
Tiga hari kemudian..
Para santri sudah mulai belajar kembali bahkan sekarang hari kedua mereka sekolah di pesantren itu.
Sekarang laki laki dan perempuan di pisah hanya gurunya saja yang boleh keluar masuk.
Abah juga sudah membuat jadwal baru, jadwal istirahat mereka juga berbeda hampir setengah jam.
Kalau santri putri pukul sembilan tiga puluh maka santri putra istirahat pukul sepuluh pas.
Bahkan Pesantren juga sudah di halangi dengan tembok yang membelah dua pesantren itu.
Pelajaran sedang di mulai sekarang kelas 3 SMP dan SMA sedang dalam sibuk sibuk nya ujian apa lagi ada ujian praktek lainnya yang harus mereka kerjakan.
Istirahat santri putri pun tiba mereka semua langsung keluar untuk istirahat, seperti biasa Rena akan menatap ke arah gerbang dia menunggu seseorang yang sampai sekarang belum datang.
"Kau bilang akan datang sebelum masuk sekolah tapi apa ini" gumam Rena.
Zia melihat kebiasaan Rena akhir akhir ini.
"Lagi nunggu siapa" tanya Zia.
"Gak ada" ucap Rena.
"Jangan bohong aku tau kok" ucap Zia.
"Gak kak" ucap Rena.
"Kamu tenang aja Ning, Gus Luthfi pasti datang hanya saja dia sedang sibuk" ucap Zia.
"Ya kak aku tau" ucap Rena.
Abimana yang sudah beberapa hari ini mencuri curi pandang pada Rena, dia pun mendekat pada Rena.
"Zia bisa aku pinjam charger mu" tanya Abimana.
"Boleh" ucap Zia.
"Mana" tanya Abimana.
"Ish ganggu saja" kesal Zia.
"Aku pinjam" ucap Abimana.
Abimana tersenyum pada Rena dan Rena hanya membalasnya singkat.
Rena adalah wanita polos dia tak tau kalau senyuman yang dia bentuk di bibir nya itu bisa membuat laki laki terpesona melihat nya, apa lagi kebanyakan laki laki menaruh harapan pada Rena hanya karena Rena tersenyum.
Jika di pikirkan laki laki mana yang tak akan menolak seorang Rena anak dari Abah Zakaria, yang cukup terkenal sampai kemana mana.
"Rena" ucap Abimana.
"Ya" tanya Rena.
"Bisa aku bertanya" tanya Abi.
"Tentu saja" ucap Rena.
"Seperti apa laki laki yang kamu suka" tanya Abimana.
"Yang paling jelas dia bisa membawa aku menuju jalan yang benar" ucap Rena.
"Oh" ucap Abimana.
Abi berpikir kalau tipikal orang yang Rena suka itu tak mengarah padanya apa lagi Abimana tak pandai dalam agama.
"Susah sekali laki laki yang Rena inginkan" batin Abimana.
"Ini" ucap Zia menyerah kan charger nya pada Abimana.
"Terima kasih" ucap Abi.
"Ning mau jajan gak" tanya Zia.
"Boleh" ucap Rena.
"Ning aku lupa aku ada pelajaran di kelas sebelah" ucap Zia.
"Kenapa sampai lupa kak" tanya Rena.
"Aku kesana dulu ya" ucap Zia yang langsung pergi dari sana menuju ke arah kelas santri putra.
"Assalamualaikum" ucap Zia.
"Waalaikum salam" serempak.
"Maafkan aku, tadi aku terlambat" ucap Zia.
"Kemana saja Bu guru" ucap Adam yang menggantikan Zia mengejar di sana.
"Tadi Abi mau pinjam Charger aku lupa kalau ada pelajaran di sini" ucap Zia.
"Baik lah" ucap Adam.
"Apa pelajaran yang kau berikan" tanya Zia.
"Tak ada hanya ngobrol saja" ucap Adam.
"Gus jadi kapan ajarkan kita kitab Fathul izar" ucap para santri.
"Hah" tanya Adam.
"Ayo Gus ajarkan bukan nya kita sudah cukup umur untuk menghapal nya" tanya para santri.
"Tidak aku gak akan ijin kan" ucap Adam.
"Ayolah Gus ajarkan saja" ucap Zia.
"Zia gak boleh" ucap Adam.
"Emang ada apa" tanya Zia.
"Gak boleh" ucap Adam.
"Bukan nya membagikan ilmu itu harus, kalau begitu kau pelit ilmu Gus" ucap Zia.
Adam mengusap wajahnya.
"Oke nanti setelah kalian menikah datang lah kemari aku akan ajarkan" ucap Adam.
"Yahh" para santri kecewa mendengar jawaban Adam.
"Gus itu terlalu lama" ucap Zia.
__ADS_1
Adam mendekat pada Zia, dia hendak membisikan sesuatu pada Zia.
"Fathul izar itu kitab yang berisi edukasi tentang berhubungan" bisik Adam.
"Hah" Zia terkejut.
"Bagai mana aku bisa menjelaskan nya" tanya Adam.
"Kalau begitu jangan, kalian belajar Inggris saja dulu" ucap Zia.
"Tapi kak kami sudah cukup tua kan, bahkan di sekolah lain 14 tahun sudah di ajarkan" ucap santri protes.
"Begini yang namanya edukasi tak akan paham kalau tak di praktek kan, wanita mana yang mau menjadi model nya" ucap Adam.
"Kak Zia" ucap para santri serempak.
"Hey kalian ini, aku gak mau jadi model nya, berdosa tau gak" ucap Zia.
"Kalian suami istri kan" ucap yang lain.
"Tetap saja aku gak mau" ucap Zia.
"Sudah lah tak ada yang mau jadi model nya, jadi jangan ya" ucap Adam.
"Gus suruh saja Ning Rosa" ucap para santri.
"Hey berdosa sekali kalian menyuruh suami aku bersama dengan wanita lain" geram Zia.
"Sudah pokok nya nanti aku akan ajarkan tapi bukan sekarang, dan sekarang kalian boleh istirahat" ucap Adam.
"Baik Gus" serempak para santri langsung bubar dari kelasnya.
"Bagus ya mengajarkan yang tidak tidak pada santri" ucap Zia marah.
"Aku gak tau" ucap Adam.
"Awas ya kalau kau sampai mengajar kan nya dan mencari model untuk memperagakan nya, aku banting kau" geram Zia.
Adam terkejut dengan marahnya Zia, Adam tersenyum entah Zia cemburu atau karena apa tapi Zia sangat emosi sekali.
"Mood nya gampang berubah, chek" gumam Adam.
Adam mengikuti Zia sampai masuk ke dalam rumah.
"Aku akan mandi" ucap Adam.
"Kok mandi sekarang" tanya Zia.
"Aku lupa tadi" ucap Adam.
"Jorok ih aku tadi bilang apa setelah sholat subuh itu langkah mandi bukan nya meluk terus jadi kotor kan pikiran nya" ucap Zia.
"Berpikir kotor pada istri itu sah Zia, ada di dalam surat Al Baqarah ayat 223
Yang artinya:" Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu sendiri. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman. begitu lah artinya" ucap Adam.
"Ya sudah cepat mandi nya sayang, istirahat nya cuman setengah jam" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Setelah lama Adam berada di kamar mandi akhirnya dia masuk juga kedalam kamar.
Zia melihat Adam yang bertelanjang dada Zia dengan pikiran jahil nya dia mendekat pada Adam.
Adam sudah paham apa maksud Zia, dia hanya diam saja mempersilahkan Zia melakukan apa pun terhadap diri nya.
Zia menggigit pelan dada bidang Adam hal itu tak membuat Adam kesakitan.
"Sudah jangan menggodaku aku masih banyak kerjaan" ucap Adam.
"Tunggu" ucap Zia yang langsung mengendus wangi di badan Adam.
"Kau pakai sabun baru, dari mana kau beli" tanya Zia.
"Punya kamu" ucap Adam tersenyum.
"Ish sudah aku duga" ucap Zia yang langsung memukul pelan dada Adam.
"Kau mau" tanya Adam yang langsung memeluk Zia dari arah belakang.
"Mau apa" tanya Zia dengan senyuman tipis dia memikirkan sesuatu.
"Sabun nya" ucap Adam.
"CK aku pikir" ucap Zia yang langsung melepas kan pelukan nya.
"Memang kau berpikir apa" tanya Adam.
"Gak ada" ucap Zia.
"Jujur saja Zia" ucap Adam.
"Gak ih, ayo lah sekarang sudah mau masuk kelas lagi" ucap Zia.
"Santri putri sudah masuk dari tadi" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Sedangkan di kelas 3 SMP Rena saat ini di tugaskan untuk mencatat pelajaran yang di berikan oleh Farid di papan tulis.
"Ini Gus sudah" ucap Rena.
"Sudah" tanya Farid.
"Ya, oh ya Gus bisa aku bertanya" tanya Rena.
"Tanya kan saja" ucap Farid.
"Apa Gus Luthfi belum datang" tanya Rena.
"Gus Luthfi? Ya dia katanya sibuk aku chat dia katanya sebentar lagi datang tapi sampai sekarang belum datang" ucap Farid.
"Oh" ucap Rena.
"Ya dia juga berpesan katanya beri tahukan pada amirati kalau aku tak bisa cepat kembali ke pesantren, aku mau beri tau siapa bahkan aku saja gak tau wanitanya Gus Luthfi siapa" ucap Farid.
Rena hanya tersenyum mendengar hal itu.
"Kau tau wanita nya Gus Luthfi siapa" tanya Farid.
"Gak aku gak tau" ucap Rena.
"Apa jangan jangan wanita nya kamu" ucap Farid.
__ADS_1
"Ah gak mungkin" ucap Rena.
"Ya juga ya" ucap Farid.
"Baik lah aku permisi akan belajar" ucap Rena.
"Ya tulis saja dulu catatan ini nanti aku jelaskan" ucap Farid.
Malam hari nya Adam dan Zia tengah tadarus, mereka membaca surat berbeda namun sejak tadi Adam Mendengar kan keganjilan dalam ucapan Zia.
Adam mendekat pada Zia, dia langsung mencubit pipi Zia yang sekarang chubby itu.
"Sayang itu salah kamu mengucapkan nya salah" ucap Adam.
"Yang mana" tanya Zia.
"Itu surat Al Imran ayat 159 kan, itu bunyinya.
Fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa'fu 'an-hum wastagfir lahum wa syāwir-hum fil-amr, fa iżā 'azamta fa tawakkal 'alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn.
Kamu salah membaca nya ada tiga huruf yang kamu lupakan" ucap Adam.
"Baik lah aku akan coba perbaiki" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Adam menutup Al Qur'an nya karena dia sudah menyelesaikan nya.
Adam merebahkan badan nya dengan kepala berada di paha Zia.
"Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman `alâ sayyidinâ Muḫammadinil-ladzi tanḫallu bihil-`uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdlâ bihil-ḫawâiju wa tunâlu bihir-raghâ’ibu wa ḫusnul-khawâtimi wa yustasqal-ghamâmu biwajhihil-karîmi wa `alâ âlihi wa shaḫbihi fî kulli lamḫatin wa nafasin bi`adadi kulli ma`lûmilak(a)" Adam menyanyikan sholawat Nariyah dengan suara pelan.
Namun tetap tangan Adam tak lepas dari tasbih, Zia mengusap lembut wajah Adam yang sangat tampan itu.
"Aku beruntung sekali di berikan suami yang tampan dan pintar seperti dirimu" ucap Zia.
"Kau ini bisa saja" ucap Adam.
"Aku tak sangka Gus aku akan mendapatkan laki laki seperti diri mu, padahal di masa lalu aku wanita yang ingin punya suami orang kaya punya perusahaan dan punya banyak mobil tapi ternyata aku salah laki laki yang seperti dirimu yang sebenarnya aku butuhkan" ucap Zia.
"Zia takdir itu tak ada yang tau" ucap Adam.
"Oh ya Gus kapan kau bisa hafal semua Al Qur'an" tanya Zia.
"Aku paling lambat Zia mungkin aku ke tiga atau ke empat" ucap Adam.
"Siapa yang pertama" tanya Zia.
"Yang pertama Gus Fauzi dia pintar dalam menghapal Al Qur'an bahkan satu hari dia bisa menghapalkan sepuh ayat sekaligus, yang kedua Gus Luthfi, yang ketiga aku, yang ke empat Gus Ilham, kelima Gus Farid dan Gus Yasya, setelah Gus Yasya juga banyak yang langsung hapal, saat itu aku baru saja kelas 2 SMP lah" ucap Adam.
"Oh ya kalian belajar kelas berapa" tanya Zia.
"Mulai belajar dari SD semua nya juga Begitu tapi kalau Gus Luthfi dia dari SMP deh belajar nya" ucap Adam.
"Gus Luthfi itu sangat romantis ya Gus" ucap Zia.
"Apa yang dia perbuat pada mu sampai kau bilang begitu" tanya Adam.
"Bukan begitu hanya saja aku lihat perhatian Gus Luthfi pada Ning Rena romantis sekali" ucap Zia.
"Zia sebenarnya Gus Luthfi itu tak tau apa yang dia lakukan sekarang" ucap Adam.
"Maksud nya" tanya Zia.
"Kalau laki laki yang paham agama dia tak mungkin melakukan itu pada Rena" ucap Adam.
"Oh ya, kaya kamu yang tidak saja, Gus kau juga dulu lebih pada ku bahkan kita sampai terkunci di kamar mandi dahulu, kita pakai baju couple saat ke pernikahan Ustadz Haddad, lalu banyak lagi yang kita lakukan sebelum menikah, apa lagi saat kau dengan Ning Marwah kalian sangat romantis dahulu" ucap Zia.
Adam hanya diam saja, apa yang di katakan Zia juga benar.
"Makan nya jangan ceramahi orang kalau sendiri nya juga sama" ucap Zia.
"Ups aku lupa kalau wanita selalu benar" gumam Adam.
(Gus Adam lain kali jangan salah bicara lagi ya)
"Bukan begitu Zia, aku tau kok aku sadar apa yang aku lakukan dulu tapi kan" ucap Adam.
"Sudah lah kalian sama saja" ucap Zia tersenyum.
"Aku gak terlalu respon pada hubungan Gus Luthfi dan Ning Rena" ucap Adam.
"Kenapa" tanya Zia.
"Aku takut" ucap Adam.
"Ya takut apa" tanya Zia.
"Kau tau kan sikap Gus Luthfi yang cukup kasar, dan sikap Ning Rena yang manja" ucap Adam.
"Kau ini terlalu banyak tau tentang banyak hal, Gus bahkan kau tak tau kan sebucin apa Gus Luthfi pada Ning Rena" ucap Zia.
"Masa sih" tanya Adam.
"Kau tak tau saja" ucap Zia.
"Aku tak bisa menentukan dengan siapa Rena akan menikah tapi aku akan doa kan kalau Ning Rena bersama dengan laki laki yang benar" ucap Adam.
"Amin" ucap Zia.
Zia membuka mukena nya dia melipatnya dan menggantung kan nya di Paku yang ada di kamar itu.
"Tidur yu aku ngantuk" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia merebahkan tubuhnya di kasur bersama dengan Adam.
"Jangan lupa berdoa" ucap Adam.
"Ya gus Adam tersayang" ucap Zia.
Adam memeluk Zia dengan sangat erat.
"Gus kenapa kita tak membuat nama panggilan bukan nya menyebut Pasangan dengan nama sayang itu adalah Sunnah" tanya Zia.
"Baik lah kamu mau di panggil apa" tanya Adam.
"Kok begitu sih, aku mau kau yang buatkan" ucap Zia.
"Aku akan pikirkan" ucap Adam.
bersambung
__ADS_1