Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 136


__ADS_3

Sore hari nya Zia masuk ke dalam kamarnya dia melihat Adam masih berada di pinggir kasur dengan layar laptop yang berada di atas meja kecil sejajar dengan dada Adam.


Zia hanya menatap saja dia ingin mengambil handuk yang selalu Adam gantung di dinding.


Zia mengambil handuk itu saat ini Zia akan mengambil kerudung nya yang ada di atas bantal nya.


Tanpa Zia sadar Zia menginjak sesuatu yang menusuk pada kakinya.


Sehingga membuat Zia berjinjit jingjit kesakitan.


Hingga tubuh Zia tak seimbang dia hampir saja akan terjatuh, namun Adam dengan cepat menarik Zia sehingga membuat Zia terjatuh ke pangkuan Adam.


Adam tak membiarkan momen itu berlaku begitu saja, dia pun langsung memeluk Zia padahal dia tau kalau sekarang dia tengah melakukan video call bersama dengan Ilham dan Yasya.


"Huhhh mata ku rusak" ucap Ilham yang langsung memalingkan wajahnya.


"Kau membuat aku jadi ingin menikah Gus" ucap Yasya.


Sedangkan kedua insan itu masih asik pada pandangan nya itu.


Zia tersadar dia langsung turun dari pangkuan Adam.


"Gus kau ini" ucap Zia menepuk pelan paha Adam.


"Apa, apa aku salah kau jatuh" ucap Adam.


"Malu ih ada Gus Ilham sama Gus Yasya" ucap Zia.


"Gak apa kakak ipar kalian bebas melakukan apa saja" ucap Ilham.


"Maaf Gus" ucap Zia.


"Kalian berhasil membuat aku iri" ucap Yasya.


"Ayo lah jangan terlalu serius lagi pula kita akan ke sana kan" ucap Adam.


"Ya sih, kau tau Gus istri ku tak mau di tinggal dia minta ikut" ucap Ilham.


"Sama istri ku juga mau ikut" ucap Adam.


"Aku heran bagai mana mau ikut, aku saja masih tidur bersama dengan kalian" ucap Ilham.


"Senang sekali ya sudah punya istri jadi ada yang manja mau minta ikut" ucap Yasya.


"Ya begitulah" ucap Adam.


"Pengen dong kalian beli istri di mana sih" tanya Yasya.


"Di online banyak Gus" ucap Ilham.


"Kalian ini, aku pernah cari di online cuman minus nya gak bisa menerima apa adanya" ucap Yasya.


"Tentu saja" ucap Adam.


"Hati hati semua wanita Mandang fisik Gus" ucap Ilham.


"Tul tuh betul" ucap Adam.


"Maaf ya aku harus pamit karena laptop nya loubet" ucap Ilham.


"Aku juga" ucap Adam.


Layar laptop Adam mati kan apa lagi Adam selama beberapa jam setia di depan layar laptop.


"Mau mandi" tanya Adam.


"Ya tapi kaki aku sakit" ucap Zia.


"Aku lihat" ucap Adam.


Adam melihat ternyata kaki Zia tertancap peniti karena di sana ada bekas luka goresan seperti peniti.


"Kamu sih kalau simpan peniti itu hati hati jadi keinjak sendiri kan" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia.


"Sudah nanti juga sembuh" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia.


Sekarang Zia akan mandi karena dia sudah membantu Umi memasak.


Abah keluar dari kamar nya.


"Dam" sahut Abah.


"Ya Abah" tanya Adam.


"Zia ada" tanya Abah.


"Mandi" ucap Adam.


"Oh" ucap Abah.


Abah keluar dari rumah nya mencari Rena yang akan dia suruh ke rumah Ustadz Hasan.


"Ning pergi lah berikan ini pada Ustadz Hasan" ucap Abah.


"Baik Abah" ucap Rena.


"Tunggu" ucap Abah.


Langkah Rena terhenti.


Abah mencari cari seseorang di sana.


"Gus Luthfi" sahut Abah pada Luthfi yang sekarang tengah membantu membereskan bahan bangunan.


"Ya Abah" ucap Luthfi yang langsung mendekat pada Abah.


"Kau bisa antar Rena ke rumah Ustadz Hasan" tanya Abah.


"Boleh Abah" ucap Luthfi.


"Baik lah terima kasih" ucap Abah.


"Sama sama Abah" ucap Luthfi.


Adam sebenarnya merasa cukup risih kalau Rena sama Luthfi apa lagi Adam tau hubungan antara Luthfi dan Rena.


"Ya Alloh kalau memang jodoh tolong jodoh kan mereka sampai dunia akhirat" gumam Adam.


Sedangkan Rena saat ini seperti biasa dia akan jalan lebih dahulu sedang kan Luthfi akan jalan di belakang.


"Gus" tanya Rena.


"Ya" tanya Luthfi.


"Berapa umur mu" tanya Rena.

__ADS_1


"28 emang kenapa" tanya Luthfi.


"Gak hanya tanya saja" ucap Rena.


"Aku tau aku sudah tua Ning" ucap Luthfi.


"Tapi aku tak bilang kau tau" ucap Rena.


"Lalu ada apa kau tanya Umur aku yakin kau pasti sudah tau kalau aku tua" ucap Luthfi.


"Sudah lah" ucap Rena.


"Aku mau tanya serius, Ning kau mau gak menikah dengan ku" tanya Luthfi.


"Gus aku masih terlalu kecil untuk menikah" ucap Rena.


"Aku hanya tanya lagi pula aku tak maksa" ucap Luthfi.


"Tapi Gus kalau kau sudah kepepet mau nikah maka kau boleh menikah" ucap Rena.


"Dengan mu" tanya Luthfi.


"Bukan dengan gadis lain" ucap Rena.


"Kau ini tak asik, sebenarnya Ning kau mau gak sih melakukan ta'aruf ini bersama dengan ku" tanya Luthfi.


"Aku mau" ucap Rena.


"Lalu kenapa kau malah menyuruh aku menikah lagi" tanya Luthfi.


"Aku tak menyuruh menikah lagi, lagi pula kau juga kan belum menikah" ucap Rena.


"Oh aku salah, maksud aku kau menyuruh aku untuk menikah padahal aku mau menikah dengan mu saja" ucap Luthfi.


"Tapi aku masih kecil" ucap Rena.


"Bagai mana pun caranya aku akan menikah dengan mu" ucap Luthfi.


"Kau memaksa" ucap Rena.


"Gak lah aku sadar aku siapa, tapi Ning aku akan menunggu selama apa pun kau mengejar sekolah mu" ucap Luthfi.


"Syukur lah kalau begitu" ucap Rena.


"Kau tau Ali bin Abi Tholib pernah berkata.


"Jaga lah diri mu dari sifat marah karena kemarahan itu di mulai dengan kegi laan dan berakhir dengan penyesalan" ucap Luthfi.


"Ya aku tau" ucap Rena.


"Kau tau" tanya Luthfi.


"Ya aku tau" ucap Rena.


"Yah sayang sekali padahal aku pikir kau belum tau" ucap Luthfi.


"Gus kita dari pesantren yang sama dan guru yang sama jadi kemungkinan besar pelajaran yang kita dapatkan sama" ucap Rena.


"Ya juga sih" ucap Luthfi.


Di pesantren Adam tengah membuka celengan ayam milik Adam, sedang kan Zia hanya melihat saja karena Zia tau kalau uang itu untuk biaya Adam berangkat ke luar negeri.


"Kenapa kamu milih sekolah di luar negeri" tanya Zia.


"Aku pengen saja Zia" ucap Adam.


"Kau tau sejak kecil aku punya cita cita sebagai jaksa, aku sangat ingin jadi jaksa" ucap Adam.


"Lalu" tanya Zia.


"Ya tapi aku sadar kalau di usia aku dulu aku tak bisa mengabulkan keinginan ku itu" ucap Adam.


"Aku yakin kalau kau mau kau pasti bisa" ucap Zia.


"Tapi sekarang aku tak mau menjadi jaksa" ucap Adam.


"Lalu kau mau jadi apa" tanya Zia.


"Aku mau jadi suami dan Abi yang baik udah itu aja" ucap Adam.


"Tapi Gus kau harus melanjutkan pendidikan mu" ucap Zia.


Prakk


Adam memecah kan celengan dari tanah liat yang berbentuk ayam itu.


"Aku akan lanjutkan" ucap Adam.


Zia terkejut melihat uang lembaran berwarna merah dan biru yang ada di sana.


"Kau menabung ini berapa lama" tanya Zia.


"Sebentar kok hanya lima bulan saja" ucap Adam.


"Sebanyak ini" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Lima bulan sebanyak ini" gumam Zia.


Adam menghitung semua uang itu ternyata semuanya ada 11 juta, hal itu sangat membuat Zia terkejut.


Adam memberikan uang itu pada Zia beberapa gepok.


"Buat kamu" ucap Adam.


"Terima kasih" ucap Zia.


"Kau belanja lah sepuas nya" ucap Adam.


"Gak ah aku gak butuh apa apa" ucap Zia.


"Terserah kamu mau kamu simpan silahkan" ucap Adam.


"Kata Umi tadi siang kita harus beli baju buat apa" tanya Zia.


"Kenapa harus beli baju" tanya Adam.


"Entah tapi kata Umi saat lebaran Kita harus beli baju" ucap Zia.


"Zia sebenarnya gak ada hal seperti itu tapi karena ini sudah ada sejak lama dan bisa di katakan tradisi turun temurun jadi orang orang melakukan nya sampai sekarang.


Tetapi Menurut pandangan Islam berdasarkan sabda Rasulullah SAW, beliau menganjurkan umat muslim untuk mengenakan pakaian terbaiknya di hari lebaran. 


"Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan kami pada dua hari raya agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan." (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). 


Sesui hadist tersebut kita boleh membeli pakaian atau baju tapi tak semua orang kan bisa membeli nya jadi bisa di katakan juga kalau membeli baju saat lebaran itu Sunnah" ucap Adam.


"Oh aku gak tau kalau membeli baju saat lebaran adalah tradisi turun temurun" ucap Zia.

__ADS_1


"Entah tapi kalau emang gak punya gak usah maksa maksain kita pakai saja pakaian yang lama yang masih bagus" ucap Adam.


"Oh jadi di sini gitu ya" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Lalu setelah lebaran kita ngapain saja" tanya Zia.


"Kita datang ke makan orang orang yang kita sayang kita berdoa di sana" ucap Adam.


"Aku tak pernah melakukan nya" tanya Zia.


"Oh ya padahal kamu di kampung selalu melakukan itu" ucap Adam.


"Ya mungkin karena papah sama mamah takut kali" ucap Zia.


"Takut kenapa" tanya Adam.


"Kami kan di buron Gus, makan nya selama dua belas tahun ini mamah sama papah tak pernah ke kota" ucap Zia.


"Oh, pantas kalau setiap lebaran orang tua kamu sering datang kemari mereka selalu meminta doa pada Abah untuk mendoakan kakek nenek kamu" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Syukur lah" ucap Zia.


"Kamu tau Zia, setiap tahun pesantren ini pasti akan terasa sangat sepi apa lagi para santri pulang" ucap Adam.


"Apa Gus Luthfi pulang" tanya Zia.


"Tahun kemarin pulang" ucap Adam.


"Aku pasti kan kalau tahun ini dia tak akan pulang" ucap Zia.


"Kenapa" tanya Adam.


"Kaya nya Gus Luthfi ini punya masalah dengan keluarga nya jadi dia tetap berada di sini" ucap Zia.


"Sudah lah jangan bicarakan orang lain, ayo bereskan pecahan ini" ucap Adam.


"Ya ayo" ucap Zia.


Malam hari nya para santri setelah makan Langsung melaksanakan tarawih, malam ini banyak para santri yang tak melaksanakan Sholat tarawih padahal mereka tak haid.


Alasan mereka hanya lah satu karena mereka lemas lah pusing lah dan yang lain nya lagi.


Setelah selesai sholat tarawih Abah memimpin untuk membaca kan doa niat puasa dan para santri mengikuti.


"Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i fardhi syahri Ramadhâni hâdzihis sanati lillâhi ta'âla. Artinya: "Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta'ala."


Keesokan harinya para santri sudah selesai makan sekarang sudah waktunya Imsak.


Para santri langsung bersiap akan ke mesjid untuk Sholat karena tak mau kalau mereka rebahan lagi mereka akan tidur sampai pagi.


Sekarang puasa yang ke 15 hari, tak terasa hari demi hari berlalu juga dan mengingat kalau kita belum berubah kita masih sama seperti yang dulu kita masih sama seperti yang kemarin.


Jangan karena berpikir kalau kita hidup satu kali maka harus kita nikmati, tapi terkadang kita juga lupa kalau mati juga hanya satu kali dan itu pun tanpa peringatan..


Persiapkan kematian kita dengan amal ibadah dan amal kebaikan.


Sekarang para santri selesai melaksanakan Sholat Subuh, Abah berada di barisan paling depan karena dia ingin bicara sesuatu.


"Abah" ucap salah satu santri.


Semua mata tertuju pada nya.


"Ya ada apa" tanya Abah.


"Kalau Sholat pikiran kita kemana mana apa boleh" tanya nya.


"Ingat perkataan Ali bin Abi Tholib,


Lebih baik Sholat tapi pikiran kita kemana mana dari pada ke mana mana tapi tidak sholat" ucap Abah.


"Terima kasih Abah" ucap santri itu.


"Ya sama sama" ucap Abah.


"Tapi ingat ada baik nya kalau kita Sholat dengan pemikiran yang diam, kita ucapkan saja istighfar di dalam hati karena katanya kalau pemikiran kita ke mana mana syaitan itu tengah menggoda kita, katanya ya bukan kata Abah" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap santri itu.


Ada pengumuman, kemarin Abah sangat malu pada perlakuan guru kalian apa lagi saat itu ada tamu juga di sana, ingat ya besok lagi jangan bicara apa pun padanya lebih baik kita menjauh saja karena kalau kita sama seperti dia maka tak akan ada habis nya, jadi Abah harap kalian patuh saja pada keinginan nya ya selagi itu baik diam saja" ucap Abah.


"Ya abah" ucap para santri.


"Oh ya nanti kata tamu kemarin kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA akan sibuk karena kalian akan ada ujian banyak apa lagi nanti kalian ujian nya pakai komputer jadi kalian harus belajar dahulu" ucap Abah.


"Baik Abah" serempak.


"Persiap kan diri kalian ya" ucap Abah.


"Ya abah" serempak.


"Baik lah kalian boleh istirahat selama beberapa menit" ucap Abah.


"Ya Abah" serempak.


para santri bubar karena akan istirahat terlebih dahulu apa lagi ada beberapa menit sebelum para santri belajar.


terlihat kalau para guru baru pun baru saja datang ke sana, mereka semua bersiap akan mengajar padahal hari masih cukup pagi.


Adam dan Zia pulang ke rumah, saat ini Zia ingin tidur terlebih dahulu.


"gus Tolong elus Perut aku" ucap Zia.


"kenapa" tanya Adam.


"entah tapi rasanya enak sekali" ucap Zia.


"baik lah ayo" ucap Adam.


Zia merebahkan badan nya di kasur dengan Adam yang setia mengelus perut nya.


"aku aneh pada mu, kenapa harus mengelus perut" ucap Adam.


"mungkin Dede bayi nya mau sama Abi nya" ucap Zia.


"bayi" ucap Adam tersenyum.


tanpa terasa Zia tertidur.


"Zia jangan tidur nanti kesiangan kamu ngajar kan" tanya Adam namun tak di jawab oleh Zia karena Zia tertidur pulas.


"astaghfirullah Zia ada ada saja kelakuan mu" ucap Adam.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2