Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 33


__ADS_3

Saat mereka sedang dalam keadaan duga datang Marwah yang sedang berlarian ke pesantren, semua santri menatap pada Marwah yang sekarang sedang berada di pesantren.


Tanpa di duga Marwah berlari mendekat pada Zia dan menjambak rambut Zia sehingga membuat Zia meringis kesakitan.


"Karena kau, aku batal nikah, karena kau juga abi meninggal dan karena kau juga aku bernasib malang begini, kenapa kau datang Zia bahkan kedatangan mu saja hanya membuat susah orang lain" ucap Marwah tanpa malu di hadapan orang banyak.


"Lepaskan aku Ning, kau menyakiti ku" ucap Zia berontak dan mencoba melepaskan tangan Marwah dari rambutnya.


Adam tak tinggal diam, dia langsung mendekat pada kedua wanita itu dan mendorong Marwah supaya bisa melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Zia.


"Wanita bej*t tak tau malu, kau sebut diri mu perempuan tapi kau menyakiti sesama perempuan, kau tak punya hati Zia bod doh" gerutu Marwah.


"Nak kau baik baik saja" tanya Nita pada putrinya.


"Aku baik mah" ucap Zia.


"Hahaha kasihan sekali, ibu mu susah susah memasukan mu ke pesantren namun sayang kelakuan anaknya sangat minus" ucap Marwah.


Zia tersulut emosi, karena Zia tak akan rela jika orang tua nya di hina atau di bicarakan orang lain.


"Apa kau bilang" ucap Zia yang langsung mendekat pada Marwah.


Mereka saling tatap dengan tatapan tajam.


"Kau bilang kelakuan ku minus, lalu bagaimana dengan mu kau anak seorang Ustadz tapi kau mura han dasar tak introfeksi diri" ucap Zia.


"Apa kau bilang" ucap Marwah sambil mendorong Zia kebelakang.


"Beraninya kau padaku" ucap Zia yang hendak melayangkan tamparan pada Marwah, namun Zia sadar kalau sekarang Marwah sedang hamil.


"Apa kenapa tak di tampar, ayo tampar aku tampar Zia" ucap Marwah.


"aku masih punya hati Ning, aku tak mau kandungan mu bermasalah" ucap Zia lemah.


"Oh ya jangan so baik Zia aku tau kau bersikap begini karena di hadapan Gus Adam dan orang tua mu" ucap Marwah.


"Tapi aku gak muna fik seperti mu Ning" ucap Zia.


"Cari perhatian" ucap Marwah.


"Sebaiknya kau pergi dari sini Ning, keluarga mu sedang berduka sekarang" ucap Adam ketus pada Marwah.


"Gus Adam, aku bisa jelaskan semua nya tolong jangan batalkan pernikahan ini aku mohon Gus" ucap Ning Marwah bersimpuh di lutut Adam.


"Pergilah, apa yang akan kau bicarakan lagi Ning semuanya sudah jelas, Zia tak bersalah dan kau lah yang bersalah" ucap Adam.


"Tapi Gus, Zia iri padaku karena dia suka pada mu, percaya lah" ucap Marwah.


"Aku percaya padanya Ning, bukan kah kau sudah menikah dengan kekasih gelap mu itu yasudah pergi lah aku yakin kau akan bahagia bersama dengannya" ucap Adam dengan hati yang sakit dan bibir gemetar karena menahan tangis.


"Gus aku bisa jelaskan" ucap Marwah, namun Adam tak menghiraukan nya Adam dia hanya pergi dari sana meninggalkan Marwah.


"Gus aku mohon" teriak Marwah.

__ADS_1


Zia hanya menatap Marwah dengan tatapan kasihan, walau pun Marwah sudah jahat padanya tapi Zia juga punya hati.


"Ini semua gara gara kau Zia" ucap Marwah mendekat pada Zia.


Plakk


Marwah menampar Zia yang sedang berdiri tak jauh darinya.


"Kenapa kau menamparku Ning, bukan aku yang salah itu sudah menjadi karma mu" ucap Zia.


"Bac*t Zia bilang saja kau iri" ucap Marwah.


"Bukan aku yang iri Ning tapi kau jahat, kau rela memberikan aku pada buaya darat itu hanya karena kau membenciku, Ning seburuk apa pun sikap ku tapi aku masih bangga karena aku tak menjadi wanita mura han seperti mu" ucap Zia geram.


"Kau iblis Zia kau setan" ucap Marwah.


Plakk


Uminya Marwah datang kesana karena mencari Marwah bahkan Umi langsung menampar putrinya yang sekarang berbuat tak wajar.


"Sudah cukup Ning pulang lah kau sudah melewati batas mu" ucap Uminya Marwah.


"Umi" ucap Marwah menatap pada wanita yang sudah melahirkannya.


"Umi malu pada mu Ning" ucap Uminya Marwah.


"Umi tapi wanita itu yang salah" ucap Marwah menatap pada Zia.


"Kau yang salah Marwah, apa salah Umi dan Abi pada mu sehingga kau menjadi seperti ini hah, apa pernah Umi mencontoh hal ini padamu" ucap Uminya Marwah.


"Umi aku gak salah" ucap Marwah menangis.


"Lalu siapa yang salah Umi, atau Abi yang salah, ayo pulang kau mempermalukan aku Marwah, aku malu dengan semua ini, lihat Abi mu sudah pergi sekarang" ucap Umi.


Umi mendekat pada Abah dan Umi Arum dengan menempelkan kedua telapak tangannya memohon ampun karena kesalahan Marwah.


"Abah, Umi Arum maafkan Marwah, aku tau dia sudah melewati batas aku paham kalau kesalahannya sangat patal, aku harap kalian semua mau memaafkannya" ucap Uminya Marwah memohon.


"Umi, jangan begitu kami semua sudah memaafkan Ning Marwah, jangan begini lagi" ucap Umi Arum.


"Umi tolong sampaikan maaf ku pada nak Adam" ucap Uminya Marwah.


"Ya akan aku sampaikan" ucap Umi Arum.


"Kami permisi kami akan melakukan pemakaman Abinya Marwah" ucap Umi.


"Ya kami semua turut berduka cita" ucap Abah.


"Terima kasih".


Saat ini semua santri sudah kembali ke kamarnya masing masing, dan para senior mengabsen para santri siapa saja yang keluar dari pesantren tadi pagi.


Bahkan sekarang mungkin ada seratus santri saja karena tadi siang juga ada yang membawa santri pulang, mau tak mau mereka hanya bisa nurut saja pulang.

__ADS_1


Zia, Rena, dan Gita sedang berada di kamarnya, mereka hanya melamun saja karena hari ini hari minggu mereka bebas dari pelajaran.


Apa lagi di tambah masalah tadi, para guru pun di panggil Abah untuk rapat di rumahnya.


" jajan" tanya Zia.


"Ayo" ucap Rena.


"Aku gak ikut" ucap Gita.


"Kenapa" tanya Rena dan Zia bersamaan.


"Aku gak punya uang, mungkin mamah ku telat mengirim uang" ucap Gita.


"Tak masalah aku punya uang banyak, gak banyak sih cuman cukup lah untuk dua bulan" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Rena.


"Ayo biar aku traktir kalian" ucap Zia.


"Yeayy terima kasih kak Zia" serempak.


"Ya sama sama, kita kan teman" ucap Zia.


Mereka berdua berjalan ke warung yang dekat dengan pesantren, para santri lebih memilih ber istirahat di kamarnya dari pada keluar pesantren.


Zia menatap seorang laki laki yang sangat dia kenal keluar dari dalam pesantren.


"Haddad kapan kau datang" tanya Zia saat Haddad dan Adam mendekat pada mereka.


"Aku baru datang barusan Aziya, aku lebih dahulu menemui Gus Adam untuk menanyakan masalah ini" ucap Haddad.


"Lalu kalian akan kemana" tanya Zia.


"Kami akan melihat acara pemakaman ustadz Dawud karena tak sopan kalau kami tak datang" ucap Haddad.


"Lalu Gus Adam" tanya Zia.


"Aku akan baik baik saja" ucap Adam bersikap seolah olah baik baik saja.


"Kami berangkat Assalamualaikum" ucap Haddad.


"Waalaikum salam" serempak.


***Note: untuk cerita Ning Marwah, mak othor akan jelas kan sedikit di sini, jadi begini ya..


Mak othor bukan berniat untuk menyinggung suatu pihak atau bukan menghina suatu kaum, tapi ini hanya lah sebuah haluan mak othor, jadi mak othor tak bermaksud apa apa hanya ingin memberikan suatu yang bisa di cerna oleh para pembaca.


Jadi bijak lah dalam membaca, ambil yang bagus dan buang yang buruk.


Terima kasih***...


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2