
Sore harinya setelah selesai sholat ashar Adam langsung pulang ke rumah karena akan masak makanan untuk makan karena tadi saat makan siang mereka terlewat kan.
Sedangkan Zia sekarang tengah mengangkut pakaian nya dari kamar santri ke rumah Abah karena sekarang Zia sudah menikah dengan Adam jadi kemana pun Adam pergi Zia harus ikut.
"Kak aku sedih deh karena kakak gak tidur di sini lagi" ucap Rena.
"Ya kak Zia padahal kan kau bisa tidur di sini" ucap Gita.
"Hey mana mungkin karena kan Zia itu sekarang istri nya Gus Adam jadi dia akan bulan madu sekarang apa lagi ini itu masa masa indah dalam pernikahan" ucap Ainun yang ada di sana.
"Mulai lagi" ucap Zia.
"Kau ini tak peka aku membela mu loh" ucap Ainun.
"Ya, yasudah aku akan ke rumah Abah sekarang" ucap Zia.
"Ya selamat senang senang" ucap Ainun.
Zia tak menggubris ucapan Ainun dia langsung pergi dari sana menuju ke rumah Abah.
Namun aroma makanan menyeruak dari arah dapur membuat penciuman Zia langsung betah mencium aroma harum masakan itu.
Zia menyimpan semua barang barang nya di atas kursi, bahkan Zia juga sudah menutup pintu karena takut nya ada yang masuk ke dalam.
Zia mendekat ke arah dapur, saat itu Adam akan masuk ke ruang tamu karena mendengar ada yang masuk, Adam takut ada kucing yang masuk karena waktu itu juga banyak kucing tetangga yang masuk ke rumah dan diam diam mencuri makanan.
Arah dapur dan ruang tengah hanya di batasi oleh tirai gorden saja.
Saat Adam hendak melangkah menembus tirai itu ada Zia yang sekarang hendak membuka nya.
Brugh
Mereka saling bertubrukan karena badan Zia yang kecil jadi mendapat dorongan dari Adam saja membuat Zia terhuyung ke lantai.
Tangan Zia memegang tirai yang ada di sana hingga membuat gordeng itu ikut bersama dengan Zia, mereka terjatuh ke lantai dengan posisi Zia berada di bawah dan Adam di atas, mereka hanya terhalang oleh gorden itu saja.
Dan lebih parah nya lagi Adam kejatuhan besi untuk mengait gordeng itu di atas pintu.
"Awwss" ucap Zia meringis kesakitan karena jatuh ke lantai dan di tindih oleh Adam juga.
Adam membuka gordeng yang menghalangi jarak antara Zia dan Adam.
Betapa malu nya Adam saat menatap wajah Zia yang sekarang ada di bawah nya.
Begitu juga Zia, dia hanya bisa menatap wajah Adam dari dekat tanpa bicara apa apa.
Namun Adam ingat kalau kompot gas nya belum di matikan.
"Astaghfirullah" ucap Adam yang langsung bangun dan melihat masakan nya.
"Untung saja gak gosong" ucap Adam yang langsung mematikan kompor gas nya.
Sedangkan Zia sekarang dia meringis kesakitan karena tertindih Adam.
Adam kembali lagi pada Zia yang sekarang masih terduduk di atas lantai.
"Ayo" ucap Adam mengulurkan tangan nya.
"Maaf bukan muhrim" ucap Zia yang langsung menutup mulut nya karena keceplosan bicara.
"Bukan muhrim? Lalu ijab qobul kemarin" tanya Adam.
"Maaf aku salah bicara" ucap Zia.
Adam tersenyum, dia langsung jongkok mensejajarkan tubuh nya dengan Zia yang sekarang masih duduk di lantai.
"Mana yang sakit" tanya Adam.
"Gak ada" ucap Zia.
Adam mengangkat tubuh Zia, menggendong nya walau pun Zia tak kenapa kenapa.
"Gus lepaskan aku tak apa" ucap Zia.
"Tak apa ini salah ku jadi sudah tugas ku menebus kesalahan ku" ucap Adam.
Zia menatap wajah suami nya itu, ada rasa haru di hati Zia karena bisa menikah dengan Gus Adam laki laki yang sangat tampan di sana.
Adam mendudukan Zia di kursi yang ada di ruang tamu.
"Mau aku urut yang sakit nya" tanya Adam.
"Gak usah" ucap Zia.
Zia menatap pada gordeng yang sekarang sudah berantakan di lantai.
"Gordeng nya" ucap Zia.
"Tak masalah" ucap Adam.
"Gus aku tadi sempat dengar kalau besi itu terjatuh di punggung mu, suara nya sangat keras Gus apa kau baik baik saja" tanya Zia.
Adam tersenyum.
"Aku tak apa" ucap Adam.
"Ini beneran Gus" ucap Zia.
"Aku juga beneran" ucap Adam.
"Aku lihat punggung kamu" ucap Zia memaksa.
"Jangan aku malu" ucap Adam.
"Kenapa harus malu aku istri mu kan" ucap Zia.
"Baik lah" ucap Adam yang langsung memunggungi Zia.
Zia membuka kaos polos yang sekarang tengah Adam pakai, dan benar saja ada luka merah di punggung Adam, mungkin karena kulit Adam yang putih jadi sangat terlihat jelas ada bekas luka di punggung nya.
"Astaghfirullah Gus lihat merah" ucap Zia.
"Sudah lah besok juga sembuh" ucap Adam.
"Gus tapi, kita obati saja ya" ucap Zia.
"Hah tak perlu Zia" ucap Adam.
"Kenapa" tanya Zia.
"Aku tak biasa di obati" ucap Adam.
"Tapi".
"Jangan ya percaya pada ku, besok aku sembuh" ucap Adam.
"Ya baik lah" ucap Zia.
Adam berjalan ke arah dapur karena akan mengambil makanan yang baru saja dia masak.
Ada nasi goreng dan ayam tepung yang tersaji di sana.
"Gus kau yang masak" tanya Zia.
__ADS_1
"Ya" ucap Adam.
"Kau sangat pandai memasak" ucap Zia.
"Tidak pandai hanya saja memasak bagi ku sudah biasa Zia" ucap Adam.
"Biasa bagai mana" tanya Zia.
"Ya biasa aku di luar negeri masak sendiri Zia tak ada yang mau masakin karena kalau beli makanan di sana takut, takutnya pakai daging yang lain" ucap Adam.
"Ya kebanyakan begitu sih" ucap Zia.
"Ayo makan" ucap Adam.
"Gus" ucap Zia yang langsung memegang tangan Adam.
Adam menatap pada Zia.
"Gus maaf karena aku belum bisa masak, aku belum bisa melakukan kewajiban ku sebagai istri" ucap Zia.
"Tak masalah Zia" ucap Adam.
"Benar kah" tanya Zia.
"Ya kau sudah mau menjadi istri ku saja aku sudah bersyukur Zia" ucap Adam.
"Kau ini gombal" ucap Zia.
"Gak gombal" ucap Adam.
"Masa".
"Sudah lah ayo makan aku suapi mau kan" tanya Adam.
"Kau ini aku memang manja tapi aku suka di suapi" ucap Zia.
"Ya kali saja kan kau rindu di suapi mamah kamu jadi biar aku yang suapi" ucap Adam.
"Tak perlu" ucap Zia.
"Ayo lah Humaira" ucap Adam.
"Humaira" tanya Zia heran.
Namun Zia berpikir lain dia menyangka kalau Adam suka pada wanita yang bernama Humaira.
"Gus kalau memang kau tak suka pada ku kenapa kau menikah dengan ku, kenapa kau tak menikah dengan Humaira saja" ucap Zia yang sekarang tengah kesal.
"Astaghfirullah Zia kau masih tak paham juga, Zia nama Humaira itu bukan seorang wanita yang bernama Humaira tapi anggap saja itu panggilan sayang aku pada mu karena dulu juga rasulallah memanggil Siti Aisyah dengan sebutan Humaira" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia malu karena sudah salah paham pada Adam.
"Makan nya jangan salah paham dulu" ucap Adam.
"Ya maaf" ucap Zia.
"Baik lah ayo makan" ucap Adam.
Mereka berdua makan bersama sama dan hanya berdua saja di sana, hingga selesai Zia membereskan semua makanan dan sekalian mencuci piring bekas nya makan.
Sedangkan Adam sekarang Dia tengah memasang kembali gorden yang tadi terjatuh.
"Gus aku akan ke kamar" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia masuk ke dalam kamarnya, dia melihat kalau ponsel Adam sekarang tengah berbunyi dan banyak sekali pesan yang masuk ke sana.
zia membukanya dan membaca pesan dari kontak yang nama nya Yasya.
{Gus dosen mengirim kan pelajaran}
{Kalau kau tak punya laptop datang saja ke rumah ku}
{Gus Ilham juga baru beli laptop}
{Ayo Gus kalau tidak kau akan ketinggalan pelajaran}.
"Gus Adam tak punya laptop" gumam Zia.
Zia keluar dari kamar Adam dan berjalan ke arah Adam yang sekarang tengah memasangkan gordeng.
"Gus" ucap Zia.
"Ya" tanya Adam.
"Gus di mana ponsel ku" tanya Zia.
"Ponsel? Oh di laci dekat ranjang di kamar" Ucap Adam.
"Aku ambil ya" ucap Zia.
"Ya ambil saja" ucap Adam.
Zia mengambil nya dan mengutak atik ponselnya.
Zia menelpon seseorang tapi sayang nya ponsel nya tak ada kuota.
"Aku hotspot saja pada Gus Adam" gumam Zia.
Zia mengutak atik ponsel Adam karena ingin meng hotspot pada Adam.
"Ada" gumam Zia.
Zia menelpon seseorang melalui aplikasi gagang telepon.
📞📞
"Kak" tanya Zia pada Rayhan yang baru saja dia telpon.
"Ya Zia" tanya Rayhan.
"Apa laptop ku masih ada" tanya Zia.
"Ada mau apa" tanya Rayhan.
"Di mana" tanya Zia.
"Di sini, hanya tinggal laptop yang lain nya sudah aku jual, kau jangan marah ini juga salah kamu yang mengambil uang perusahaan ku tanpa ijin" ucap Rayhan.
"Kau bawel kak, lalu di mana laptop nya? Bisa kau kirim kan ke sini" tanya Zia.
"Ya aku akan minta anak buah ku antar ke sana" ucap Rayhan.
"Terima kasih kak" ucap Zia.
"Ya".
📞📞
Zia melihat pesan masuk yang sangat banyak, namun ada satu hal yang membuat Zia penasaran ada pesan masuk dari kontak yang fotonya Adam.
Zia membuka nya dan sangat banyak sekali foto dirinya saat di villa yang di kirim kan Adam padanya.
__ADS_1
"Ya ampun Ning Rena memotret aku sebanyak ini" gumam Zia.
Adam datang ke sana, Adam langsung mengambil ponsel nya yang sekarang berada di atas meja.
"Satu perangkat terhubung" ucap Adam.
"Eh Gus aku minta hotspot pada mu boleh kan" tanya Zia.
"Tak masalah" ucap Adam.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Gus Yasya mengirim pesan" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia.
Adam melihat pesan dari Yasya, ternyata yasya meminta nya datang karena ada pelajaran.
{Apa pelajaran nya masih berlangsung} pesan Adam.
{Masih Gus, tapi aku sudah beri tau Dosen kalau kamu akan nyusul nanti} pesan Yasya.
{Ya}.
"Bagai mana ini untuk beli laptop uang nya kurang, ada juga ini buat Nafkah pada Zia" batin Adam.
Adam berjalan ke arah laci dan membuka nya, lalu mengambil uang sejumlah beberapa juta untuk ia berikan pada Zia.
"Zia aku hanya punya uang segini" ucap Adam.
"Buat apa" tanya Zia.
"Buat nafkah" ucap Adam.
"Nafkah? Tak perlu Gus kau saja yang simpan" ucap Zia.
"Mana bisa begitu, Zia sudah menjadi tugas ku untuk memberikan mu Nafkah jadi kau ambil dan simpan lah" ucap Adam.
"Baik lah" ucap Zia mengambil uang itu dan menyimpan nya di dalam lemari.
"Aku simpan di sana" ucap Zia.
"Ya terserah kau saja" ucap Adam.
Tokk..
Tokkk
Pintu rumah itu ada yang mengetuk.
"Gus biar aku saja yang buka" ucap Zia.
"Jangan aku saja, siapa tau itu teman ku" ucap Adam.
"Oh baik lah" ucap Zia.
Adam berjalan ke arah pintu karena akan membuka kan pintu.
"Ya siapa" tanya Adam.
"Ada kiriman buat Nona Zia" ucap seorang laki laki yang tak lain adalah anak buah Rayhan kakak nya Zia.
"Oh terima kasih" ucap Adam.
"Ya".
Orang itu pulang dan Adam kembali lagi ke kamar nya, dengan menenteng tas paper bag.
"Zia ada kiriman untuk mu" ucap Adam.
"Oh untuk aku" tanya Zia.
"Ya".
Zia membuka paper bag itu dan benar saja isinya laptop Zia saat Zia bekerja dulu, laptop nya masih bagus bahkan saat itu Zia baru saja membeli nya.
"Gus maaf tadi aku baca pesan kau dengan Gus Yasya, aku punya laptop bekas ku saat aku kerja dulu ini masih bagus aku baru pakai beberapa Minggu saja, kau bisa memakai nya untuk belajar" ucap Zia.
"Zia tak usah rencana nya aku akan beli" ucap Adam.
"Gak papa pakai saja" ucap Zia.
"Ya sudah kalau kau membolehkan" ucap Adam.
Zia menyala kan laptop nya dan langsung memasukan link dari universitas luar negeri itu.
"Ayo belajar lah" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Adam.
Zia melihat Adam yang sekarang tengah belajar daring di kamarnya, Zia jadi teringat pada jaman kuliah nya dulu.
Pada saat itu Zia terbilang menyia nyiakan waktunya karena sampai sekarang tak ada ilmu sedikit pun yang Zia dapat kan dari saat dia kuliah, apa lagi saat itu Zia hanya memikirkan belanja dan fashion saja.
"Sungguh aku menyesal telah berbuat ja hat dahulu, andai saja aku belajar dengan lebih giat mungkin aku sudah menjadi guru sekarang" batin Zia.
Zia menatap suami nya yang sekarang masih belajar bersama dengan dosen nya di laptop.
Tokk
Tok
Namun tiba tiba ada yang mengetuk pintu, Zia mengkode pada Adam agar tetap diam di sana dan Zia akan membuka kan pintu.
Zia berjalan ke arah pintu dan membuka kan pintu terlihat kalau Sofi yang tak lain adalah bibi nya Adam datang ke sana.
"Ada apa" tanya Zia.
"Di mana kakek tua itu" tanya Sofi.
"Abah" tanya Zia.
"Ya siapa lagi" tanya Sofi.
"Abah tak ada dia ke kota Semarang menemui Uwa Zaki" ucap Zia.
"Hah ada apa dengan pak tua pelit itu apa dia akan meninggal" tanya Sofi.
Zia terkejut mendengar hal itu.
"Syukurlah kalau sampai pak tua Zaki itu tiada aku malah lebih mudah untuk mengambil hartanya" ucap Sofi.
Saat itu juga Zia akan menutup pintu karena para anak buah Sofi datang ke sana, jujur saja Zia sangat takut pada mereka apa lagi sekarang Abah dan Umi tak ada.
Saat Zia hendak menutup pintu anak buah Sofi menendang pintu hingga pintu terbuka dan Zia terhuyung ke belakang.
"Tangkap dia" titah Sofi.
Kedua Anak buah Sofi itu hendak menangkap Zia.
"Lepas.... Gus... Tolong......" Teriak Zia.
bersambung...
__ADS_1