
Saat ini di rumah sakit kota Sofi tengah di rawat karena ternyata bukan kandungan nya yang keguguran, bahkan Sofi tak hamil karena dia saja tak punya suami bagai mana mungkin dia bisa hamil.
Tapi Sofi baru saja pendarahan karena alat kontrasepsi nya terlepas lagi pula sudah lama juga dia memakai nya.
"Bagai mana apa sekarang saya bisa pulang" tanya Sofi pada Dokter.
"Masih belum Nyonya" ucap Dokter.
"CK kapan aku bisa pulang" geram Sofi yang sudah bosan berada di rumah sakit.
"Nyonya aku pikir ini kesempatan untuk mu" ucap anak buahnya.
"Kesempatan apa" tanya Sofi.
"Kesempatan untuk menjebloskan menantu Ustadz Zakaria itu" ucap anak buahnya lagi.
"Apa bisa" tanya Sofi.
"Bisa nyonya kau pura pura saja mengandung, dan natinya kau buat laporan kalau menantu Ustadz Zakaria itu membu nuh janin mu di dalam kandungan" ucapnya.
"Hah Aneh saja kamu, mana mungkin mereka percaya aku ini janda mana mungkin bisa hamil" ucap Sofi.
"Ck Nona anggap saja kau suntik sper ma buat hamil" ucapnya.
"Apa mereka akan percaya" tanya Sofi.
"Aku pastikan mereka Percaya Nyonya" ucap anak buahnya.
"Oke kalau begitu kita masukan saja dia ke penjara" ucap Sofi tersenyum ja hat.
Sedangkan di pesantren Zia saat ini masih sangat syok apa lagi Zia tadi sangat jelas melihat darah yang keluar dari celana nya Sofi.
Adam yang paham kalau Zia syok pun langsung memeluk nya kembali.
"Gus aku sudah membu nuh janin bibi kamu" ucap Zia namun matanya sejak tadi tak berkedip.
"Zia belum tentu kalau Bibi itu mengandung lagi pula dia tak punya suami" ucap Adam menenangkan Zia.
"Ya Zia kau tenang saja Sofi tak akan mungkin menang" ucap Abah.
"Lalu abah bagai mana kelas dan para santri" tanya Umi.
"Biar Abah pikirkan nanti" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Umi.
Beberapa mobil datang ke sana dan salah satu nya ada mobil polisi juga yang datang ke sana.
"Permisi" sahut polisi dari halaman rumah Abah.
"Ya" tanya Abah langsung berjalan ke luar rumah untuk melihat.
Abah terkejut karena melihat ada banyak orang dan ada juga polisi di sana.
"Ada apa ini" tanya Abah.
"Kami datang ke sini karena dapat laporan dari ibu Sofi Antasari kalau baru saja dia mengalami keguguran karena menantu anda" ucap Polisi itu.
"Tak mungkin karena Sofi tak punya suami" ucap Abah.
"Maaf tapi kami hanya di tugas kan untuk menangkap menantu anda, soal yang lainnya silahkan jelas kan di kantor polisi" ucapnya.
Polisi itu langsung menerobos masuk ke dalam rumah Abah.
Zia menelan Saliva nya saat melihat ada banyak polisi di sana.
"Nona Zia anda harus ikut kami ke kantor" ucap Polisi itu.
"Ta- tapi aku gak salah" ucap Zia terbata bata bahkan dia semakin ketakutan.
"Pak gak bisa begitu dia istri saya" ucap Adam.
"Mana mungkin istri seorang Ustadz ternama bisa membu nuh janin yang tak bersalah" ucap polisi yang lain.
"Jaga bicara anda" ucap Adam menatap tajam pada polisi itu.
Namun polisi itu langsung membawa Zia dari sana bahkan sampai menarik nya untuk ikut bersama dengan mereka.
"Lepaskan Zia" geram Adam bahkan sampai membentak.
"Pelan kan suara mu" ucap polisi itu.
"Lepaskan Zia aku tak mau memberikan Zia kalau Sofi sendiri tak datang kemari dan menjelaskan nya" ucap Adam.
"Hey panggilkan Nyonya Sofi" ucap polisi pada polisi yang lain.
"Baik pak" ucapnya.
Sofi datang ke sana setelah di panggil oleh polisi, namun dia sekarang berada di atas kursi roda dengan di dorong oleh anak buahnya.
"Tangkap dia pak, dia sudah membu nuh bayi saya" ucap Sofi menunjuk pada Zia.
"Hah tapi aku tak sengaja" ucap Zia mencoba membantah.
"Mustahil, kau seorang janda Sofi mana mungkin seorang wanita bisa hamil kalau tak ada suami yang mendampingi nya" ucap Abah.
"Pak tua aku melakukan suntik sper ma, aku sudah susah payah menyuntikkan ini karena aku mau punya anak tapi menantu mu itu sangat beran dalan dia menendang perut ku sampai janin ku meninggal dan aku keguguran hikss.. hikss.." ucap Sofi yang langsung menangis.
"Tapi Gus aku tak sengaja aku tak tau kalau bibi mu hamil" ucap Zia pada Adam.
"Kau tenang saja" ucap Adam.
Sebenarnya bukan masuk penjara yang Zia sesalkan namun Zia menyesal karena sudah menendang perut Sofi.
Karena Zia berpikir kalau Sofi benar benar hamil dan Zia sudah membuat Sofi keguguran.
__ADS_1
"Tangkap saja dia pak" sahut Sofi.
Polisi itu langsung menangkap Zia Walaupun Zia berontak tapi polisi itu tak menghiraukan Zia.
"Aku tak salah" ucap Zia.
"Tak salah bagai mana Nona kau sudah membu nuh seorang anak tak terdosa, kau berdosa besar Nona" ucap Polisi.
"Tapi aku tak sengaja, hikss.. hikss" ucap Zia yang langsung menangis sesenggukan karena rasa bersalah hinggap di diri Zia.
"Nona kau tau seorang pembu nuh mereka berkata begitu saat mereka melakukan kesalahan" ucap polisi itu.
"Tapi demi Alloh aku tak sengaja melakukan itu" ucap Zia.
"Shutt jangan membawa bawa Alloh pada kesalahan mu itu, karena semua orang juga begitu" ucap nya.
Zia masuk ke dalam mobil polisi dengan di paksa masuk ke dalam.
Adam tadinya hendak menyusul Zia namun sayang sekali para anak buah Sofi menghalangi Jalan Adam jadi Adam tak bisa ke mana mana.
"Zia" teriak Adam.
Namun Zia sekarang sudah sangat bersalah dia menangis bahkan tubuh nya pun bergetar hebat dengan kaki yang lemas.
"Astaga apa yang aku lakukan, aku sudah membuat bibi nya Gus Adam keguguran" gumam Zia.
Sekarang mobil berangkat dari sana meninggal kan pesantren.
Membuat semua santri di sana bertanya tanya apa yang terjadi pada bibinya Gus Adam.
Sofi dan semua anak buahnya pun pergi dari sana karena akan menuntut Zia atas kasus itu.
Saat ini Adam hanya menatap kepergian Zia tanpa bisa melakukan apa apa, padahal Adam sangat tau kalau Zia tak salah dia melakukan itu karena ingin menolong Umi.
"Abah bagai mana sekarang" tanya Umi pada Abah.
"Abah tak tau sekarang harus apa" ucap Abah.
Adam saat ini ingin sekali menemui Zia karena Adam yakin kalau Zia sekarang sangat ketakutan bahkan sejak tadi juga Zia merasa sangat menyesal karena perbuatannya itu.
Saat ini Abah tengah pusing memikirkan ruangan kelas yang roboh dan menantu nya yang sekarang berada di penjara.
Abah terduduk di kursi yang berada di rumahnya itu.
"Harus apa kita sekarang" gumam Abah.
"Aku akan susul Zia ke kantor polisi" ucap Adam yang langsung berjalan mengambil kunci motor dan pergi dari sana.
"Hati hati Dam" sahut Umi.
Tak ada jawaban dari Adam dia hanya fokus pada niatnya yang ingin menemui Zia yang sekarang di perjalanan menuju kantor polisi.
"Gus" sahut Fauzi.
Adam melihat pada Fauzi yang sekarang berlari mendekat padanya.
"Ya baik lah ayo" ucap Adam.
Mereka berangkat dari sana menuju ke kantor polisi, saat ini motor di kendarai oleh Fauzi ada rasa kesal dari diri Adam karena saat ini Fauzi mengendarai motor nya dengan sangat lambat.
"Gus hentikan motor nya" ucap Adam.
"Ada apa Gus" tanya Fauzi.
Adam turun dan Langsung pindah ke jok depan.
"Gus kau duduk lah di belakang biar aku yang lajukan motor nya" ucap Adam.
"Tapi Gus" ucap Fauzi.
"Ayo lah kalau kita begini terus kapan sampainya" ucap Adam.
Fauzi pasrah saja duduk di belakang, karena Adam terlihat sangat garang sekarang bahkan Fauzi pun tak sanggup menatap wajah Adam.
Adam melajukan motornya dengan kecepatan tinggi bahkan saat ini Fauzi sangat ketakutan di belakang dia terpaksa pegangan pada Adam karena takut terjatuh.
"Pelan Gus" sahut Fauzi.
Saat ini mereka berada di jalan raya banyak sekali mobil dan motor yang berlalu lalang di sana.
Fauzi semakin ketakutan melihat motor mereka yang sangat dekat dengan kendaraan orang lain.
"Gus aku takut celaka" ucap Fauzi namun tetap tak di gubris oleh Adam.
Saat ini Adam tengah di kuasai oleh hawa nafsu saking sayangnya Adam pada Zia dia berani sampai mencelakakan dirinya sendiri hanya karena ingin menyusul Zia ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Adam Langsung menghentikan motornya di parkiran kantor polisi.
Adam langsung berjalan masuk ke dalam kantor polisi itu.
Tak lupa Fauzi membawa kunci motor karena takut kalau motor Gus Adam itu ada yang ambil karena dia lalai membiarkan kunci motor yang menggantung di motornya.
"Ya Alloh semoga saja tak terjadi apa apa di dalam, Amin" gumam Fauzi berdoa.
Fauzi ikut masuk ke dalam.
Adam saat ini tengah melihat Zia yang sedang di interogasi oleh pihak kepolisian.
"Zia" sahut Adam.
Zia menatap pada Adam.
"Gus" sahut Zia yang langsung memeluk suaminya itu yang baru saja datang ke sana.
"Ada aku kau tenang saja" ucap Adam.
__ADS_1
"Mau apa anda kemari" tanya polisi itu.
"Pak aku hanya akan menjelaskan semuanya" ucap Adam.
"Baik lah hanya kau yang boleh dan teman mu itu suruh dia duduk di sana" ucapnya pada Fauzi.
"Baik lah" ucap Adam yang langsung mengkode pada Fauzi agar diam di kursi tunggu.
"Sejak tadi istri mu ini hanya bilang tak sengaja itu lah tak sengaja ini lah, coba kau jelas kan bagai mana kronologi nya" ucap Polisi pada Adam.
"Pak sebenarnya begini" ucap Adam yang langsung menceritakan secara detail kejadian tadi siang yang membuat Sofi pendarahan.
Polisi itu hanya mengangguk angguk kan kepala saja karena dia yakin kalau Adam tak mungkin berbohong.
Pak Toni Sudrajat.. adalah polisi ketua di sana dia lah paling atas dari yang lain, dia dulunya tetangga an dengan Adam tapi sayang saat Adam SD kelas 4, pak Toni harus pindah rumah tepat nya di dekat kantor polisi itu.
"Nak Adam aku paham betul siapa kau, aku yakin kau tak akan berbohong aku tau dari kecil kau seperti apa dan sekarang pun aku tau kau sedang tak berbohong, tapi Nak Adam sesuai dengan apa yang sudah di tetapkan aku tak bisa langsung percaya pada satu belah pihak saja, karena ini tugas seorang polisi jadi aku akan suruh beberapa anak buah ku untuk mengumpulkan bukti dari pesantren untuk kau membela diri di persidangan nanti" ucap pak Toni ketua polisi itu.
"Ya pak tapi kapan Zia akan sidang" tanya Adam.
"Mungkin satu Minggu" ucap nya.
"Oh jadi satu Minggu ini aku sudah mempunyai bukti itu" ucap Adam.
"Ya dan sebagai mana seorang yang bersalah, istri mu akan kami tahan di sini selama satu Minggu itu, sebagai penentunya nanti, kita serahkan saja pada Allah SWT dan hakim di pengadilan saja" ucapnya.
"Pak apa tak bisa kah kalau Zia aku bawa pulang saja" ucap Adam meminta secara baik baik.
"Nak Adam, orang lain juga sama" ucap polisi itu.
"Zia bagai mana sekarang" tanya Adam menatap pada Zia.
"Tak apa Gus" ucap Zia.
"Baik lah aku akan segera kumpulan bukti nya dan aku akan sering datang kemari" ucap Adam menyentuh wajah Zia.
"Ya Gus" ucap Zia.
"Pak saya titip Zia" ucap Adam.
"Ya" ucap Pak Toni.
Pak Toni kemudian memerintahkan para bawahan nya untuk memenjarakan Zia selama satu Minggu ini.
Karena kalau Zia terbukti tak bersalah maka Zia akan bebas, namun kalau Zia terbukti bersalah maka Zia akan di penjara sesuai dengan waktu yang di tetapkan dan Zia juga akan di pindah kan ke kantor polisi kota yang cukup jauh dari sana.
Maka dari itu kantor polisi itu tak pernah penuh karena semua napi di pindahkan ke kota.
Adam menatap pada Zia yang sekarang tengah berada di dalam sel.
Adam tersenyum dan mengangguk kepala nya.
Zia balik tersenyum pada Adam.
Suatu kondisi yang sangat membuat Adam ingin menangis meraung raung.
Adam tak tega kalau harus membiarkan Zia satu Minggu berada di sel.
"Oh ya pak apa tak bisa aku saja yang di penjara" tanya Adam.
"Nak Adam serahkan istri mu pada kami karena kami tak akan membiarkan dia kesepian" ucap Pak Toni.
"Tapi pak saya tak tega melihat nya" ucap Adam.
"Aku saran kan kalau sekarang kau mencari bukti saja, kalau bukti nya sudah dapat semua aku akan percepat persidangan nya" ucap Pak Toni.
"Yang benar pak" tanya Adam.
"Ya aku sangat benar, lagi pula aku yang memegang kuasa di sini jadi kalau bibi mu itu macam macam aku akan tolak keinginan mereka" ucap Pak Toni.
"Alhamdulillah terima kasih pak" ucap Adam.
"Ya Nak Adam ayo lah cari bukti nya" ucap Pak Toni.
"Aku pamit pak titip Zia, Assalamualaikum" ucap Adam.
"waalaikum salam" ucap pak Toni.
Adam berjalan pada Fauzi yang sekarang tengah menunggu di kursi tunggu.
"Gus ayo pulang kita akan cari bukti yang banyak" ucap Adam bersemangat.
"Bukti apa" tanya Fauzi.
"Bukti kejadian tadi" ucap Adam.
"Oh baik lah ayo" ucap Fauzi.
Mereka pergi dari sana menuju pesantren lagi karena akan mengumpulkan bukti untuk kasus Zia ini.
Sedangkan di pesantren Rosa saat ini tengah senang karena Zia di tanggap polisi.
Senyuman tak henti hentinya keluar dari mulut Rosa.
"Rasain kau Zia, itu akibat nya kalau kau menyepelekan aku dahulu" gumam Rosa tersenyum ja hat.
Si Rosa ja hat nya minta di gaplok ya..
Buat semuanya maaf ya kemarin Mak othor gak up karena Mak othor lagi gak ada kuota, ini juga WiFi ke kakak..
**puasa 19 hari lagi, gak kerasa ya udah mau puasa lagi, padahal baru kemarin rasanya ngerasain tahun baru..
buat kalian yang selalu melaksanakan puasa, persiapkan diri karena kita gak tau umur kita sampai atau tidak di puasa berikut nya lagi..
selamat menyambut bulan suci Ramadhan**...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan ranting lima nya ya..
Terima kasih...