Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 32


__ADS_3

Zia melamun membayangkan masa lalunya yang sangat kelam itu, masih tergambar jelas di benak Zia saat melihat dengan bola mata Zia sendiri saat Akash sedang bersama dengan wanita.


"Zia" ucap Adam.


Tak ada jawaban dari Zia, Adam pun menjentikan tangannya di depan wajah Zia.


"Zia kau kenapa" tanya Adam yang sekarang sudah mulai membaik.


"Maaf aku tak fokus" ucap Zia.


"Ya bagaimana Gus" tanya Zia.


"Ucapan mu semuanya benar, aku yang salah Zia aku kira Ning Marwah baik tapi ternyata aku salah Zia" ucap Adam.


"Gus aku yang salah, aku yang terlalu ikut campur dengan urusan kalian" ucap Zia.


"Kau benar Zia, andai saja aku tak di butakan oleh cinta Ning Marwah mungkin aku tak akan sakit hati begini" ucap Adam.


"Oh ayolah Gus, jangan menangis kau laki laki, aku tak sangka ternyata kau bisa menangis juga" ucap Zia meledek Adam.


"Aku hanya menangis pada mu saja, tapi ingat jangan bicarakan tentang ini pada orang lain" ucap Adam.


"Kau tau Gus, kakak ku dulu pernah menangis tapi dia menyembunyikannya dari ku, dan menurut ku laki laki menangis itu hal wajar karena kan laki laki dan perempuan juga punya hati" ucap Zia.


"Ya kau memang benar" ucap Adam.


"Baiklah dimana yang lain" tanya Zia.


"Mereka masih di acara itu, aku tak tau kelanjutannya bagaimana tapi aku sudah terlanjur sakit hati" ucap Adam.


"Oh ya Zia, Maafkan aku, kemarin aku jahat pada mu padahal niat mu baik" ucap Adam.


"Tak masalah Gus, aku peduli pada mu dan sekarang kau tau kan rasanya di tinggal menikah itu seperti apa, sakit bukan" tanya Zia.


"Tentu saja" ucap Adam.


"Kita satu frekuensi Gus" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Adam.


"Sebelum kau aku malah pernah di hianati" ucap Zia.


( Assalamualaikum wr wr, parantos mulih ka jati mulang ka asal bapak Ustadz Dawud, dinten ayena jam salapan, mugia cing di tampi amal islam na di caang keun alam kuburna, Waalaikum salam ) suara dari Mesjid membuat Adam dan Zia mendengarnya dengan teliti.


"Inalilahi waina ilaihi rodjiun" ucap Adam.


"Siapa" tanya Zia.


"Abinya Ning Marwah" ucap Adam.


"Apa bagaimana mungkin" ucap Zia bingung.


"Aku tak tau" ucap Adam.

__ADS_1


"Apa kau akan kesana" tanya Zia.


"Mana mungkin Zia aku sakit hati jika kesana" ucap Adam.


"Ya benar juga, yasudah kita di sini saja" ucap Zia.


Adam menatap Zia dengan tatapan senang, ternyata Zia sangat rendah hati, jika saja orang lain yang Adam fitnah mungkin Adam tak akan dengan cepat di maafkan.


"Terima kasih" ucap Adam.


"Untuk apa" tanya Zia.


"Karena kau sudah mau memaafkan aku" ucap Adam.


"Ahh kau ini terlalu berlebihan Gus, sudah aku bilang kan aku tak sejahat itu" ucap Zia.


"Apa yang kau mau dari ku, sebagai ucapan maaf ku pada mu" tanya Adam yang sekarang sudah mulai bisa melupakan masalahnya.


"Aku tak akan minta imbalan, tapi kalau kau maksa yasudah" ucap Zia.


Adam tersenyum.


"Kau mau apa" tanya Adam.


"Mau kah kau berteman dengan ku Gus, bukan apa apa aku rasa kau harus punya teman wanita" ucap Zia.


"Untuk apa" tanya Adam.


"Ck kau tak peka Gus, jika kau ingin mencari wanita yang baik maka kau harus punya teman lawan jenis mu, kau bisa melihat baik buruknya seorang wanita dari teman mu" ucap Zia.


"Ya, kadang aku pun begitu aku berteman dengan laki laki bukan karena mura han tapi memang kita perlu kan mengenal lawan jenis" ucap Zia.


"Ya kau benar, baiklah aku mau menjadi teman mu" ucap Adam.


"Baiklah, dan aku minta satu hal lagi dari mu" ucap Zia.


"Apa" tanya Adam.


"Ajari aku tentang ilmu tauhid, akidah ahlaq, fiqih, nahwu sharaf, kaidah ushul, hingga mantiq, balagah, ilmu tafsir, ilmu falah, Tadzwid ......" ucap Zia terpotong.


"Tunggu Zia kau akan menghafal semua itu" tanya Adam memotong ucapan Zia.


"Tentu saja Gus, aku sangat ingin tau semuanya aku mau segera pergi dari sini" ucap Zia.


"Niat mu salah Zia, coba kau berniat ingin belajar dan mempraktekannya di kehidupan mu, jika kau berniat begitu maka ilmu itu tak akan berguna Zia" ucap Adam.


"Maksudnya" tanya Zia.


"Coba kau berniat, Ya Alloh aku ingin belajar dan akan mempraktekan semua ilmu yang aku dapatkan di kehidupan ku di setiap hari hari ku, bukan kau berniat agar segera keluar dari pesantren Zia" ucap Adam.


"Ya tapi aku mau mencari jodoh ku Gus, kalau di sini terus aku gak akan bertemu dengan jodohku" ucap Zia.


"Jodoh? Zia jodoh itu tak harus di cari kalau memang Alloh sudah menentukan jodoh mu maka kalian akan di pertemukan, kau tak usah sibuk sibuk mencarinya" ucap Adam.

__ADS_1


"Tapi Gus, jodoh kita tak akan datang dengan sendirinya kan, apa ada di dunia ini laki laki yang langsung datang ke rumah dan mengaku jodoh kita, tak ada kan" tanya Zia.


"Kau masih meragukan kebesarannya Zia, Alloh itu tak tidur dia yang mengatur kehidupan kita, percayalah Jodoh mu akan Alloh pertemukan" ucap Adam.


"Kapan" tanya Zia.


"Bisa sekarang, nanti, lusa, besok, bahkan bisa saja jodoh mu itu orang yang sedang bersama mu sekarang" ucap Adam.


"Kau" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam yang belum sadar pada ucapannya, namun Adam meningat kembali ucapannya barusan.


"Maksud ku mungkin kau sedang dekat dengan seseorang begitu" ucap Adam.


"Hanya Haddad dan kau saja" ucap Zia.


"Mungkin salah satunya" ucap Adam.


"Tapi Gus aku tak mau berjodoh dengan mu" ucap Zia.


"Kenapa, aku cukup tampan kan" ucap Adam.


"Tapi aku tak mau melibatkan pertemanan dengan perasaan" ucap Zia.


"Ya kau benar" ucap Adam.


"Oh ya Gus apa tak akan ada yang curiga pada kita, karena sejak tadi kita berdua di sini" ucap Zia.


"Mana mungkin ada yang curiga, lagian kita tidak melakukan apa apa" ucap Adam.


Tak lama setelahnya datanglah Abah Umi dan semua santri yang lain, mereka pastinya sudah melihat kebersamaan Zia dan Adam.


Namun karena saat ini mereka sedang bersedih jadi tak ada yang memperdulikan Zia dan Adam.


"Adam, Ustadz Dawud sudah meninggal dan pihak keluarga meminta mu datang" ucap Abah yang merasa sedih karena temannya sudah meninggalkanya.


"Ya Abah aku akan kesana" ucap Adam berusaha seolah olah tak terjadi apa apa.


"Adam" ucap Umi yang langsung memeluk putra sulungnya itu.


"Sudah Umi" ucap Adam karena melihat Umi menangis.


"Adam, Umi tak sangka kalau Ning Marwah akan sejahat ini pada mu" ucap Umi.


"Sudah Umi mungkin ini jalan yang terbaik" ucap Adam.


Sedangkan Topan dan Nita yang tadi ikut kesana, langsung mendekat pada Zia dan memeluk Zia dengan sangat erat.


"Sayang mamah sangat bangga pada mu" ucap Nita.


"Bangga karena apa" tanya Zia.


"Karena kau sudah membuktikan kalau kau tak berbohong, sikap ini yang mamah inginkan dari mu" ucap Nita.

__ADS_1


"Ya mah" ucap Zia.


Bersambung.


__ADS_2