Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 98


__ADS_3

Sedangkan Umi sekarang hanya bisa mengusap dadanya saja melihat kelakuan adik iparnya yang semena mena itu.


"Roboh kan bangunan itu" titah Sofi.


Para anak buahnya langsung mengendarai alat berat itu, tanpa menunggu lama kelas itu langsung roboh namun baru dua kelas saja yang roboh.


"Astaghfirullah" ucap Umi dan Zia yang hanya melihat dari kejauhan.


Para santri pun berusaha menghindar, karena untuk menyelamatkan kelas pun mereka tak mampu karena pernah suatu ketika Abah marah karena para santri mencampuri perdebatan Abah dan adik nya itu.


"Hentikan Sofi" geram Abah dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat.


Adam tak diam saja, dia tak ikhlas kalau kelas nya di robohkan oleh bibi nya itu.


Adam langsung berlari ke arah alat berat itu.


Tanpa menunggu lama Adam langsung naik ke sana dan menarik supir yang sedang mengendarai alat berat yang jalan nya lambat itu.


"Hentikan ini atau aku Bu nuh kau" geram Adam menarik supir itu untuk turun.


"Ampun.. ampun, ya aku akan henti kan ini" ucapnya.


Dia pun menghentikan alat berat itu.


Adam langsung menarik nya untuk turun ke bawah.


"Hey kenapa berhenti" ucap Sofi.


"Nyonya" sahutnya menunjuk pada Adam yang sekarang tengah membogem mentah orang itu.


"Adam berani sekali kau" geram Sofi.


"Pergi kau dari sini" ucap Adam setelah selesai memukuli orang itu.


"Tangkap mereka" titah Sofi pada semua anak buah nya.


Mereka langsung menarik Adam dan mengikat tangan Adam kebelakang.


"Lepaskan aku kalian ja hat" geram Adam.


Fauzi dan Farid pun turun kelapangan karena akan membantu Adam menghabisi anak buah Sofi.


Bughh


Plakk


Bughh


Terjadi lah perkelahian yang sangat sengit di sana tanpa Abah duga kalau para santri putra yang lain juga membantu Adam mengalahkan banyak nya anak buah Sofi.


"Neng ayo kita ke sana takut nya santri ada yang ke sana" ucap Umi mengajak Zia menuju ke arah ruangan makan.


"Ayo Umi" ucap Zia.


Abah tersenyum karena dia masih punya anak santri nya yang membela nya.


"Pak tua jangan senang dulu itu hanya sebagian, anak buah ku masih sangat banyak" ucap Sofi.


"Pergilah kau dari sini" ucap Abah.


"Jangan harap" ucap Sofi.


Abah berjalan ke arah rumahnya, dia terlihat membawa koper yang cukup besar dari arah rumahnya itu.


"Abah" sahut Umi.


"Umi jangan ke sana" ucap Zia menghalangi Umi supaya tak pergi.


Abah melempar kan koper itu pada Sofi.


"Ambil lah isinya uang 1 M lebih, anggap saja aku membeli ini" ucap Abah.


"Tak aku tak akan menjual nya" ucap Sofi.


"Baik lah kembali kan tanah ku yang ada di kota" ucap Abah.


"Aku gak mau, karena itu sudah Menjadi milik ku lagi pula aku sudah membuat sertifikat untuk tanah itu" ucapnya.


"Kau serakah" ucap Abah.


"Bukan serakah pak tua hanya saja aku pintar" ucap Sofi.


Adam dan para santri yang lain sudah mengalahkan anak buah Sofi.


Sofi terkejut melihat anak buahnya yang sudah tumbang.


"Hey kalian ayo bangun, kalian ini" geram Sofi pada anak buahnya.


"Pulang lah Sofi" ucap Abah yang sudah lelah bicara pada adik nya itu.


"Gak akan aku susah susah menyewa mereka untuk menghancurkan mu" ucap Sofi.


Sofi mengambil koper yang isinya uang itu, dia membuka nya dan benar saja isinya uang seratus ribuan semua.


Mata Sofi terkejut karena dia tak percaya kalau Abah Zakaria punya uang sebanyak itu, apa lagi Sofi tau kalau Abah hanya seorang pemilik pesantren dan abah juga tak bekerja selain mengurus sayuran nya di lahan yang dia beli dari warga.


"Dari mana kau dapat uang sebanyak ini" tanya Sofi.


"Aku kerja jika kau menganggap aku pengangguran kau salah besar" ucap Abah.


"Apa" tanya Sofi.


Jujur saja para santri yang ada di sana juga merasa sangat terkejut apa lagi Abah yang mempunyai rumah sederhana dan hidup apa adanya itu punya uang sampai satu koper penuh.


"Aku ini kau pulang lah" ucap Abah.


"Gak akan aku akan tetap robohnya bangunan ini dan aku akan buat tempat ku di sini" ucap Sofi.


"Jangan berharap Sofi, ini pesantren ini kampung apa kau akan menyanding kan tempat mu itu dengan tempat ku, jangan harap bahkan sampai aku mati pun aku tak akan ikhlas memberi tempat ini pada mu" ucap Abah.


"Oh ya, apa dengan bilang pada si Kakek tua Zaki kau berhak pada tempat ini, ck dangkal sekali pemikiran mu, Pak tua kemarin Zaki datang pada ku dia ingin aku jauhi tempat mu ini, CK aku tak akan lakukan itu karena ini tempat ku jadi tak ada yang berhak selain aku" ucap Sofi.


Abah menghembuskan nafas nya kesal.

__ADS_1


"Terserah, aku sudah membeli nya walaupun artinya aku membeli barang ku sendiri" ucap Abah.


Tiba tiba saja datang beberapa mobil yang isinya laki laki yang mirip bodyguard semua.


Sofi tersenyum karena merasa menang dari kakak nya itu.


"Astaghfirullah ada ada saja masalah ini" gumam Umi yang sudah menangis melihat pemandangan ini.


"Ikat dia" ucap Sofi pada anak buah nya yang baru saja datang ke sana.


Anak buah nya langsung mengikat tangan Abah kebelakang, tak ada perlawanan dari Abah dia hanya pasrah saja karena percuma bicara dengan adik nya yang keras kepala dan serakah itu.


Adam dan para santri yang lain akan mendekati Abah namun Abah menggeleng kan kepala nya mengkode pada Adam untuk menjauh darinya.


"Gus jangan mendekat" ucap Fauzi.


"Bagai mana Abah ini bagai mana kalau dia celaka" ucap Adam kesal pada sikap Abah.


"Kita habisi saja anak buah nya" ucap Fauzi.


"Baik lah" ucap Adam.


"Kalian semua bersiap" ucap Fauzi pada anak santri putra yang membantu nya.


Mereka langsung berlari mendekati anak buah Sofi dan langsung mengeroyok mereka dengan cara kasar.


Tentu saja berapa pun yang datang anak buah Sofi akan kalah karena kalah jumlah.


Namun untuk tenaga para santri kalah karena mereka hanyalah seorang santri yang pekerjaannya sehari hari mereka hanya lah belajar.


Sedangkan anak buah Sofi sudah terlatih dan pandai ilmu bela diri.


Bughh


Bughh


Bughh


Sayang sekali para santri harus ada yang tumbang karena anak buah Sofi melawan.


Luthfi yang ada di sana pun langsung mengamankan para santri yang tumbang karena takutnya mereka akan semakin terluka parah.


"Astaghfirullah apa ada ini" ucap Umi yang semakin menangis karena anak santri nya menjadi korban.


Para santri yang terluka Langsung di obati oleh santri putri yang ada di sana.


"Kalian masuk lah ke dalam" ucap Zia pada semua santri.


"Baik kak" setempak.


"Ayo Fauzi lawan mereka" teriak Ainun dari arah ruang makan.


"Diam kak" ucap Gita.


Hanya tinggal Umi, Zia, Rena, Gita, dan Ainun serta beberapa santri yang lain saja yang ada di sana.


Karena yang lain nya masuk ke ruang makan untuk mengobati yang terluka.


"Zia ayo kita lawan mereka" ucap Ainun yang langsung menarik Zia.


"CK aku geram sekali ingin rasanya aku patah kan tulang mereka" ucap Ainun yang sangat geram melihat perkelahian itu.


"Jangan begitu kita wanita tak akan mampu melawan mereka" ucap Zia.


Sedangkan Sofi hanya kesal saja karena anak buahnya lama sekali mengalah kan para santri itu.


Padahal menurut Sofi para santri itu hanya lah anak kecil yang tak akan setara dengan anak buah nya.


"Ayo lah lawan saja, kalau perlu pukul mereka" ucap Sofi yang kebawa geram.


"Mereka keroyokan nyonya" ucap anak buah nya.


Sofi mengambil sesuatu dari tas nya.


"Kalian lama dalam bekerja" geram Sofi yang langsung mendekat pada Abah yang sekarang di ikat dan hanya diam saja.


"Pak tua apa kau akan memberikan gedung itu atau melihat istri mu mati di tangan ku" ucap Sofi.


"Aku saran kan jangan sentuh istri ku" ucap Abah tegas.


"Oh ya bisa apa kau tangan dan kaki mu saja di ikat" ucap Sofi.


Sofi mendekat pada Umi yang sekarang bersama dengan Zia dan yang lain nya.


Sofi langsung menarik Umi dan menyandra nya.


Sofi melepaskan peluru nya ke arah atas.


Dorr


Semua orang melihat pada sumber suara itu, bahkan Abah juga sangat cemas kalau istri nya itu di apa apa kan oleh Sofi.


"Lepaskan dia Sofi" bentak Abah dari jarak jauh.


"Baik lah aku akan tanya lagi mau memberikan bangunan itu atau istri mu ini" tanya Sofi.


"Lepaskan Umi" geram Adam yang sekarang akan berlari ke sana.


Sofi mengarah kan pelatuk pistol itu pada Zia dan santri yang lain.


"Diam atau kau akan merasa kan akibat nya" ucap Sofi yang membuat Adam langsung berhenti karena takut nya Sofi menembak Zia dan santri yang lain.


"Sofi kau sudah keterlaluan" ucap Umi.


"Oh ya" tanya Sofi.


"Lepas kan aku Sofi" ucap Umi.


"Bagai mana acting ku bagus kan, apa aku pantas menjadi artis" tanya Sofi mengarahkan pelatuk pistol pada kepala Umi.


"Jika kalian berani mendekat pada ku selangkah saja maka akan aku pasti kan kalian akan kehilangan Umi kalian ini" ucap Sofi.


"Kak bagai mana ini" ucap Rena yang sekarang sudah berlinang air mata.

__ADS_1


"Kamu tenang ya, aku pasti kan Umi akan baik baik saja" ucap Zia.


"Kurung semua santri di ruangan itu" titah Sofi pada anak buahnya.


Anak buah Sofi menggiring para santri masuk ke dalam ruangan makan santri putri.


Mereka tak bisa melakukan apa apa karena takut nya Sofi Akan mencelakai Umi.


"Hey hey apa kau gi la hah" tanya Ainun yang di dorong anak buah Sofi untuk masuk.


"Hey sisakan Rena dan menantunya itu, siapa tau saja mereka mau melihat Umi nya meninggal" ucap Sofi.


"Baik Nyonya" ucap nya.


Di sana hanya ada Zia, Rena dan Adam yang masih berdiri di tempat nya tadi.


"Kenapa dia harus punya senjata kalau tidak aku sudah bisa mengalahkan anak buah Bibi" geram Adam hanya bisa dia ucapkan dalam hati.


Karena saat ini Adam juga tengah di ikat oleh anak buah Sofi.


Sedangkan Zia sekarang dia tengah mencari kesempatan untuk menyelamatkan Umi dari peluru dan Sofi itu.


"Hancur kan lagi gedung itu sampai rata dengan tanah" titah Sofi.


"Aku pasti kan Sofi, Alloh SWT akan melak nat mu karena ini" geram Abah tanpa sadar mendoakan buruk pada Sofi.


"Aku tak takut" ucapnya.


Alat berat itu berjalan lagi dan sekarang menghancurkan empat kelas dan ruangan kantor lagi yang tersisa.


Brughh


Suara bangunan roboh terdengar di setiap telinga orang orang di sana.


"Astaghfirullah, Menang lucnut kau Sofi" geram Abah.


Adam hanya bisa menunduk kan kepala nya karena sampai saat ini dia belum bisa membalas kan kesedihan orang tuanya karena Sofi bibi nya itu.


Para santri di dalam hanya bisa diam saja karena untuk membantu pun mereka tak bisa karena takutnya Umi akan kenapa kenapa.


Saat mendapat kesempatan Zia menarik nafas nya.


Saat ini Sofi Tengah menatap pada alat berat yang tengah menghancurkan kelas.


Zia berlari dan langsung menendang perut Sofi hingga Sofi terjatuh ke lantai dan pistol nya jatuh dengan jarak cukup jauh dari Sofi.


Hugh


Brughh


"Awwsss" teriak Sofi yang kesakitan.


Umi terbebas juga dari jerat Sofi.


Namun ada hal yang membuat Zia terkejut karena darah keluar dari celana Sofi.


Mata Zia membulat sempurna, dia tak sangka kalau akan separah itu padahal Zia merasa tendangan nya itu tak terlalu kuat.


"Astaga" gumam Zia saat melihat darah itu semakin banyak.


Semua anak buah Sofi datang pada Sofi karena sekarang Sofi tengah meraung raung kesakitan.


Umi berlari pada Abah dan langsung membebaskan Abah dari ikatan itu.


Begitu juga dengan Rena yang langsung membuka ikat pada tangan Adam.


Adam yang melihat kejadian itu pun langsung mendekat pada Zia.


Jangan di tanya bagaimana Zia sekarang dia sangat kaget karena darah itu.


Bahkan sekarang Sofi meraung raung kesakitan.


Zia hanya menatap datar saja tanpa berkedip, dalam hati nya Zia merasa bersalah karena menendang Sofi bagian perut nya.


Zia berpikir kalau Sofi tengah hamil dan Zia adalah pembu nuh janin dalam kandungan nya.


Air mata Zia menetes juga rasa bersalah hinggap di benak Zia.


Adam langsung memeluk Zia.


"Ayo bawa Nyonya ke rumah sakit" ucap anak buah Sofi.


"Ya Ayo" ucap mereka serempak.


Mereka semua pergi dari sana dengan membawa Nyonya mereka.


Zia hanya menatap dengan datar karena dia baru saja menjadi pembu nuh.


Adam memeluk Zia dengan sangat erat.


"Gus apa bibi mu itu hamil, Gus aku baru saja membu nuh janin nya itu hiks.. hiks.." ucap Zia yang langsung menangis di pelukan Adam.


"Kau tenang Zia kau sudah menyelamatkan Umi" ucap Adam mencoba menenangkan.


Umi dan Abah mendekat pada Zia dan Adam.


"Neng Zia kau tak salah dia lah yang salah" ucap Umi mencoba menenangkan.


"Tapi Umi aku sudah membu nuh" ucap Zia yang langsung menangis karena merasa bersalah.


Abah melihat para santri yang sekarang tengah mengerumuni Zia juga.


"Kalian semua kembali lah ke ruangan makan dan makan lah" ucap Abah.


"Baik Abah" serempak.


Saat ini Abah tak memperdulikan enam kelas dan satu ruangan kantor yang sudah roboh.


Saat ini Abah khawatir kan para santri dan Zia yang sekarang tengah gemetar ketakutan.


"Adam bawa Zia masuk ke rumah" ucap Abah.


bersambung

__ADS_1


bagai mana nasib Zia??


__ADS_2