
Rena mengambil kan tali dan lakban.
"Ini ustadzah" ucap Rena menyodorkan tali itu pada Aulia.
"Ayo Ning bantu aku mengikat nya" ucap Aulia.
Rosa berontak dia tak bisa kalau dia diam saja dan harus mengakui perbuatannya pada Zia.
"Lepas kan aku dasar iblis" geram Rosa.
"Pertanggung jawabkan ini semua Ning Rosa jangan lari dari masalah, setelah itu aku akan masukan kau ke penjara karena sudah membuat Ustadzah Zia dan Gus Adam hampir berpisah" ucap Aulia.
"Ayo ustadzah semoga saja Kak Zia paham dan langsung menghentikan gus Adam yang akan pergi" ucap Rena.
"Oh baik lah ayo" ucap Aulia.
Mereka berdua menyeret Rosa menuju rumah orang tua Zia.
Sedangkan Zia saat ini dia sudah masuk ke dalam ruangan bidan, Zia melihat kalau sekarang sudah pukul setengah sepuluh pagi.
"Coba ini Mbak" ucap bidan itu memberikan benda pipih pada Zia.
"Tapi Bu saya hanya pusing mual dan sakit perut saja" ucap Zia.
"Mbak tidak di kb kan" tanya bidan yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari Zia.
"Tak ada salahnya mencoba dulu" ucap Bu bidan itu.
"Baik lah" ucap Zia yang langsung masuk ke dalam kamar mandi dan pipis di sana karena akan mencoba tespeck yang di sarankan bidan itu.
Zia menunggu hasil nya di meja bidan itu karena kata Bidan Zia hanya perlu memasukan urine pada gelas yang sudah di sediakan.
Bidan mengambil tespeck itu dan melihat nya secara teliti.
"Kapan terakhir kali mbak datang bulan" tanya bidan itu.
"Kurang lebih satu bulan karena saat puasa kemarin saya pul puasa" ucap Zia.
"Baik lah" ucapnya.
Bidan itu memeriksa perut Zia.
"Kalau saya perkirakan mbak saat ini hamil 6 minggu itu pun di lihat dari terakhir datang bulan tapi kalau mau lebih jelas nya bisa di USG saja" ucap bidan itu.
"Apa aku hamil" tanya Zia tak percaya.
"Ya mbak tespeck nya positif dan mbak sudah tak datang bulan" ucap bidan.
"Benarkah" tanya Zia.
"Ya mbak saya akan memberikan obat penambah darah dan yang lain nya, saya sarankan untuk mengonsumsi susu ibu hamil ya, jangan terlalu kecapean dan jangan terlalu sering mengonsumsi makanan pedas" ucap bidan itu.
Zia masih tak percaya pada ucapan bidan itu tak sangka ternyata dia akan menjadi seorang ibu.
"Gus Adam harus tau" batin Zia.
Namun hati Zia seolah enggan memberi tau nya apa lagi kejadian itu masih sangat terasa di hati Zia.
Zia berjalan pulang dari bidan itu, langkah nya seolah gusar dia sangat tak tau harus melakukan apa, antara mau memberi tau Adam atau tidak nya.
"Ya Alloh harus apa aku, apa gus Adam akan perduli" gumam Zia melihat perut nya yang masih datar.
"Kamu tenang saja nak mamah akan menyayangi mu, walau pun tanpa papah" gumam Zia.
"Kak Zia" teriak Rena dari arah belakang Zia.
Zia membalikkan tubuhnya dia melihat Rena, Aulia, dan Rosa datang ke sana.
"Kak Zia dengar kan penjelasan ini" sahut Rena.
"Ada apa" tanya Zia ketus apa lagi di sana ada Aulia.
"Ustadzah Zia tolong dengar kan aku dulu, aku mau beri kamu penjelasan tentang aku dan Gus Adam" ucap Aulia.
"Apa lagi yang akan di jelaskan" tanya Zia.
"Ayo Rosa bilang lah jangan buat masalah semakin runyam" ucap Aulia sambil melepaskan lakban di mulut Rosa.
"Dasar kau iblis Aulia" geram Rosa.
"Ustadzah Zia saya dengar dia menjebak aku dan Gus Adam supaya kalian pisah dan sekarang kalian akan pisah dia juga akan pergi ke luar negeri entah kemana" ucap Aulia.
Namun Zia seolah tak percaya pada ucapan Aulia.
"Ayo lah Rosa bilang pada ustadzah Zia, atau aku akan laporkan kau ke polisi" ucap Aulia.
"Zia aku tak melakukan apa apa" ucap Rosa.
"Jangan bohong Rosa" geram Aulia yang langsung mencekram kerudung Rosa hingga membuat Rosa meringis.
"Ya ya lepas kan aku, aku akan bilang pada Zia" ucap Rosa.
"Baik lah cerita kan" ucap Aulia.
"Ya Zia aku yang melakukan nya, aku yang membuat kalian pisah, tapi ini juga karena kamu Zia" bentak Rosa.
__ADS_1
"Karena aku" tanya Zia yang semakin tak paham.
"Ya karena kau yang telah membuat aku keluar dari kampus" ucap Rosa.
Zia mengernyit kan kening nya dia semakin tak paham.
"Aku Rosalina yang sering kau buli di kampus kau pasti tau kan Aziya Yunita Wijaya, yang sangat sombong dan menyalah gunakan kekuasaan kakaknya" ucap Rosa.
"Hah kamu Rosa yang culun itu kan" tanya Zia.
"Ya aku Rosa yang sering kau hina itu, kau puas sekarang aku yang dulu kau suruh suruh kau lihat aku Sekarang hidup aku hancur Zia, itu semua karena kau aku dendam padamu dan sekarang aku sudah membalas nya" ucap Rosa sambil tertawa.
"Tapi aku tak salah dulu kau kan yang mengundurkan diri dan katanya kau tak punya biaya" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Rosa yang langsung menatap tajam pada Zia.
"Ini karena kau Zia aku tak pernah di terima di kampus itu, orang orang memperlakukan ku seperti sampah itu karena kau yang memulai nya, semua orang tunduk pada mu di kampus hanya karena kau kaya dan kau sangat berpengaruh, tapi setidaknya aku bangga sekarang kau hancur Zia dan ada aku di balik kehancuran mu itu" ucap Rosa.
"Tega sekali kamu Ning, padahal aku tak melakukan apa apa padamu" ucap Zia.
"Aku yang menjebak Aulia dengan Gus Adam karena aku tau dulu juga saat aku menjebak mu dan Akash itu gus Adam tak marah dan sekarang membuat mu marah itu sangat gampang hanya menaruh ulat di kerudung Aulia dan setelah itu Gus Adam dan Aulia berpelukan hahahah gampang bukan, Kau juga harus tau Zia aku bahkan menjebak Ning Husna dan Ustadz Haddad karena aku tak mau melihat kau bahagia Zia, tapi sayang Gus Adam sudah hilang akal saat menikah dengan mu, dia menikahi iblis bukan manusia" ucap Rosa.
"Berani sekali kau bilang kalau aku iblis" geram Zia.
"Memang benar, aku ada satu pengakuan lagi Zia rasanya tak asik saja kalau hanya aku yang tau, aku adalah wanita yang bercadar yang tempo lalu di bawa oleh Adam kerumah mu" ucap Rosa.
"Apa jadi kau" ucap Zia.
"Ya aku yang melakukan itu tapi sayang kau tak takut dengan hantu apa lagi suami mu itu sangat ikut campur" ucap Rosa.
"Jangan bilang kalau kau juga yang menaruh ular ke dalam kamarku hingga ular itu bertelur di kediaman Abah" ucap Zia.
"Kamu pikir Siapa lagi, kau pikir kan saja pesantren yang sangat tertutup itu bisa memasukan ular sebesar itu apa masuk akal" tanya Rosa.
"Ja hat sekali kau" ucap Zia.
"Aku tak ja hat tapi kau yang bo doh Zia kau bo doh kau sangat tak berpikir aku yakin otak mu itu hanya sebesar udang saja, hahahah aku tak habis pikir kalian suami istri memang bod oh sangat gampang untuk di bo dohi" ucap Rosa yang langsung tertawa.
Plakk.
Satu tamparan mendarat di pipi Rosa, Zia sangat geram mendengar hal itu.
"Aku pasti kan kau akan mendekam di penjara Rosalina" ucap Zia.
"Aku gak takut setidaknya kau dan Gus Adam berpisah maka aku tak akan menyesal kalau harus di penjara, kau harus tau ada Ning Marwah juga di balik ini semua, dia tak rela kalau harus melihat kau bahagia, ya aku juga paham Ning Marwah dendam pada mu siapa yang tak akan sakit hati jika melihat orang yang dia sayang menikah dengan iblis jadi jadian" ucap Rosa.
Zia hendak menampar lagi namun dia urungkan.
"Kau tau bahkan tangan ku hanya akan kotor jika terus menerus menampar mu, kau dan Ning Marwah sama saja" ucap Zia.
Zia menatap pada Rena.
"Kak ayo susul Gus Adam, dia akan berangkat sebentar lagi" ucap Rena.
"Ya ustadzah Zia" ucap Aulia.
"Apa dia belum berangkat" tanya Zia.
"Setau aku dia berangkat pukul sepuluh" ucap Rena.
"Baik lah aku akan ke sana" ucap Zia.
"Percuma Zia saat kau ke pesantren gus Adam sudah pergi dan kau akan berpisah dengan nya" teriak Rosa.
"Diam kau" ucap Rosa yang langsung menyumpal mulut Rosa dengan lakban itu.
"Ning temani lah Ustadzah Zia" ucap Aulia.
"Baik lah" ucap Rena yang langsung berlari menyusul Zia.
Zia berlari namun dengan langkah yang hati hati juga karena dia tau di kandungan nya juga sudah ada jabang bayi yang harus Zia jaga.
"Gus Adam aku mohon jangan pergi" gumam Zia.
Air mata Zia menetes membuat matanya buram tak bisa melihat dia terjatuh ke tanah sehingga lutut nya berdarah.
Namun Zia tak mau menyerah dia terus berjalan menuju ke arah pesantren yang lumayan jauh dari tempat nya sekarang.
(Ayo Zia kamu harus semangat).
Rena yang melihat Zia jatuh pun langsung ingin menyusul tapi apa lah daya dia tertinggal jauh sekali oleh Zia.
"Ya Alloh jangan biarkan Gus Adam pergi dahulu" gumam Rena.
Zia terus berlari hingga kaki nya merasa kan sakit dan nafasnya sudah ngos-ngosan, Zia sampai di pesantren namun pagar pesantren itu tertutup sangat rapat.
Zia melihat dari celah pagar itu ternyata Gus Adam masih di sana dia tengah bersalaman dengan Abah dan Umi.
"Syukurlah" batin Zia sampai menangis terharu karena masih bisa meluruskan ini semua.
Zia membuka pintu pagar itu walau pun sudah tapi Zia seolah enteng sekali membuka nya.
Zia berlari menuju tempat Gus Adam berada.
"Gus" teriak Zia.
__ADS_1
Adam yang tengah bersalaman dengan Abah pun langsung membalikan badannya melihat pada sumber suara itu.
Senyum nya merekah melihat sang pujaan hati ada di hadapannya.
Zia langsung berlari dan memeluk Adam dengan sangat erat, dia menumpahkan air mata nya di dada bidang Adam.
"Zia" ucap Adam yang langsung balas memeluk Zia dengan sangat erat.
"Maaf karena aku sudah salah paham pada mu" ucap Zia.
"Tak apa" ucap Adam.
"Aku tau kalau yang salah itu adalah Ning Rosa dan Ning Marwah" ucap Zia.
"Asal kau percaya pada ku aku tak akan mempermasalahkan mereka" ucap Adam.
Zia memeluk Adam lagi.
"Selamat kau akan menjadi Abi" ucap Zia.
Adam terkejut mendengar hal itu.
"Apa" tanya Adam tersenyum bahagia mendengar nya itu.
"Ya kau akan menjadi Abi aku akan menjadi mamah, Gus bayi kita sudah ada sejak aku masih puasa" ucap Zia.
"Benarkah" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia.
Adam langsung jongkok dan mendarat Kan beberapa kecupan pada perut Zia.
Adam Seolah tak memperdulikan para santri dan semua orang yang ada di sana, Adam merasa kan kalau dunia hanya milik nya dan Zia.
(Gus adam merasa kalau dunia hanya milik nya, gak papa Gus kita semua hanya ngontrak kok, dunia milik kamu sama Zia saja)
Bahkan di sana juga ada Yasya dan Ilham yang melihat kejadian itu.
"Gus ayo bangun, lihat semua orang melihat kita" ucap Zia.
"Aku bahagia Zia akhirnya aku jadi Abi" ucap Adam.
"Ayo bangun dulu" ucap Zia.
Adam bangun dia melihat pada semua orang yang melihat nya, Adam merasa malu karena menjadi pusat perhatian.
"Aku akan menjadi ayah" ucap Adam lagi tak henti hentinya dia bersyukur dan tersenyum Bahagia.
Namun adam ingat kalau sekarang dia akan berangkat.
"Tapi Zia aku harus berangkat sekarang, tak apa lah aku akan batalkan" ucap Adam.
"Kenapa batal Gus" tanya Ilham.
"Aku mau menemani Zia di sini" ucap Adam.
"Gus jangan begitu kau berangkat saja" ucap Zia.
"Tapi kau" tanya Adam.
"Aku bisa menjaga bayi ini sendiri kau fokus saja belajar, ini impian kamu bukan" ucap Zia.
"Gak aku akan di sini saja menemani mu, aku ingin menemani kau hamil sampai melahirkan" ucap Adam.
"Tapi kau menunggu kuliah ini sampai beberapa tahun, pokok nya kamu harus pergi kamu harus belajar kalau kamu gak berangkat kamu harus mengulang lagi tahun depan" ucap Zia.
"Ya dam kau berangkat saja" ucap Umi.
"Tapi" ucap Adam.
"Jangan banyak tapi tapian Zia aman bersama umi dan orang tuanya" ucap Umi.
"Ya deh aku akan berangkat" ucap Adam.
Adam mendekat lagi pada Zia dan memeluk nya.
"Kau janji kan akan membatalkan perceraian nya" tanya Adam.
"Ya gus Adam" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Adam.
"Ayo gus" ucap Ilham dan Yasya.
"Aku berangkat jaga bayi kita aku akan kembali satu tahun lain" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Zia menatap kepergian Adam ada rasa sedih dalam hati Zia karena tak bisa menikmati masa kehamilan nya dengan Adam.
Sebuah perpisahan yang membuat Zia sadar kalau ternyata orang yang paling berharga itu adalah orang yang dekat namun sekarang jauh dari kita.
"Baiklah bayi kita akan tunggu Abi mu satu tahun lagi" ucap Zia sambil mengusap perut nya itu.
maaf ya kalau ending nya gak sesuai sama pemikiran kalian..
__ADS_1