Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 81


__ADS_3

Pagi hari nya Adam sudah bangun bahkan sekarang dia sudah bersiap akan ke mesjid, Adam membangun kan Zia terlebih dahulu.


"Zia.. bangun Zia.." ucap Adam sambil menggoyang goyangkan tangan Zia.


"Ya aku bangun" ucap Zia.


"Ayo bangun sudah mau adzan" ucap Adam.


Zia membuka matanya walau pun sekarang dia masih mengantuk.


"Ayo bangun nanti kesiangan sholat subuh" ucap Adam.


Zia melihat jam di dinding Yang sekarang masih menunjukkan pukul tiga subuh.


"Astaghfirullah Gus ini masih pukul 3 ada waktu satu jam lagi" ucap Zia.


"Ayo lah Zia jangan nanti nanti kalau keburu mati bagai mana" ucap Adam.


"Gus jangan bawa bawa mati aku belum punya anak" ucap Zia.


"Ya sudah ayo" ucap Adam.


"CK dasar tak peka" ucap Zia.


"Tak peka" tanya Adam.


"Tidak" ucap Zia.


Adam yang sekarang sudah akan keluar dari rumah pun terhenti karena mendengar Zia bicara begitu.


Adam mendekat lagi pada Zia, adam mengangkat tubuh Zia memangku nya dan membawa Zia ke kamar mandi.


"Gus kau mau apa" tanya zia saat melihat kalau Adam membawa nya ke kamar mandi.


"Ayo mandi lah" ucap Adam.


"Gak mau" ucap Zia.


"Mau aku mandiin" tanya Adam.


"Gak usah" ucap Zia yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Gus bawakan aku handuk" teriak Zia dari arah kamar mandi.


"Ya" ucap Adam.


Adam membereskan bantal dan selimut bekas nya dan Zia tidur, karena kata Abah sekarang mereka akan pulang jadi nanti siang Adam akan Menganti kasur yang ada di kamar nya.


Setelah selesai Adam melihat daftar orang orang yang akan Adzan.


"Ternyata Gus Fauzi" gumam Adam.


Adam duduk di kasur nya dia melihat lihat akun media sosial nya, akhir akhir ini banyak sekali yang DM Adam.


"Aku bosan melihat nya" gumam Adam.


Saat Adam melihat iklah handuk mereka ternama, Adam sadar kalau tadi Zia meminta Adam mengambil kan handuk.


"Astaghfirullah aku lupa" ucap Adam.


Adam langsung meraih handuk dan membawa nya ke kamar mandi, dan benar saja Zia sudah berteriak di kamar mandi sejak tadi.


"Gus...." Teriak Zia untuk kesekian kali nya.


"Ya Zia maaf, ayo buka pintu nya" ucap Adam.


Zia membuka pintu nya dan segera mengambil handuk yang ada di tangan Adam.


"Jangan marah aku tau aku salah" ucap Adam.


"Gak marah" ucap Zia.


Adam masuk lagi ke dalam kamar nya karena data seluler di ponsel nya belum Adam matikan.


Zia tersenyum menyeringai karena Adam berada di kamarnya.


Zia masuk dan langsung mengunci pintu kamarnya itu dari dalam.


"Zia kenapa di kunci" tanya Adam menatap pada Zia.


"Biar saja" ucap Zia.


"Astaghfirullah Zia aku harus segera ke mesjid" ucap Adam.


"Mau apa datang awal kau gak akan adzan dan kau juga gak akan jadi imam sekarang" ucap Zia.


"Aku akan komat" ucap Adam.


"Tidak karena biasa nya yang khomat adalah orang yang Adzan dan aku lihat kemarin kalau yang adzan adalah Gus Fauzi" ucap Zia melangkah mendekat pada Adam.


Adam berusaha mundur dan menghindari Zia, namun Zia sangat lah ganas sekarang, Zia mendorong Adam sehingga membuat Adam berbaring di ranjang.


...Skipp.....


Adam berusaha menolak sentuhan demi sentuhan yang Zia berikan.


Tokk


Tokk


Di luar ada yang mengetuk pintu.


Zia menajam kan pendengaran nya karena ada yang mengetuk pintu.


Adam melihat kalau sekarang Zia tengah lengah Adam membalikan posisi mereka sekarang Zia lah yang ada di bawah Adam.


"Pakai baju mu ada tamu yang datang" ucap Adam yang langsung pergi dari sana meninggalkan Zia.


"CK tamu itu meng ganggu saja" gumam Zia.


Adam membuka kan pintu.


"Ustadz Haddad" ucap Adam.


"Gus aku ganggu sepagi ini aku ingin meminjam buku pelajaran pada mu" ucap Haddad.


"Oh bentar ya aku ambil kan" ucap Adam yang langsung ke kamar namun berusaha untuk tak melihat Zia yang sekarang sedang memakai pakaian.


"Terima kasih Gus" ucap Haddad.


"Ya sama sama" ucap Adam.


Adam memegang leher nya yang sakit karena Zia.


Adam bukan anak kecil lagi yang tak paham pada apa yang Zia lakukan.


Adam melihat leher nya di cermin, dan ternyata benar lehernya sangat merah dan ada bekas gigitan Zia di sana.


"Awss Zia sangat ganas" gumam Adam.


"Ayo Gus" ucap Zia yang sekarang sudah bersiap di ambang pintu kamar nya.


"Ayo" ucap Adam.

__ADS_1


"Jangan lupa tutupi luka mu" ucap Zia.


"Luka karena kau" geram Adam.


"Bukan karena aku tapi karena istri mu" ucap Zia tersenyum pada Adam.


Adam menutupi leher nya yang merah dengan sorban yang sering dia pakai, saat ini Adam sangat kesal pada Zia apa lagi Zia sampai berani menggigit Adam.


"Ayo nanti kesiangan" ucap Zia.


"Silahkan tuan putri" ucap Adam mempersilahkan Zia untuk jalan lebih dulu.


"Kau sangat baik" ucap Zia.


"Terserah" gumam Adam.


Mereka melaksanakan Sholat di mesjid secara berjamaah, sekarang para santri sedang melakukan tadarus.


Ada seorang ibu ibu yang Zia tau ibu itu adalah juru masak yang selalu masak bersama dengan umi.


Zia keluar dari mesjid dan mendekati ibu itu.


"Ada apa Bu" tanya Zia.


"Neng begini tadi ibu sedang masak tapi katanya ibu ibu yang lain gak bisa bantuin karena ada keperluan, sekarang gak ada yang bantu padahal setengah jam lagi makan pagi" ucapnya.


"Baik lah biar aku bantu Bu" ucap Zia.


"Ayo" ucap ibu itu.


"Bentar bu aku simpan dulu mukenah" ucap Zia yang balik lagi ke mesjid, di luar jendela Zia berusaha memanggil Adam.


"Gus" Zia memanggil Adam namun dengan suara pelan karena takut para santri mendengar kan.


"Kenapa dia gak nengok" gumam Zia.


Zia berdehem dengan senyuman menyeringai memikirkan sesuatu.


"Yang" ucap Zia namun dengan suara yang cukup tinggi.


Semua santri termasuk Adam pun melihat pada Zia, dan jangan tanya lagi betapa malu nya Adam saat di sebut "Yang" oleh Zia.


"Cieee" serempak para santri menggoda Adam dan Zia.


Adam hanya menatap istrinya itu dengan tatapan kesal saja.


"Gus Fauzi aku ke sana dulu" ucap Adam.


"Baik Gus" ucap Fauzi.


"Ayo lanjutkan lagi tadarus nya" ucap Fauzi pada semua santri.


Adam berjalan ke arah Zia yang sekarang ada di luar.


"Ada apa sayang" tanya Adam namun dengan nada kesal.


"Jangan marah" ucap Zia.


"Ada apa? Sedang apa di luar" tanya Adam.


"Ini Gus ibu itu katanya minta bantuan untuk membantu nya masak, karena dia hanya sendirian masak, boleh kan?" Tanya Zia.


"Boleh" ucap Adam.


Zia menyodorkan mukenah nya pada Adam.


"Titip" ucap Zia.


"Ya sayang" ucap Adam kesal.


"Zia kau sangat lucu" gumam Adam.


Zia sekarang sampai di kediaman ibu itu, tanpa berlama lama Zia langsung membantu ibu itu untuk memotong sayuran yang ada di sana.


Sekarang masak cukup banyak karena untuk sore hari juga karena di pesantren para santri akan makan dua kali tapi kalau ada yang mau makan lagi maka Umi akan memberikan nya dengan senang hati.


"Neng kamu anak nya pak Topan" tanya Ibu itu.


"Ya Bu" ucap Zia.


"Kamu sangat beruntung karena pak topan itu kaya raya" ucap Ibu itu.


"Kaya bagai mana, papah hanya seorang petani saja Bu" ucap Zia tersenyum.


"Tapi dia itu donatur terbesar di pesantren ini" ucap Ibu itu


"Apa" tanya Zia.


"Ya" ucap ibu itu.


"Tapi dari mana papah punya uang banyak" tanya Zia.


"Entah" ucap ibu itu.


"Mungkin papah punya uang jadi bisa mendonatur ke pesantren" ucap Zia.


Zia dan ibu itu menyelesaikan masakan nya tepat waktu walau pun Zia hanya memotong sayuran saja tapi Zia cukup membantu.


"Alhamdulillah selesai neng" ucap ibu itu.


"Alhamdulillah" ucap Zia.


"Ayo Neng bantu ibu membawa ini ke pesantren" ucap Ibu itu.


Untung saja rumah ibu itu dekat dengan pesantren jadi Zia tak harus jauh jauh membawa makanan.


Zia meletakan makanan di meja tempat makan para santri putri sedangkan Ibu tadi meletakan makanan yang dia bawa ke tempat makan santri putra.


"Sudah neng" tanya ibu itu.


"Sudah bu, saya akan panggil paa santri" ucap Zia.


"Ya neng ibu tunggu di sini" ucap Ibu itu.


Zia berjalan ke arah mesjid dan di sana sudah ada Adam yang akan mendekat pada Zia.


"Bagai mana apa makanan nya sudah siap" tanya Adam.


"Sudah sayang" ucap Zia.


"Diam lah" ucap Adam.


"Apa? Salah" tanya Zia.


"Tak salah hanya aku malu saja Zia, karena kan kita dulunya teman jadi aku cukup canggung" ucap Adam.


"Kau pikir aku tidak? Aku juga canggung Gus aku malah lebih canggung karena kita teman tapi karena aku ingin melayani mu jadi aku melakukan nya" ucap Zia.


"Terima kasih tapi aku belum siap" ucap Adam.


"Lalu kapan kau siap" tanya Zia yang langsung membelakangi Adam.


"Nanti setelah kau siap" ucap Adam.

__ADS_1


"Tapi aku sudah siap" ucap Zia.


"Nanti ya" ucap Adam.


"Neng sudah di panggil" sahut ibu itu.


"Astaga Gus ibu itu meminta aku memanggil para santri" ucap Zia.


"Aku akan panggil kan" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.


"Ya Bu" sahut Zia.


"Ya ampun karena banyak bicara aku lupa kalau santri sudah kelaparan" gumam Adam.


Semua santri makan sedang kan sekarang Ainun Tengah bicara serius dengan Fauzi di luar mesjid.


"Mau apa" tanya Fauzi.


"Fau kapan kau akan menikahi ku" tanya Ainun.


"Tenang lah Ai aku akan usaha kan" ucap Fauzi.


"Beneran ya, Fau aku akan jujur sekarang, aku akan di jodohkan oleh kedua orang tua ku kalau kau tak menikah dengan ku" ucap Ainun.


"Benarkah" tanya Fauzi.


"Benar makan nya aku memaksa mu untuk menikahi ku itu pun kalau kau masih ingin menikah dengan ku" ucap Ainun.


"Secepatnya aku akan datang ke rumah mu" ucap Fauzi.


"Aku akan tunggu" ucap Ainun.


"Baik lah Ayo makan aku sudah lapar" ucap Fauzi.


"Ayo".


Sedangkan Zia sekarang tengah makan bersama dengan Rena dan Gita, banyak sekali pembicaraan yang mereka bicarakan Bahkan mereka sampai tertawa bersama.


"Oh ya kak apa yang akan kakak lakukan sekarang" tanya Rena.


"Aku akan belajar ikut kelas 2 SMA " ucap Zia.


"Oh baik lah" ucap Rena.


Setelah selesai semuanya langsung menuju kelas karena akan belajar, Zia sekarang tengah membereskan makanan dan membawa nya ke rumah umi untuk nanti makan sore.


Setelah selesai Zia duduk dulu di kursi rumah Abah, dia sekarang merasa sakit badan bahkan pinggang Zia terasa sangat pegal.


"Ya ampun sakit sekali" gumam Zia.


Zia memasukan kertas dan pensil pada tas nya, rasa nya Zia sangat malas sekarang apa lagi di tambah cucian yang banyak yang belum Zia kerjakan.


"Kamu kenapa " tanya Adam yang baru saja datang ke sana.


"Badan ku rasa nya pegal Gus" ucap Zia.


"Oh, apa kau akan belajar sekarang" tanya Adam.


"Ya" ucap Zia.


"Oh baik lah, aku sudah ijin pada Gus Farid sekarang aku akan beres beres di kamar" ucap Adam.


"Apa kau bisa sendiri" tanya Zia.


"Bisa" ucap adam.


"Aku berangkat" ucap Zia yang langsung menyodorkan tangan nya pada Adam.


"Zia aku tak punya uang" ucap Adam.


"Bukan uang" ucap Zia yang langsung meraih tangan Adam dan mencium tangan Adam dengan takzim.


"Oh aku lupa" ucap Adam.


"Aku berangkat" ucap Zia dengan lemas.


Adam membereskan kamar nya karena sekarang Adam ingin memindahkan ranjangnya dan di ganti dengan kasur yang cukup besar yang pas untuk dua orang.


Walau pun sekarang posisi tidur mereka akan di bawah tapi itu tak jadi masalah bagi Zia.


Sedangkan di kelas pelajaran sedang di mulai, Zia merasakan rok nya yang basah.


"Ai" sahur Zia dengan nada pelan.


"Ya" ucap Ainun.


"Bisa kau lihat rok ku" tanya Zia.


"Oke".


Zia mengangkat pantat nya karena sekarang di samping Zia ada Ainun.


"Kau haid" ucap Ainun.


"Apa" tanya Zia terkejut.


"Kau pulang lah sebelum makin banyak" ucap Ainun.


"Ya, Permisi Ustadz Yunus bisa kah saya ijin sekarang ada urusan yang harus saya selesaikan, anggap saja saya ijin di pelajaran ini" ucap Zia.


"Ada apa" tanya Ustadz Yunus.


"Biasa pak wanita" ucap Zia.


"Oh baik lah pulang lah dulu" ucap Ustadz Yunus.


"Terima kasih ustadz" ucap Zia.


Zia menutupi rok nya dengan tas yang dia bawa sekarang, di sana hal seperti itu sudah biasa bahkan santri putra pun memakluminya.


Zia berjalan pulang ke rumah.


"Kenapa sudah pulang lagi" tanya Adam yang sekarang sedang membereskan kamarnya.


"Gus aku haid" ucap Zia.


"Lalu" tanya Adam.


"Aku tembus" ucap Zia.


"Baik lah aku akan ke warung" ucap Adam yang langsung pergi dari sana menuju warung padahal Zia belum bicara apa apa.


"Huhh Gus Adam dia tak tanya dulu padahal kan aku sangat mau cemilan" ucap Zia.


Cukup lama Adam di warung, Adam kembali lagi ke rumah dengan membawa satu kantong kresek.


"Astaga kau Belanja sebanyak itu" tanya Zia.


"Ya untuk mu" ucap Adam.


"Terima kasih" ucap Zia saat melihat kalau isinya banyak sekali cemilan ada juga pem ba lut dan jamu untuk pereda nyeri Haid.


"Kau istirahat lah dulu aku akan bereskan kamar dulu" ucap Adam.

__ADS_1


"Ya" ucap Zia.


bersambung...


__ADS_2