
Malam harinya Adam tak bisa tidur dia ingat pada Zia, satu hal yang adam takut kan, Adam takut kalau Zia ada yang culik apa lagi sekarang sedang marak penculi kan di kampung itu.
Adam melihat dari jendela kamarnya, namun tak ada apa apa hanya gelap dan sepi saja yang Adam lihat.
"Ya Alloh selamatkan Zia" ucap Adam berdoa.
Adam menutup matanya dia mencoba mengingat ingat tadi Zia ke mana saja, tapi Adam bukan orang yang bisa mencari keberadaan orang lain hanya dengan menggunakan penglihatan batin nya.
"Arghh kalau aku diam saja aku tak akan bisa mencari Zia" gumam Adam.
Adam mencari senter yang berada di laci meja di kamarnya itu.
Tanpa berlama lama lagi akhirnya Adam keluar dari rumah dan segera mencari Zia.
Umi yang melihat pun langsung masuk ke dalam kamarnya,
"Abah kenapa Abah bersikap begini, lihat Adam keluar karena akan mencari Neng Zia, Abah jangan begini, umi yakin kalau Adam sekarang salah paham pada kita, Umi yakin kalau Adam berpikir kalau kita tak perduli pada nya dan pada Neng Zia, Abah tak bisa kah lebih mengerti pada perasaan orang lain" ucap Umi memarahi Abah.
"Umi, Abah tak bisa membiarkan para santri keluar malam malam hanya untuk hilang nya seseorang" ucap Abah.
"Abah dia menantu kita bukan orang lain bukan seseorang, bagai mana kalau Bu Nita tau kalau anak nya hilang mau bilang apa kita nantinya" tanya Umi.
"Apa Umi lupa kejadian beberapa tahun lalu" tanya Abah.
"Abah hanya karena kejadian beberapa tahun lalu, Abah akan menyamakan dengan sekarang" ucap Umi.
"Bukan begitu Umi, Abah hanya tak mau kalau karena hilangnya Zia ini di manfaatkan orang orang yang tak punya Akal" ucap Abah.
"Bah itu kejadian sudah lama bahkan mungkin orang nya pun sudah bahagia sekarang" ucap Umi.
"Umi, apa Umi tau seberapa malu nya Abah saat melihat hal itu, Hah, pelajaran Abah di pertanyakan Umi" ucap Abah.
"Abah bukan kita yang salah, tapi mereka saja yang tak punya malu" ucap Umi.
"Terserah Umi tak paham pada Abah" ucap Abah.
"Baik lah Umi akan keluar untuk mencari Neng Zia, terserah Abah mau bagai mana juga" ucap Umi yang langsung membawa senter dan keluar dari sana.
Abah hanya bisa menarik nafas nya.
Sekarang Zia masih berada di gudang itu, mata nya perlahan terbuka, namun hanya gelap yang Zia lihat.
Zia memegang kepala nya dan mencoba mengucek matanya karena takut penglihatan nya salah.
Namun saat Zia kembali membuka matanya tetap saja matanya hanya menangkap kondisi gelap dan bau menyeruak di mana mana.
"Astaga aku di mana" gumam Zia.
Saat ini Zia tak berani beranjak dari duduknya karena Zia tak tau ada di mana dia sekarang, apa lagi keadaan sangat gelap Zia takut ada hewan atau apa saja yang bisa menyerang Zia kalau Zia berisik.
Zia yang phobia pada kegelapan pun hanya bisa diam, padahal kalau biasa nya Zia akan berteriak atau menangis kejer.
Namun sekarang Zia hanya menangis dalam diam karena takut ada binatang buas yang sekarang tengah berada di sana juga.
"Ya Alloh tolong selamatkan aku" batin Zia sambil air mata terus keluar dari matanya, bahkan Zia tak berani menggerakkan tangan dan seluruh badan nya karena takut.
Apa lagi saat Zia menatap kegelapan dia selalu membayangkan ada mahluk astral yang sedang mengawasi nya.
Sedangkan sekarang Adam sedang membuka gerbang pesantren, karena Adam akan mencari Zia di luar pesantren.
"Dam" sahut Umi yang sekarang menyusul Adam.
"Ada apa Umi" tanya Adam.
"Kau akan mencari Neng Zia kan" tanya Umi.
"Ya Umi aku baru mencari ke kelas siapa tau Zia di sana, tapi sayang Zia tak ada" ucap Adam.
"Dam kita cari Neng Zia di belakang pesantren" ucap Umi.
"Ya Umi tadi siang juga Adam tak mencari ke sana" ucap Adam.
"Ayo kita ikhtiar mencari Neng Zia ke sana" ucap Umi.
"Tapi Umi apa tak masalah kalau Umi ikut mencari Zia" tanya Adam.
"Emang nya kenapa" tanya Umi.
"Takut nya Abah akan marah" ucap Adam.
"Kalau Abah marah kita biar kan saja dia, Dam yang paling penting sekarang itu adalah keselamatan Neng Zia" ucap Umi.
"Baik lah Umi ayo" ucap Adam.
Mereka berjalan ke arah belakang pesantren, walau pun di sana tak ada banyak orang tapi di samping pesantren ada rumah Bu Nani yang suka membantu Umi masak.
Adam melihat jam tangan nya sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, walau pun begitu tak ada rasa takut di diri Adam bahkan Adam seolah berani ke belakang pesantren padahal kalau malam hari di sana sangat gelap dan sepi.
__ADS_1
Hanya karena demi Zia, Adam memberanikan diri datang ke sana dengan hanya di temani Oleh Umi saja.
"Hati hati Adam" ucap Umi.
"Ya" ucap Adam.
Mereka berjalan ke sana, karena jalanan cukup kecil apa lagi belakang Pesantren itu banyak sawah warga jadi mereka harus berjalan dengan hati hati.
"Zia" teriak Adam saat sudah ada di belakang pesantren.
Zia hawar hawar mendengar suara Adam, namun Zia yang sekarang mendengar suara Adam mencoba menajam kan pendengaran nya.
"Neng Zia" sahut Umi.
"Umi" gumam Zia.
Namun untuk beranjak pun Zia takut karena Zia tak tau tempat apa itu Zia takut kalau di sana ada ranjau atau apa saja yang akan mencelakai Zia.
"Zia" teriak Adam memanggil Zia.
"Gus Adam" teriak Zia memberanikan diri.
Adam mendengar suara itu.
"Zia" sahut Adam yang merasa kalau istri nya itu sudah dekat dengan nya.
Adam mendekat ke arah gudang yang sudah lama tak terpakai itu.
Adam hendak membuka nya tapi pintu nya terkunci.
"Umi di mana kunci pintu ini" tanya Adam.
"Entah Umi tak tau" ucap Umi.
"Ke mana ya" tanya Adam.
Zia mendengar suara Adam dan Umi yang sedang berbicara.
"Gus Adam" teriak Zia.
Umi dan Adam saling menatap.
"Neng Zia, Dam" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Adam.
"Zia" sahut Adam memastikan kalau itu benar benar Zia.
"Gus aku di sini Gus" teriak Zia yang semakin ketakutan apa lagi sekarang kaki nya merasa ada yang menggelitik.
"Zia kau di dalam" tanya Adam.
"Gus tolong" sahut Zia.
"Umi Zia di dalam" ucap Adam.
"Ayo buka Dam" ucap Umi.
Adam mencoba mendobrak pintu namun tak bisa karena pintu itu sangat kuat.
"Susah Umi" ucap Adam.
"Kenapa susah" tanya Umi.
"Zia sabar ya aku akan buka pintu nya" ucap Adam dari luar gudang itu.
"Buruan Gus Aku takut" teriak Zia.
Karena tak mau Zia sampai semakin ketakutan Adam pun menendang pintu itu namun tak membuat pintu itu terbuka.
"Bismillahirrahmanirrahim" gumam Adam menarik nafas nya.
Brughh
Adam mencoba menendang lagi pintu nya dan sekarang pintu nya terbuka, Umi langsung menyenter ke dalam gudang itu.
Namun ada sesuatu yang membuat Zia tak bisa bergerak, sekarang kaki Zia tengah di susuri oleh ular yang tak terlalu besar tapi cukup membuat Zia takut.
"Gus" ucap Zia yang sudah menangis tapi hanya air mata nya saja yang keluar.
"Tunggu Zia tunggu" ucap Adam.
"Dam ayo usir ular nya" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Adam.
Adam mengambil bekas saku yang hanya tinggal gagang nya saja.
__ADS_1
Adam mendekat pada Zia karena akan mengusir ular itu dari kaki Zia.
Adam mencoba menjauhkan ular itu dari kaki Zia, Adam melakukan nya dengan perlahan karena takutnya Ular itu akan mengigit Zia.
"Gus" ucap Zia namun dengan posisi yang sama yang sedang berdiri dan bersandar pada tembok.
Setelah gagang sapu itu mengenai ular itu, Adam langsung melempar dengan keras ular itu, sehingga bisa terlempar jauh bersama dengan gagang sapunya.
Zia langsung mendekat pada Adam.
"Dam ayo kita keluar takutnya akan ada ular yang lain" ucap Umi.
"Ayo Zia" ucap Adam yang langsung membawa Zia keluar dari sana.
Setelah di luar gudang itu, Zia langsung memeluk Adam karena masih takut pada ular yang tadi.
Zia menangis dan mengeluarkan semua air matanya di dada bidang Adam.
"Maaf kan aku Zia karena aku tak bisa menjaga mu" ucap Adam.
Umi menatap haru pada kedua pasangan itu, karena walau pun begitu Umi tak gagal mengurus Adam yang sangat sayang pada istri nya bahkan Zia tak ada pun Adam mencari nya sampai ketemu.
"Ya Alloh terima kasih sudah memberikan Neng Zia pada Adam" gumam Umi.
"Gus aku takut" ucap Zia.
Adam bisa merasakan betapa gemetar nya tubuh Zia sekarang, Adam tau kalau Zia sekarang sangat ketakutan.
"Neng ayo pulang ke rumah, ayo Dam pulang" ucap Umi.
"Ya ayo, ayo Zia kita pulang aku janji akan menjaga mu" ucap Adam.
Zia tak bicara dia hanya menangis saja karena masih takut pada kejadian tadi.
Adam mengerat kan pegangan nya pada tangan Zia.
"Maafkan aku Zia" ucap Adam.
Mereka sampai ke rumah Umi, sekarang mereka masuk ke dalam Umi membawakan Zia teh hangat supaya Zia bisa minum.
"Zia kenapa kau bisa ada di gudang" tanya Adam.
Namun Zia tak menjawab dia hanya menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Adam.
Adam mengusap usap kepala Zia yang di tutupi oleh hijab.
"Tenang Zia kamu sudah pulang sekarang" ucap Adam.
"Gus aku" ucap Zia dengan suara bergetar.
"Neng Zia tenang ya sekarang kamu sudah pulang" ucap Umi.
"Ya Zia kau jangan takut ada aku dan Umi di sini" ucap Adam.
"Gus aku ingin istirahat" ucap Zia.
"Baik lah ayo ke kamar" ucap Adam.
"Bisa antar aku untuk membersihkan pakaian ku ini" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Adam membawa Zia ke kamar mandi.
Setelah selesai mereka akan masuk ke kamar.
"Umi tidur lah kita bicara lagi besok" ucap Adam.
"Ya baik lah" ucap Umi.
Zia memakai pakaian ganti itu pun di bantu oleh Adam,
Adam membantu membaringkan Zia di atas kasur.
Adam menyelimuti Zia dengan penuh kasih sayang.
"Zia tidur lah aku akan peluk kau" ucap Adam yang langsung memeluk Zia.
Zia memejamkan mata nya, namun tiba tiba bayangan masa lalu nya terlintas di pikiran Zia.
"Aaaaa" teriak Zia yang langsung bangun.
"Ada apa Zia" tanya Adam.
"Gus aku takut" ucap Zia.
"Ada aku jangan takut" ucap Adam kembali mengeratkan pelukannya.
bersambung
__ADS_1
ada apa ya dengan Zia???