
Adam dan Zia pulang rumah,
"Kau jajan terus" ucap Adam.
"Lalu apa salah nya" tanya Zia.
"Tak salah hanya saja kau sedikit boros" ucap Adam.
"Ya aku tau itu" ucap Zia.
"Kau tau tapi kau lakukan" ucap Adam.
"Boros is my life" ucap Zia.
"No, my life is hemat" ucap Adam.
"Menyebalkan" gumam Zia.
Zia duduk di kursi yang ada di sana, sedang kan Adam sekarang tengah membaca buku untuk materi pelajaran yang akan Adam sampai kan nanti.
"Gus" tanya Zia.
"Ya" tanya Adam.
"Lagi apa" tanya Zia.
"Baca buku" ucap Adam.
"Oh ya Gus sekarang kan aku sudah gak ada halangan lagi jadi bisa kan kita" ucap Zia tak melanjutkan ucapan nya.
"Kita apa" tanya Adam.
"Melakukan" ucap Zia.
Kringg..
"Sayang sekali pelajaran akan di mulai, ayo Zia segera bersiap sudah akan masuk lagi" ucap Adam.
"Ck kenapa waktunya sangat cepat, padahal kan aku mau bicara sesuatu pada Gus Adam" gumam Zia.
Zia mengikuti Adam yang sekarang tengah berjalan di depan nya.
"Aku sekarang akan ke kelas mu" ucap Adam.
"Lalu" tanya Zia.
"Aku harap kau tak berbuat ulah" ucap Adam.
"Ck berbuat ulah apa" tanya Zia.
Mereka masuk ke dalam kelas yang sama.
"Assalamualaikum" ucap Adam yang langsung masuk ke sana.
Sedangkan Zia langsung duduk di bangkunya karena akan mengikuti pelajaran.
"Waalaikum salam" ucap para santri serempak.
"Baik lah aku akan mengajar pelajaran ilmu sosial pada kalian, karena Bu Neneng tidak datang jadi aku yang akan mengganti kan nya" ucap Adam.
"Ya Gus "
"Buka buku kalian" ucap Adam.
Adam menulis pelajaran nya di board sampai selesai.
"Tulis sampai selesai nanti aku akan jelaskan" ucap Adam.
"Baik Gus" ucap santri serempak.
Semua santri menulis sampai selesai, sekarang Adam menatap pada Zia karena terlihat oleh Adam kalau Zia sejak tadi selalu mengobrol dengan Ainun.
"Sudah" tanya Adam.
"Belum Gus" ucap santri serempak.
"Baiklah" ucap Adam.
Adam terus memperhatikan Zia yang sekarang tengah mengobrol dengan Ainun.
"Zia" sahut Adam.
Zia menatap pada Adam.
"Ya Gus" tanya Zia.
"Tulis bukan ngobrol, ingat ada waktu nya mengobrol dan ada waktunya menulis" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Zia.
"Ayo tulis" ucap Adam.
"Ya".
"Kamu juga Ainun" ucap Adam.
"Ya Gus Adam" ucap Ainun.
Setelah selesai menulis, Adam menjelaskan semuanya secara detail, bahkan sekarang para santri kelas 3 SMA pun mendengar nya dengan fokus.
Kringg..
"Bel" gumam Adam yang langsung melihat jam tangan yang dia pakai.
"Kenapa baru pukul sebelas tapi sudah waktunya pulang" gumam Adam.
"Gus apa pelajaran nya selesai" tanya santri.
"Sebentar aku akan tanya dulu" ucap Adam yang langsung berjalan ke luar untuk bertanya ada apa.
"Gus Farid kenapa sudah bel" tanya Adam.
"Kata Abah sekarang akan datang Ustadz Arifin jadi para santri pelajaran nya di kurangi" ucap Farid.
"Maksudnya" tanya Adam.
"Ya jadi begini nanti para santri akan di ajari oleh Ustadz Arifin" ucap Farid.
"Oh baik lah" ucap Adam.
Adam kembali lagi ke kelas.
"Sekarang kalian boleh istirahat nanti akan belajar lagi bersama dengan Ustadz Arifin" ucap Adam.
"Ya Gus"
"Assalamualaikum" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.
"waalaikum salam" serempak.
Zia menyusul Adam yang sekarang tengah berjalan ke arah rumah Abah.
"Bagai mana Abah aku dapat surat ini" ucap Ustadz Hasan.
"Ada apa Abah" tanya Adam.
__ADS_1
"Ini pak Didin katanya ngundurin diri karena sakit" ucap Abah.
"Apa" tanya Adam.
"Ya kita akan susah mendapatkan guru Bahasa Inggris" ucap Abah.
"Abah bukan nya menantu Abah bisa bahasa Inggris kenapa tidak dia saja" ucap Ustadz Hasan.
"Ya Ustadz benar" ucap Abah.
"Zia" tanya Adam.
"Hah aku" ucap Zia.
"Ya kau kan lulusan universitas negeri kenapa tak jadi guru Inggris saja" ucap Ustadz Hasan.
"Ya Zia masalah buku dan yang lain nya sudah di sediakan" ucap Abah.
"Bagai mana Zia kau mau" tanya Adam.
"Ehh boleh lah" ucap Zia.
"Alhamdulillah masalah selesai dan aku akan kembali sekarang" ucap Ustadz Hasan.
"Ya Ustadz terima kasih sudah datang" ucap Abah.
"Ya sama sama assalamualaikum" ucapnya.
"Waalaikum salam" serempak.
Ustadz Arifin datang ke sana dengan memakai mobil hitam.
Semua santri menatap pada mobil itu, dulu saat Ustadz Arifin datang dia masih pakai motor dan sekarang dia sudah memakai mobil.
"Assalamualaikum" ucapnya yang langsung menuju ke rumah Abah.
"Waalaikum salam" serempak.
Ustadz Arifin masuk ke dalam rumah Abah.
"Ustadz sudah datang" tanya Adam.
"Ya sudah makannya ada di sini" ucapnya.
"Ya" ucap Adam tersenyum karena tau watak asli ustadz Arifin.
"Ustadz ada pengajian di kampung sebelah apa kau mau hadir" tanya Abah.
"Ya ayo" ucapnya.
"Makan lah dulu masih ada banyak waktu" ucap Abah.
"Waktu ku tak banyak Abah" ucapnya.
"Tak banyak bagai mana" tanya Abah.
"Aku harus ke kota sekarang kalau aku lama di sini bagai mana aku bisa dapat uang" ucap Arifin yang membuat Abah tercengang.
"Tapi bagai mana dengan rencana awal kalau kau siap mengajar para santri" tanya Abah.
"Abah di sini kan banyak orang ada Gus Adam ada Abah kenapa harus panggil aku, aku hanya datang karena di panggil Ustadz Maman" ucap Ustadz Arifin.
Sesuatu yang sangat membuat Abah terheran heran.
Karena Abah tak mau sampai urusan nya panjang dia hanya mengiyakan ucapan nya saja.
"Baik lah, tapi Abah harap kau akan datang lagi besok atau lusa karena para santri mau kau yang ajar" ucap Abah.
"Aku tak bisa janji Abah soalnya aku sangat sibuk sekarang" ucapnya.
"Apa aku harus membalas balas Budi Abah" tanya nya.
"Abah tak ingin itu" ucap Abah.
"Lalu Abah dengan bicara begitu kau membuat aku tersinggung, aku tau dahulu aku siapa dan kau siapa tapi sekarang berbeda Abah" ucapnya.
"Bukan kita yang berbeda cuman waktu saja yang beda" ucap Abah.
"Sudah lah aku malas berdebat, aku akan pergi dari sana" ucapnya.
"Apa kau tak akan minum dulu" tanya Abah.
"Jangan so baik Abah kau hanya lah orang yang iri pada keberhasilan orang lain" ucapnya yang langsung pergi dari sana.
"Astaghfirullah" gumam Abah mengusap dadanya.
"Kenapa orang itu" tanya Zia.
"Jika dia bicara sepatah kata lagi Maka aku pastikan dia akan celaka" ucap Adam.
"Sudah jangan di bahas" ucap Abah.
"Dia sangat sombong Abah apa dia lupa dari mana dia berasal" ucap Adam.
"Sudah tak baik begitu biarkan saja dia" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Adam.
Abah pergi dari sana menuju Keluar dari rumah nya.
"Gus siapa dia" tanya Zia.
"Ustadz Arifin" ucap Adam.
"Ustadz kenapa begitu" tanya Zia.
"Dulu dia seorang preman Zia makan nya bicara nya sedikit rada kasar" ucap Adam.
"Lalu kenapa dia bicara begitu" tanya Zia.
"Dulu dia anak didik Abah, mungkin Ustadz Arifin lah murid pertama pesantren ini, cuman dia sombong sekarang" ucap Adam.
"Dia lupa pada kebaikan Abah" ucap Zia.
"Ya begitulah seseorang kalau sudah sukses lupa pada siapa dia pernah pernah belajar" ucap Adam.
"Kalau aku punya teman kaya begitu maka aku akan jitak tuh kepala nya" ucap Zia.
"Sudah" ucap Adam.
"Gus" ucap Zia.
"Apa" tanya Adam.
"Ayo lakukan sekarang" ucap Zia.
"Lakukan apa" tanya Adam.
Zia menuntun Adam masuk ke dalam kamar, tak lupa Zia juga mengunci pintu supaya tak ada yang berani masuk.
"Ayo" ucap Zia yang langsung melakukan hal yang bar bar pada Adam.
Bahkan Zia tak malu kalau harus membuka baju nya di hadapan Adam yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Adam mencium kening Zia.
__ADS_1
Sebagai seorang laki laki ingin sekali Adam melakukan nya sejak dulu namun Adam sangat malu apa lagi Zia adalah teman nya.
...Skip.....
"Dam ada Gus Yasya" sahut Umi dari arah ruang tamu.
Terpaksa Adam dan Zia harus menghentikan aktivitas nya.
"Kenapa Gus Yasya datang sangat awal sekali" ucap Adam.
"Teman mu ganggu saja" ucap Zia.
"Nanti ya" ucap Adam mencubit pipi Zia.
"CK nanti lagi nanti lagi lalu kapan ngelakuin nya, nanti malam kau akan sibuk Gus, kata Gus Fauzi kau harus pergi ke acara Isra Miraj di kampung sebelah" ucap Zia kesal.
"Oh ya aku gak tau" ucap Adam.
"Ya kan aku beri tau sekarang" ucap Zia kesal.
"Udah jangan kesal begitu" ucap Adam.
"Tapi Gus gagal lagi" ucap Zia.
Adam mendapatkan kecupan di pipi Zia.
"Zia bukan aku tak mau melakukan nya tapi kau bisa lihat kan bagai mana keadaan nya di sini" ucap Adam.
"Kalau begitu kita honey moon" ucap Zia.
"Honey moon" gumam Adam.
"Ya supaya kita bisa bebas melakukan nya" ucap Zia.
"Sudah lah aku janji akan memberikan nya malam ini" ucap Adam.
"Bener ya" ucap Zia.
"Ya aku keluar dulu" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Zia memakai kerudung nya di depan cermin, Zia mengerutkan keningnya.
"Kenapa kesan nya jadi aku yang gatel ya, ihh apa salah kalau minta pada suami sendiri" gumam Zia.
Zia keluar dari kamar nya, sudah Zia pasti kan kalau Farida itu pasti ikut ke sana.
"Wanita itu lagi" gumam Zia tersenyum pada Farida.
"Maaf menganggu Kak Zia" ucap Yasya.
"Tak masalah Gus, jangan panggil aku kak panggil saja Zia" ucap Zia.
"Ya" ucap Yasya.
"Aku akan ambil kan minum" ucap Zia.
"Oh ya Gus pelajaran nya akan di mulai sekarang" ucap Yasya.
"Kalau begitu kita belajar saja sekarang" ucap Adam.
"Ya".
Zia datang ke sana membawa tiga gelas minum.
"Silahkan" ucap Zia.
"Terima kasih" ucap Farida.
"Oh ya Farida, kau sudah dua kali kan ke sini, mau gak aku ajak kau keliling pesantren" ucap Zia berinisiatif karena tak mau sampai Farida selalu menatap pada Adam.
"Oh ayo" ucap Farida.
"Gus aku akan ajak dia jalan jalan" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia mengajak Farida jalan jalan,
"Apa kehidupan di pesantren begini" tanya Farida.
"Ya memang begini kau maunya bagai mana" tanya Zia.
"Tak aku tak mau soalnya" ucap Farida.
"Bukan nya kau tinggal di pesantren juga" tanya Zia.
"Aku jadi guru Paud di sana, jadi aku gak tau keseharian mereka bagai mana" ucapnya.
"Oh baik lah" ucap Zia.
"Kau sangat beruntung Zia" ucapnya.
"Beruntung bagai mana" tanya Zia.
"Kau dapat suami tampan seperti Gus Adam, aku mau punya suami seperti Gus Adam" ucap Farida.
"Apa maksud mu" tanya Zia.
"Gak ada aku hanya kagum saja pada Gus Adam" ucapnya.
"Ya semua orang bicara Begitu pada ku tapi hanya aku saja yang dia pilih" ucap Zia.
"Ya" ucap Farida.
"Baik lah menurut ku kau akan cocok dengan Gus Yasya" ucap Zia.
"Benarkah" tanya Farida.
"Ya".
"Tapi sayang aku tak begitu kagum padanya" ucap Farida.
"Kenapa" tanya Zia.
"Entah lah" ucap Farida.
"Aku saran kan kalau kau memang tak suka pada Gus Yasya maka jangan beri dia harapan palsu" ucap Zia.
"Aku tak memberi kan dia harapan palsu" ucap Farida.
"Aku hanya menyarankan saja" ucap Zia.
"Oh ya apa Gus Yasya besok jadi ke pesantren mu" tanya Zia.
"Ya" ucap Farida.
"Katanya Gus Adam akan ikut dan aku gak akan ikut karena aku harus mengajar besok" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Farida.
"Ya" ucap Zia.
bersambung
__ADS_1