
Haddad melihat Zia yang sekarang sedang mengajar kan Adam bahasa Inggris.
"Assalamualaikum" ucap Haddad.
"Waalaikum salam Ustadz Haddad kau sudah kembali" ucap Adam.
Sedangkan Zia hanya tersenyum saja pada Haddad.
"Sedang apa kalian" tanya Haddad.
"Aku belajar bahasa inggris dari Zia" ucap Adam.
"Oh ya" tanya Haddad.
"Ya, silahkan duduk Ustadz aku sudah belajar nanti kita lanjut lagi Zia" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.
Haddad duduk di samping Zia namun dengan jarak yang cukup jauh,
"Zia, maafkan aku tapi kau benar Abi tak merestui kita tapi aku janji Zia aku akan melamar mu" ucap Haddad.
Zia menatap pada Haddad.
"Sudah lah Haddad lupa kan saja, lagi pula kau bisa menemukan wanita yang lebih baik dari pada aku" ucap Zia.
"Tapi aku mau kau Zia" ucap Haddad.
"Haddad kita akhiri saja hubungan ini belum tentu kan kita akan berjodoh, aku bo doh kan berharap pada mu yang sudah jelas kita terhalang restu" ucap Zia tersenyum tipis.
"Kau sayang pada ku" tanya Haddad.
"Tentu saja, wanita mana yang tak akan suka pada mu Ustadz muda dan tampan" ucap Zia.
"Aku janji akan memperjuangkan kamu Zia" ucap Haddad.
"Baiklah aku akan tunggu" ucap Zia.
"Mau jalan jalan" tanya Haddad.
"Boleh" ucap Zia.
Mereka berdua berjalan menuju keluar pesantren, Zia tersenyum menatap wajah tampan Haddad yang sekarang berada di sampingnya.
"Apa kau ada pelajaran" tanya Haddad.
"Aku kurang tau, tapi kayanya gak ada karena aku sudah lihat di jadwal gak ada" ucap Zia.
"Baguslah kita bisa lama lama jalan jalan" ucap Haddad.
"Hahaha kau ini" ucap Zia tertawa.
Zia menatap pada awan yang sekarang sudah mendung waktu juga sudah menunjukan sore hari.
"Haddad ayo pulang, hari sudah sore lihat awan juga hitam" ucap Zia.
"Baiklah ayo pulang" ucap Haddad.
Namun mereka main cukup jauh dari pesantren, hingga akhirnya hujan turun menguyur mereka.
"Zia kira kesana dulu" ucap Haddad menunjuk pada sebuah warung makan.
"Kita berteduh di sini saja" ucap Haddad pada Zia.
Zia kedinginan karena hujan sangat deras bahkan ada petir juga yang terdengar memekikkan telinga.
"Kamu kedinginan" tanya Haddad.
"Tidak hanya dingin saja" ucap Zia.
Namun Haddad termasuk laki laki peka, dia memberikan sorban yang dia pakai dan memakaikannya pada tubuh Zia.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Mau makan" tanya Haddad.
"Tidak usah" ucap Zia.
"Ayolah makan aku yang bayar" ucap Haddad.
"Baiklah kalau kau maksa" ucap Zia.
Mereka berdua makan di warung makan itu menunggu hujan mulai reda.
"Haddad makanan apa yang kau suka" tanya Zia.
"Aku suka kamu" ucap Haddad.
"Apa kau akan memakan aku" tanya Zia.
"Hahahah kau lucu Zia, aku tak akan memakan mu aku hanya bilang aku suka kamu" ucap Haddad.
"Tapi yang aku tanya apa makanan kesukaan kamu" ucap Zia.
"Semua aku suka Zia" ucap Haddad.
"Wah bagus dong, jadi nanti istri mu tak perlu ribet memasak" ucap Zia.
"Ya aku tak akan menyiksa istri ku hanya dengan keinginan aku yang macam macam" ucap Haddad.
__ADS_1
"Beruntung sekali orang itu" ucap Zia.
"Dan yang aku mau orang beruntung itu adalah kau" ucap Haddad.
"Aku harap juga begitu" ucap Zia.
Hujan sudah berhenti dan kedua insan itu juga sudah menghabiskan makanannya, bahkan sekarang mereka sudah akan pulang ke pesantren.
Zia sudah pastikan kalau dia ketinggalan satu pelajaran karena sekarang sudah jam empat sore, sedangkan tadi yang Zia lihat di jadwal setelah Sholat Ashar, ada ceramah yang akan di sampaikan oleh Abah.
"Zia kita terlambat Sholat Ashar" ucap Haddad.
"Ya aku juga tertinggal satu pelajaran" ucap Zia.
"Maafkan aku karena aku kau bolos" ucap Haddad.
"Tak masalah pak Ustadz" ucap Zia.
"Baiklah Ibu Ustadzah ayo kita pulang" ucap Haddad.
Hahahah
Mereka berdua tertawa bersama sambil berjalan masuk kedalam pesantren, namun di balik kebahagiaan mereka ada Husna yang menatap mereka dengan tatapan tal suka.
"Mereka semakin dekat, aku tak bisa biarkan ini" gumam Husna.
Zia Sholat Ashar dengan di imami oleh Haddad karena di mesjid itu hanya mereka berdua, karena santri yang lain sekarang sudah berada di Madrasah karena sedang belajar.
Sedangkan Husna yang baru saja kembali ke pesantren setelah pulang ke rumah, dia langsung masuk ke mesjid dengan membawa mukena.
"Ustadz boleh kan saya ikut Sholat karena tadi saya belum sholat" ucap Husna berbohong padahal dia tadi juga sudah Sholat di rumah.
"Boleh ayo Ning" ucap Haddad.
Sedangkan Zia hanya memutar bola matanya malas karena Husna selalu saja membuat Zia kesal karena ulahnya.
Haddad memulai meng imami kedua wanita itu, dan Zia serta Husna mengikuti Haddad dengan khusyuk.
Hingga selesai, Zia langsung pergi dari sana meninggalkan Husna dan Haddad.
"Aku permisi" ucap Zia.
Haddad pun tak bisa menghentikan langkah Zia karena Zia sudah jauh dari tempat Haddad duduk.
"Terima kasih Ustadz" ucap Husna.
"Ya sama sama Ning" ucap Haddad.
Zia ikut bergabung dengan para santri di Madrasah mereka semua sedang tadarus, bahkan Zia langsung mengambil Al Quran dan bergabung dengan yang lain.
"Zia dari mana" tanya Abah.
"Cieee" serempak para santri mengguyon Zia.
"Apa" tanya Zia.
"Ciee kalian berdua" ucap salah satu santri.
"Apa kami gak melakukan apa apa" ucap Zia.
"Sudah ayo tadarus lagi" ucap Abah tersenyum melihat tingkah para santri santrinya.
"Baiklah ada waktu setengah jam, ada yang mau kalian tanya kan" tanya Abah pada semua santri.
Salah satu santri laki laki mengacungkan tangannya.
"Abah saya mau bertanya" ucapnya.
"Tanya apa" ucap Abah.
"Abah kenapa Alloh tidak mengabulkan Doa kita padahal kita selalu saja berdoa dengan sungguh sungguh" tanyanya.
"Kenapa Alloh tidak mengabulkan Doa kita, jawabannya simple jika Alloh mengabulkan setiap Doa kita maka semua orang di dunia ini akan kaya semua, karena semua orang akan meminta kaya dan harta, maka sudah bisa di pastikan kalau di dunia ini tak akan manusia yang miskin" ucap Abah.
"Lalu bukan kah bagus Abah jadi kita tak ada yang kesusahan" tanyanya lagi.
"Ya itu di sisi lain pemikiran kamu, jika di pemikiran Abah lebih baik begini jadi kita bisa berdoa secara bersungguh sungguh pada Alloh, sebenarnya kita tak perlu mendetailkan keinginan kita di setiap Doa kita, Alloh itu maha tau Alloh itu maha segalanya jadi kita tak perlu membicarakan setiap keinginan kita, bagaimana kalau kita meminta motor tetapi Alloh memberikan mobil, apa itu mustahil bagi Alloh, tentu saja tidak, tak akan ada yang mustahil baginya" ucap Abah.
"Bagaimana paham" tanya Abah lagi.
"Paham Abah terima kasih" ucapnya.
"Ada yang mau bertanya lagi" tanya Abah.
Salah satu santri mengacungkan tanganya.
"Abah jika kita berbuat sesuatu kebaikan, lalu orang lain membalasnya dengan kejahatan apa wajar jika kita tak baik lagi padanya" tanya santri itu.
"Sebenarnya jika kita memberikan kebaikan, kita tak perlu mengharapkan balasan jika begitu berarti kita tak ikhlas memberikan kebaikan pada orang lain, Abah harap jika kalian berbuat baik pada orang lain kalian harus melakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih, jika kita membantu orang lain tapi orang lain jahat pada kita, biarkan saja yang terpenting kita menolong orang lain dengan ikhlas, jika orang itu bicara yang bukan bukan biarkan saja jangan dengarkan ucapan mereka" ucap Abah.
"Paham" tanya Abah lagi.
"Alhamdulilah paham Abah" ucapnya.
"Ada yang bertanya lagi" tanya Abah.
"Abah saya mau tanya, apa hukumnya jika seorang istri mencuri uang suaminya karena suaminya itu pelit" tanyanya.
__ADS_1
"Tentang rumah tangga ya" ucap Abah tersenyum.
"Ya abah ada yang bertanya dulu aku hanya penasaran saja" ucap santri wanita itu.
"Jadi hukumnya itu tak apa apa ya tak berdosa, karena begini si suaminya itu pelit soal memberi nafkah, misalkan begini si suami dapat gajih satu juta tapi dia memberikan pada istrinya hanya dua ratus ribu maka jika si Istri mencuri itu hukumnya tak dosa ya, karena itu salah suaminya kalau saja dia mengerti pada kebutuhan rumah tangga yang sekarang semakin naik, maka dia tak akan memberikan uang segitu, jadi untuk para laki laki sebaiknya kita memberikan Nafkah pada istri kita sewajarnya saja karena istri itu adalah permata yang harus kita jaga dan bahagiakan jadi ingat kata kata ini, kalau kalian tak mau uang kalian hilang karena istri kita" ucap Abah.
"Paham Neng" tanya abah.
"Paham Abah terima kasih" ucap nya.
Seorang santri laki laki mengangkat tangannya.
"Abah saya mau bertanya, tentang Alloh tak mengabulkan Doa para umatnya, jika memang benar begitu tetapi kenapa ada Doa yang terkabul dan orang itu terbilang jarang ibadah" tanya santri laki laki itu.
"Ya kenapa orang jarang ibadah Doanya terkabul, karena begini dunia ini hanyalah alam fana tak akan ada kekayaan yang akan lama di dunia ini bahkan jika kita senyimpannya dengan sangat rapat itu akan percuma saja kamu akan meninggal dan harta akan di tinggalkan, nah itu hanya lah sebuah tipuan, Alloh sudah menuliskan takdir kita sebelum kita lahir, bahkan kita kaya atau miskin itu semua sudah takdir Alloh, jadi untuk kalian yang Doa nya belum terkabul jangan menyerah tetaplah ber doa dan beribadah siapa tau saja Doa kita akan terkabul di akhirat nanti" ucap Abah.
"Oh tapi Abah terkadang manusia kaya pun selalu mengeluh" ucapnya.
"Ya karena mereka tak ber syukur, ibarat begini kita punya uang satu juta tapi kita syukuri dan cukup tapi orang kaya dia tak akan cukup malahan dia akan mencari lagi uang yang banyak, lalu akan kita apa kan uang itu jika kita sudah meninggal uang itu mungkin akan menjadi warisan untuk anak cucu kita" ucap Abah.
"Paham" tanya Abah.
"Paham Abah" ucapnya.
"Ada yang akan di tanyakan lagi" tanya Abah.
Semua santri hanya diam saja.
"Baiklah kalau tak ada yang akan di tanyakan, kalian semua bersiaplah sebentar lagi Adzan Maghrib" ucap Abah.
"Siap Abah"
"Assalamualaikum" ucap Abah yang langsung pergi dari sana.
"Waalaikum salam" serempak para santri.
Semua santri bubar dari Madrasah dan kembali ke kamarnya untuk mengambil mukena dan sarung.
Semua santri melaksanakan Sholat Maghrib dan isya secara berjamaah.
Setelah selesai semua santri kembali ke kamarnya pukul setengah sepuluh malam untuk tidur.
Zia saat ini belum kembali ke dalam kamar karena tadi Abah memanggil Zia ke rumahnya karena ada hal yang akan Abah bicarakan pada Zia.
Jadi terpaksa Zia ke rumah Abah terlebih dahulu, saat Zia ke rumah Abah dia hanya di beri tau kalau Papahnya sudah mengirimkan Zia uang dan menitipkannya pada Abah tadi siang.
"Papah ini merepotkan Abah, maaf Abah aku sekeluarga selalu merepotkan Abah" ucap Zia.
"Kau ini Abah sudah menganggap kalian sebagai saudara Abah sendiri, jadi tak merepotkan" ucap Abah.
"Ya Abah terima kasih" ucap Zia.
Zia langsung pergi dari sana untuk pulang ke kamarnya karena hari juga sudah malam, Zia berjalan sendirian Zia menatap pada kiri dan kanan sangat sepi disana apa lagi ruangan semua lampunya padam.
Zia merasa kedinginan karena Angin malam menerpa badannya.
"Dingin sekali" gumam Zia.
"Aaaaaaaa" teriak Zia.
"Zia ini aku" ucap Adam menyorotkan senternya pada Zia.
"Gus Adam, apa apaan kenapa kau menakutiku" protes Zia karena sekarang Zia sedang ngos ngosan karena kaget dan takut.
"Menakuti bagaimana" tanya Adam.
"Kau menyorotkan senter mu di bawah wajah mu dan kau juga memakai sorban di kepala" ucap Zia.
"Zia aku sedang melihat lihat siapa tau ada para santri yang belum tidur dan soal ini aku kedinginan Zia" ucap Adam menyentuh sorbannya
"Hah baiklah aku akan ke kamar" ucap Zia.
"Selamat malam Zia" ucap Adam manis.
"Selamat malam sayang" ucap Zia.
"Ups maaf aku salah Gus, aku keceplosan" ucap Zia.
Adam cukup tersentuh dengan kata Sayang yang di ucapkan Zia.
"Tak masalah" ucap Adam.
"Maafkan aku" ucap Zia yang langsung pergi dari sana meninggalkan Adam.
"Duh Zia kau sangat bo doh kenapa memanggil sayang pada Gus Adam, mulut ini sangat bar bar" gumam Zia.
Zia masuk kedalam kamarnya dan tidur.
Sedangkan Adam merasa sangat senang saat Zia memanggilnya Sayang.
"Apa ini kenapa aku merasa begini saat mendengar Zia menyebut aku sayang, ayolah Adam jangan begini Zia hanya salah bicara dan yang pasti Zia menyebut sayang pada Haddad" ucap Adam ber monolog sendirian.
Adam memutuskan untuk tidur karena sudah malam juga bahkan saat dia ber keliling tadi Adam tak melihat apa apa, karena seperti biasa pesantren aman karena setiap sisi pesantren di benteng dengan tembokan tinggi, bahkan ada pagar juga yang tak bisa sembarang orang keluar.
Lagi pula para santri senior juga akan berjaga setiap malam dan melihat semua kamar karena takutnya ada yang berbuat macam macam pada para santri.
Apa lagi santri wanita sangat di jaga ketat.
__ADS_1
bersambung...