
yuk yang mau ikut ke pernikahan Zia dan Adam...
Zia sekarang tengah melihat para tamu yang berdatangan ke sana, sekarang Zia tengah memikirkan bagai mana nantinya saat mereka bulan madu.
"Apa aku dan Gus Adam akan canggung nantinya" gumam Zia.
Malam harinya di pesantren Adam tengah mempersiapkan sepatu dan yang lain karena besok dia akan menikah, bahkan Adam juga sudah mencetak Foto Zia dan memajang nya di dinding kamar nya.
Karena setelah menikah Adam akan langsung membawa Zia ke rumah Abah.
Menit berganti menit hingga waktu nya sekarang Adam akan menikah, bahkan malam hari nya Adam sholat tahajud karena ingin kelancaran di hari pernikahan nya.
THE WEDDING..
Pagi hari nya Adam sudah ribut memakai jas karena akan menikah dia tak mau kalau dia terlambat datang ke kediaman Zia.
"Umi sudah" tanya Adam pada Umi nya yang sekarang masih siap siap.
"Bentar Dam, lagi pula masih jam enam pagi" ucap Umi.
"Ya takut nya terlambat" ucap Adam.
"Dam jarak nya dekat, hanya beberapa meter saja" ucap Umi.
"Ya ayo Umi" ucap Adam.
"Umi mu kalau kemana mana pasti lama" ucap Abah.
" Ya Abah" ucap Adam.
Adam keluar dari rumah nya, di melihat kalau para santri sudah siap di halaman pesantren, satu hal yang paling Adam malas saat melihat adik nya yang sudah pasti akan ribut kalau mau berangkat ke mana mana.
"Di mana umi" tanya Rena.
"Ada di dalam" ucap Adam.
Rena berlari masuk ke dalam rumah, tapi dia balik lagi pada Adam.
"Gus kau sangat tampan" ucap Rena pada Adam.
"Ya aku tau" ucap Adam.
"Ya Alloh sisa kan laki laki untuk ku yang sama seperti Gus Adam" ucap Rena berdoa.
"Jangan seperti ku, aku kan kakak mu" ucap Adam.
"Maksud ku yang tampan nya seperti dirimu" ucap Rena.
"Sudah lah jangan banyak bicara lagi ayo cepat bersiap kita akan ke sana sekarang" ucap Adam.
Semua santri putri sudah membawa kado untuk pengantin bahkan hampir semua santri putri membawa hadiah.
Semua nya sudah bersiap, tanpa berlama lama lagi sekarang mereka semua berangkat dari sana bahkan ada warga juga yang ikut ke rombongan Adam.
Saat ini Adam merasa sangat gugup dan grogi bahkan dulu saat Adam akan menikah dengan Marwah, Adam tak Se gugup ini tapi sekarang dia sangat gugup.
"Tenang Gus jangan grogi" ucap Fauzi yang sekarang berada di sana mendampingi Adam.
"Kau tau aku sangat gugup sekarang" ucap Adam namun dengan tersenyum.
"Kau tenang Gus ada aku" ucap Fauzi.
"Bisa kah kau wakil kan aku" ucap Adam yang sekarang tangan nya gemetar.
"Gus ya Alloh, kalau aku yang ijab qobul jadi aku yang nikah dengan Zia bukan kamu" ucap Fauzi.
"Tapi mau bagai mana lagi Gus, aku grogi sekarang" ucap Adam.
"Istighfar Gus" ucap Fauzi yang tersenyum melihat teman nya itu.
Karena se tau Fauzi kalau Adam itu adalah laki laki yang pemberani apa lagi Adam adalah pribadi yang sopan dan ramah tapi sekarang Adam ketakutan layak nya anak kecil yang akan di sunat.
Sedangkan di rumah orang tua Zia Sekarang Zia sudah di rias menjadi pengantin, sekarang Zia pakai adalah adat Sunda karena permintaan dari orang tua nya.
"Kau sangat cantik Zia" ucap Nita.
"Benar kah" tanya Zia.
"Benar sekali Zia aku sangat pangling melihatnya" ucap Raya.
"Benar kah aku se cantik itu" tanya Zia.
"Bener" ucap Raya.
Zia menatap dirinya di cermin benar apa kata kakak ipar dan mamah nya itu sekarang Zia sangat berbeda.
"Apa aku akan bisa membahagiakan Gus Adam" ucap Zia.
"Tentu saja" ucap Raya yang langsung mendekat pada Zia.
"Kak aku sangat gugup" ucap Zia.
"Begitu lah seorang wanita Zia" ucap Raya.
"Ya kak" ucap Zia.
"Zia ayo rombongan Adam sudah datang" ucap Nita mamah nya.
"Ayo Zia" ucap Raya mengandeng Zia untuk keluar melihat rombongan Adam.
"Kak aku sangat gugup" bisik Zia.
Rombongan Adam sudah berada di depan rumah Zia, dan bagai mana perasaan Adam sekarang dia sangat gugup bahkan kering dingin keluar dari pelipis Adam.
"Tenang Adam" bisik Abah.
"Wah kak Zia cantik ya".
"Ya lihat baju nya cocok pisan sama kak Zia".
"Kapan aku bisa menjadi kak Zia".
"Aku iri pada kak Zia".
Ucap para santri putri yang terdengar sampai telinga Adam.
Rombongan Zia mendekat pada Adam, sesuai Adat Zia mengalungkan bunga melati ke leher Adam.
Semua santri dan orang orang yang ada di sana bersorak pada Adam dan Zia.
Membuat keduanya semakin gugup dan grogi.
Zia dan Adam berjalan ke arah pelaminan karena mereka akan melakukan ijab qobul sekarang.
__ADS_1
Adam dan Zia duduk di hadapan penghulu dan Topan papah nya Zia.
Adam sekarang semakin gugup karena sebentar lagi dia akan mengikrarkan janji suci di hadapan papah nya Zia dan banyak orang yang akan menjadi saksinya.
"Aku gugup" bisik Adam pada Zia.
"Tenang lah anggap saja hanya ada aku di sini" bisik Zia.
"Tapi aku tak bisa" bisik Adam.
"Anggap lah ini perjuangan mu untuk mendapatkan aku" bisik Zia.
"Aku akan usaha kan" bisik Adam.
Adam menjabat tangan Topan.
"Tarima abdi nikah ka Neng Aziya Yunita Wijaya putra teges bapak Topan Arya Wijaya, ku mas kawin seperangkat alat Sholat sareng emas sapuluh gram di bayar kontan" ucap Adam mengucap kan ijab qobul dengan lancar walau pun saat mengucap kan nya Adam hanya menutup matanya.
"Sah" tanya penghulu pada saksi.
"Sah" serempak.
"Alhamdulillah......" Penghulu itu berdoa dan semua orang yang ada di sana mengaminkan Doa penghulu itu.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri" ucap penghulu.
"Terima kasih pak" ucap Adam.
Zia menyalami tangan Adam, namun karena Adam tak tau apa yang harus dia lakukan setelah nya, Adam hanya diam saja.
"Cium Gus" teriak yang lain.
"Hah" tanya Adam terkejut.
Adam menatap pada Zia,
"Nanti saja ya" ucap Adam yang hanya di balas anggukan kepala oleh Zia.
Adam dan Zia sekarang duduk di pelaminan, dan banyak sekali para santri yang mengucap kan selamat pada pengantin baru itu.
"Selamat ya Gus" ucap para santri.
"Terima kasih" ucap Adam.
Banyak sekali hadiah yang Adam dan Zia dapat kan apa lagi sekarang Alena juga datang ke sana bersama dengan Lukas.
"Selamat menikah ya Zia, kau sangat cantik" ucap Alena yang langsung memeluk Zia.
"Kau cepat lah menikah" ucap Zia.
"Ya aku akan secepat nya menikah" ucap Alena.
"Tumben pakaian mu tertutup sekarang" tanya Zia.
"Ya aku akan berubah sekarang" ucap Alena.
"Kau ini" ucap Zia.
"Aku punya sesuatu untuk mu, terima ya aku tak bisa berikan yang lain hanya ini saja, dan kau harus tau Zia aku mrmbeli ini dari hasil kerja keras ku" ucap Alena.
"Wah terima kasih" ucap Zia.
"Baik lah aku akan turun dan makan sepuasnya" ucap Alena.
Zia dan Adam duduk di pelaminan sambil melihat lagu Qasidah yang sedang di main kan oleh para santri di atas panggung.
Zia dan Adam hanya diam saja, dan ini lah yang paling Zia takut kan, saat mereka menikah maka akan terasa sangat canggung.
"Zia" ucap Adam.
"Ya" tanya Zia menatap pada Adam.
"Kau cantik" ucap Adam.
"Kau juga" ucap Zia.
"Aku cantik" tanya Adam.
"Bukan maksud ku kau tampan" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Adam.
Semua keluarga mengucap kan selamat pada Zia dan Adam, acara berlangsung dengan sangat lancar tanpa hambatan.
Namun tak jauh dari sana ada Sofi yang tak lain adalah Bibi nya Adam, datang ke sana karena tak di undang oleh Abah.
"Berani sekali pak tua itu tak mengundang ku padahal aku juga kan keluarga nya" ucap Sofi.
"Nyonya ada body guard di sana" ucap anak buah Sofi.
"Benar kah bahkan mereka saja tak akan bisa menghentikan aku karena aku Bibi nya Adam" ucapnya.
Namun beda dengan anak buah Rayhan, mereka langsung mendekat pada Sofi.
"Selamat siang" ucap anak buah Rayhan.
"Siang aku akan masuk" ucap Sofi.
"Mana undangan nya" tanya anak buah Rayhan.
"Undangan? Aku tak punya undangan" ucap Sofi.
"Oh kalau begitu anda tak boleh masuk" ucap anak buah Rayhan tegas.
"Ck kau tau aku ini Bibi nya Adam" ucap Sofi protes.
"Kalau tak punya undangan Maka tak boleh masuk itu peraturan nya Nyonya" ucap anak buah Rayhan.
"Peraturan? Di kampung pakai peraturan kau kira ini pernikahan gegeden, hah atau pernikahan presiden tidak kan, mana mungkin gak punya undangan gak boleh masuk" ucap Sofi ketus.
"Tapi itu permintaan pihak keluarga" ucap nya.
"Kau salah lawan kalau bicara begitu pada ku, aku ini Bibi nya Adam" ucap Sofi kekeuh.
"Mana ada bibi nya tapi tak punya undangan kalau pun benar mungkin kau akan ikut rombongan tadi" ucap anak buah Rayhan.
"Berani nya kau " geram Sofi.
"Nona sebaik nya kita pulang saja besok kita akan datang ke pesantren Abah" ucap anak buah Sofi.
"Baik lah kalau kau tak mengijinkan aku masuk aku akan pulang, tapi awas saja ya aku akan ingat wajah kalian" ucap Sofi.
"Ya begitu lebih baik" ucap anak buah Rayhan ketus.
__ADS_1
"Argh siapa mereka sampai berani bicara begitu pada ku" geram Sofi.
Di pelaminan Zia dan Adam tengah berfoto bahkan fotografer mengarahkan mereka untuk bergaya bahkan mereka di arah kan untuk berfoto dengan gaya yang sangat dekat bahkan sangat in tim bagi Adam.
Detak jantung Adam tak bisa berhenti sejak tadi dia tak bisa mengontrol jantung nya yang terus berdebat.
"Kau kenapa" tanya Zia.
"Tidak" ucap Adam gugup.
"Gus jantung mu berdetak sangat keras aku sampai mendengar nya" ucap Zia.
"Kau tau jawaban nya" ucap Adam.
"Ya baik lah" ucap Zia.
Sampai beberapa potretan Adam dan Zia terus saja di foto oleh fotografer itu.
Bahkan semua keluarga juga melakukan foto bersama dengan pengantin.
"Zia" ucap Sarah Momy nya Alena.
"Bibi Sarah" ucap Zia.
"Selamat ya, dulu saat aku lihat kau masih bayi dan saat aku pergi kau berusia 5 tahun dan saat aku datang ke sini lagi usia mu sudah 24 tahun kau sudah sangat de wa sa Zia" ucap Sarah.
"Ya Bi terima kasih" ucap Zia.
"Semoga kalian langgeng ya" ucap Sarah.
"Amin" ucap Zia dan Adam serempak.
Umi dan Abah mengucap kan selamat pada Adam putra nya dan Zia yang sudah resmi menjadi menantu nya.
"Dam selamat ya sekarang tugas mu banyak kau punya istri Sekarang Abah harap kau bisa membimbing nya menjadi istri yang Sholehah" ucap Abah.
"Insya Allah Abah aku bisa" ucap Adam.
"Harus bisa" ucap Abah.
Sedangkan Umi sekarang tengah memeluk Zia, walau pun Umi tau masa lalu Zia tapi Umi tak pernah malu punya menantu seperti Zia malahan umi sangat senang karena akhirnya Zia yang menjadi menantu nya.
"Umi akan pulang besok kau datang ya ke pesantren" ucap Umi.
"Siap Umi" ucap Zia.
"Aku harap kau bisa menjadi putri ku dan aku bisa menjadi Ibu yang baik untuk mu" ucap Umi.
"Umi kau sangat baik bahkan kau sangat sangat baik" ucap Zia.
"Baik lah Umi dan Abah harus pulang karena banyak yang harus di bereskan di pesantren" ucap Umi.
"Ya hati hati di jalan" ucap Adam.
Umi dan Abah berpamitan pada Nita dan Topan karena tak bisa lama lama di sana.
Hingga sore harinya, tamu undangan sudah pulang hanya tinggal beberapa tamu saja yang belum pulang.
"Ayo masuk ke rumah" ucap Nita pada pengantin baru itu.
"Ya mah" ucap Zia.
"Mamah tunggu di dalam" ucap Nita.
"Ya, ayo gus" ucap Zia mengajak Adam masuk ke dalam rumah.
Zia sangat kesusahan karena gaun yang dia pakai Sangat lah besar dan berat.
"Mau aku bantu" tanya Adam.
"Boleh kah" tanya Zia.
"Tentu saja aku suami mu sekarang" ucap Adam.
Adam membatu Zia memegang Rok bawah yang lebat sampai menyentuh tanah dengan satu tangan nya, dan satu tangan Adam dia gunakan untuk memegang tangan Zia.
"Ciee pengantin baru romantis" ucap Raya.
"Kak kau ini" ucap Zia malu.
"Ayo masuk kalian ganti pakaian dulu setelah itu makan aku tau kalian pasti capek kan" ucap Raya.
"Ya kak aku sangat gerah" ucap Zia.
Zia dan Adam masuk ke dalam kamar Zia.
Namun ada yang berubah dari kamar Zia banyak sekali bunga dan lilin di sana.
"Kau mempersiapkan ini" tanya Adam.
"Tidak" ucap Zia.
"Lalu" tanya Adam.
"Ahh mungkin ini kerjaan kak Raya" ucap Zia.
Tok
Tokk.
"Zia bagai mana kau suka kamar nya" tanya Nita dari ambang pintu.
"Ya mah Suka tapi sedikit berantakan" ucap Zia.
"Baik lah Nikmati saja" ucap Nita.
Adam duduk di bibir ranjang.
"Apa kamar mandi nya di luar" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia.
"Baik lah aku akan mandi" ucap Adam.
"Tunggu Gus aku akan bantu kau mandi" ucap Zia.
"Kau akan mandikan aku" tanya Adam.
"Ish bukan aku akan tunggu di depan pintu kamar mandi dan memegang kan baju salin mu dan kau juga lakukan hal yang sama pada ku" ucap Zia.
"Oh baik lah" ucap Adam.
"Tuh kan canggung" batin Zia.
__ADS_1
bersambung..