.
"Lupa atau ga tau" tanya Adam.
"Mungkin keduanya" ucap Zia.
"Ya sudah biar aku yang jemur" ucap Adam.
"Jangan aku saja" ucap Zia.
"Baik lah aku tunggu di kursi" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Zia menyelesaikan semua dia menjemur pakaian nya di jemuran depan rumah Umi.
Bahkan sekarang para santri juga kebanyakan sedang mencuci pakaian.
Zia kembang lagi ke rumah Abah.
"Dam mau gak ke pasar" tanya Umi.
"Mau apa Umi" tanya Adam.
"Umi mau minta kau belikan bumbu dapur" ucap Umi.
"Oh boleh" ucap Adam.
"Baiklah ini uang nya" ucap Umi menyodorkan uang.
"Umi tuliskan apa saja yang mau Umi beli Adam takut lupa" ucap Adam.
"Ya umi akan tulis kan" ucap Umi yang langsung masuk ke dapur sambil membawa kertas dan pensil.
Zia datang ke sana, Zia langsung duduk di samping Adam.
"Mau ikut" tanya Adam.
"Ke mana" tanya Zia.
"Pasar" ucap Adam.
"Mau apa ke pasar" tanya Zia.
"Umi menyuruh aku membeli bumbu dapur" ucap Adam.
"Oh apa kau bisa belanja" tanya Zia.
"Tentu saja kenapa tidak bisa" tanya Adam.
"Oh" ucap Zia.
"Dam ini buku belanjaan nya" ucap Umi.
"Ya umi aku berangkat sekarang" ucap Adam.
"Neng Zia akan ikut" tanya Umi.
"Ya Umi" ucap Adam.
"Baik lah aku akan bersiap dulu" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Setelah bersiap mereka berangkat ke pasar, karena sekarang masih sangat pagi Adam dan Zia pun memutuskan untuk jalan kaki sekalian olah raga.
"Kau mau beli apa? Gus mulai sekarang aku akan buatkan masakan untuk mu" ucap Zia.
"Aku mau ayam" ucap Adam.
"Ayam matang kaya ayam tepung" tanya Zia.
__ADS_1
"Bukan ayam tapi kau yang masak" ucap Adam.
"Mau di masak seperti apa? di goreng?" tanya Zia.
"Mau seperti Umi, bumbu merah" ucap Adam.
"Baik lah aku akan buatkan" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Adam.
Mereka berangkat ke pasar, setibanya di sana Adam langsung membeli ayam terlebih dahulu.
Ada hal yang membuat Adam malas yaitu ada preman kampung sebelah yang dulunya adalah teman sekolah Adam saat SD.
Adam berusaha tak menghiraukan nya apa lagi sekarang Adam datang ke sana bersama dengan Zia.
"Gus sekarang mau beli apa" tanya Zia.
"Bumbu dapur" ucap Adam.
"Ayo ke sana" ucap Zia.
Adam dan Zia berjalan ke arah toko yang menyediakan bahan bumbu dapur, namun di sana ada juga preman kampung sebelah yang berusaha Adam hiraukan itu.
"Bu mau beli bumbu dapur nya" ucap Adam menyodorkan kertas yang tadi Umi berikan pada nya.
"Sebenar ya" ucap ibu itu.
Zia menatap pada sekeliling tempat itu sekarang sangat ramai sekali di sana apa lagi sekarang hari Minggu.
Ada beberapa orang laki laki yang datang mendekat ke sana.
"Hy ustadz belanja bersama dengan istri nya ya" tanya laki laki itu.
"Ya" ucap Zia tersenyum.
Namun Adam hanya diam saja tak meladeni orang itu.
"Wah Kak kau salah pada Ustadz Adam, seharusnya dia itu menjadi istri bukan menjadi seorang suami" ucap nya lagi.
Hahahaha
Gelak tawa terdengar dari beberapa orang itu.
Adam menanggapi nya dengan santai, sedangkan Zia sekarang sudah tersulut emosi.
"Laki laki belanja bumbu dapur, apa dunia ini sudah terbalik" ucap nya lagi yang langsung di sambut tawa oleh teman teman nya.
"Berani nya kau" geram Zia menatap pada orang itu.
"Sudah Zia biarkan saja" ucap Adam.
"Ini Ustadz" ucap Ibu pedagang itu.
"Berapa" tanya Adam.
"55 ribu".
Adam membayar dengan uang pas.
"Ayo Zia pulang" ucap Adam.
"Ayo" ucap Zia menatap sinis pada orang orang itu.
"Kenapa ustadz apa kau tak mau beli ikan asin dulu, atau kau tak mau beli rok" ucapnya lagi.
"Ya lebih baik kau pakai rok saja dari pada pakai sarung" ucap salah satu teman nya.
Zia semakin tersulut emosi, dia mendekat pada beberapa laki laki itu.
Plakk
Suara tamparan menggema di pasar itu bahkan semua pembeli banyak sekali yang menatap pada Zia dan preman itu.
"Apa? Hah? Bicara apa kau barusan? Hah?" Tanya Zia menatap pada preman itu.
Sedangkan yang Zia tampar sekarang dia tengah merasakan perih nya tamparan Zia.
"Kau menghina suami ku? Apa kau tak salah orang dengan menghina suami ku" teriak Zia emosi.
"Memang benar kan yang kita bicarakan" ucap teman nya.
"CK kau menghina orang lain tanpa mengaca seharusnya kalau kau main bawa lah kaca yang besar supaya kau bisa ngaca baik mana antara kau atau suami ku" ucap Zia meninggikan suara nya.
"Berani nya kau menampar dan membentak ku" ucap Nya.
"Lalu apa aku harus takut pada mu seperti orang lain? Haha mustahil tak ada kamus nya manusia harus takut pada manusia" ucap Zia.
"Kau tak tau aku siapa" ucap nya.
"Sudah Zia ayo pulang" ucap Adam.
"Aku tak tau dan aku tak mau tau, yang aku tau kau hanya lah pecun dang yang bisa nya hanya menghina orang tanpa mengaca dulu, aku sangat yakin orang tua mu pasti Malu punya anak yang kurang didikan seperti dirimu" ucap Zia.
Preman itu marah pada Zia.
"Apa kau marah? Mau marah? Nah rasa kan emosi itu kalau kau marah sekarang berarti kau dan suami ku lebih hebat suami ku karena jika dia di hina dia tak pernah membalas dan kau saat di hina begitu saja kau sudah mau marah, dasar mulut besar tapi otak kecil" ucap Zia.
"Beraninya" ucap preman itu yang hendak membogem Zia.
Namun tangan Adam menghadang tangan nya, jadi bogem itu tak sampai kena pada Zia.
"Berani nya kau sentuh istri ku, tak akan aku maafkan kau" ucap Adam tenang.
"Hahaha mau apa kau hah? Selama sekolah dulu kau tak pernah melawan lalu sekarang kau mau apa" tanya nya.
"Beraninya kau pecun dang, dasar manusia gemb Leng tak tau malu tak punya otak, sini an j kalau kau berani Hah kau fikir aku takut hah sini kau An j ku pukul kau sampai kau meninggal" geram Zia mengeluarkan semua kata kata ja hat nya.
Preman itu akan maju namun Adam menghentikan nya dengan tangan nya menempel pada dada preman itu.
Dengan Tiba tiba preman itu terjungkal, dia merasa kesakitan seperti baru saja di pukul oleh Adam.
Bahkan pernapasan nya pun mulai terganggu.
Dia ngos ngosan bahkan lebih seperti orang yang punya asma.
"Ayo pulang" ucap Adam pada Zia.
"Tapi Gus orang itu" ucap Zia.
"Biarkan dia punya karma nya sendiri" ucap Adam.
Adam menggenggam tangan Zia, Adam membawa Zia untuk segera pulang apa lagi setelah kejadian itu.
Terlihat oleh Zia kalau orang itu masih berbaring di tanah dan para pedagang dan beberapa pembeli mengerumuni nya.
Zia merasa heran dengan tangan Adam karena tadi Zia bisa melihat dengan jelas kalau Adam tak melakukan apa apa, bahkan Adam hanya menempel kan saja tangan nya di dada orang itu.
"Apa kau mau jajan" tanya Adam yang sekarang terlihat baik baik saja padahal sudah jelas kejadian tadi ulah Adam.
"Gak" ucap Zia.
Sedangkan di pasar preman itu sekarang sudah sadar tapi dada nya masih sangat sakti,
"Kau kenapa" tanya pedagang di sana.
"Aku merasa Adam mem bogem ku tapi entah aku lihat dia tak melakukan apa apa" ucap nya menjelaskan sesuatu.
"Makan nya jangan berani pada Adam dia itu anak Abah Zakaria, kalian tau kan Abah Zakaria itu sangat sakti" ucap ibu ibu di sana yang semakin ngelantur.
"Ya bener tuh".
"Makan nya jangan berani melawan dia".
__ADS_1
bersambung